Jumat, 08 November 2019

Bagian 41, Gobang Pelot


Aku mulai mengait-ngaitkan semua misteri yang ada. Apa sebenarnya yang disembunyikan di hutan lindung? Kenapa masyarakat tak boleh memasuki kawasan itu oleh kepolisian keamanan hutan? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Selain itu, ada kelompok tertentu yang dikatakan sebagai Gagak Hitam, yang bersembunyi di sana, seperti yang dikatakan Yanto. Mata-mata sebenarnya adalah Yanto.

Lalu... kenapa Geng Sar bertemu dengan Gagak Hitam di hutan dan menerima bayaran? Lalu, kenapa Gengs Sar diburu? Pastilah mempunyai masalah. Bu Siska dalam bahaya, seperti yang dikatakan Pak Yusuf, Gagak Hitam menginginkan sesuatu dari Bu Siska, tapi apa?

Kunci rahasia? Harta karun? Gobang Pelot?
Trik apa yang harus dilakukan seorang detektif, pada saat seperti ini?

Data yang valid harus diperoleh, itu intinya! Bahaya, Kawan? Tapi, itulah risiko hidup, setiap keputusan pasti ada risikonya, besar atau kecil. Hal yang besar, juga memiliki risiko yang besar, seperti yang sering dikatakan para wirausaha sukses.

Jika selamat, itu hanya takdir Allah. Jika tak berhasil, itu juga ketentuan Allah. Aku tenang kini. Saatnya beraksi kawan.

Ini hari ahad. Aku meminjam sepeda Kang Mukhlis, minimal memeriksa. Tapi, bukan itu tujuanku, melainkan masuk hutan. Dengan siapa lagi kalau bukan yang paham seluk-beluk keseluruhan hutan. Yanto. Aku bertemu dengannya, dia sedang di rumah Pak Lurah, sesuai dengan yang kukira. Bu Siska dan adiknya Fitri, sementara diungsikan di rumah Pak Lurah agar lebih aman, itu atas usul Pak Yusuf.
Aku melirik ke arah Yanto, menganggukkan kepalaku sejenak, kurasa hanya dia yang tahu isyaratku. Aku keluar rumah Pak Lurah, beberapa menit kemudian Yanto juga keluar. Kubonceng hingga ke lapangan sepak bola, di dekat hutan yang dipagari kawat-kawat berduri yang tinggi.

”Yan, aku butuh bantuanmu.”
”Apa itu, Pak Arif, katakanlah.”
”Antarkan aku masuk ke hutan lindung, ingin kulihat ada apa di sana.”

Yanto sedikit tersentak dengan kata-kataku, air mukanya berubah, ”Anda tidak takut, Pak?”
”Untuk apa takut ,Yan?” aku menatap pemuda itu, usianya sekitar dua tahun di bawahku, tubuhnya kuat, kurasa dia sering keluar-masuk hutan lindung tanpa ada yang tahu.

”Dengan senang hati, Pak Arif, tak salah apa yang kudengar segalanya tentang Anda,” dia berjalan, ”Ikuti aku.”
Aku mengikuti langkah-langkahnya, lumayan cepat, ”Apa yang kau dengar tentangku, Yan? Ayo katakan?” aku melihat punggungnya.

”Pak Arif memang pemberani! Jika kita mati di hutan nanti, aku tak akan menyesal pernah bersama Anda,” tegas, tanpa menoleh. Aku tersenyum, kurasa dia tahu kalau aku tersenyum. Kami adalah pasukan siap mati, kutatap langit pagi. Indah dan terang.

Kami berjalan menyusuri ladang, menyusuri pinggir hutan, yang diberi kawat berduri setinggi dua meter. Mau masuk lewat mana?
”Bersiaplah Pak, kita akan masuk.”

Benar saja, di hadapan kami, terlihat lubang yang tercipta. Yanto menyelinap masuk, hati-hati, lubang itu bisa dimasuki manusia. Bekas lubang kawat itu, menjorok ke mana-mana, saat aku masuk aku tertusuk salah satu kawat yang menjulang, darah sedikit keluar. Yanto segera menyobek bagian dari kausnya, di bagian bawah, dan mengikat luka di lengan kiriku.

”Terima kasih, Yan.”
Yanto tersenyum padaku, ”Ini keahlianku, Pak Arif.”
”Kau tahu lubang ini sejak kapan?” kawat-kawat itu sangat kuat.

”Lubang ini adalah bekas babi hutan yang mengamuk, saat bertarung dengan harimau yang mencoba memakan anaknya. Saat itu, aku dan Ayah melihat dari atas pohon.”
”Berarti di hutan ini masih banyak binatang buas?” aku agak merinding.
”Tidak usah khawatir, Allah pasti menolong kita. Kita berniat baik, bukan?”

Kawan, aku kalah satu point darinya. Yanto memang selalu aktif di kajian Pak Lukman, kata-katanya bijak. Ah! Memang setiap orang mempunyai keahliannya masing-masing, sadar atau tak sadar.
Kami terus menyusuri hutan, aku yang belum pernah masuk hutan seperti ini, setiap langkahku, mengikuti apa yang dilakukan Yanto. Jika dia mengendap, aku ikut mengendap. Jika merunduk, aku ikut.
”Berhenti, Pak.”

Aku berhenti, Yanto bersembunyi di balik pohon, aku mengikutinya sembunyi di balik pohon yang dekat denganku, ”Ada apa, Yan?”
”Aneh.”
”Aneh kenapa?”

”Aku mencium bau manusia dan harimau, kenapa bisa bersamaan? Apakah sedang terjadi perkelahian? Kita tunggu saja Pak Arif, mereka semakin mendekat.”
Apa? Bau manusia dan harimau? Bau mana?
Aku penasaran hingga bermenit-menit. Sepuluh menit kurasa terlewat.

”Tidak ada apa-apa, Yan,” aku menatap Yanto sambil mengangkat kedua pundakku.
”Sssttt!” Yanto memberi aba-aba pelan, aku diam akhirnya. Kawan, memang aku bukannya tak percaya, tapi tadi di belakangku kulihat ular lewat, hewan itu paling kutakuti. Terdengar bebunyian, kretak-kretak, dahan kering terinjak atau daun kering juga. Beberapa orang lewat di sebuah jalan yang berjarak sekitar 10-an meter, Yanto memberi isyarat agar aku menunduk.

Di sana kulihat tujuh orang sedang menenteng senjata api, laras panjang, tapi terlihat rakitan. Astaghfirullah, mataku melotot melihat apa yang mereka tandu, diikat keempat kakinya, digantung di sebuah kayu besar dan dipikul empat orang. Itu adalah harimau?

Jadi, benar kata Yanto, bau manusia dan harimau menjadi satu? Kulihat manusia unik, penciuman yang tajam.
”Kita ikuti pelan-pelan mereka, Yan,” Yanto mengangguk tanda setuju.

”Kenapa mereka membunuh harimau?”
”Harimau itu ditembak bius, Pak Arif.”
Ditembak bius? Dari mana pula Yanto tahu? Ah! Aku memang buta masalah di hutan ini, selama ini orang desa pastilah tak tahu ada perusakan hutan seperti ini. Saat kami berjalan, banyak pohon tumbang secara liar. Lalu, bagaimana kinerja para polisi keamanan sebenarnya, apakah mereka tidak pernah mengontrol hingga ke hutan?

Mataku awas menatap sekeliling, sesekali kulihat monyet menyalak. Terganggu akan kehadiran kami. Suasana hutan begitu mencekam, sesekali burung besar hitam membubung diantara rindang  pepohonan. Setiap beberapa puluh meter, kulihat ada ikatan kain hitam yang terikat di batang pohon. Seolah menunjukkan jalan, seperti dalam simpul penunjuk arah, simbol.

”Kau tahu tanda apa ini Yan?”
”Aku tak tahu, tapi ini sengaja dibuat. Mungkin oleh petugas keamanan hutan, agar mudah mengenali arah kembali.”

Aku terus mengikuti Yanto, dia benar-benar paham. Setiap bertemu dengan apa pun, dia memintaku hati-hati. Kawasan lintah, kawasan trenggiling, kawasan ular dan aku merinding, karena ular begitu banyak bergelantungan di dahan-dahan, ranting-ranting pohon.

Yanto tersenyum, ”Tak apa, mereka tak akan mengganggu jika kita tak mengganggu mereka,” aku sedikit lega.

Kami mengambil jalur berbeda dengan orang-orang yang memikul harimau tadi, mereka lewat jalan yang terbentuk sedangkan kami lewat jalanan liar, sering aku terpeleset, hampir tadi masuk jurang yang lumayan dalam. Ini pengalaman pertamaku, masuk-masuk hutan rimba seperti ini.

”Berhenti.”
Kami berhenti di bibir jurang yang kurang lebih di bawah sana, berukuran tiga puluh meter. Barisan pembawa harimau itu terlihat, mereka memasuki sebuah rumah yang dibenteng dengan besi-besi tralis tinggi. Gerbang dibuka dari dalam, dihutan seperti ini ada markas?

”Kau lihat itu Pak Arif?” Yanto menunjuk pada sebuah lubang besar, berdiameter sekitar lima meter, melingkar. Lubang itu sedalam satu meteran, terletak sekitar 30-an meter dari gerbang itu. Di sekitar lubang itu terdapat pepohonan lebat, namun seperti ada parit, tak berlubang, namun tak berpohon.

Jadi, gambarannya lubang, lalu pepohonan mengelilinginya, lalu parit tak berlubang, seperti cincin saturnus, lalu pepohonan rindang lagi.

”Itulah Gobang Pelot.”

Belum sempat bertanya, Yanto sudah menjelaskannya. Maksudnya, Lubang pelot? Ada apa dibalik semua misteri ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar