Kamis, 07 November 2019

Bagian 34, Akhirnya Kau Tiba


Aku telah mendapatkan informasi banyak tentang Pak Lukman, lelaki tua buta itu merawat masjid dan masyarakat bergiliran memberikan dia makanan. Lelaki buta itu, tak tahu asalnya dari mana, tahu-tahu sudah ada di masjid desa Cahaya, sejak dia ada, masjid itu selalu digunakan shalat berjamaah, walau hanya segelintir orang, enam hingga tujuh orang.

Aku tepat duduk bersila di depannya, sebentar-sebentar kepalanya meliuk, seperti memerhatikanku. Ada keheranan di wajahnya, seperti orang normal bisa melihat saja.
”Kau sudah paham sekarang?”
”Maksud Pak Lukman?”

”Seperti langit yang bertugas memayungi kehidupan, seperti bumi yang dihamparkan sebagai tempat berpijak, seperti pula angin yang berhembus untuk mengisi kosong, seperti pula dermaga tempat berlabuhnya kapal-kapal.”
”Saya tidak mengerti dengan maksud Bapak.”
Lelaki buta itu menepuk pundak kananku.

Tidakkah kamu tahu, bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Hening.
”Akhirnya kau datang juga.”
Aku tak mengerti dengan kata-katanya, lelaki buta kurus itu masih saja seolah menatapku. Aku tak mau tahu pula apa yang sedang dibicarakannya.

”Pak Lukman, bolehkah aku meminta bantuan Bapak?”
”Apa itu, Pak Arif?”
”Ajari aku membaca kitab suci, karena saya belum bisa membacanya. Saya ingin sekali dapat membaca dan mempelajarinya,” kawan, inilah keinginanku. Mungkin, jika aku bisa membacanya, hatiku akan menjadi tenteram.

”Dengan senang hati, tapi, apakah kau mau mendengarkan kisahku dahulu? Ini adalah kisahku.”
”Saya akan mendengarkannya.”
Lelaki tua itu menghela napasnya pelan, terjadi hembusan pelan. Lelaki tua itu mulai berkisah tentang kisah hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar