”Namaku Lukman Hakim. Aku
tak tahu, dari mana asalku. Aku pun tak tahu, siapa orangtuaku, siapa
saudaraku, yang aku tahu, aku telah buta sejak lahir. Ada seorang lelaki yang
merawatku, aku pun tak tahu siapa dia. Dia mengayomiku. Dia seorang lelaki,
hingga usiaku sepuluh tahun, dia memberiku al-Qur`an dengan huruf timbul, agar
aku bisa membacanya.
Lelaki itu menyerahkan aku
kepada seorang ‘alim untuk belajar al-Qur`an. Maka, aku tinggal bersama ‘alim itu,
kupelajari al-Qur`an darinya, kuhafalkan. Hingga usiaku mencapai kurang lebih dua
puluh lima tahun, lelaki yang menitipkan aku datang lagi. Dia membawaku pergi
bersamanya.
Aku dibawa ke sebuah
pemukiman, perumahan. Lelaki itu menurunkan aku di sebuah mushala. Dia
mengatakan bahwa tugasku sudah dimulai, aku harus mengajarkan agama di situ.
Lalu, lelaki itu meninggalkanku begitu saja di mushala itu, aku belum mengerti.
Kau tahu? Daerah itu
adalah komplek pelacuran. Itu kuketahui dari lalu-lalang orang lewat. Daerah
itu adalah seluruhnya komplek pelacuran, aku bingung sendiri, apa yang akan kuajarkan di sana? Aku mulai ragu,
tapi hendak ke mana? Aku tak punya pilihan.
Akhirnya, saat kurasakan
maghrib menghampiri, aku azan dengan sekencang-kencangnya di dalam mushala itu.
Tiba-tiba keadaan demikian hening, sejenak orang terdiam. Kutunggu setelah azan,
tak ada yang datang. Kecuali dua anak kecil berumur sekitar sembilan dan
sepuluh tahun, mereka kakak beradik.
Dua anak kecil itu ikut
shalat bersamaku. Namun, hinggar-bingar suara musik memekakkan telinga. Selesai
shalat, kedua anak kecil itu memintaku untuk mengajari mereka bacaan Qur`an
yang kubaca saat shalat. Maka, aku mengajari mereka setiap malam, setelah
shalat Maghrib dan Isya’, ketika siangnya mereka bekerja mengumpulkan
barang-barang bekas.
Berjalannya waktu, lima
tahun berselang. Saat itu, kedua muridku itu mulai dewasa. Di daerah itu, tak
ada yang tertarik dalam menjalankan agama kecuali dua orang pemuda kecil itu,
mereka telah fasih dalam membaca kitab suci, mereka telah tahu banyak tentang
ilmu agama.
Malam hari, sekitar tengah
malam. Sebuah mobil berhenti di depan mushala, lelaki yang lima tahun dahulu
meninggalkan aku di sana, dia datang lagi. Dia menjemputku lagi. Aku bertanya
tentang dua pemuda muridku, dia mengatakan bahwa merekalah yang akan meneruskan
dakwahku di daerah itu.
Sebelum aku pergi bersama
lelaki itu, aku membuat sebuah surat untuk kedua pemuda itu agar meneruskan
dakwah di sana. Maka, malam itu aku pergi kembali. Mobil itu berhenti di sebuah
masjid, di sebuah desa. Dia kembali meninggalkanku dan mengatakan bahwa inilah
tugasku selanjutnya, di tempat baru itu.
Saat mendekati waktu
subuh, aku azan dengan pengeras suara di masjid itu. Hingga menunggu begitu lama, tak ada orang lain yang
masuk masjid untuk shalat berjamaah. Maka, aku iqamat. Saat shalat itulah, satu
orang wanita dan satu orang pria datang dan ikut shalat di belakangku.
Selesai shalat, mereka
bertanya tentang asalku. Kukatakan aku tak tahu, mereka terus menanyakan
asal-usulku. Aku menjawab apa yang kutahu. Hingga, mereka merasa iba, mereka
memintaku untuk menjaga masjid itu, mereka bergiliran akan memberiku makan,
asalkan aku mengumandangkan azan dan menjaga kebersihan masjid.
Setelah kejadian subuh
itu, baru kutahu, bahwa masjid itu telah tiga tahun tak terpakai lagi setelah
imam masjid itu, Kyai Jalal, meninggal dunia. Nyai Jalal sendiri merasa senang
dengan kehadiranku, karena masjid kembali hidup.
Selain aku merawat,
membersihkan, mengumandangkan azan saat waktunya, masyarakat di sana datang dan
mereka meminta nasihat serta menanyakan masalah-masalah yang menghimpit mereka.
Aku selalu duduk di pelataran depan masjid, semakin hari, semakin banyak
masyarakat yang datang berkonsultasi.
Aku pun semakin sibuk, maka waktunya segera kubagi, selain harus membersihkan
masjid.
Suatu saat, konsultasi
menjadi ajang ghibah. Kadang, seseorang mengadu, menjelek-jelekkan tetangganya,
begitu pun sebaliknya. Hingga ada yang datang untuk menanyakan nomor judi yang
akan keluar, togel. Akhirnya, daripada menjadi ajang dosa, ketika menunggu
giliran, mereka saling ghibah, saling menjelek-jelekkan. Maka, aku meminta
seorang pemuda menulis dengan kertas, bahwa aku tidak menerima konsultasi lagi.
