Kamis, 07 November 2019

Bagian 35, Sebuah Kisah


”Namaku Lukman Hakim. Aku tak tahu, dari mana asalku. Aku pun tak tahu, siapa orangtuaku, siapa saudaraku, yang aku tahu, aku telah buta sejak lahir. Ada seorang lelaki yang merawatku, aku pun tak tahu siapa dia. Dia mengayomiku. Dia seorang lelaki, hingga usiaku sepuluh tahun, dia memberiku al-Qur`an dengan huruf timbul, agar aku bisa membacanya.

Lelaki itu menyerahkan aku kepada seorang ‘alim untuk belajar al-Qur`an. Maka, aku tinggal bersama ‘alim itu, kupelajari al-Qur`an darinya, kuhafalkan. Hingga usiaku mencapai kurang lebih dua puluh lima tahun, lelaki yang menitipkan aku datang lagi. Dia membawaku pergi bersamanya.

Aku dibawa ke sebuah pemukiman, perumahan. Lelaki itu menurunkan aku di sebuah mushala. Dia mengatakan bahwa tugasku sudah dimulai, aku harus mengajarkan agama di situ. Lalu, lelaki itu meninggalkanku begitu saja di mushala itu, aku belum mengerti.

Kau tahu? Daerah itu adalah komplek pelacuran. Itu kuketahui dari lalu-lalang orang lewat. Daerah itu adalah seluruhnya komplek pelacuran, aku bingung sendiri, apa  yang akan kuajarkan di sana? Aku mulai ragu, tapi hendak ke mana? Aku tak punya pilihan.

Akhirnya, saat kurasakan maghrib menghampiri, aku azan dengan sekencang-kencangnya di dalam mushala itu. Tiba-tiba keadaan demikian hening, sejenak orang terdiam. Kutunggu setelah azan, tak ada yang datang. Kecuali dua anak kecil berumur sekitar sembilan dan sepuluh tahun, mereka kakak beradik.

Dua anak kecil itu ikut shalat bersamaku. Namun, hinggar-bingar suara musik memekakkan telinga. Selesai shalat, kedua anak kecil itu memintaku untuk mengajari mereka bacaan Qur`an yang kubaca saat shalat. Maka, aku mengajari mereka setiap malam, setelah shalat Maghrib dan Isya’, ketika siangnya mereka bekerja mengumpulkan barang-barang bekas.

Berjalannya waktu, lima tahun berselang. Saat itu, kedua muridku itu mulai dewasa. Di daerah itu, tak ada yang tertarik dalam menjalankan agama kecuali dua orang pemuda kecil itu, mereka telah fasih dalam membaca kitab suci, mereka telah tahu banyak tentang ilmu agama.

Malam hari, sekitar tengah malam. Sebuah mobil berhenti di depan mushala, lelaki yang lima tahun dahulu meninggalkan aku di sana, dia datang lagi. Dia menjemputku lagi. Aku bertanya tentang dua pemuda muridku, dia mengatakan bahwa merekalah yang akan meneruskan dakwahku di daerah itu.
Sebelum aku pergi bersama lelaki itu, aku membuat sebuah surat untuk kedua pemuda itu agar meneruskan dakwah di sana. Maka, malam itu aku pergi kembali. Mobil itu berhenti di sebuah masjid, di sebuah desa. Dia kembali meninggalkanku dan mengatakan bahwa inilah tugasku selanjutnya, di tempat baru itu.

Saat mendekati waktu subuh, aku azan dengan pengeras suara di masjid itu. Hingga  menunggu begitu lama, tak ada orang lain yang masuk masjid untuk shalat berjamaah. Maka, aku iqamat. Saat shalat itulah, satu orang wanita dan satu orang pria datang dan ikut shalat di belakangku.

Selesai shalat, mereka bertanya tentang asalku. Kukatakan aku tak tahu, mereka terus menanyakan asal-usulku. Aku menjawab apa yang kutahu. Hingga, mereka merasa iba, mereka memintaku untuk menjaga masjid itu, mereka bergiliran akan memberiku makan, asalkan aku mengumandangkan azan dan menjaga kebersihan masjid.

Setelah kejadian subuh itu, baru kutahu, bahwa masjid itu telah tiga tahun tak terpakai lagi setelah imam masjid itu, Kyai Jalal, meninggal dunia. Nyai Jalal sendiri merasa senang dengan kehadiranku, karena masjid kembali hidup.

Selain aku merawat, membersihkan, mengumandangkan azan saat waktunya, masyarakat di sana datang dan mereka meminta nasihat serta menanyakan masalah-masalah yang menghimpit mereka. Aku selalu duduk di pelataran depan masjid, semakin hari, semakin banyak masyarakat  yang datang berkonsultasi. Aku pun semakin sibuk, maka waktunya segera kubagi, selain harus membersihkan masjid.

Suatu saat, konsultasi menjadi ajang ghibah. Kadang, seseorang mengadu, menjelek-jelekkan tetangganya, begitu pun sebaliknya. Hingga ada yang datang untuk menanyakan nomor judi yang akan keluar, togel. Akhirnya, daripada menjadi ajang dosa, ketika menunggu giliran, mereka saling ghibah, saling menjelek-jelekkan. Maka, aku meminta seorang pemuda menulis dengan kertas, bahwa aku tidak menerima konsultasi lagi.

Aku selalu tidur di belakang lipatan tulisan yang kuberdirikan di lantai depan masjid. Aku tidak mau ada ajang ghibah, apalagi di masjid. Akhirnya beberapa orang menghentikan subsidi makanan untukku, selain itu, musimnya adalah musim peceklik.

Semakin hari, makanan untukku porsinya terkurangi, serta hanya segelintir orang yang masih selalu memberikan makanan. Desas-desus tentangku pun sudah kudengar, bahwa aku dikatakan sebagai tukang tidur dan kerjanya hanya menunggu belas-kasihan. Kudengar pula, ada sebuah rencana bahwa nanti malam aku akan dipindahkan ke masjid daerah lain, saat aku terlelap tidur.

Saat menjelang tidur, sebuah mobil datang di depan masjid. Lelaki yang dulu meninggalkanku datang lagi, dia menjemputku untuk menempatkan aku di tempat yang lain lagi. Masjid itu telah kuhuni sekitar dua tahun, kini, aku harus meninggalkannya lagi. Maka, sebelum pergi kutulis surat untuk ditinggal di masjid itu.

Assalamu’alaikum
Terima kasih Nyai Jalal dan segenap penghuni desa.
Ini saya, Lukman Hakim. Saya hendak pamitan, semoga Allah selalu melindungi kita, tak perlu lagi memberi makan kepada saya, tak perlu repot-repot ingin memindahkan saya. Saya akan pergi lagi, terima kasih untuk makanannya selama ini, semoga berkah untuk kita. Saya harap masjid ini setelah pergiku dapat dimakmurkan dengan lantunan azan kembali, seperti masanya Kyai Jalaludin. Amiin.

Lukman Hakim

Begitulah salah satu gambaran dalam bagian kehidupanku. Lelaki itu pulalah yang membawaku terakhir ke desa Cahaya ini, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan dari satu masjid ke masjid lainnya.  Itulah kisahku, sepanjang hidupku, kuhabiskan untuk belajar dan mengajarkan al-Qur`an. Jika kau memintaku untuk mengajarimu, itulah cita-citaku, aku tak akan menolak siapa saja yang ingin belajar tentang Kitabullah.

Aku akan selalu menunggumu, kapanpun kau mau mengaji.”

Begitulah kisah yang dituturkan Pak Lukman padaku. Lelaki tua ini telah melampaui masa, dia pasti telah banyak makan garam-asam kehidupan. Pak Yusuf ternyata adalah seorang murid Pak Lukman, lelaki yang misterius.
”Bolehkah aku bertanya sesuatu pada Pak Lukman?”
”Bertanyalah.”

”Seolah aku menyatu dengan Cahaya, seperti desa Cahaya juga. Aku sering bermimpi sama sebelum aku datang ke sini. Mimpi bulan purnama, matahari yang tengah bersinar, bintang gemerlapan, mengitariku bagaikan aku orbitnya.”
”Tak ada yang aneh dengan semua itu.”
”Maksud Pak Lukman?”

”Karena kau dibutuhkan di desa Cahaya, dalam dunia nyata, bukan abstrak. Kau dibutuhkan untuk mengabdikan diri di sini, menerangi desa Cahaya dengan cahaya Allah, cahaya Tuhan. Bukan pada masa lalu yang menjadi tujuan anakku, tapi apa yang ada di hadapanmu. Itulah hakikat sebuah keyakinan, mimpi juga harus diperjuangkan juga!”

Lelaki buta itu berbalik, dia berdiri, melakukan shalat. Secara tidak langsung, sebenarnya dia tengah mengusirku. Apakah dia tahu? Aku melihat jam di tanganku. Waktu kelas masuk sepertinya.
Baru saja, kakiku hendak mengenakan sepatu, suara lonceng terdengar dua kali membahana dari arah Sekolah. Kembali kutatap lelaki buta yang tengah berdiri dalam shalatnya, lelaki misterius. Dan memang, seluruh hidupku, sepanjang kucermati penuh dengan misteri yang harus selalu kuungkap dan kuhadapi, agar tetap bertahan.

Aku kembali ke Sekolah Cahaya, saatnya masuk kelas.

Ternyata, Pak Yusuf juga belajar agama dan membaca Qur`an dari Pak Lukman Hakim. Semenjak itu, aku selalu menjalankan shalat di masjid, aku selalu belajar mengaji dengan Pak Lukman. Lelaki buta itu amat telatan mengajariku, dia memakai Qur`an huruf timbulnya. Aku benar-benar belajar dari Iqra, hingga karena kemauanku yang kuat akhirnya aku mulai bisa membaca Qur’an walau terbata-bata.

Syahid dan Hasan ikut mengaji bersamaku. Dalam rutinitas yang baru ini, aku mulai menemukan sebuah ketenangan. Aku belum tahu ketenangan apa, yang jelas hatiku seolah lapang jadinya. Kakek, kenapa tak dari dulu aku belajar mengaji bersamamu.

Aku tahu.


Kau ingin aku belajar Qur`an, karena kesadaran sendiri ya, Kek? Sejenak kutatap langit, untuk mencari jawabannya. Aku bertasbih pada Allah. Lisan, hati, raga, segenap jiwa, hingga resapannya seolah mengusap dadaku lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar