Jumat, 08 November 2019

Bagian 40, Spionase


Setelah Sariman pingsan, masyarakat desa Cahaya diliputi ketakutan di semua tempat, wajah-wajah mereka? Aku penduduk baru di sini, baru setahun ini aku tinggal di desa Cahaya, tentu aku tak tahu misteri ini.

Otakku bermain sejenak, semakin menantang. Agen rahasia, sederet nama  para penguak misteri melintas di otakku. Seperti Conan dalam komik, aku mulai merangkai peristiwa satu-persatu.

Belum sempat merangkai, bunyi kentungan menggema. Terdengar seantero desa, sahut-sahutan, ada hawa mencekam tiba-tiba. Aku mengambil sepeda, Syahid juga telah berada di sepedanya. Kami saling mengangguk, siap meluncur.

”Syahid!”
Kami berdua menengok ke belakang, Kang Mukhlis? Bukan itu, tapi wajahnya itu berbeda dari biasanya.
”Kalian di rumah saja, ini bukan hal main-main!”

”Aku tak bisa Kang, aku hanya ingin melihat saja,” wajahku kutunjukkan wajah memelas, seperti pengemis seminggu belum makan.
”Baiklah, tapi Syahid, kau di rumah saja!”

Syahid meletakkan sepedanya, dia menunduk. Aku pamitan, mengayuh sepeda ke arah timur. Beberapa orang kulihat juga sedang ke sana, tapi rumah-rumah masyarakat tampak sepi, pintunya tertutup, seperti waktu wabah dahulu. Desa ini memang penuh misteri.

Masyarakat berkumpul, puluhan orang berada di lapangan Sekolah Cahaya. Ada sesosok mayat ditemukan oleh petugas keamanan hutan lindung. Menurut desas-desus yang kudengar, yang mati itu adalah Sarman, salah satu anggota Geng Sar.

Aku penasaran, kudekati mayat yang ditutupi daun-daun pisang itu. Aku hampir muntah, darah tercecer beku, bau anyir darah menyengat. Lalat terbang mengelilingi, mayat kuperkirakan meninggal kemarin.
”Dia dimakan binatang buas, di hutan lindung,” suara Pak Yusuf, dia menutupi hidungnya dengan sapu tangannya.

Aku memberanikan diri, membuka daun pisang. Aku langsung mual, kututup kembali. Isi perutnya banyak yang hilang, tubuh itu tercabik-cabik. Terlihat bekas, cakaran-cakaran hewan, aku keluar dari kerumunan, pandangan mataku berkunang-kunang.

Benar kata Kang Mukhlis, ini bukan main-main.
Beberapa desas-desus, kala kubertanya pada beberapa orang masyarakat, bahwa kebiasaan Geng Sar selalu masuk hutan, petugas keamanan hutan lindung tak berani melarang karena takut pada mereka. Entahlah, apa yang mereka lakukan di hutan lindung, hingga hari ini, salah satu dari mereka mati mengenaskan. Di hutan, banyak binatang buasnya.

Geng Sar sering ke hutan?
Otak detective-ku menggelitik, satu bukti baru! Aku berjalan agak cepat ke rumah Pak Lurah. Aku tak sendiri, dua orang menguntitku, terlihat dari bayangan mereka yang doyong ke arahku, karena matahari sore dari arah barat.

Kutengok segera. Huff! Legalah sudah, ternyata Pak Yusuf dan Yanto. Mereka juga ternyata mau ke rumah Pak Lurah melihat keadaan Sariman. Sariman ketakutan dan meminta perlindungan, makanya dia menginap di rumah Pak Lurah. Pak Lurah, menerima dengan lapang hati, walau Sariman selalu membuat kerisuhan desa.

Kami mengetuk pintu. Di ruang tamu, Pak Lurah, isterinya, Indah dan Sariman sedang duduk. Kami ikut bergabung. Sariman ternyata masih menjelaskan tentang dirinya dan teman-temannya.
”Aku sangat takut Pak Lurah, aku takut, aku tak berani bercerita,” wajah itu sungguh ketakutan, bagai hantu menyeringai di setiap sudut ruangan, wajahnya selalu menoleh ke sana-ke mari.

”Kami akan berusaha membantumu, Man. Kita ini adalah satu pedukuhan, kita harus saling membantu. Jika kau tak bercerita, bagaimana kami bisa membantu, katakanlah,” Pak Karta berwibawa, rasa sayangnya kepada setiap warganya tak membedakan apakah preman atau lainnya. Baginya tugasnya adalah mengayomi, memberi rasa aman.

”Kami berlima, kami... tidak!” belum selesai, Sariman menutup wajahnya sejenak, lalu membukanya dan berlari keluar. Aku berlari mengejarnya, diikuti Pak Yusuf dan Yanto. Kami terus mengejarnya, dia berlari ke arah barat. Sariman tersandung batu-batu terjal, dia jatuh. Aku meringkusnya, dia berontak. Pak Yusuf dan Yanto datang membantu.

Sariman manangis lirih, kami mengikatnya dengan tambang. Kami masih berada di pinggir jalan, pohon rindang memayungi kami dari matahari yang condong di barat, beberapa monyet menyeringai kepada kami, lalu melompat pergi, pindah tempat. Mungkin monyet itu merasa terganggu.
”Sebenarnya aku tak mau mengatakan ini, tapi mungkin harus kukatakan sekarang,” aku menoleh ke arah suara, Pak Yusuf mengikuti. Bukan dari Sariman yang tengah menangis, melainkan Yanto yang menunduk.

”Ada apa, Yan?” aku penasaran.
Pemuda seusia denganku itu mengangkat wajahnya, ”Aku sedikit tahu sebenarnya, ada sekelompok orang yang bersembunyi di tengah hutan. Entahlah, apa mereka yang sering dikatakan sebagai Gagak Hitam. Aku juga tahu, bahwa Geng Sar sering bertemu mereka di hutan, dan menerima uang dari mereka.”

”Bagaimana kau bisa masuk hutan? Lalu mengapa kau ke sana?” Pak Yusuf penasaran. Cukup mewakili pertanyaanku.

”Aku dari kecil selalu ke hutan mencari kayu. Aku tahu seluk-beluk hutan, karena sejak kecil aku sering diajak ayah ke hutan. Hingga ayah menghilang di hutan saat aku terpisah dengannya. Kucari hingga kini, tapi Ayahku belum kutemukan. Ah! Sudahlah, itu tentang kisahku. Hingga kini, aku sering ke hutan, aku tahu jalan pintas, jalan keluarnya. Aku sangat paham. Jalan masuk rahasia pun aku tahu. Itu hanya aku dan Ayah yang tahu.”

”Kau hebat juga, berarti semua itu, kau rahasiakan sendiri?”
”Iya.”

”Mereka benar-benar Gagak Hitam, kelompok rampok yang pernah mengacau seluruh desa, mereka terkenal di mana-mana. Saat ini, sudah sepuluh tahun ini, mereka bersembunyi di hutan itu. Mereka sedang mencari sebuah kunci yang disembunyikan kakek Bu Siska! Tapi, kami tak pernah menemukannya, meski kami mencarinya, dan menggeledah rumahnya.”

Kali ini, kami terdiam, melihat wajah yang tertunduk terikat itu. Dia berkata kawan, tangisnya telah mereda.
”Sebenarnya Sarman tidak dimakan harimau awalnya, dia dibunuh dulu. Karena mereka telah tak sabar, sebentar lagi, mereka sedang menyiapkan diri untuk menyerang desa Cahaya! Tapi, kekuatan mereka tak banyak jika berperang di Desa. Mereka sedang menyusun strategi untuk menemukan kunci itu.”

Pantas saja, sedari dulu, Geng Sar mengincar rumah Bu Siska. Kunci apa yang dimaksud mereka? Lalu... strategi apa yang disiapkan Gagak Hitam? Bagaimana melawan mereka? Bu Siska yang utama dia dalam bahaya, ah! Otakku kuperas, aku berusaha mengait-ngaitkan cerita.

”Bu Siska dalam bahaya, kita harus melindunginya,” Pak Yusuf tampak gugup.
Kami terdiam, masyarakat juga dalam keadaan takut. Semuanya tegang.
”Kita harus bersatu, kita semua, semuanya,” aku menatap mereka bertiga, meyakinkan mereka, ”Sebenarnya apa yang mereka cari?”

”Gobang Pelot!”
”Gobang Pelot? Apa itu?” kami hampir bersamaan.
Sariman menatap kami, ”Markas mereka di dekat Gobang Pelot, tempat yang dipercaya menyimpan harta karun moyang mereka.”

Sariman akhirnya kami sembunyikan di desa sebelah, di desa sebelah barat,  melewati bulak. Untuk sementara, dia pasti aman di sana. Tugasku belum selesai. Ternyata mata-mata sejatinya adalah Yanto, dia sering ke hutan lindung itu.

Ah! Aku ada ide.

Rehat,

Jika kau punya ide,
Lakukanlah, atau catat.
Jika lewat,
Susah untuk kembali

(Rumus perubahan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar