Kamis, 07 November 2019

Bagian 37, Senter Penunjuk Golongan Darah


Sekali lagi, Pak Danu kembali menorehkan sejarah dalam pembentukan pikiran bagi desa Cahaya. Lobi-lobinya kurasa tak ada yang menyamai walau disandingkan dengan orang nomor satu di negeri ini, siapa pun, seahli apa pun dia berorasi, tak seperti apa yang dihasilkan Pak Danu. Kali ini, seluruh penduduk desa diundangnya, petani libur ke sawah, pencari ikan di sungai tak melepas tali pengikat kapal.

Dan hasilnya, kau lihat sendirilah, Kawan. Balai Sekolah penuh sesak masyarakat, terutama orangtua siswa, kemarin undangan resmi telah menyapa rumah mereka satu-persatu selaku wali murid. Pekerja di tempat Pak Manar, yang kini menggunakan mesin franchise Hasan, juga lengkap datang, begitu pun para peladang.

Karena ruangan Balai Sekolah tak cukup, maka papan belakang di jebol. Lalu, untuk atap semenjak kemarin telah dipasang terpal-terpal panjang, disangga dengan kayu-kayu ditancapkan di bumi, atau dengan pohon-pohon yang ada. Namun, terasa sejuk, walau matahari gencar menyinar.

Aku sempurna di depan, dengan mikrofon dan sound system, delapan buah milik Bang Rizal. Semua terdiam menunggu suaraku, di belakangku tepat, tertulis, pelajaran ’mimpi’. Aku mengucapkan salam kepada semua hadirin. Para siswa berbaris di samping para wali murid dan masyarakat, di tangan mereka, beraneka ragam benda, kulihat tampak aneh-aneh, unik.

”Desa Cahaya, jawaban atas setiap pertanyaan akan sampai pada kesimpulannya. Maka, hari ini adalah hari yang akan bersejarah bagi desa Cahaya! Hari yang akan dirindukan oleh mereka yang menginginkan kemajuan desa, hari yang akan selalu terbayang di mata para siswa Sekolah Cahaya. Yang akan mereka buktikan, apakah mimpi yang mereka pikirkan akan terbukti!”

”Semua siswa akan menunjukkan mimpinya! Akan kumulai dari kelas satu, untuk memanggil nama mereka berdasarkan absensi, kuminta kepada Pak Danu yang pertama untuk memanggilnya! Silakan, Pak Danu.”

Pak Danu maju, meraih mikrofon dariku. Dipanggillah satu-persatu.
”Amir Abdillah!” suara Pak Danu bersemangat.

Seorang siswa keluar dari barisan kelas satu, yang duduk paling depan. Dia membawa gagang pancing, aku terheran sejenak. Anak kecil itu maju ke depan, diberikan mikrofon itu dari Pak Karta. Si anak mengambil mikrofon itu, tapi bukan kata yang diucapkannya, melainkan memainkan pancingnya.

”Mimpiku tidak terlalu rumit, ayahku adalah seorang pemancing ikan. Dia dapat membawa ikan satu kilogram, lalu dijualnya untuk biaya sekolahku. Aku mempunyai satu mimpi yang besar, suatu saat nanti aku ingin memancing dan mendapatkan uang untuk Bapak. Beliau pasti sangat senang.

Bukanlah itu yang menjadi mimpiku sebenarnya, sederhana saja. Ayah selalu kerepotan ketika membawa gagang pancing bambunya. Aku hanya ingin membuat sejenis gagang pancing yang mudah dibawa, dia bisa dimasukkan di saku belakang. Tidak  panjang, tapi seperti gagang yang bisa ditekuk-tekuk menjadi pendek. Jika akan memancing tinggal membuka tekukannya, seperti lipatan pada pintu rumah. Itulah mimpiku, karena bagiku, senyum ayahku adalah hadiah terindah bagiku,” sesudah menjelaskan anak itu berlari menghambur ke tempat ayahnya duduk, sang ayah menciumi ubun-ubunnya.

Tepuk riuh pedukuhan menggelegar, mimpi yang sangat sederhana. Tapi, bukan itu maknanya kawan, kau tahu? Cintalah, yang membuat hal sederhana menjadi besar.

Setiap siswa kelas satu, berjumlah 29 siswa, dipanggil satu persatu. Ada yang maju, menggemaskan. Mimpi mereka, mimpi-mimpi anak kelas satu Sekolah Dasar. Ada yang ingin membuat magnet sampah sehingga sampah di seluruh dunia bisa disedot, khusus sampah saja, bukan termasuk sampah masyarakat. Ada yang ingin membuat kincir air di desa, dibuat tingkat-tingkat, untuk mengangkat air sungai dan mengalirkannya ke sawah, sehingga orangtuanya tak kesusahan air lagi menyirami sayurannya, dengan mempraktikkan ragangan kayu-kayu kincir, di tengahnya diberi pengait, sehingga satu di bawah berputar, di atas akan ikut berputar, semakin ke atas kincirnya semakin kecil. Benar-benar jenius! Ada yang mempraktikkan seorang artis, dia akting, Kawan, itulah kalau sering melihat televisi, obsesi menjadi publik figur.

”Fitriana Sari!” suara Pak Danu kembali terdengar, kali ini, giliran adik kandung Bu Siska. Kulihat sejenak Bu Siska tersenyum, mungkin dia sudah tahu apa yang menjadi mimpi adiknya itu. Fitri maju ke depan, tapi tangannya bersembunyi di belakang tubuhnya, menyembunyikan sesuatu.

”Aku... aku mempunyai mimpi yang besar. Aku ingin membaca semua buku-buku cerita, mulai dari dongeng, legenda, sejarah, kisah nyata, kehidupan,” Fitri mengeluarkan beberapa buku dari belakang tubuhnya, yang disembunyikan di tangannya, ”Setiap malam, ketika menjelang tidur. Kak Siska selalu bercerita, hingga aku tertidur. Dia tidak akan berhenti bercerita jika aku tidak tidur,” semua orang terdiam, mendengarkannya.

”Aku ingin tahu seluruh cerita, agar aku sudah tahu apa yang akan diceritakan Kakak. Agar aku tak perlu lagi mendengarkan ceritanya karena tak tertarik lagi, karena aku sudah tahu akhirnya,” Fitri menangis, air matanya mengalir. Jujur kawan, aku paling tak bisa melihat wanita, walau masih kecil, menangis. Maka, aku segera mengusap air mataku, agar tak ada yang sempat melihatnya.
”Memangnya kenapa, Adikku? Kau, kau tak suka kakak bercerita kepadamu?”

Semua mata tertuju pada wajah teduh, wajah keibuan milik Bu Siska, dia telah berdiri. Maju ke depan, mendekati adiknya, Bu Siska duduk, wajah mereka sejajar.

”Bukan begitu, Kak,” wajah Fitri menunduk sejenak, lalu terangkat sedikit, ”Karena Fitri sangat bahagia melihat wajah Kak Siska, saat tersenyum, saat tertawa, saat menangis, saat berpura-pura akting sambil bercerita. Cukup bagi Fitri, tak usah mendengarkan cerita, karena wajah kakak adalah segalanya bagi Fitri.”

Bu Siska terdiam, dipeluknya erat anak kecil berkerudung itu. Semua penonton menangis, sebenarnya ini adalah mimpi yang lucu, tapi, aku juga belum paham hakikatnya. Tak pernah kulihat cinta sejenis ini.

Acara dilanjutkan, mimpi digelar. Semakin banyak yang mengutarakan mimpi-mimpinya. Orang-orang desa Cahaya akan tersadar sekarang! Itulah harapanku, bahwa, anak-anak mereka memiliki mimpi, dan mereka wajib menjaga mimpi-mimpi mereka.

Ada siswa yang menunjukkan mobil-mobilan dari kayu yang besar, ban mobil dari kayu yang dipotong, hingga membentuk bundar. Tapi, bukan ditarik jalannya dengan tali, melainkan dengan kayu yang didorong dari belakang, membuat kait dengan besi, bisa dibelok-belokkan sesuka hati melalui kayu itu. Mimpinya adalah membuat kendaraan di masa depan, tanpa harus ada sopir, dengan kendali jarak jauh. Kawan, ada pula yang menyanyi, dengan oktaf tak teratur, ini pasti obsesi penyanyi. Kunci nadanya tak teratur, tapi dia bersikeras ingin menjadi penyanyi. Ya, itulah bagian dari mimpi.

Ada pula yang membacakan sebuah syair, gaya bahasanya indah, mirip karya-karya Taufik Ismail, dengan nada mendayu, hingga aku terbawa suasana dalam isi syair yang dibacanya. Obsesi penyair, cocok di dunia sastra. Ada yang menggambar skema-skema rumah, aku heran belajar di mana dia?
”Aku ingin membuat rumah-rumah desa Cahaya, berbeda dari semua rumah di seluruh dunia. Desa Cahaya akan paling banyak dikunjungi orang-orang di seluruh dunia, karena keunikan bentuk bangunan dan tata letak, tata desa yang menawan!” Rahmat, dialah namanya, siswa kelas lima, menjelaskan skema-skema rumah itu.

Tepuk tangan terus-menerus memenuhi keramaian di Sekolah Cahaya.

Kini giliran Hasan, apa yang dia siapkan? Dengan santai, gaya jalan para eksekutif muda, seolah membenahi dasinya, padahal tak ada. Senyum kepada semua hadirin, badannya yang kurus, seolah hendak terbang diterpa angin. Dia membuka skema, ditempel di papan, dihadapkannya pada semua orang.

”Aku tak perlu repot-repot, aku sedang merancang alat pemarut kelapaku menjadi besar,” Hasan menjelaskan dengan bangga. Skema itu berbentuk bukan lagi tiga parutan menggiling melainkan sembilan dan lebih besar, serta di tengahnya selanya besar, pastinya akan muat lebih banyak kelapa. Proses penggilingan akan bisa menampung jumlah besar cepat dalam waktu singkat, sempurna!
”Bukan hanya kelapa yang akan kugiling dalam waktu cepat, tapi singkong dan kopi juga, makanya mesin yang kugunakan, juga akan bertenaga besar!”

Tepuk tangan riuh kembali, Hasan tersenyum padaku, dia duduk kembali.
Seorang anak maju setelah dipanggil, dia Herman, dia membawa senter ukuran besar. Ketika sampai di depan, dinyalakannya senter itu ke arah papan. Dia membiarkan lampu itu menyala cukup lama, lalu dimatikan dan berbalik menghadap semua orang.

”Ini adalah senter biasa. Kesukaanku adalah menonton layar tancap, jika ada acara di lapangan desa. Aku hanya ingin mempermudah tanggapan layar tancap, hingga tak perlu lagi menggulung rol, menggulung kabel, menyiapkan film rol putar, menyiapkan layar di lapangan. Terlalu repot, menunggu menontonnya bisa berjam-jam, karena operasionalnya mungkin hanya satu orang yang bisa.”

Herman kembali menghidupkannya, singkat, lalu dimatikannya lagi.
”Aku akan membawakannya untuk kalian, seperti menghidupkan senter ini, dan film akan langsung bisa dilihat.”

Seorang lelaki berdiri di belakang, ”Bagaimana kau membuatnya!” dia sangat antusias, kurasa dia juga penggemar layar tancap.
”Akan kupelajari caranya, tapi itulah mimpiku! Caranya ada di sini!” telunjuknya mengarah pada keningnya, tepatnya di otaknya.

Si Lelaki yang bertanya tadi adalah yang pertama kali bertepuk tangan penuh semangat, dan diikuti tepuk tangan yang lain. Kau tahu, Kawan? Lelaki itu adalah ayahnya, dia maju dan menggendong anaknya itu tinggi-tinggi. Ya, benar kata pepatah, buah jatuh tak kan jauh dari pohonnya, atau air hujan jatuh dari genting tak akan jauh dari sekitarnya, di bawahnya. Anak dan ayah yang memiliki hobi sama, apakah kau juga begitu, Kawan?

Sebenarnya mimpi akan alat itu sudah ada di kota, sejenis LCD, yang menampilkan apa yang ada di monitor komputer, untuk disorotkan ke layar besar. Itulah gambarannya kurang lebih.
Giliran Syahid maju, anak Kang Mukhlis. Di genggaman tangannya, terselip sebuah benda kecil, aku benar-benar tak tahu apa yang disiapkannya. Bukan karena tak mengajari, tapi aku tak mau mengintervensi mimpi-mimpinya.

Dia mengeluarkan sebuah senter kecil, di ujung satunya adalah korek api. Dia menghidupkan senter, dan menyorotkannya di depan jari kirinya. Di punggung jari-jarinya itu, warna merah tampak jelas, dia mengambil taplak meja, agar merah di dalam jari-jari yang tersorot semakin kelihatan. Apa yang hendak dijelaskannya?

”Salah satu cita-citaku, adalah menjadi dokter. Jika pun tidak bisa jadi dokter, setidaknya aku punya kontribusi dalam dunia kedokteran. Ketika kita menyorot senter di tangan kita, maka seolah jari-jari kita berisi warna merah, aku tak tahu apakah itu darah yang terlihat mengalir, karena cahaya itu menyorotnya. Aku berpikir ini akan menjadi penemuan penting dunia kesehatan.

Jika kita melihat, banyak orang memeriksakan darahnya. Semisal ada penduduk yang membutuhkan darah, maka para pendonor akan diperiksa dulu apakah darahnya cocok, satu-persatu di periksa, terlalu lama, bagaimana kalau korban kritis dan meninggal karena telat mendapatkan darah.

Aku berpikir, ada senter kecil yang khusus dibuat untuk memeriksa golongan darah manusia. Di belakang lampu, ditampilkan huruf A, B, AB, O. Maka, setiap kulit diberi cahaya. Salah satu huruf akan menyala, sebagai reaksi bahwa darahnya adalah huruf yang menyala tersebut. Senter itu menyerap informasi, mengolahnya, dan memberi kesimpulan jenis golongan darah, maka pengobatan akan berjalan semakin cepat, dan pasien kritis akan dapat ditangani dengan cepat!”

Orang yang pertama kali bertepuk tangan dan berdiri tentu saja adalah Ani, ahli kesehatan yang dimiliki desa Cahaya saat ini. Dia maju mendekati Syahid, mengusap kepalanya penuh sayang.
”Kau seperti Ibumu Syahid, apakah kau tahu, bahwa ibumu dulu adalah seorang perawat sepertiku, kami sekolah bersama walau ibumu dua tingkat di atasku. Ibumu adalah orang yang cerdas.”

Syahid bingung, ”Apakah Ibuku seorang perawat?” Ani mengangguk, Syahid menatap ayahnya, dan ayahnya mengangguk.
Tepuk tangan riuh kembali, siulan susul menyusul. Tak kalah bahagia adalah Pak Danu! Tak hanya bahagia kawan, dia menangis tersedu-sedu, itu pasti refleksi bahagianya, melihat harapan berkobar-kobar di desa Cahaya.

Banyak yang tampil kawan, tapi tak kuceritakan padamu, terlalu sedikit waktuku. Ada yang bermimpi menjadi pemain badminton dunia, pemain sepakbola, mimpi menjadi polisi, menjadi sopir mobil, mimpi membuat alat penangkap puyuh, menjadi pelatih hewan-hewan liar sekaligus penjaganya, menjadi orator terkenal, menjadi menteri. Banyak lagi, kau lihat saja hasilnya kelak, kawan, aku benar-benar capek.

Kala mimpi digelar, maka wacana akan terbuka, di tempat terasing sekalipun. Walau di tempat yang penuh keterbatasan.

Aku punya pesan untukmu kawan,

Jika kau tak punya mimpi

Kau tak layak untuk hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar