Jumat, 08 November 2019

Bagian 39, Gagak Hitam


Pak Lukman memberikan pengajian dengan lembut, ketika membahas hukum dia berbicara dengan penjelasan yang baik, bicara fikih dia tak memihak atau fanatik dengan salah satu imam mazhab, melainkan mengkaji semua pendapat para imam tersebut. Karena menurutnya, fikih berkembang sesuai perubahan zaman, semisal zakat semangka, atau zakat buah yang zaman dahulu belum ditentukan.

Pak Lukman menjadi rujukan warga masyarakat, menjadi semacam guru spiritual. Dia membuka konsultasi dari jam delapan pagi hingga mendekati zuhur, lalu bersiap-siap untuk melaksanakan shalat, dan dia azan, suaranya merdu sangat merdu.

Masjid sekarang ramai, saat shalat bisa bershaf-shaf.

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw bersabda: ‘Barang siapa yang memberikan kemudahan atas kesusahan seorang Muslim, maka Allah Swt akan memberikan kemudahan buat dia atas kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.’ Maka, kehidupan itu dikatakan harmonis ketika kita saling membantu dalam meringankan beban saudaranya, tidak ada lagi tetangganya yang kelaparan karena tak ada makanan.

Atau dalam riwayat yang lain dari Imam Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda: ‘Siapa pun dari seorang mukmin yang memberikan makanan kepada seorang mukmin karena kelaparan, maka Allah Swt akan memberikan makanan untuknya dari buah-buahan surga.’ Suatu kaum  disebut makmur apabila di dalamnya ada budaya untuk saling membantu, saling berlomba-lomba. Bukan memikirkan perutnya sendiri.”

Beberapa orang manggut-manggut, ada  yang melongo seolah tak percaya orang buta di depan mereka bisa menghafal hadits seperti itu, apalagi bahasa Arabnya fasih juga. Keheranan yang wajar, karena betapa banyak yang matanya normal bisa melihat tapi tak tahu ilmu agama meski sedikit. Termasuk aku, Kawan, makanya aku belajar.

”Toloooong! Toloooong!”

Kami kaget, seorang lelaki berlari melewati masjid, tepat di depannya. Lelaki itu berlari, dan melihat kerumunan, dia masuk ke dalam majelis ilmu itu. Napasnya turun naik, kau tahu siapa dia kawan? Dia adalah salah satu anggota Geng Sar, Sariman. Ada bercak darah di pundaknya.
”Gagak Hitam! Gagak Hitam!” hanya itu yang dikatakannya, sambil telunjuknya menunjuk arah hutan lindung. Gemetaran, keringat membanjir, lalu dia pingsan.

Kami bingung, kajian bubar. Beberapa masyarakat kulihat, wajahnya berubah ketakutan, mereka lalu pamitan pulang. Hingga masjid tampak terasa sepi, Pak Yusuf memberi minyak angin di kening dan sekitar hidung Sariman.

”Apakah benar Gagak Hitam?” seperti igauan, Pak Yusuf menatap langit.
Gagak Hitam?

”Misteri akan segera terkuak, penyelidikanku sudah memperkirakan ini. Dik, kau harus sudah menyiapkan diri lagi,” tegas dan pelan, Pak Karta menatap tajam Kang Mukhlis.
Kang Mukhlis balas menatap, mengangguk, ”Gagak Hitam datang lagi. Biarlah mereka mencari apa yang mereka cari, lalu kita tidak usah saling mengganggu dengan mereka.”

”Apa! Sejak kapan kau menjadi pengecut Dik! Lebih baik mati, daripada terhina seperti dulu,” Pak Lurah sedikit mengkal.
”Ini demi kebaikan desa Cahaya, Kang.”


Apa sebenarnya yang terjadi? Aku merasa belum saatnya bertanya, suasana masih tegang. Seolah ketakutan di mana-mana mengintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar