Kamis, 07 November 2019

Bagian 33, Kuncup Bunga


Malam menyapa, aku hendak tidur. Saat mencari sikat gigi dalam tasku, tak sengaja kujatuhkan sebuah dompet kecil, dompet pemberian seorang nenek yang kutolong saat di kereta dulu. Sudah lama rupanya sejak itu, sudah berbulan-bulan, tapi rasanya baru kemarin saja.

Kubuka dompet itu, cincin bentuk matahari kukeluarkan. Aku melihatinya, memutar-mutarnya dalam tanganku. Kuperhatikan ukirannya, indah, bersinar, merekah bagai bunga. Sambil rebahan, kuangkat tepat di atas wajahku. Jika cincin ini merekah, bagaimana kalau kuncup?

Aku menggerakkan tangan kananku, jari-jariku memainkan rekahan sinar cincin itu, kutekuk satu-persatu, kuratakan seperti ’relativitas’ Albert Einstein. Yang dimaksudkannya adalah suatu pendapat matematik yang pasti, tentang kaidah-kaidah ilmiah yang sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Aku menautkan cincin rekahan, hingga sejajar dan rapi, aku subyektif bukan, karena akulah penganut, maka tergantung aku.

Sempurna. Setiap runcing kutekuk ke depan, cincin itu terlihat indah, relatif sama antara lekukan satu dengan yang lainnya. Delapan lekukan, bagai bunga mawar. Inilah rahasia sesungguhnya, ternyata berguna juga hukum relativitas Einstein untuk urusan seperti ini.

Bravo!”

Aku teringat sesuatu, kertas dari baju wasiat almarhum ayahanda Bu Siska! Kutemukan sedikit pemecahan, sedikit titik terang. Kubuka kembali kertas itu.

’Tekanlah seperti Archimedes, putarlah seperti Copernicus dan Galileo terhadap sistem tata surya, nyalakan seperti Thomas Alfa Edison, sempurnakanlah dengan relativitas Einstein.’
Aku baru saja menemukan bagian yang terakhirnya, tapi ada satu hal lagi! Mungkin saja, rumus ini menunjukkan tentang suatu benda peninggalan. Sama seperti cincin ini! Ini persepsi pertama. Akhirnya, aku tidur, lelah juga memikirkannya.

Esok pagi, seperti biasa. Sehabis shalat aku berlari maraton, berkeliling desa. Beberapa pemuda dan bapak-bapak terlihat lari pagi juga, kesehatan mulai diperhatikan penduduk desa, Bu Ani telah mulai praktik di puskesmas di dekat kantor Kelurahan. Kala pasien datang, senyumnya pertama kali menyambut, senyum penuh riang, penuh antusiasme. Sayur-mayurnya dirumah, diurusnya kala sore hari.

Aku terhenti di pojok rumah Bu Siska, terdengar alunan murattal teramat indah. Aku duduk di semen, tempat pemuda mangkal memainkan gitarnya saat malam. Aku takjub akan suara indah itu. Sampai kini, aku juga belum bisa membaca al-Qur`an, sebenarnya aku malu belajar, Kawan. Ah! Dasar pengecut!

Aku mendengarkan suara Bu Siska, mungkin dia tengah membaca bersama adiknya Fitri, karena ada suara kecil yang  ikut mengaji pula. Wanita bidadari dunia, hatiku yang berkata demikian kawan, hati terdalam, aku pun tak pantas mendapatkannya. Hanya tahu namanya, pernah mengenalnya adalah kenikmatan yang besar bagiku.

Lantunan Qur`an terhenti.

Aku mendekati rumah itu dan mengucapkan salam. Bu Siska dan Fitri si kecil keluar, telekung sempurna masih membalut seluruh tubuh bidadari itu. Sejenak aku tak bisa bicara.
”Ada apa pagi-pagi benar, Pak Arif?”

”Ehm, Bu Siska saya ingin mengatakan satu kemungkinan, tentang surat wasiat yang tertinggal di baju yang Bu Siska berikan.”
”Apakah Pak Arif telah menemukan artinya?”
”Belum, tapi bolehkah saya menanyakan sesuatu hal?”
”Silakan.”

”Apakah Bu Siska mempunyai peninggalan yang berharga, mungkin berupa cincin atau gelang, atau apa saja. Mungkin peninggalan itu penting, hingga harus Bu Siska jaga baik-baik?”
”Sepertinya tidak ada.”

Aku mengeluarkan cincin dalam dompet kecil, disinari lampu di depan rumah Bu Siska. Kuncup di cincin itu kubuka kembali menjadi delapan runcing mengeliling cincin, lalu ketekuk pelan-pelan. Membentuk kuncup bunga lagi.

”Indah sekali, Pak Arif.”

”Maksudku seperti ini, ini hanya relatif merapikan secara urut saja. Jika analisis saya benar, maka rumus itu juga digunakan untuk mengubah suatu alat, kemudian alat itu untuk membuka sebuah misteri.”

Aku menunggu reaksi Bu Siska selanjutnya.
”Bisa saja demikian Pak Arif, karena selama ini Geng Sar selalu berupaya mencari sesuatu kata mereka. Bahkan, kusuruh menggeledah rumahku, mereka tak menemukan apa-apa, tapi mereka selalu tak percaya, dan mengatakan bahwa aku menyembunyikan sesuatu.”

”Tak salah lagi! Ada misteri yang tersimpan di desa Cahaya!” aku menatap langit desa Cahaya yang mulai terang, matahari hampir menyorot, aku pamit pulang pada Bu Siska bersiap untuk mengajar di Sekolah Cahaya.

***
Waktu istirahat. Semua siswa berhambur keluar, ada yang ke kantin untuk jajan, ada yang memegang buku untuk bermain sambil belajar, ada yang ke lapangan untuk bermain bola, ada yang dekat jalan untuk bermain karet gelang, ada yang ke ladang dekat lapangan, untuk menangkap burung puyuh.

Melihat anak-anak, keceriaan tiada terkira. Setelah semua yang kualami, kenapa aku masih merasa gersang, walau kadang senyumku tersungging bahagia, walau semangatku tinggi. Tapi, seolah ada yang hambar dalam hidupku. Kau tak akan mengerti kawan, perasaan apa yang kualami ini, aku sendiri bingung, kenapa dengan jiwaku.

Aku berjalan menuju kantor, beberapa siswa menegurku ramah. Kutatap bunga-bunga indah di depan kelas-kelas, mereka merekah setelah kuncup sedari tadi malam, mereka merekah sebagai inti kehidupan mereka, menyerahkan yang terbaik setelah beristirahat. Lalu, kapan manusia kuncup? Lalu, kapan merekahnya? Hakikat hidup belum bisa kutemukan, Kakek!

Aku bingung mencari jawaban itu.

Gersang rasanya jiwa. ”Jika kau dalam keadaan terjepit, jika kau dalam kebimbangan, jika kau mencari jawaban, jika kau betul-betul mencari jawaban. Maka, saat itu lihatlah ke langit,” aku terngiang-ngiang kata kakek.

Kek! Tak selamanya kata-katamu benar. Kutatap langit, tapi tak memberi jawaban apa-apa. Atau mungkin aku tak paham? Aku bingung, harus kemana menanyakan perihal hidupku, aku butuh sesuatu yang bisa membuat hatiku tenteram. Itulah yang kucari sebenarnya. Ah! Kenapa aku begitu cengeng, Kawan!

Aku masuk ke kantor, Pak Danu masih membaca sebuah buku.
”Pak Yusuf belum keluar dari kelas, Pak?”

”Sudah, sekarang di ruanganku,” Pak Danu berbicara tanpa melihatku, dia masih membaca buku, ’Leadership’ begitu konsentrasi.

Aku berjalan mendekati pintu ruangan Pak Danu, kenapa Pak Yusuf sendirian di ruangan itu? Kubuka pelan, terlihat seorang lelaki memakai kopiah, tengah bersujud menghadap kiblat. Shalat?

Teramat lama sujudnya, shalat apa gerangan Pak Yusuf? Apa subuhnya lupa tadi pagi? Pak Yusuf bangun untuk duduk. Aku menutup pintu kembali, takut terlihat. Aku mundur, tanpa sengaja menyenggol meja Pak Danu yang tengah membaca.
”Ada apa, Pak Arif?” Pak Danu menurunkan bukunya, menatapku.
”Pak Yusuf,” aku menunjuk ruangan Pak Danu.

”Dia sedang shalat Dhuha, biasanya di masjid. Tapi katanya, setelah ini langsung mau mengajar olahraga katanya.”
”Shalat Dhuha?”
”Iya,” Pak Danu kembali mengangkat bukunya.

Aku keluar dari kantor, aku hendak ke toilet. Kawan, ini yang kubenci, lagi-lagi, antrian panjang. Toilet guru pun penuh siswa, terpaksa aku ke masjid di seberang timur sana. Aku mempercepat langkahku, sudah tak tahan rasanya.

Sampai di Masjid, aku langsung menuju toilet. Sudah beres, lega rasanya. Saat aku hendak meninggalkan masjid, kudengar suara lantunan al-Qur`an mengalun demikian indah, dari siapakah suara itu? Kakiku tertegun, ketika mendengar lantunan al-Qur`an, entah kenapa hatiku bergetar. Dulu, sewaktu Kakek membaca hafalannya, seadanya itu aku mendengarkannya takzim. Bu Siska juga membuatku takjub ketika membaca Qur`an. Kali ini, suara siapakah itu? Suaranya teramat fasih.

Aku mendekati tembok, merambat pelan. Mengendap-endap, saat aku mengintip dari pintu, kepalaku menyembul pelan. Seorang lelaki tua, tampak membelakangiku, dia menghadap kiblat masjid. Aku terpaku dalam berdiriku, aku terpesona tak terperi, ada sesuatu yang menjalar hingga seluruh syarafku.

Bacaan itu terhenti, lelaki tua itu menoleh, dia Pak Lukman, lelaki buta penunggu masjid, yang mengumandangkan azan di masjid desa. Dia menoleh ke arahku lama, aku tak bersuara sama sekali, berharap dia tak mengetahui aku ada di sana. Tapi, dia tak mengalihkan sedikitpun pandangannya padaku.

”Masuklah, Pak Arif.”

Aku kaget, bukankah dia buta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar