Yanto, seolah aku baru
mengenalnya kemarin. Memang kawan, kadang kau baru menyadari seseorang setelah
kau berinteraksi lama dengannya. Satu-dua hari tak akan cukup mengenali karakter,
sifat, kelebihan dan kekurangan seseorang. Yanto memang sering ke hutan
lindung, tapi dia tak pernah menceritakan pada siapa pun bahwa dia sering
menemukan orang-orang berkeliaran di hutan, dikiranya itu adalah petugas dari
kepolisian atau penjaga hutan yang secara legal di utus pemerintah negara ini.
Itu mustahil kawan, karena
masyarakat juga dilarang masuk oleh keamanan hutan lindung yang menjaga di
perbatasan masuk hutan. Lalu, kenapa ada transaksi seperti kulihat kemarin?
Sepulang dari hutan
lindung, kuceritakan kejadian yang kualami pada Kang Mukhlis, tapi dia
menyarankan agar jangan terlibat terlalu jauh. Dia memperingatkanku untuk
menjalani hidupku seperti biasa, aku tak melihat reaksi beliau mencoba menguak
kasus ini. Walau aku kecewa pada sikapnya, aku tak berani mengatakan apa-apa
padanya.
Kuberanikan menceritakan
kisahku dengan Yanto kepada Pak Karta selaku lurah. Dia menanggapi dengan
positif, ingin mengungkap kasus itu, tapi dia meminta untuk merahasiakan apa
yang kami lihat di dalam hutan. Pak Lurah mengatakan bahwa ini harus diselidiki
dulu kebenarannya, dan jangan membuat masyarakat desa Cahaya khawatir dan
merasa ketakutan, aku dan Yanto paham.
Hari ini, seperti biasa,
aku berangkat ke Sekolah Cahaya. Mengajar seperti hari-hari biasa, seolah tak
ada masalah sama sekali, kucoba sembunyikan permasalahan misteri hutan lindung,
Gobang Pelot, Gagak Hitam, transaksi jual - beli, kunci rahasia, semua hal
kucoba simpan baik-baik dalam otakku.
Memasuki kantor sekolah,
semuanya juga tampak seperti biasa. Tak ada masalah. Khazanah ilmu harus
disampaikan apa pun keadaannya, semenjak kematian salah satu anggota Geng Sar
yang mengerikan, desa masih dicekam takut, tapi tak begitu anak-anak sekolah,
mimpi telah membuat mereka kehilangan takutnya. Maka teori kudapatkan, mimpi
dapat membuat penakut menjadi pemberani.
Satu hal bermain di
otakku, di mana anggota Geng Sar yang lain? Menurut penjelasan Sarman, ketiga
temannya yang lain terpencar di hutan. Aku sedikit tegang teringat kata-kata
Sarman tempo hari, bahwa Gagak Hitam sedang mempersiapkan diri, Bu Siska!
Kutatap Bu Siska yang
sedang mengerjakan sesuatu di atas mejanya, menulis di kertasnya. Wajah itu,
begitu tenangnya. Mata lentiknya mengingatkanku pada pertemuan dengannya
pertama kali, mata lentik, seperti buah anggur sewaktu matang.
Astaghfirullah! Bukan
itu maksudku, aku harus menjaganya jika Gagak Hitam hendak melakukan sesuatu
untuk merebut kunci, ah, entahlah! Persetan dengan kata kunci, yang mereka cari
hingga saat ini.
Saat itu, wajah Bu Siska
menengok ke arahku. Allah, aku tak sempat menghindar, aku masih menatapnya. Aku
kaget, dan gugup begitu kulihat Bu Siska tampak gelagapan, dia bingung hendak
berulah, menutup bukunya, dan membukanya lagi. Aku paham, aku segera
mengalihkan pandanganku.
Bu Ria tak melihat adegan
itu, dia tengah asyik membahas tugas para muridnya. Kalau sampai tahu, dia
pasti mengejek habis-habisan. Pak Yusuf belum kembali dari masjid, aku sudah
sejak pagi shalat Dhuhanya.
”Pak Arif,” untung saja.
Itu tadi suara Bu Ria, dia memanggilku dan refleks menatapku. Aku mendongakkan
kepala, tanda siap mendengarkannya.
”Tolong saya, bisa Pak
Arif bacakan lembar jawaban milik Rahmat ini. Inilah repotnya mengajar kelas
satu dan dua. Lihat saja tulisan ini seperti cacing kepanasan, kian kemari,
mengolet, tak terbaca,” Bu Ria menyodorkan kertas itu padaku.
”Jangan menyalahkan
murid-murid begitu Bu, tulisan mereka kan terbentuk karena melihat contoh
tulisan ibu di papan juga,” Bu Ria sudah kembali menekuri buku-buku yang lain,
aku tak yakin dia mendengarkan kata-kataku tadi.
Amboi! Tulisan apa ini?
Terang saja tak terbaca, ini hanya coret-coretan ngawur, ini bukan tulisan,
kecuali Rahmat, si siswa itu mempunyai refleksi menemukan abjad sendiri selain
huruf A hingga Z. Aku hanya geleng-geleng kepala.
”Sudah terbaca Pak Arif,
pasti sudah! Bapak kan lulusan sarjana, pasti bisa membaca tulisan seperti
itu,” tanpa berdosa, Bu Ria menatapku kembali.
Aku menatapnya, ”Bu Ria,
kukatakan sejujurnya, ini bukanlah tulisan. Mungkin Bu Ria terlalu kecapaian,
sehingga coret-coretan asal ini dikira tulisan. Kulihat di sini, sama sekali
tak ada abjad Indonesia, tak ada A sampai Z.”
”Masak sih, Pak?”
”Mungkin saja, si Rahmat
tak bisa mengerjakan, makanya dia mengasal coretan, agar terlepas dari
hukuman,” kudengar beberapa kali dari siswa kelas satu dan dua mengadu karena
ancaman hukuman, setiap tak mengerjakan PR bisa setengah jam di minta berdiri
dengan tangan kiri memegangi telinga. Berdiri di depan kelas. Ah! Kasihannya,
ini juga buat koreksi Bu Ria.
”Hukuman seperti itu
sekarang kurang efektif untuk prestasi bagi para siswa lho, Bu Ria.”
Kulihat Bu Ria
mengangguk-angguk, semoga tidak terkesan menggurui. Biasanya kawan, menasihati
dengan bercanda itu lebih cepat ditangkap, dan si penerima nasihat tidak merasa
digurui. Itu hanya teoriku saja, Kawan, tapi kalau kau mau pake, boleh juga.
”Pak Arif.”
”Ya!” aku sedikit kaget
dan mengangkat kepalaku, kukira Bu Ria, tapi salah! Suara itu dari Bu Siska,
mata kami bertemu kembali.
”Ada apa, Bu Siska?”
”Kurasa kata-kata Anda dulu
benar, seperti kuncup bunga dari cincin Pak Arif, lalu, rumus-rumus teori yang
membingungkan itu, lalu analisis Pak Arif. Setelah kupikirkan mungkin aku
menemukan sebuah jawaban.”
”Maksud Bu Siska?” Bu Ria
juga ikut menatap Bu Siska.
Bu Siska seolah memasukkan
tangannya dari bawah jilbab yang menjulur panjang sampai ke dadanya. Aku
terkejut mau apa dia? Tangan itu bergerak masuk dari bawah jilbabnya, sampai ke
lehernya, seolah hendak mengambil sesuatu dari dalam jilbabnya. Aku mengalihkan
pandanganku ke lain tempat.
Saat itulah, konsentrasiku
hilang.
Suara-suara jeritan tampak
riuh, dari arah kelas-kelas siswa. Suara deruman motor memekkakkan telinga, dan
menghilang suaranya. Bu Siska kaget, dia berdiri hingga keluar ke pintu kantor,
aku dan Bu Ria mengikutinya keluar dari kantor guru.
Kulihat dua siswa berlari
sekencang-kencangnya ke arah kami, para siswa berhamburan dan berteriak-teriak,
berlari kian-kemari tak jelas, ada apa ini?
Dua orang siswa itu adalah Hasan dan Syahid,
mereka berhenti di depan kami, terengah-engah. Hasan memegangi perutnya, kurasa
sedikit sakit, hendak berkata tapi dia hanya menuding-nudingkan tangannya ke
arah kelas-kelas. Syahid terlihat masih mengatur napasnya.
Kami menunggu apa yang hendak mereka katakan, kami penasaran.
”Bu Siska, Fitri, Bu…
Fitri,” itulah kata-kata yang keluar, tak jelas, sambil napasnya turun naik
keluar dari mulut Syahid.
Sebelum otakku mencerna
dengan baik, Bu Siska sudah berlari ke arah kelas satu. Tak ada pengantar, dia
berlari begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa ancang-ancang. Aku memburu berlari
mengikutinya, ada apa dengan Fitri?
Aku dapat menyusul Bu
Siska, tepat di depan kelas satu, semuanya terdiam, aku tepat berdiri di
belakang Bu Siska. Bu Siska tampak kebingungan.
”Fitri! Di mana kamu
adikku, di mana kamu?” Bu Siska terisak, tangannya mengusap air mata di kedua
matanya, aku sungguh tak tega. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Seorang siswi mendekati Bu
Siska, di kedua tangannya yang bergetar, sebuah kertas terlipat dan diulurkan
pada Bu Siska. Bu Siska menerimanya, membuka, dan membacanya.
”Fitri!” Bu Siska menjerit
setelah menyelesaikan membaca tulisan itu.
”Ada apa, Bu?” aku
penasaran.
”Dia adalah harapanku, dia
adalah hidupku,” Bu Siska terjatuh, kedua lututnya membentur tanah. Aku bingung
hendak berbuat. Sekeliling kami, semua siswa pun terdiam. Tak berapa lama, Bu
Siska berdiri dan berjalan kuyu, pulang ke arah rumahnya. Kertas itu
tertinggal, kupungut, mataku penasaran dan membacanya.
Kepada : Bu Siska,
Sudah kuberikan waktu terlalu lama, kami tak sabar lagi. Serahkan kunci
itu, atau kau ingin melihat adikmu yang manis, dimakan binatang buas! Serahkan
di hutan lindung, secepatnya.
Gagak Hitam.
Not Comments Yet "Bagian 43, Penculikan"
Posting Komentar