Malam menyapa, aku hendak
tidur. Saat mencari sikat gigi dalam tasku, tak sengaja kujatuhkan sebuah
dompet kecil, dompet pemberian seorang nenek yang kutolong saat di kereta dulu.
Sudah lama rupanya sejak itu, sudah berbulan-bulan, tapi rasanya baru kemarin
saja.
Kubuka dompet itu, cincin
bentuk matahari kukeluarkan. Aku melihatinya, memutar-mutarnya dalam tanganku.
Kuperhatikan ukirannya, indah, bersinar, merekah bagai bunga. Sambil
rebahan, kuangkat tepat di atas wajahku. Jika cincin ini merekah, bagaimana
kalau kuncup?
Aku menggerakkan tangan
kananku, jari-jariku memainkan rekahan sinar cincin itu, kutekuk satu-persatu,
kuratakan seperti ’relativitas’ Albert Einstein. Yang dimaksudkannya adalah
suatu pendapat matematik yang pasti, tentang kaidah-kaidah ilmiah yang
sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang
tergantung pada si penganut. Aku menautkan cincin rekahan, hingga sejajar dan
rapi, aku subyektif bukan, karena akulah penganut, maka tergantung aku.
Sempurna. Setiap runcing kutekuk
ke depan, cincin itu terlihat indah, relatif sama antara lekukan satu dengan
yang lainnya. Delapan lekukan, bagai bunga mawar. Inilah rahasia sesungguhnya,
ternyata berguna juga hukum relativitas Einstein untuk urusan seperti ini.
”Bravo!”
Aku teringat sesuatu,
kertas dari baju wasiat almarhum ayahanda Bu Siska! Kutemukan sedikit
pemecahan, sedikit titik terang. Kubuka kembali kertas itu.
’Tekanlah seperti
Archimedes, putarlah seperti Copernicus dan Galileo terhadap sistem tata surya,
nyalakan seperti Thomas Alfa Edison, sempurnakanlah dengan relativitas
Einstein.’
Aku baru saja menemukan
bagian yang terakhirnya, tapi ada satu hal lagi! Mungkin saja, rumus ini
menunjukkan tentang suatu benda peninggalan. Sama seperti cincin ini! Ini
persepsi pertama. Akhirnya, aku tidur, lelah juga memikirkannya.
Esok pagi, seperti biasa. Sehabis
shalat aku berlari maraton, berkeliling desa. Beberapa pemuda dan bapak-bapak
terlihat lari pagi juga, kesehatan mulai diperhatikan penduduk desa, Bu Ani
telah mulai praktik di puskesmas di dekat kantor Kelurahan. Kala pasien datang,
senyumnya pertama kali menyambut, senyum penuh riang, penuh antusiasme. Sayur-mayurnya
dirumah, diurusnya kala sore hari.
Aku terhenti di pojok
rumah Bu Siska, terdengar alunan murattal teramat indah. Aku duduk di semen,
tempat pemuda mangkal memainkan gitarnya saat malam. Aku takjub akan suara
indah itu. Sampai kini, aku juga belum bisa membaca al-Qur`an, sebenarnya aku
malu belajar, Kawan. Ah! Dasar pengecut!
Aku mendengarkan suara Bu
Siska, mungkin dia tengah membaca bersama adiknya Fitri, karena ada suara kecil
yang ikut mengaji pula. Wanita bidadari
dunia, hatiku yang berkata demikian kawan, hati terdalam, aku pun tak pantas
mendapatkannya. Hanya tahu namanya, pernah mengenalnya adalah kenikmatan yang
besar bagiku.
Lantunan Qur`an terhenti.
Aku mendekati rumah itu
dan mengucapkan salam. Bu Siska dan Fitri si kecil keluar, telekung sempurna
masih membalut seluruh tubuh bidadari itu. Sejenak aku tak bisa bicara.
”Ada apa pagi-pagi benar, Pak
Arif?”
”Ehm, Bu Siska saya ingin
mengatakan satu kemungkinan, tentang surat wasiat yang tertinggal di baju yang Bu
Siska berikan.”
”Apakah Pak Arif telah
menemukan artinya?”
”Belum, tapi bolehkah saya
menanyakan sesuatu hal?”
”Silakan.”
”Apakah Bu Siska mempunyai
peninggalan yang berharga, mungkin berupa cincin atau gelang, atau apa saja.
Mungkin peninggalan itu penting, hingga harus Bu Siska jaga baik-baik?”
”Sepertinya tidak ada.”
Aku mengeluarkan cincin
dalam dompet kecil, disinari lampu di depan rumah Bu Siska. Kuncup di cincin
itu kubuka kembali menjadi delapan runcing mengeliling cincin, lalu ketekuk
pelan-pelan. Membentuk kuncup bunga lagi.
”Indah sekali, Pak Arif.”
”Maksudku seperti ini, ini
hanya relatif merapikan secara urut saja. Jika analisis saya benar, maka rumus
itu juga digunakan untuk mengubah suatu alat, kemudian alat itu untuk membuka
sebuah misteri.”
Aku menunggu reaksi Bu Siska
selanjutnya.
”Bisa saja demikian Pak
Arif, karena selama ini Geng Sar selalu berupaya mencari sesuatu kata mereka.
Bahkan, kusuruh menggeledah rumahku, mereka tak menemukan apa-apa, tapi mereka
selalu tak percaya, dan mengatakan bahwa aku menyembunyikan sesuatu.”
”Tak salah lagi! Ada
misteri yang tersimpan di desa Cahaya!” aku menatap langit desa Cahaya yang
mulai terang, matahari hampir menyorot, aku pamit pulang pada Bu Siska bersiap
untuk mengajar di Sekolah Cahaya.
***
Waktu istirahat. Semua
siswa berhambur keluar, ada yang ke kantin untuk jajan, ada yang memegang buku
untuk bermain sambil belajar, ada yang ke lapangan untuk bermain bola, ada yang
dekat jalan untuk bermain karet gelang, ada yang ke ladang dekat lapangan,
untuk menangkap burung puyuh.
Melihat anak-anak,
keceriaan tiada terkira. Setelah semua yang kualami, kenapa aku masih merasa
gersang, walau kadang senyumku tersungging bahagia, walau semangatku tinggi.
Tapi, seolah ada yang hambar dalam hidupku. Kau tak akan mengerti kawan,
perasaan apa yang kualami ini, aku sendiri bingung, kenapa dengan jiwaku.
Aku berjalan menuju
kantor, beberapa siswa menegurku ramah. Kutatap bunga-bunga indah di depan
kelas-kelas, mereka merekah setelah kuncup sedari tadi malam, mereka merekah
sebagai inti kehidupan mereka, menyerahkan yang terbaik setelah beristirahat.
Lalu, kapan manusia kuncup? Lalu, kapan merekahnya? Hakikat hidup belum bisa
kutemukan, Kakek!
Aku bingung mencari
jawaban itu.
Gersang rasanya jiwa.
”Jika kau dalam keadaan terjepit, jika kau dalam kebimbangan, jika kau mencari
jawaban, jika kau betul-betul mencari jawaban. Maka, saat itu lihatlah ke
langit,” aku terngiang-ngiang kata kakek.
Kek! Tak selamanya
kata-katamu benar. Kutatap langit, tapi tak memberi jawaban apa-apa. Atau
mungkin aku tak paham? Aku bingung, harus kemana menanyakan perihal hidupku,
aku butuh sesuatu yang bisa membuat hatiku tenteram. Itulah yang kucari
sebenarnya. Ah! Kenapa aku begitu cengeng, Kawan!
Aku masuk ke kantor, Pak
Danu masih membaca sebuah buku.
”Pak Yusuf belum keluar
dari kelas, Pak?”
”Sudah, sekarang di
ruanganku,” Pak Danu berbicara tanpa melihatku, dia masih membaca buku,
’Leadership’ begitu konsentrasi.
Aku berjalan mendekati
pintu ruangan Pak Danu, kenapa Pak Yusuf sendirian di ruangan itu? Kubuka
pelan, terlihat seorang lelaki memakai kopiah, tengah bersujud menghadap
kiblat. Shalat?
Teramat lama sujudnya,
shalat apa gerangan Pak Yusuf? Apa subuhnya lupa tadi pagi? Pak Yusuf bangun
untuk duduk. Aku menutup pintu kembali, takut terlihat. Aku mundur, tanpa sengaja
menyenggol meja Pak Danu yang tengah membaca.
”Ada apa, Pak Arif?” Pak
Danu menurunkan bukunya, menatapku.
”Pak Yusuf,” aku menunjuk
ruangan Pak Danu.
”Dia sedang shalat Dhuha,
biasanya di masjid. Tapi katanya, setelah ini langsung mau mengajar olahraga
katanya.”
”Shalat Dhuha?”
”Iya,” Pak Danu kembali
mengangkat bukunya.
Aku keluar dari kantor,
aku hendak ke toilet. Kawan, ini yang kubenci, lagi-lagi, antrian panjang.
Toilet guru pun penuh siswa, terpaksa aku ke masjid di seberang timur sana. Aku
mempercepat langkahku, sudah tak tahan rasanya.
Sampai di Masjid, aku
langsung menuju toilet. Sudah beres, lega rasanya. Saat aku hendak meninggalkan
masjid, kudengar suara lantunan al-Qur`an mengalun demikian indah, dari
siapakah suara itu? Kakiku tertegun, ketika mendengar lantunan al-Qur`an, entah
kenapa hatiku bergetar. Dulu, sewaktu Kakek membaca hafalannya, seadanya itu
aku mendengarkannya takzim. Bu Siska juga membuatku takjub ketika membaca Qur`an.
Kali ini, suara siapakah itu? Suaranya teramat fasih.
Aku mendekati tembok,
merambat pelan. Mengendap-endap, saat aku mengintip dari pintu, kepalaku
menyembul pelan. Seorang lelaki tua, tampak membelakangiku, dia menghadap
kiblat masjid. Aku terpaku dalam berdiriku, aku terpesona tak terperi, ada
sesuatu yang menjalar hingga seluruh syarafku.
Bacaan itu terhenti,
lelaki tua itu menoleh, dia Pak Lukman, lelaki buta penunggu masjid, yang
mengumandangkan azan di masjid desa. Dia menoleh ke arahku lama, aku tak
bersuara sama sekali, berharap dia tak mengetahui aku ada di sana. Tapi, dia
tak mengalihkan sedikitpun pandangannya padaku.
”Masuklah, Pak Arif.”
Aku kaget, bukankah dia
buta?
Not Comments Yet "Bagian 33, Kuncup Bunga"
Posting Komentar