Aku mulai mengait-ngaitkan
semua misteri yang ada. Apa sebenarnya yang disembunyikan di hutan lindung?
Kenapa masyarakat tak boleh memasuki kawasan itu oleh kepolisian keamanan
hutan? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Selain itu, ada kelompok
tertentu yang dikatakan sebagai Gagak Hitam, yang bersembunyi di sana, seperti
yang dikatakan Yanto. Mata-mata sebenarnya adalah Yanto.
Lalu... kenapa Geng Sar
bertemu dengan Gagak Hitam di hutan dan menerima bayaran? Lalu, kenapa Gengs
Sar diburu? Pastilah mempunyai masalah. Bu Siska dalam bahaya, seperti yang
dikatakan Pak Yusuf, Gagak Hitam menginginkan sesuatu dari Bu Siska, tapi apa?
Kunci rahasia? Harta karun? Gobang Pelot?
Trik apa yang
harus dilakukan seorang detektif, pada
saat seperti ini?
Data yang valid harus
diperoleh, itu intinya! Bahaya, Kawan? Tapi, itulah risiko hidup, setiap
keputusan pasti ada risikonya, besar atau kecil. Hal yang besar, juga memiliki risiko
yang besar, seperti yang sering dikatakan para wirausaha sukses.
Jika selamat, itu hanya
takdir Allah. Jika tak berhasil, itu juga ketentuan Allah. Aku tenang kini.
Saatnya beraksi kawan.
Ini hari ahad. Aku
meminjam sepeda Kang Mukhlis, minimal memeriksa. Tapi, bukan itu tujuanku,
melainkan masuk hutan. Dengan siapa lagi kalau bukan yang paham seluk-beluk
keseluruhan hutan. Yanto. Aku bertemu dengannya, dia sedang di rumah Pak Lurah,
sesuai dengan yang kukira. Bu Siska dan adiknya Fitri, sementara diungsikan di
rumah Pak Lurah agar lebih aman, itu atas usul Pak Yusuf.
Aku melirik ke arah Yanto,
menganggukkan kepalaku sejenak, kurasa hanya dia yang tahu isyaratku. Aku
keluar rumah Pak Lurah, beberapa menit kemudian Yanto juga keluar. Kubonceng
hingga ke lapangan sepak bola, di dekat hutan yang dipagari kawat-kawat berduri
yang tinggi.
”Yan, aku butuh
bantuanmu.”
”Apa itu, Pak Arif,
katakanlah.”
”Antarkan aku masuk ke
hutan lindung, ingin kulihat ada apa di sana.”
Yanto sedikit tersentak
dengan kata-kataku, air mukanya berubah, ”Anda tidak takut, Pak?”
”Untuk apa takut ,Yan?”
aku menatap pemuda itu, usianya sekitar dua tahun di bawahku, tubuhnya kuat,
kurasa dia sering keluar-masuk hutan lindung tanpa ada yang tahu.
”Dengan senang hati, Pak
Arif, tak salah apa yang kudengar segalanya tentang Anda,” dia berjalan, ”Ikuti
aku.”
Aku mengikuti
langkah-langkahnya, lumayan cepat, ”Apa yang kau dengar tentangku, Yan? Ayo
katakan?” aku melihat punggungnya.
”Pak Arif memang
pemberani! Jika kita mati di hutan nanti, aku tak akan menyesal pernah bersama Anda,”
tegas, tanpa menoleh. Aku tersenyum, kurasa dia tahu kalau aku tersenyum. Kami
adalah pasukan siap mati, kutatap langit pagi. Indah dan terang.
Kami berjalan menyusuri
ladang, menyusuri pinggir hutan, yang diberi kawat berduri setinggi dua meter.
Mau masuk lewat mana?
”Bersiaplah Pak, kita akan
masuk.”
Benar saja, di hadapan
kami, terlihat lubang yang tercipta. Yanto menyelinap masuk, hati-hati, lubang
itu bisa dimasuki manusia. Bekas lubang kawat itu, menjorok ke mana-mana, saat
aku masuk aku tertusuk salah satu kawat yang menjulang, darah sedikit keluar. Yanto
segera menyobek bagian dari kausnya, di bagian bawah, dan mengikat luka di
lengan kiriku.
”Terima kasih, Yan.”
Yanto tersenyum padaku,
”Ini keahlianku, Pak Arif.”
”Kau tahu lubang ini sejak
kapan?” kawat-kawat itu sangat kuat.
”Lubang ini adalah bekas babi
hutan yang mengamuk, saat bertarung dengan harimau yang mencoba memakan
anaknya. Saat itu, aku dan Ayah melihat dari atas pohon.”
”Berarti di hutan ini
masih banyak binatang buas?” aku agak merinding.
”Tidak usah khawatir,
Allah pasti menolong kita. Kita berniat baik, bukan?”
Kawan, aku kalah satu
point darinya. Yanto memang selalu aktif di kajian Pak Lukman, kata-katanya
bijak. Ah! Memang setiap orang mempunyai keahliannya masing-masing, sadar atau
tak sadar.
Kami terus menyusuri
hutan, aku yang belum pernah masuk hutan seperti ini, setiap langkahku,
mengikuti apa yang dilakukan Yanto. Jika dia mengendap, aku ikut mengendap.
Jika merunduk, aku ikut.
”Berhenti, Pak.”
Aku berhenti, Yanto
bersembunyi di balik pohon, aku mengikutinya sembunyi di balik pohon yang dekat
denganku, ”Ada apa, Yan?”
”Aneh.”
”Aneh kenapa?”
”Aku mencium bau manusia
dan harimau, kenapa bisa bersamaan? Apakah sedang terjadi perkelahian? Kita
tunggu saja Pak Arif, mereka semakin mendekat.”
Apa? Bau manusia dan
harimau? Bau mana?
Aku penasaran hingga
bermenit-menit. Sepuluh menit kurasa terlewat.
”Tidak ada apa-apa, Yan,”
aku menatap Yanto sambil mengangkat kedua pundakku.
”Sssttt!” Yanto memberi
aba-aba pelan, aku diam akhirnya. Kawan, memang aku bukannya tak percaya, tapi
tadi di belakangku kulihat ular lewat, hewan itu paling kutakuti. Terdengar
bebunyian, kretak-kretak, dahan kering terinjak atau daun kering juga.
Beberapa orang lewat di sebuah jalan yang berjarak sekitar 10-an meter, Yanto
memberi isyarat agar aku menunduk.
Di sana kulihat tujuh
orang sedang menenteng senjata api, laras panjang, tapi terlihat rakitan. Astaghfirullah,
mataku melotot melihat apa yang mereka tandu, diikat keempat kakinya, digantung
di sebuah kayu besar dan dipikul empat orang. Itu adalah harimau?
Jadi, benar kata Yanto,
bau manusia dan harimau menjadi satu? Kulihat manusia unik, penciuman yang
tajam.
”Kita ikuti pelan-pelan
mereka, Yan,” Yanto mengangguk tanda setuju.
”Kenapa mereka membunuh
harimau?”
”Harimau itu ditembak bius,
Pak Arif.”
Ditembak bius? Dari mana
pula Yanto tahu? Ah! Aku memang buta masalah di hutan ini, selama ini orang
desa pastilah tak tahu ada perusakan hutan seperti ini. Saat kami berjalan,
banyak pohon tumbang secara liar. Lalu, bagaimana kinerja para polisi keamanan
sebenarnya, apakah mereka tidak pernah mengontrol hingga ke hutan?
Mataku awas menatap
sekeliling, sesekali kulihat monyet menyalak. Terganggu akan kehadiran kami.
Suasana hutan begitu mencekam, sesekali burung besar hitam membubung diantara
rindang pepohonan. Setiap beberapa puluh
meter, kulihat ada ikatan kain hitam yang terikat di batang pohon. Seolah
menunjukkan jalan, seperti dalam simpul penunjuk arah, simbol.
”Kau tahu tanda apa ini
Yan?”
”Aku tak tahu, tapi ini
sengaja dibuat. Mungkin oleh petugas keamanan hutan, agar mudah mengenali arah
kembali.”
Aku terus mengikuti Yanto,
dia benar-benar paham. Setiap bertemu dengan apa pun, dia memintaku hati-hati.
Kawasan lintah, kawasan trenggiling, kawasan ular dan aku merinding, karena
ular begitu banyak bergelantungan di dahan-dahan, ranting-ranting pohon.
Yanto tersenyum, ”Tak apa,
mereka tak akan mengganggu jika kita tak mengganggu mereka,” aku sedikit lega.
Kami mengambil jalur
berbeda dengan orang-orang yang memikul harimau tadi, mereka lewat jalan yang
terbentuk sedangkan kami lewat jalanan liar, sering aku terpeleset, hampir tadi
masuk jurang yang lumayan dalam. Ini pengalaman pertamaku, masuk-masuk hutan
rimba seperti ini.
”Berhenti.”
Kami berhenti di bibir
jurang yang kurang lebih di bawah sana, berukuran tiga puluh meter. Barisan
pembawa harimau itu terlihat, mereka memasuki sebuah rumah yang dibenteng
dengan besi-besi tralis tinggi. Gerbang dibuka dari dalam, dihutan seperti ini
ada markas?
”Kau lihat itu Pak Arif?”
Yanto menunjuk pada sebuah lubang besar, berdiameter sekitar lima meter,
melingkar. Lubang itu sedalam satu meteran, terletak sekitar 30-an meter dari
gerbang itu. Di sekitar lubang itu terdapat pepohonan lebat, namun seperti ada
parit, tak berlubang, namun tak berpohon.
Jadi, gambarannya lubang,
lalu pepohonan mengelilinginya, lalu parit tak berlubang, seperti cincin
saturnus, lalu pepohonan rindang lagi.
”Itulah Gobang Pelot.”
Belum sempat bertanya,
Yanto sudah menjelaskannya. Maksudnya, Lubang pelot? Ada apa dibalik
semua misteri ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar