Aku
membuka mataku pelan, lemah. Silau lampu membuat mataku nanar, kupaksakan
mengedarkan pandangan, kamar serba putih. Seorang lelaki
tertidur di sebuah kursi dekat ranjang tempatku berbaring, kelihatannya sebaya
denganku. Kupaksakan duduk dengan sandaran bantal. Lelaki itu pelan terbangun.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Akan kupanggilkan dokter,” raut
wajahnya langsung berubah ceria.
“Sebentar,” lelaki itu
menatapku kembali, “Dimanakah aku sekarang? Dan anda siapa?” aku ingin mendapatkan penjelasan
sekarang juga.
Senyumnya mengembang dan duduk
kembali, “Kamu sekarang di Rumah Sakit dan aku adalah teman asramamu, kamar
kita dekat. Namaku Nugroho semester III,” belum sempat mulutku terbuka dia
meneruskan penjelasannya, “Kamu pasti masih sedikit bingung. Malam itu, seorang
lelaki bernama pak Salim datang, dan membawa dirimu dalam keadaan pingsan.
Setelah tahu kamarmu, beberapa mahasiswa mengantarkanmu bersama pak Salim ke
Rumah Sakit, dan akulah yang menjagamu tadi malam.”
“Berapa lama aku pingsan?”
“Dua hari tiga malam, tapi Alhamdulillah kata dokter tensi darahmu
telah turun. Jadi jika sudah sadar, kamu dapat pulang. Kamu terkena penyakit
darah tinggi turunan, mungkin dari gen orang tuamu. Setelah ini, kamu harus menjaga pola makanmu,
dan jangan terlalu berpikir terlalu berat,” lelaki itu menjelaskan tenang.
“Tapi Kak,” aku
teringat dia, adalah kakak tingkatku, “Si.., siapa yang akan membiayai biaya
rumah sakit ini. Aku tidak punya uang lebih. Lebih baik saya segera pulang
saja,” Lebih baik jujur daripada penyesalan di belakang.
Nugroho tersenyum
sekilas, “Kamu memang keras kepala, semua biaya disini telah ditanggung oleh
pak Salim. Tapi Insyaallah hari ini
kamu bisa pulang, sekarang akan kupanggilkan dokter agar memeriksamu.”
Lelaki itu mulai
melangkah.
“Kak! Terima kasih
atas segala bantuannya,” hanya senyumannya yang terlihat, senyum penuh
keakraban. Aku teringat mimpiku kembali, ibu dan cahaya. Entahlah. Mungkinkah
itu berhubungan dengan penyakit yang aku derita. Ibu, seandainya karena
penyakit itu dari keturunan, aku akan tetap menyayangimu, yang kukhawatirkan
adalah Ibu sendiri. Aku paling tidak tahan melihat airmatanya yang jernih
mengalir, membasahi pipinya.
”O ya, pak Salim minta
maaf, tidak bisa menjagamu terus, walau dia tahu kamu Mahasiswa di sini, tidak
bisa menemanimu, katanya ada keperluan penting. Dia sudah mengurus biaya di
Rumah Sakit, dan jika ada apa-apa, dia yang akan mengurusnya. Dia juga
menitipkan ini padamu,” kak Nugroho memberikan plastik yang tergeletak di meja.
”Terima kasih banyak
Kak, aku buka nanti saja.”
”Apakah kamu ingin aku
menghubungi keluargamu?”
”Tidak usah Kak, aku
tidak mau mereka khawatir. Apalagi..., mereka sangat jauh dari Depok, aku tidak
ingin menambah beban mereka.” Nugroho hanya tersenyum.
Hari itu juga, di kala
sore, aku sudah diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Hanya saja, begitu
banyak tips yang harus aku lakukan, untuk menyembuhkan penyakitku. Aku pulang
ditemani Nugroho, ketika sampai asrama, kusempatkan bersua dengan pak Bejan,
yang kebetulan sedang mangkal di Bikunnya. Baru mengucapkan salam,
beliau langsung menepuk pundakku agak kuat, aku mengaduh karena keadaanku masih
lemah. Dia bilang aku seorang pemberani. Katanya pula, namaku begitu terkenal
di seantaro Asrama kini, Ali si pemberani. Aku hanya tersenyum.
Hingga dia berkata
sesuatu yang membuatku merasa senang. Pekerjaan yang aku harapkan kemarin
benar-benar ada, menjadi kuli di Pasar Minggu. Walau pak Bejan bilang pekerjaan
itu agak berat, namun aku tetap memintanya, setidaknya itulah yang bisa
kulakukan untuk sementara.
Beberapa teman datang
ke kamarku, dan mengajak berkenalan, kami saling bercanda hingga larut malam.
Ternyata hidup itu begitu indah jika kita mau sedikit membuka diri kita, bukan
selalu menutup diri. Mereka berpamitan kembali ke kamar mereka masing-masing.
Di sebelah kiri kamarku, kamarnya Syarif di Jurusan Matematika, tepat di depan kamarku Anto si
gondrong Fakultas Teknik, selain sebelah kamar, letak Fakultas pun bersebelahan
pula. Kalau di sebelah kanan..., hmm..., tidak ada, karena kamarku di ujung
tingkat tiga, sesudah kelokan menuju kamar
mandi.
Ketika akan memejamkan
mataku, aku teringat sesuatu pemberian dari pak Salim yang kemarin aku bantu.
Aku membuka plastik hitam itu, sebuah kotak. Ada gambar celuller di luar kotak. Kotak handphone. Segelnya telah
terkelupas, walau kemasannya masih terlihat bagus. Aku membukanya, mataku
benar-benar terbelalak. Kukira hanya bungkusnya saja, ternyata Handphone
sungguhan. Aku menimang-nimangnya, sangat ringan. Aku dulu hanya pernah
memegangnya ketika masih sekolah menengah, kini aku memilikinya. Akankah
kukembalikan? Tapi saat ini, aku benar-benar butuh uang, sedangkan aku belum
mulai bekerja.
Aku keluar dari kamar
dan menuju kamar kak Nugroho, yang dibatasi dua kamar. Jadilah malam itu aku
mengganggu istirahat malamnya, namun selama dia mengajari cara menghidupkan dan
mengoperasikan Hp, tidak terlihat wajah
tidak senang. Senyumnya lah yang selalu kulihat. Beberapa detik setelah Hp
aktiv, sebuah sms masuk.
”Assalamu’alaikum, jika sudah sembuh. Tolong telepon saya segera. Pak
Salim.”
Ternyata Handphone itu
telah di beri nomor baru, dan sekaligus telah dibubuhi satu nomor, Salim. Aku
meminta saran kepada Nugroho, apakah akan dihubungi sekarang, tapi dia
memintaku untuk besok pagi saja, karena ini sudah larut malam. Aku mengikuti
usulnya, lalu pamitan ke kamarku.
Aku merebahkan tubuhku
di kamar, malam semakin merangkak. Suara pesawat terbang masih kadang
terdengar, kadang suara kereta turut menimpalinya. Sebelum tidur, sempat
terpikirkan ketika besok menghubungi Pak Salim, ingin mengungkapkan sesuatu,
yaitu ingin menjual Hp itu. Setidaknya
dibelikan yang jauh lebih murah, karena bagiku itu termasuk mewah, Nokia 6600.
Seperti saran Nugroho, jika mau di jual, ijinlah pada yang memberi, dan
nantinya tetap untuk membeli Hp dengan harga lebih murah.
* *
*
Matahari kembali
bersinar di ufuk timur, terlihat begitu indah dari samping kamar asramaku di
tingkat tiga. Saatnya mandi, hari ini begitu indah. Pak Salim mengijinkanku
menjual Hp pemberiannya, katanya terserah padaku mau diapakan. Toh Hp itu sudah menjadi hakku.
Setidaknya untuk biaya sementara di sini. Pak Salim juga berpesan, jika butuh
sesuatu jangan sungkan untuk menghubunginya.
Setelah mandi, aku
mengenakan baju kotak-kotak. Aku harus segera berangkat. Aku teringat sesuatu.
Kuambil Hp. Ku pencet beberapa nomor.
”Assalamu’alaikum, peu
haba, na
Wanda?” Sapaku dalam bahasa Aceh. Aku teringat Udin temanku waktu SMK, dia asli
Aceh. Darinya, aku bisa sedikit bahasa pasarannya.
”Wa’alaikumsalam, haba
get ini siapa?” nadanya agak sinis.
“Kamu lupa sama aku?”
nadaku bercanda.
”Maaf! anda salah
sambung, tut..., tut..., tut...,” aku sedikit kaget. Aku hanya sedikit
menyapanya dalam bahasa Aceh, tapi aku mendapat reaksi tak terduga. Kuketik
beberapa huruf untuk Wanda.
”Assalamu’alaikum, Maaf jika mengganggumu. Aku Ali,
siapa lagi kalau bukan preman yang membaca Al-Qur’an di bus,”
Dalam hitungan puluhan
detik, hp-ku berbunyi.
”Wa’alaikumsalam. Aku
kirain siapa, aku minta maaf. Kudengar kamu masuk rumah sakit? Udah sembuh?”
”Alhamdulillah sudah, hari
ini sudah bisa mulai kuliah.”
”Ali! Namamu kini terkenal di mana-mana. Di asrama putri,
beberapa mahasiswi ingin kenalan. J”
“Dasar! Aku kan orang desa. Mana ada
yang mau. Memangnya tahu ceritanya?”
“Oya! Katanya tidak punya
Handphone?”
”Alhamdulillah dapat
rezeki.”
“Iya. Udah ya, nanti telat.
Ini hari kedua orientasi, jaga kesehatan! Wass.”
Kuambil beberapa buku
ke dalam tas, sempat terpikir tentang perilaku Wanda. Mungkin dia merasa
terganggu, di pagi hari meneleponnya sehingga dia agak marah. Toh setelah itu dia bercanda lagi
seperti biasa, aku merasa akrab dengannya walau baru kenalan. Aku bergegas lalu
mengunci pintu kamar, biaya kos di asrama UI memang lebih murah dari tempat
lain. Aku memakai topi kesayanganku, pemberian dari Bapak.
Di depan Asrama, aku
tidak langsung naik Bikun, aku menunggu seseorang. Itu dia baru datang,
pak Bejan. Aku naik Bikun yang dikemudikannya, kuambil tempat paling
dekat dengannya.
”Pulang kuliah, kamu
sempatkan ke Pasar Minggu. Cari pak Surip, semua orang di pasar tahu. Dia
pemilik toko emas Mulia. Bilang saja dari Bejan, dia sudah aku
beritahu,” pesan pak Bejan, ketika aku turun di halte Fakultas Ekonomi.
”Terima kasih banyak
Pak,” aku menganggukkan kepalaku. Lelaki setengah baya itu tersenyum tulus,
lalu melaju kembali mengantarkan duta-duta penimba ilmu.
* *
*
Hari ini matahari
benar-benar bersinar indah, walau agak menyengat ubun-ubun. Sepulang kuliah, -hari ini masih orientasi mahasiswa baru- aku langsung ke Pasar Minggu, yang
letaknya tidak jauh dari asrama, di dekat stasiun kereta api UI. Mencari pak
Surip sangat mudah, beliau begitu ramah padahal toko emasnya begitu besar. Hari
itu juga, aku langsung mulai bekerja. Melipat kemejaku dalam tas, dan segera
antri dengan teman-teman kuli yang lain.
Menjadi kuli pasar
tidaklah berat, tergantung orang yang menjalaninya. Hari pertama ini, kubuat
kesan yang baik untuk penyemangat selanjutnya. Apa saja barang yang datang dan
hendak di angkut pergi, semuanya harus siap diangkat. Entah itu; beras, cabai,
bawang, snack, dan macam-macam
lainnya. Rata-rata kuli itu baik padaku, setidaknya mereka selalu mengajakku
bercanda, aku paling muda di antara mereka. Yang aku senangi dari mereka
adalah, pekerjaan itu tidak membuat mereka lalai dalam beribadah. Saat adzan
Ashar berkumandang, mereka istirahat untuk sholat berjamaah, walaupun tidak
semuanya.
Aku pulang dari pasar
pukul 17.00, sebagian besar kuli sudah pulang. Pasar juga sebentar lagi banyak
yang tutup. Uang yang kudapat Alhamdulillah sudah banyak menurutku.
Hari-hariku akan kumulai, aku harus terus bertahan. Besok aku harus segera
memulai mencari Mawar, aku yakin dia di UI. Getaran persahabatan itu begitu
terasa dekat. Tapi aku sedikit ragu, apakah dia mau bersahabat denganku?
Seorang kuli. Setidaknya aku harus menetapi keyakinanku.
Semburat senja
mengiringiku hingga ke Asrama, begitu merona jingga. Tadi siang ketika di pasar
aku menjual Hpku di counter, Alhamdulillah laku satu setengah juta
rupiah. Aku membeli Hp murah, nokia 3310 seharga dua ratus ribu. Itu sudah
terlalu bagus bagiku, jika bukan karena pak Salim, aku malas membeli Hp.
Langkahku mantap melangkah, melewati koridor menuju kamarku. Aku harus segera
mandi, bauku apek sekali.
Not Comments Yet "Part 9, MATAHARI Bersinar Lagi"
Posting Komentar