Sekali lagi, Pak Danu
kembali menorehkan sejarah dalam pembentukan pikiran bagi desa Cahaya.
Lobi-lobinya kurasa tak ada yang menyamai walau disandingkan dengan orang nomor
satu di negeri ini, siapa pun, seahli apa pun dia berorasi, tak seperti apa
yang dihasilkan Pak Danu. Kali ini, seluruh penduduk desa diundangnya, petani
libur ke sawah, pencari ikan di sungai tak melepas tali pengikat kapal.
Dan hasilnya, kau lihat sendirilah, Kawan. Balai
Sekolah penuh sesak masyarakat, terutama orangtua siswa, kemarin undangan resmi
telah menyapa rumah mereka satu-persatu selaku wali murid. Pekerja di tempat Pak
Manar, yang kini menggunakan mesin franchise Hasan, juga lengkap datang,
begitu pun para peladang.
Karena ruangan Balai
Sekolah tak cukup, maka papan belakang di jebol. Lalu, untuk atap semenjak
kemarin telah dipasang terpal-terpal panjang, disangga dengan kayu-kayu
ditancapkan di bumi, atau dengan pohon-pohon yang ada. Namun, terasa sejuk,
walau matahari gencar menyinar.
Aku sempurna di depan,
dengan mikrofon dan sound system, delapan buah milik Bang Rizal. Semua
terdiam menunggu suaraku, di belakangku tepat, tertulis, pelajaran ’mimpi’. Aku
mengucapkan salam kepada semua hadirin. Para siswa berbaris di samping para
wali murid dan masyarakat, di tangan mereka, beraneka ragam benda, kulihat
tampak aneh-aneh, unik.
”Desa Cahaya, jawaban atas
setiap pertanyaan akan sampai pada kesimpulannya. Maka, hari ini adalah hari
yang akan bersejarah bagi desa Cahaya! Hari yang akan dirindukan oleh mereka
yang menginginkan kemajuan desa, hari yang akan selalu terbayang di mata para
siswa Sekolah Cahaya. Yang akan mereka buktikan, apakah mimpi yang mereka
pikirkan akan terbukti!”
”Semua siswa akan
menunjukkan mimpinya! Akan kumulai dari kelas satu, untuk memanggil nama mereka
berdasarkan absensi, kuminta kepada Pak Danu yang pertama untuk memanggilnya!
Silakan, Pak Danu.”
Pak Danu maju, meraih mikrofon
dariku. Dipanggillah satu-persatu.
”Amir Abdillah!” suara Pak
Danu bersemangat.
Seorang siswa keluar dari
barisan kelas satu, yang duduk paling depan. Dia membawa gagang pancing, aku
terheran sejenak. Anak kecil itu maju ke depan, diberikan mikrofon itu dari Pak
Karta. Si anak mengambil mikrofon itu, tapi bukan kata yang diucapkannya,
melainkan memainkan pancingnya.
”Mimpiku tidak terlalu
rumit, ayahku adalah seorang pemancing ikan. Dia dapat membawa ikan satu
kilogram, lalu dijualnya untuk biaya sekolahku. Aku mempunyai satu mimpi yang
besar, suatu saat nanti aku ingin memancing dan mendapatkan uang untuk Bapak.
Beliau pasti sangat senang.
Bukanlah itu yang menjadi
mimpiku sebenarnya, sederhana saja. Ayah selalu kerepotan ketika membawa gagang
pancing bambunya. Aku hanya ingin membuat sejenis gagang pancing yang mudah
dibawa, dia bisa dimasukkan di saku belakang. Tidak panjang, tapi seperti gagang yang bisa
ditekuk-tekuk menjadi pendek. Jika akan memancing tinggal membuka tekukannya,
seperti lipatan pada pintu rumah. Itulah mimpiku, karena bagiku, senyum ayahku
adalah hadiah terindah bagiku,” sesudah menjelaskan anak itu berlari menghambur
ke tempat ayahnya duduk, sang ayah menciumi ubun-ubunnya.
Tepuk riuh pedukuhan
menggelegar, mimpi yang sangat sederhana. Tapi, bukan itu maknanya kawan, kau
tahu? Cintalah, yang membuat hal sederhana menjadi besar.
Setiap siswa kelas satu,
berjumlah 29 siswa, dipanggil satu persatu. Ada yang maju, menggemaskan. Mimpi
mereka, mimpi-mimpi anak kelas satu Sekolah Dasar. Ada yang ingin membuat
magnet sampah sehingga sampah di seluruh dunia bisa disedot, khusus sampah
saja, bukan termasuk sampah masyarakat. Ada yang ingin membuat kincir air di
desa, dibuat tingkat-tingkat, untuk mengangkat air sungai dan mengalirkannya ke
sawah, sehingga orangtuanya tak kesusahan air lagi menyirami sayurannya, dengan
mempraktikkan ragangan kayu-kayu kincir, di tengahnya diberi pengait, sehingga
satu di bawah berputar, di atas akan ikut berputar, semakin ke atas kincirnya
semakin kecil. Benar-benar jenius! Ada yang mempraktikkan seorang artis, dia akting,
Kawan, itulah kalau sering melihat televisi, obsesi menjadi publik figur.
”Fitriana Sari!” suara Pak
Danu kembali terdengar, kali ini, giliran adik kandung Bu Siska. Kulihat
sejenak Bu Siska tersenyum, mungkin dia sudah tahu apa yang menjadi mimpi
adiknya itu. Fitri maju ke depan, tapi tangannya bersembunyi di belakang
tubuhnya, menyembunyikan sesuatu.
”Aku... aku mempunyai
mimpi yang besar. Aku ingin membaca semua buku-buku cerita, mulai dari dongeng,
legenda, sejarah, kisah nyata, kehidupan,” Fitri mengeluarkan beberapa buku
dari belakang tubuhnya, yang disembunyikan di tangannya, ”Setiap malam, ketika
menjelang tidur. Kak Siska selalu bercerita, hingga aku tertidur. Dia tidak
akan berhenti bercerita jika aku tidak tidur,” semua orang terdiam,
mendengarkannya.
”Aku ingin tahu seluruh
cerita, agar aku sudah tahu apa yang akan diceritakan Kakak. Agar aku tak perlu
lagi mendengarkan ceritanya karena tak tertarik lagi, karena aku sudah tahu
akhirnya,” Fitri menangis, air matanya mengalir. Jujur kawan, aku paling tak
bisa melihat wanita, walau masih kecil, menangis. Maka, aku segera mengusap air
mataku, agar tak ada yang sempat melihatnya.
”Memangnya kenapa, Adikku?
Kau, kau tak suka kakak bercerita kepadamu?”
Semua mata tertuju pada
wajah teduh, wajah keibuan milik Bu Siska, dia telah berdiri. Maju ke depan,
mendekati adiknya, Bu Siska duduk, wajah mereka sejajar.
”Bukan begitu, Kak,” wajah
Fitri menunduk sejenak, lalu terangkat sedikit, ”Karena Fitri sangat bahagia
melihat wajah Kak Siska, saat tersenyum, saat tertawa, saat menangis, saat
berpura-pura akting sambil bercerita. Cukup bagi Fitri, tak usah mendengarkan
cerita, karena wajah kakak adalah segalanya bagi Fitri.”
Bu Siska terdiam,
dipeluknya erat anak kecil berkerudung itu. Semua penonton menangis, sebenarnya
ini adalah mimpi yang lucu, tapi, aku juga belum paham hakikatnya. Tak pernah
kulihat cinta sejenis ini.
Acara dilanjutkan, mimpi
digelar. Semakin banyak yang mengutarakan mimpi-mimpinya. Orang-orang desa
Cahaya akan tersadar sekarang! Itulah harapanku, bahwa, anak-anak mereka
memiliki mimpi, dan mereka wajib menjaga mimpi-mimpi mereka.
Ada siswa yang menunjukkan
mobil-mobilan dari kayu yang besar, ban mobil dari kayu yang dipotong, hingga
membentuk bundar. Tapi, bukan ditarik jalannya dengan tali, melainkan dengan
kayu yang didorong dari belakang, membuat kait dengan besi, bisa dibelok-belokkan
sesuka hati melalui kayu itu. Mimpinya adalah membuat kendaraan di masa depan,
tanpa harus ada sopir, dengan kendali jarak jauh. Kawan, ada pula yang
menyanyi, dengan oktaf tak teratur, ini pasti obsesi penyanyi. Kunci nadanya
tak teratur, tapi dia bersikeras ingin menjadi penyanyi. Ya, itulah bagian dari
mimpi.
Ada pula yang membacakan
sebuah syair, gaya bahasanya indah, mirip karya-karya Taufik Ismail, dengan nada mendayu, hingga aku terbawa suasana
dalam isi syair yang dibacanya. Obsesi penyair, cocok di dunia sastra. Ada yang
menggambar skema-skema rumah, aku heran belajar di mana dia?
”Aku ingin membuat
rumah-rumah desa Cahaya, berbeda dari semua rumah di seluruh dunia. Desa Cahaya
akan paling banyak dikunjungi orang-orang di seluruh dunia, karena keunikan bentuk
bangunan dan tata letak, tata desa yang menawan!” Rahmat, dialah namanya, siswa
kelas lima, menjelaskan skema-skema rumah itu.
Tepuk tangan terus-menerus
memenuhi keramaian di Sekolah Cahaya.
Kini giliran Hasan, apa
yang dia siapkan? Dengan santai, gaya jalan para eksekutif muda, seolah
membenahi dasinya, padahal tak ada. Senyum kepada semua hadirin, badannya yang
kurus, seolah hendak terbang diterpa angin. Dia membuka skema, ditempel di
papan, dihadapkannya pada semua orang.
”Aku tak perlu
repot-repot, aku sedang merancang alat pemarut kelapaku menjadi besar,” Hasan
menjelaskan dengan bangga. Skema itu berbentuk bukan lagi tiga parutan
menggiling melainkan sembilan dan lebih besar, serta di tengahnya selanya
besar, pastinya akan muat lebih banyak kelapa. Proses penggilingan akan bisa
menampung jumlah besar cepat dalam waktu singkat, sempurna!
”Bukan hanya kelapa yang
akan kugiling dalam waktu cepat, tapi singkong dan kopi juga, makanya mesin
yang kugunakan, juga akan bertenaga besar!”
Tepuk tangan riuh kembali,
Hasan tersenyum padaku, dia duduk kembali.
Seorang anak maju setelah
dipanggil, dia Herman, dia membawa senter ukuran besar. Ketika sampai di depan,
dinyalakannya senter itu ke arah papan. Dia membiarkan lampu itu menyala cukup
lama, lalu dimatikan dan berbalik menghadap semua orang.
”Ini adalah senter biasa.
Kesukaanku adalah menonton layar tancap, jika ada acara di lapangan desa. Aku
hanya ingin mempermudah tanggapan layar tancap, hingga tak perlu lagi
menggulung rol, menggulung kabel, menyiapkan film rol putar, menyiapkan layar
di lapangan. Terlalu repot, menunggu menontonnya bisa berjam-jam, karena
operasionalnya mungkin hanya satu orang yang bisa.”
Herman kembali
menghidupkannya, singkat, lalu dimatikannya lagi.
”Aku akan membawakannya
untuk kalian, seperti menghidupkan senter ini, dan film akan langsung bisa
dilihat.”
Seorang lelaki berdiri di
belakang, ”Bagaimana kau membuatnya!” dia sangat antusias, kurasa dia juga
penggemar layar tancap.
”Akan kupelajari caranya,
tapi itulah mimpiku! Caranya ada di sini!” telunjuknya mengarah pada keningnya,
tepatnya di otaknya.
Si Lelaki yang bertanya
tadi adalah yang pertama kali bertepuk tangan penuh semangat, dan diikuti tepuk
tangan yang lain. Kau tahu, Kawan? Lelaki itu adalah ayahnya, dia maju dan
menggendong anaknya itu tinggi-tinggi. Ya, benar kata pepatah, buah jatuh tak
kan jauh dari pohonnya, atau air hujan jatuh dari genting tak akan jauh dari
sekitarnya, di bawahnya. Anak dan ayah yang memiliki hobi sama, apakah kau juga
begitu, Kawan?
Sebenarnya mimpi akan alat
itu sudah ada di kota, sejenis LCD, yang menampilkan apa yang ada di monitor
komputer, untuk disorotkan ke layar besar. Itulah gambarannya kurang lebih.
Giliran Syahid maju, anak Kang
Mukhlis. Di genggaman tangannya, terselip sebuah benda kecil, aku benar-benar
tak tahu apa yang disiapkannya. Bukan karena tak mengajari, tapi aku tak mau
mengintervensi mimpi-mimpinya.
Dia mengeluarkan sebuah
senter kecil, di ujung satunya adalah korek api. Dia menghidupkan senter, dan
menyorotkannya di depan jari kirinya. Di punggung jari-jarinya itu, warna merah
tampak jelas, dia mengambil taplak meja, agar merah di dalam jari-jari yang
tersorot semakin kelihatan. Apa yang hendak dijelaskannya?
”Salah satu cita-citaku,
adalah menjadi dokter. Jika pun tidak bisa jadi dokter, setidaknya aku punya
kontribusi dalam dunia kedokteran. Ketika kita menyorot senter di tangan kita,
maka seolah jari-jari kita berisi warna merah, aku tak tahu apakah itu darah
yang terlihat mengalir, karena cahaya itu menyorotnya. Aku berpikir ini akan
menjadi penemuan penting dunia kesehatan.
Jika kita melihat, banyak
orang memeriksakan darahnya. Semisal ada penduduk yang membutuhkan darah, maka
para pendonor akan diperiksa dulu apakah darahnya cocok, satu-persatu di periksa,
terlalu lama, bagaimana kalau korban kritis dan meninggal karena telat
mendapatkan darah.
Aku berpikir, ada senter
kecil yang khusus dibuat untuk memeriksa golongan darah manusia. Di belakang
lampu, ditampilkan huruf A, B, AB, O. Maka, setiap kulit diberi cahaya. Salah
satu huruf akan menyala, sebagai reaksi bahwa darahnya adalah huruf yang
menyala tersebut. Senter itu menyerap informasi, mengolahnya, dan memberi
kesimpulan jenis golongan darah, maka pengobatan akan berjalan semakin cepat,
dan pasien kritis akan dapat ditangani dengan cepat!”
Orang yang pertama kali
bertepuk tangan dan berdiri tentu saja adalah Ani, ahli kesehatan yang dimiliki
desa Cahaya saat ini. Dia maju mendekati Syahid, mengusap kepalanya penuh
sayang.
”Kau seperti Ibumu Syahid,
apakah kau tahu, bahwa ibumu dulu adalah seorang perawat sepertiku, kami
sekolah bersama walau ibumu dua tingkat di atasku. Ibumu adalah orang yang
cerdas.”
Syahid bingung, ”Apakah
Ibuku seorang perawat?” Ani mengangguk, Syahid menatap ayahnya, dan ayahnya mengangguk.
Tepuk tangan riuh kembali,
siulan susul menyusul. Tak kalah bahagia adalah Pak Danu! Tak hanya bahagia
kawan, dia menangis tersedu-sedu, itu pasti refleksi bahagianya, melihat
harapan berkobar-kobar di desa Cahaya.
Banyak yang tampil kawan,
tapi tak kuceritakan padamu, terlalu sedikit waktuku. Ada yang bermimpi menjadi
pemain badminton dunia, pemain sepakbola, mimpi menjadi polisi, menjadi sopir
mobil, mimpi membuat alat penangkap puyuh, menjadi pelatih hewan-hewan liar
sekaligus penjaganya, menjadi orator terkenal, menjadi menteri. Banyak lagi,
kau lihat saja hasilnya kelak, kawan, aku benar-benar capek.
Kala mimpi digelar, maka
wacana akan terbuka, di tempat terasing sekalipun. Walau di tempat yang penuh
keterbatasan.
Aku punya pesan untukmu kawan,
Jika kau tak punya
mimpi
Kau tak layak untuk
hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar