Kamis, 07 November 2019

Bagian 36, Mainkan Imajinasi Kalian!


Hidup ini memang indah, mau tinggal di mana pun kau, tak usah risau. Di kota, di desa, di pegunungan, pesisir pantai, di tambak udang, tak peduli. Kau berhak bahagia, kaya atau miskin, ramai atau sendirian. Setiap manusia layak untuk bahagia, seperti pula aku, di desa Cahaya aku pun punya hak untuk bahagia.

Menikmati apa yang ada, bahagia, adalah bagian dari kesyukuran akan hidup yang dijalani. Kunaiki sepeda. Syahid memakai sepeda sendiri, sepeda kecil. Kami berangkat  bersama, berdendang seirama kaki-kaki kami yang mengayuh di antara angin pagi yang segar.

Kami sejajar, kedua mata Syahid terangkat kedua alisnya, aku mengerti, Ayo balapan! Itu pun kalau berani. Kubalas dengan mengangkat kepalaku. Let’s go. Kami mengeluarkan segenap kekuatan, terkumpul di kaki kami, mengayuh, mencoba mencapai sekolah. Walau sebenarnya, kami tak sungguh-sungguh. Kami tetap menjaga kestabilan kecepatan, kami selalu sejajar; satu membalap, maka dia memelankan lagi, ganti membalap begitu seterusnya.

Burung bernyanyi indah, berkicauan. Sesekali beberapa kera terlihat meloncat terlalu jauh, terpelanting dan berputar ke dahan. Suaranya seperti seorang anak yang menjerit saat permennya mau diambil.

”Duluan Pak Guru! Duluan! Duluan, Pak!” beberapa siswa Sekolah Cahaya menyerobot aku dan Syahid, banyak, dari seluruh sisi. Kecepatan mereka tinggi, aih! Tak kasihan pada ban sepeda. Jalanan terjal begini. Namanya juga anak-anak, Kawan, kau harus mengerti itu.

Aku memarkir sepeda, di dekat kantor. Pak Danu dengan kacamata tebalnya tersenyum menyambutku, Bu Siska masih menulis di mejanya. Bu Siska, walau wajahnya tak secantik anaknya Pak Lurah, tapi, dia mempunyai daya pesona tersendiri, ketenangannya, anggunnya, sikapnya, senyumnya. Ah! Ketepis semua anggap tiba-tibaku. Kenapa aku ini?

Aku duduk di tempatku, hanya aku dan Bu Siska, Pak Danu baru saja masuk ke ruangannya. Kawan, dadaku berdebar-debar. Bahkan, apa yang hendak kulakukan, hilang semua. Kenapa aku begini? Bu Siska masih sibuk, konsentrasi menulis nilai sepertinya. Dari satu buku ke buku lainnya.

Kawan, aku bingung. Apa yang terjadi padaku? Aku seorang lelaki super cuek, kini, setelah kukenal desa Cahaya. Aku telah berubah total, sejak bertemu pula dengan wanita yang tengah duduk berjarak satu meja itu. Kenapa aku demikian memikirkannya? Karena apa? Apa karena suaranya yang merdu saat membaca al-Qur`an, yang kudengarkan kala pagi sesudah shalat Subuh?

Kawan, kini kuakui. Rumus tersulit, bukan rumus ilmu pengetahuan yang dikemukakan penemu-penemu, dari ujung kutub selatan hingga kutub utara, melainkan rumus cinta. Ya, rumus cinta.
”Bu Siska sedang mengerjakan apa?”

Akhirnya keluar juga suaraku. Duh! Salah. Suara itu bukan dari kedua bibirku, melainkan Bu Ria baru saja datang, bertanya pada Bu Siska dan duduk di kursinya. Tuhan! Aku semakin tak kuasa, bahkan, suara orang lain kukira suaraku. Ini bukan cinta, pasti bukan!
Cinta tak akan seperti ini.
m. Bu Ria baru datang?”
Bu Siska menoleh, mendongakkan kepalanya pada Bu Ria. Maka, pastilah tatapannya juga ke arahku. Tatapan kami bertemu, kami saling menunduk kembali.
”Iya, tadi di rumah, aku merapikan rumah dahulu.”

Untung saja! Allah, jagalah hati hamba ini. Kuakui aku belum tahu apa-apa tentang ilmu-Mu, bahkan aku masih belajar tahap awal membaca Qur`an. Ampuni hamba karena hamba telat, sangat telat. Aku tak boleh berlama-lama di sini, akan kujaga hati ini, bersama-Mu Allah.
Aku berdiri hendak keluar, tapi langkahku segera terhenti.

”Pak Arif, mohon masuk ke ruangan saya sebentar,” sesosok kepala menyembul dari ruangan kepala sekolah, Pak Danu. Segera, langkahku kuputar menuju ruangan Pak Danu.

”Kau tahu Pak Arif, umurku telah menua,” Pak Danu berjalan di belakang kursinya ke sana-ke mari di hadapanku, ”Jika menurut hitungan sebenarnya, harusnya aku sudah pensiun, tak lagi mengurusi sekolah, dan menikmati masa tuaku di rumah bersama anak-cucu. Aku bertahan, karena tak ada yang menggantikannya. Selain itu, aku mempunyai satu keinginan, agar aku tenang meninggalkan Sekolah Cahaya ini.”

Pak Danu duduk tepat di hadapanku, dia menatapku, ”Aku ingin meninggalkan sebuah kenangan terbesar di Sekolah ini, yang akan dibawa setiap siswa hingga ajal mereka kelak. Agar mereka mengingat dan menyimpan cahaya di hati mereka, ajarilah mereka mimpi yang sesungguhnya. Ajarkanlah para murid mimpi mereka Pak Arif, agar mereka mempunyai keinginan yang tak akan pernah mati.”

”Saya tidak mengerti maksud Pak Danu.”

”Semenjak kau datang, aku menaruh harapan besar padamu, Anakku. Semenjak para siswa pertama kalinya dalam hidupku, mereka melakukan protes saat kau hendak kukeluarkan, saat itulah aku melihat para siswa telah melakukan dobrakan atas kebodohan. Aku tahu, kau bukanlah dari desa Cahaya, kau diutus Allah untuk datang ke sini. Aku ingin melihat desa Cahaya maju, seperti namanya, cahaya. Kumohon pada Anda Pak Arif, ini adalah permintaan seluruh penduduk desa Cahaya. Ajarkan para murid mimpi, seperti kau ajari mereka protes.”

Wajah Pak Danu, tidak Kawan, dia berharap dengan kesungguhan. Sampai berkaca kedua matanya.
”Saya akan berusaha, Pak.”

”Baiklah!” Pak Danu berdiri, ”Anggaplah ini adalah permintaan terakhir dari seorang tua yang memiliki mimpi, tapi umur telah tak mampu dijangkaunya lagi. Sekarang lakukanlah sesuka Anda, aku ingin melihat mimpi dan harapan ada di setiap sorot mata anak-anak Sekolah Cahaya, agar mereka tak pernah malu pernah bersekolah di sini.”

Pak Danu menyamping, menatap jendela terbuka di depannya.

”Baiklah Pak, insya Allah akan kuusahakan yang terbaik,” kurasa baru sekali ini aku mengucapkan insya Allah, ungkapan yang indah. Bukan obral janji, bukan pola alasan penolakan, tapi kata ikatan dengan Tuhan Semesta Alam, maka dia melebihi janji-janji yang sesungguhnya.
Aku keluar ruangan, kudekati lonceng tanda masuk. Pak Yusuf sudah duduk di kursinya. Saat aku meraih lonceng, Pak Yusuf tergerak berdiri mendekatiku.

”Biarkan saya saja, Pak, ini tugas saya,” senyumnya merekah.

”Biar saya, Pak Yusuf, saya sedang melaksanakan tugas yang diberikan Pak Kepala Sekolah,” aku tersenyum pada Pak Yusuf. Aku bukan memukul lonceng itu, melainkan kuambil dari kaitan lubang lonceng dengan besi sangkutan. Kuambil dan kupegang bersama besinya, kutenteng pergi. Saat itu kulihat Pak Yusuf, Bu Ria dan Bu Siska heran seheran-herannya. Saat itu, Pak Danu keluar dari ruangannya, hanya dia  yang tersenyum, hingga gigi serinya kelihatan.

Aku berjalan keluar kantor sekolah, aku berjalan bagai pemukul gong saat akan mengumumkan woro-woro dari Sang Raja, dengan membawa kertas gulungan yang siap dibacakan di hadapan semua rakyat. Tapi gulungan kertasku tak ada, hanya pemukul besi lonceng di tangan kananku.

Aku berhenti tepat di depan kelas-kelas di lapangan upacara bendera, di antara keenam kelas yang membentuk huruf U. Beberapa siswa melihatku, walau mereka heran, tapi segera meneruskan permainan mereka. Ada yang main lompat-lompatan dengan karet gelang, ada yang main kayu, mainan kayu kecil, dipukul ujungnya kayu pendek setelah tinggi dipukul, hingga siapa yang jauh dialah pemenangnya, dan mainan lainnya.

Kuperhatikan semua siswa, kulepas semua pandang ke seluruh penjuru, aku berputar, hingga beberapa kali. Aku berhenti, kuangkat tanganku tinggi-tinggi dan kupukulkan besi pemukul itu pada lonceng, kupukul dengan keras. Kuulangi sekali lagi, dan kuulangi memukulnya dengan keras. Tiga kali.

”Kumpul semua!” aku berteriak.

Para siswa Sekolah Cahaya berlari, ceria sekali wajah-wajah mereka, mereka serentak berlari dan membentuk barisan sesuai dengan kelasnya masing-masing, seperti barisan saat upacara bendera.
Kau tahu Kawan, kenapa wajah mereka berseri-seri? Juga kenapa mereka berlari demikian bersemangat? Tak lain, tak bukan adalah mereka salah paham pada lonceng yang kubunyikan. Mereka mengira bahwa akan ada pengumuman bahwa hari ini tidak belajar, dan pulang cepat. Mungkin mereka pikir akan ada rapat dewan guru dengan wali murid, atau ada musibah dan lain sebagainya.

Semua murid kurasa sudah berkumpul. Semua menunggu pengumuman dariku. Kujatuhkan lonceng dan pemukul besinya. Perlahan, aku berjalan di depan mereka, ke sana-ke mari, memerhatikan mereka bergantian, kusapu pandangan ke semua penjuru. Wajah-wajah mereka terlihat bingung.
”Kalian semua tahu kenapa Bapak kumpulkan di sini?”

Semuanya diam, Pak Danu datang dan berdiri di dekat podium, guru-guru lainnya juga berbaris di dekat Pak Danu.
”Bapak akan ajarkan kepada kalian satu pelajaran penting, yang akan kalian ingat sampai maut menjemput. Ingatlah baik-baik, pelajaran ini tak akan kalian temukan di sekolah mana pun, kecuali Sekolah Cahaya!” semuanya terdiam

”Apakah kalian lihat monyet yang bergelantungan di sana?” aku menunjuk seekor monyet yang tengah memanjat pohon  pisang, dia mencuri dan memakannya sesaat seorang wanita keluar membawa sapu kayunya dan mengusir sang monyet. Monyet itu menyeringai, kesenangannya diganggu, tapi melihat ancaman itu dia segera meloncat ke dahan dan pergi jauh.

”Monyet itu telah tahu apa yang harus dilakukannya, kalian lihat burung-burung yang terbang? Mereka telah tahu potensinya mengarungi angkasa. Hingga potensi elang yang terbang paling tinggi terbangnya itu dikatakan sebagai dinosaurus yang berani terbang. Karena mereka tahu ke mana tujuan hidup mereka.

Akan kuberikan kalian tugas. Hari ini adalah hari Sabtu, kuberikan kepada kalian satu minggu, hingga Sabtu yang akan datang. Setiap seorang dari kalian, harus mempunyai rancangan imajinasi, sesuai dengan kesenangan dan cita-cita kalian! Ciptakanlah benda baru, dengan apa pun peragaannya! Dan buktikanlah dengan imajinasi kalian!

Peragaan yang kalian lakukan harus masuk akal, berdasarkan ilmu, bukan asal menggugurkan tugas ini. Lebih dari itu! Kalian sedang bermimpi! Maka buktikanlah mimpi kalian! Desa Cahaya tidak membutuhkan mereka yang tak mempunyai mimpi untuk membangun desa Cahaya! Dan kalianlah yang akan membangunnya, dengan kekuatan kalian semua!”

Panas menyorot wajahku, kutantang dengan garang, wajahku kukeraskan. Ingin kulihat mereka menemukan kesungguhan dalam setiap ucapanku.

”Yang tidak membuat dan menunjukkan peragaan atau minimal konsep  yang dijelaskannya di depan. Lihat saja! Desa Cahaya tak akan membutuhkannya, tanah air tempat kalian dilahirkan akan mengusir kalian! Karena kalian tak mau membawa perubahan apa-apa pada kemajuan desa! Inilah pelajaran mimpi itu, agar kalian peluk setiap tidur. Buktikan pada orangtua kalian, buktikan pada teman-teman kalian, buktikan pada hutan, sawah, ladang yang terhampar. Buktikan bahwa kalian akan membangun mereka! Menjaga mereka! Dengan ilmu kalian!”

”Karena kini desa Cahaya sedang sakit, dan kalianlah obatnya. Obat yang akan membawa desa Cahaya menjadi layak untuk kalian tempati! Untuk orangtua kita nikmati hasil yang melimpah.
Kalian paham?”
”Paham, Pak?”

”Baiklah! Naikkan bendera, dan nyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini untuk jiwa kalian, agar menyiapkan mimpi-mimpi kalian ke depan. Dan negera ini membutuhkan prestasi-prestasi kalian!”
Bendera dikerek, bendera mulai naik. Lagu ’Indonesia Raya’ dinyanyikan, dengan khusyuk, penuh semangat. Semua terbawa dalam luapan semangat. Untuk tahap pertama sukses, hanya tinggal lihat minggu depan, apa yang mereka telurkan? Apakah mereka mempunyai mimpi-mimpi?

***

Rehat Kawan,

Wahai anak manusia,
Sesungguhnya engkau adalah hari-hari
Semakin hari itu pergi
Maka,
Sebagian dari dirimu telah pergi
(Hasan al Bashri)

Maka, jangan biarkan
Hari terlewat

Tanpa imajinasi menggoda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar