Pagi ini aku berlari-lari
setelah shalat Subuh di masjid, terasa sejuk. Desa Cahaya telah mengalami
kemajuan, jalanan telah mulus. Jalan-jalan terjal batu besar hanya ditemui di
gang-gang kecil saja, atau dua jalur di sebelah utara. Tiga jalur telah diaspal
halus, yang dua jalur menyusul tahun ini.
Beberapa orang yang
maraton, berpapasan dan mengucapkan salam sejenak, lalu mengambil jalur
sendiri-sendiri. Jika kesehatan telah diperhatikan, biasanya untuk urusan kerja
dan produktivitas juga akan meningkat kawan. Seimbang.
Pasar sudah berdiri, sudah
ramai pula, banyak pendatang baru. Teguh telah menjadi keamanan pasar, dia
sangat senang tinggal di desa Cahaya, banyak sahabat dan saudara, tak seperti
di Jakarta yang cenderung masa bodoh dengan tetangganya sekalipun.
Begitu pun Pak Rahmat,
pekerjaan utamanya adalah menjaga kebersihan pasar juga mengelola satu toko
kecil, toko sembako, isterinya yang menunggui terus. Isterinya pernah meminta
maaf padaku, dulu mengira aku adalah gelandangan makanya tak mengizinkan aku
menginap terus. Ah! Itu memang fitrah, curiga dan hati-hati diperlukan, tapi
juga tidak boleh berlebihan karena kemuliaan itu hanyalah Tuhan yang tahu.
Geng Sar telah bubar. Empat
orang sisanya bekerja mengurus parkir kendaraan di pasar, ada juga yang menjadi
tukang ojek, dan ada pula yang membantu Teguh menjaga keamanan pasar.
SMP pun sudah berjalan,
merekrut beberapa guru baru, dan memang jika keamanan terjaga, banyak tenaga
kerja akan masuk. Guru-guru baru merasa senang tinggal di desa Cahaya. Dan
tahukah kau, Kawan, keamanan hutan lindung yang baru ternyata adalah polisi
yang baik hati waktu aku di penjara dulu. Dia adalah anak asli desa Cahaya,
makanya dia berusaha membelaku, dia mengira aku pahlawannya, dia salah satu
fansku. Aih! Aku ke Ge-eR-an rupanya. Itulah kawan, jika kagum sudah melekat
untuk orang lain, dia akan berkorban apa saja. Kau lihat saja fans-fans artis di
negeri ini, mereka rela merendahkan harga dirinya, ah! Keterlaluan memang.
Langkahku sempurna
terhenti. Seluruh inderaku terpancing fokus. Suara merdu itu! Dadaku berdegup
kencang, suara merdu itu selalu bisa membuatku bergetar. Lantunan terindah,
dari bibir wanita yang lembut itu. Bu Siska, lantunan al-Qur`an-nya bisa
membuatku begitu nyaman rasanya.
Aku tak bisa bohong lagi,
cintakah ini? Jika cinta, kenapa begitu merasukiku? Apakah aku pantas menjadi
pendamping bidadari dunia itu? Aku hanya berani bermimpi, mimpi ketika bidadari
itu membaca al-Qur`an bersamaku, di rumahku, setiap hari, agar aku serasa
nyaman ketika aku lelah.
Astaghfirullah. Pantaskah,
ya Allah?
^___^
Aku duduk bersila di
hadapan Pak Lukman, kubuka kurma dari kulitnya, kubersihkan dan suapkan ke
mulut Pak Lukman. Pak Lukman mengunyahnya setelah mengucap basmallah.
”Hatimu sedang resah, Pak
Arif?”
Yang kutahu, dia selalu
saja tahu kondisi hatiku.
”Iya, Pak. Hatiku selalu
terbayang-bayang seorang wanita, aku mencoba menghilangkan perasaan itu, tapi
aku tak berdaya, Pak. Aku takut berdosa.”
”Bu Siskakah?” seolah
matanya memerhatikanku saksama, wajahnya dimajukan ke depan mendekatiku dan
bibirnya tersenyum.
”Benar, Pak,” lirih
suaraku mengakui.
”Pantas saja,” Pak Lukman
mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali melihat menatap wajahku,
”Dengarlah nasihatku, cinta itu adalah fitrah, Anakku. Makanya dalam syarat
pernikahan itu salah satunya adalah tidak ada paksaan atau keduanya ridha untuk
menikah, seperti Islam yang tidak dipaksakan kepada manusia tapi itulah jalan
antara neraka dan surga. Jika kau melihat kebaikan, maka itu harus
diperjuangkan.”
”Tapi, aku merasa tak
pantas untuknya, Pak.”
”Pantas dan tidak pantas,
saleh dan tidak saleh, itu adalah urusan Allah. Dan sejak kapan kau menjadi
pesimis seperti itu, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, karena harapan
itu wajib diperjuangkan. Cinta pun demikian, jika itu mengandung kebaikan maka
wajib diperjuangkan. Lamarlah dia, jika pun gagal, maka kau telah lepas dari
putus asa, kau telah berusaha.”
Aku menatap Pak Lukman
yang tersenyum, aku meninggalkannya dan mengucapkan salam, Terima kasih Pak
Lukman, selalu saja kau bisa membuat hatiku tenteram. Dan kini, saatnya cinta
itu diperjuangkan.
^___^
Aku naik sepeda bersama
Syahid, dia kubonceng. Jalanan aspal halus, membuat nyanyian hatiku seolah
mendayu teramat indah dan memesona. Harapan di hatiku kian menjulang tinggi,
setinggi langit ke tujuh.
Kera yang gelantungan di
pohon, seolah berdendang dan bernyanyi mengiringi kisah hidupku. Beburung
bekejaran, kadang jumpalitan di udara, saling bermain dan bernyanyi, menambah
kidung indah di hatiku. Seluruh hewan yang tampak, terbang, melompat, menempel
di batang, menatapku penuh harap, mendoakanku agar aku mencapai harapanku.
”Kak Arif seperti orang
gila,” suara Syahid menambah senyumku lebih lebar, sepagi tadi dari bangun aku
selalu tersenyum, dan dunia seolah tersenyum balas padaku lebih indah.
Pepohonan yang kulewati,
gapura-gapura yang terpaku di tanah, patok-patok listrik yang tegak, langit
yang digelar, di hari minggu ini. Menjadi saksi perjuangan cintaku, mengiringi
perjuangan hatiku, perjuangan jiwaku.
Hampir sampai.
Rumah Bu Siska sudah
kelihatan dari belakang, aku berbelok menikung ke kiri agar aku bisa masuk dari
depan. Sepedaku kuhentikan, kala masih beberapa meter dari rumah Bu Siska.
”Kenapa, Kak Arif?”
Dua buah motor, terparkir
di depan rumah Bu Siska. Seluruh syarafku bergetar, tanganku hampir lepas
sendi-sendinya.
”Ayo, jemput bidadarinya,
Kak. Ayo!”
Suara Syahid seolah
tertelan matahari dan angin. Yang membuatku bergetar adalah kedua motor yang
diparkir itu, satunya masih baru, milik Pak Yusuf. Dan satunya lagi, adalah
milik pak Kaum. Berarti...
Not Comments Yet "Bagian 57, Karena Cinta Harus Diperjuangkan"
Posting Komentar