Aku selalu tidur di
belakang lipatan tulisan yang kuberdirikan di lantai depan masjid. Aku tidak
mau ada ajang ghibah, apalagi di masjid. Akhirnya beberapa orang menghentikan
subsidi makanan untukku, selain itu, musimnya adalah musim peceklik.
Semakin hari, makanan
untukku porsinya terkurangi, serta hanya segelintir orang yang masih selalu
memberikan makanan. Desas-desus tentangku pun sudah kudengar, bahwa aku
dikatakan sebagai tukang tidur dan kerjanya hanya menunggu belas-kasihan. Kudengar
pula, ada sebuah rencana bahwa nanti malam aku akan dipindahkan ke masjid
daerah lain, saat aku terlelap tidur.
Saat menjelang tidur,
sebuah mobil datang di depan masjid. Lelaki yang dulu meninggalkanku datang
lagi, dia menjemputku untuk menempatkan aku di tempat yang lain lagi. Masjid
itu telah kuhuni sekitar dua tahun, kini, aku harus meninggalkannya lagi. Maka,
sebelum pergi kutulis surat untuk ditinggal di masjid itu.
Assalamu’alaikum
Terima kasih Nyai Jalal
dan segenap penghuni desa.
Ini saya, Lukman Hakim. Saya hendak pamitan, semoga Allah selalu
melindungi kita, tak perlu lagi memberi makan kepada saya, tak perlu
repot-repot ingin memindahkan saya. Saya akan pergi lagi, terima kasih untuk
makanannya selama ini, semoga berkah untuk kita. Saya harap masjid ini setelah
pergiku dapat dimakmurkan dengan lantunan azan kembali, seperti masanya Kyai Jalaludin.
Amiin.
Lukman Hakim
Begitulah salah satu
gambaran dalam bagian kehidupanku. Lelaki itu pulalah yang membawaku terakhir
ke desa Cahaya ini, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan dari
satu masjid ke masjid lainnya. Itulah
kisahku, sepanjang hidupku, kuhabiskan untuk belajar dan mengajarkan al-Qur`an.
Jika kau memintaku untuk mengajarimu, itulah cita-citaku, aku tak akan menolak
siapa saja yang ingin belajar tentang Kitabullah.
Aku akan selalu
menunggumu, kapanpun kau mau mengaji.”
Begitulah kisah yang
dituturkan Pak Lukman padaku. Lelaki tua ini telah melampaui masa, dia pasti
telah banyak makan garam-asam kehidupan. Pak Yusuf ternyata adalah seorang
murid Pak Lukman, lelaki yang misterius.
”Bolehkah aku bertanya
sesuatu pada Pak Lukman?”
”Bertanyalah.”
”Seolah aku menyatu dengan
Cahaya, seperti desa Cahaya juga. Aku sering bermimpi sama sebelum aku datang
ke sini. Mimpi bulan purnama, matahari yang tengah bersinar, bintang
gemerlapan, mengitariku bagaikan aku orbitnya.”
”Tak ada yang aneh dengan
semua itu.”
”Maksud Pak Lukman?”
”Karena kau dibutuhkan di
desa Cahaya, dalam dunia nyata, bukan abstrak. Kau dibutuhkan untuk mengabdikan
diri di sini, menerangi desa Cahaya dengan cahaya Allah, cahaya Tuhan. Bukan
pada masa lalu yang menjadi tujuan anakku, tapi apa yang ada di hadapanmu.
Itulah hakikat sebuah keyakinan, mimpi juga harus diperjuangkan juga!”
Lelaki buta itu berbalik,
dia berdiri, melakukan shalat. Secara tidak langsung, sebenarnya dia tengah
mengusirku. Apakah dia tahu? Aku melihat jam di tanganku. Waktu kelas
masuk sepertinya.
Baru saja, kakiku hendak
mengenakan sepatu, suara lonceng terdengar dua kali membahana dari arah
Sekolah. Kembali kutatap lelaki buta yang tengah berdiri dalam shalatnya, lelaki
misterius. Dan memang, seluruh hidupku, sepanjang kucermati penuh dengan
misteri yang harus selalu kuungkap dan kuhadapi, agar tetap bertahan.
Aku kembali ke Sekolah
Cahaya, saatnya masuk kelas.
Ternyata, Pak Yusuf juga
belajar agama dan membaca Qur`an dari Pak Lukman Hakim. Semenjak itu, aku
selalu menjalankan shalat di masjid, aku selalu belajar mengaji dengan Pak Lukman.
Lelaki buta itu amat telatan mengajariku, dia memakai Qur`an huruf timbulnya.
Aku benar-benar belajar dari Iqra, hingga karena kemauanku yang kuat akhirnya
aku mulai bisa membaca Qur’an walau terbata-bata.
Syahid dan Hasan ikut
mengaji bersamaku. Dalam rutinitas yang baru ini, aku mulai menemukan sebuah
ketenangan. Aku belum tahu ketenangan apa, yang jelas hatiku seolah lapang
jadinya. Kakek, kenapa tak dari dulu aku belajar mengaji bersamamu.
Aku tahu.
Kau ingin aku belajar Qur`an,
karena kesadaran sendiri ya, Kek? Sejenak kutatap langit, untuk mencari
jawabannya. Aku bertasbih pada Allah. Lisan, hati, raga, segenap jiwa, hingga
resapannya seolah mengusap dadaku lembut.
Not Comments Yet "Bagian 35, Sebuah Kisah"
Posting Komentar