Bubuk kopi kumasukkan ke
dalam tiga cangkir, kutambah gula. Dua gelas dengan gula seperti biasa dan satunya
dengan gula yang terlalu sedikit. Perbedaan rasa. Menginginkan kesepurnaan rasa
kopi adalah sebuah pilihan. Kopi jenis apa; bermerek atau tidak, kental atau
tidak, kasar atau halus. Seperti kubilang, hidup ini adalah pilihan.
Teko kuambil dari dapur satpam,
sempit. Kutuangkan ke dalam tiga cangkir itu, kuaduk penuh cinta, kuaduk hingga
benar-benar melumatkan segala rasa dan menyatu, menjadi sebuah kenikmatan.
Kumasukkan cangkir itu di atas nampan kecil, dan kubawa ke luar, ke ruang jaga
satpam.
Di sana dua orang sedang duduk, tersenyum
kepadaku. Keberikan kopi itu pada mereka, satu untuk Pak Rahmat, satunya untuk Pak
Teguh yang menyukai gula sedikit. Alasannya adalah agar tidak mengantuk, jika
kebanyakan gula, khasiat mengurangi kantuk menjadi berkurang bahkan tidak
berkhasiat lagi. Ya, walau tidak sepenuhnya benar, ini adalah pelajaran penting
bahwa persepsi yang kuat akan membuat seseorang mengalami apa yang diyakininya.
Malam ini, Pak Rahmat
sengaja datang ke sini. Sore tadi, sewaktu aku aku membantunya menutup
ruko-ruko, aku bercerita bahwa besok pagi aku akan pergi dari kota ini. Aku akan menyusuri mimpiku menuju
desa Cahaya. Wajah Pak Rahmat saat itu tiba-tiba bersedih, dan dia ingin
menemaniku semalam ini. Hitung-hitung perpisahan.
Kisah yang sama
kuceritakan pada Pak Teguh, satpam yang belum beristri ini, alias masih
bujangan. Menjadi satpam, jika aku boleh memberi usul, lebih baik mempunyai
tugas shift. Jika tidak, kau lihatlah sendiri. Teguh adalah contohnya,
badannya selalu terlihat kuyu, minumnya kopi agar ngantuk tidak menyambanginya
kala malam. Berjaga dari pukul 14.00 hingga 08.00. Sisa berjaga pulang ke
rumahnya, bisa dipastikan di rumah pasti dia hanya tertidur. Lalu kapan
waktunya tercurah sedikit saja untuk kiperluan yang lainnya?
Ah! Kau berpikir kasihan, Kawan?
Malangnya, Pak Teguh
mempunyai satu kebiasaan buruk. Dia selalu pasang togel, berharap akan
mendapatkan uang sekejap dalam jumlah besar, lalu untuk membuka usaha sendiri,
karena dia ingin berhenti menjadi satpam.
Satu lagi pelajaran
kupetik, ’Jangan pernah main togel, walau hanya iseng. Karena Teguh selama
bertahun-tahun, belum sekali pun menang!’ coba saja, kalau uang togel itu
dihitung hingga sekarang. Mungkin sudah banyak dan tentu bisa untuk membuka
usaha kecil sendiri, sejenis warung atau bengkel kecil. Kau setuju dengan
pemikiranku kan,
Kawan?
Oya, Kakekku pernah
bercerita kepadaku tentang lotere togel juga. Kisah ini juga pernah kuceritakan
pada Teguh, tapi bukan dia mau berhenti malah dia terpingkal-pingkal. Padahal,
aku berharap dia berhenti setelah kuceritakan kisah itu.
Kisah itu terjadi pada
zaman dahulu, entah nyata atau tidak, aku belum sempat menanyakannya. Zaman
dahulu, ada seorang pemikul barang yang rajin sekali dalam bekerja, setiap
hari. Ia mempunyai satu kebiasaan, dia selalu membeli lotere dan sering
berkhayal suatu saat menang dan menjadi orang kaya.
Suatu hari, seperti
kebiasaannya di warung teh, dia sedang beristirahat. Temannya yang menjual
lotere tiap hari padanya menghampiri dan memberitahu dia, ’Anda menang lotere
hari ini!’
Mendengar berita itu, si
tukang pikul sangat gembira, girang, hingga ia melompat-lompat dan menari-nari.
Dengan suara yang keras, dia memberitahu semua orang yang berada di warung teh
itu; ’Kawan-kawan, hari ini saya menang lotere, uang teh kalian semuanya, akan
aku bayar! Mulai saat ini, mulai hari ini, saya tidak mau bekerja memikul lagi!
Saya sudah menjadi kaya! Ha, ha, ha...!’
Sambil berbicara, ia
berjalan keluar kedai, dengan kedua tangannya dia mengangkat pikulan, dan
membuangnya ke sungai di samping warung teh itu. Dia berkata, ’Barang yang
menyebalkan! Selamat tinggal untuk selamanya!’ Saat itu, air sungai mengalir
sangat deras, dan dalam sekejap pikulan itu sudah terlempar jauh dan tenggelam
tak terlihat lagi. Bahagia dan bebas pula wajah sang pemikul itu.
Si Pemikul bertepuk tangan
dan mengucapkan kesyukuran terdalam! Tetapi, tiba-tiba dia berteriak dengan
kaget, karena dia baru saja ingat kalau lembaran lotere itu, diselipkan pada
retakan pikulan itu. Dia pun menangis tersedu-sedu! Benar-benar gembira sesaat
yang langsung berubah menjadi kesedihan.
Apakah kalian merasa lucu
dengan cerita itu? Itulah anehnya Pak Teguh! Mungkin, sebenarnya Teguh sedang
menertawakan dirinya sendiri, atau mungkin kapan dia akan menang togel, dan tentu
saja akan mengantisipasi agar nasibnya tak seperti si pemikul.
Jika itu yang diambil
pelajaran dari kisah si pemikul, maka aku mengambil ibrah berbeda dari
kisah si pemikul. Manfaat yang kuambil adalah, ’Setelah melalui sebuah
jembatan, maka jangan sekali-kali membongkar papan jembatan itu.’ Kau paham?
Maksudnya jangan lupa dengan asal, seperti kacang lupa kulitnya. Karena, jika
kita melakukan itu, maka di kemudian hari kita akan mengalami kegagalan.
”Kau sungguh-sungguh mau
pergi, Rif?” wajah Pak Rahmat terlihat sedih
lagi. Padahal dia sedang memakan roti yang kubeli di mini market di pojok sana. Kulihat wajahnya
benar-benar sedih, mungkin roti itu untuk menutupi kesedihannya.
Aku menatapnya, aku sudah
menganggapnya sebagai keluargaku sendiri. Tapi, tak kutahu mau kuanggap apa
dalam sebuah keluarga; kasih sayang ayah, ibu, kakak, adik, semunya belum
pernah kucicipi. Hanya kasih sayang Kakek saja.
Dan aku hanya mengangguk
penuh kemantapan.
”Uangmu cukup, Rif?” Pak Teguh gantian menanyaiku.
”Cukup tak cukup, aku akan
berusaha datang ke desa Cahaya. Ini bukan lagi sekadar mencari uang atau
mencari jabatan sebagai guru. Tetapi ini adalah panggilan jiwa yang seolah menyeruku
datang. Mungkin ini jawaban dari semua pertanyaan dalam hidupku. Mimpi-mimpiku
seolah berada di sana.”
Aku menatap bintang-gemintang, bertabur bagai tepung yang halus, bagai ikan
yang menari-nari di sungai yang bening.
Dan kulihat, kedua orang
yang berada di sebelahku ikut menatap bintang di atas sana. Tak ada suara lagi, kami bertiga menatap
langit, menatap bulan tanggal dua. Bintang semakin terlihat cerah, mata-mata
kami betah, kami melihat harapan di sana.
Dan perlu diingat dan selalu kuingat, bahwa bintang hanya bisa dicapai dengan
keberanian.
Pagi harinya, tak kusangka
Pak Teguh telah mempersiapkan makanan ringan berupa roti, dimasukkan ke dalam
tas yang memang telah lama tapi masih terlihat bagus. Dia memberikannya
kepadaku sebagai bekal perjalananku. Dia memberiku amplop, aku mati-matian
menolaknya. Tapi matanya melotot padaku.
”Anggap saja ini taruhan.”
”Taruhan?”
”Kau pernah bilang, jika
berusaha, carilah usaha yang mempunyai kemungkinan yang besar untuk mendapatkan
hasil. Aku memberikan ini tidak cuma-cuma, jika kau sukses nanti, panggil aku. Dan
aku melihat bahwa bisnis ini lebih tinggi prospeknya, daripada aku menggunakan
uang itu untuk membeli togel.”
Kami saling tersenyum.
Dasar! Mental judi, semuanya dianggap sebagai permainan, semua kesempatan
digunakan untuk bertaruh. Tapi, aku sangat simpati padanya. Dia sahabat yang
baik. Aku memeluknya erat. ”Semoga suatu saat kita bertemu kembali,’ aku
meneteskan air mata. Pak Teguh juga.
Pak Rahmat, dia
membawakanku sekantong plastik hitam.
”Apa ini, Pak? Tidak usah
repot-repot. Anak-anak Bapak lebih membutuhkannya, doa Bapak bagi saya adalah
kenangan terindah.”
”Ini hanya makanan di
perjalananmu nanti, Nak, ini khusus dibuatkan oleh istriku, karena dulu ia sering
merasa terganggu dengan kedatanganmu. Dia ingin menebusnya, dia titip maafmu.”
Aku menerima bungkusan
hitam itu, ”Pasti kumaafkan, Pak! Akulah yang seharusnya meminta maaf.” Aku memeluk
pak Rahmat, erat sekali. Mereka adalah keluargaku di kota yang ganas ini.
”Rif,
jika kau telah menemukan impianmu. Datanglah ke sini, jika di sana lebih menjanjikan, ajaklah Bapak
besertamu.”
Aku mengangguk, langkahku
terasa berat kulangkahkan. Kucoba menegarkan diri, tegak, pak Rahmat dan Teguh
telah sempurna meneteskan air matanya. Tangan mereka melambai-lambai, aku juga
melambaikan tanganku.
Aku berbalik arah,
membelakangi mereka. Aku tak akan menoleh, karena air mataku banjir. Aku tak
mau membuat mereka bersedih karenaku, kutatap langit sejenak, bukan mencari
jawaban. Tapi mencari ketegaran.
Ujung perjalanan, belum
tergambar sedikitpun dalam otakku. Kawan, aku sedang mencari jati diriku, ini
bukan spekulasi judi. Tapi sebuah keyakinan, kau harus paham itu.
Not Comments Yet "Bagian 8, Gemerlap Bintang saat Malam Perpisahan"
Posting Komentar