Hari yang berlalu,
seolah hari yang baru penuh dengan keindahan, jika kita pandai bersyukur.
Selalu ada pelangi seusai hujan kala sore hari, sesudah kesulitan pasti ada
kemudahan, begitu Allah berfirman dalam Al-Quran. Setelah menerima hadiah dari
pondok, aku mengirimkan yang setengah ke Kampung, sekitar dua juta. Aku sangat
rindu pada Ibu dan Bapak, semoga Allah selalu menjaga mereka, sebagaimana Allah
menjagaku dengan cinta dan kasih sayangNya.
”Assalamu’alaikum. Ali
mau berangkat kuliah ya?”
”Iya Tadz,” sapaan ini
bukan sekali dua kali, bisa setiap hari jika aku berpapasan dengan Ustadz yang
tutur sapanya begitu lembut, terasakan di hati seolah embun yang menetes di
padang tandus, seumpama air kala dahaga memanas. Ustadz yang lembut itu bernama
Muhammad Wahid Al Faza, biasanya sering dipanggil Ustadz Wahid, bahkan ada yang
sering memanggilnya Syaikh Wahid. Beliau banyak menjadi rujukan, baik oleh
pihak pondok maupun masyarakat sekitar, bahkan sampai sekitar Jawa dan kadang
ada yang datang dari seluruh pelosok negeri dan dari luar negeri, hanya untuk
belajar padanya.
Ustadz Wahid
menyelesaikan program S3 di Mesir, di Al-Azhar dengan predikat mumtaz. Beliau Hafidz Quran, ditambah
dia mengambil konsentrasi tafsir di tanah kelahiran nabi Musa as. Beliau sangat
paham ilmu tafsir, sehingga beliau mengisi tafsir pada tingkat satu pondok,
selain itu beliau juga mengajar sebagai Dosen di beberapa Universitas di Jawa,
terutama Yogya dan Jabodetabek.
Kepiawaiannya tentang
agama tak membuatnya lantas berbesar hati, siapa saja yang datang ke rumahnya
untuk meminta membantunya pasti akan dibantu. Karena katanya, siapapun yang
datang meminta memenuhi permintaanya, maka penuhilah! karena Allah tidak akan
memenuhi hajatnya nanti di akhirat kelak karena hal itu. Itulah yang
dikatakannya ketika kutanyakan. Ustadz Wahid ramah kepada siapapun, bahkan
sekaliber pemuda pun tak lepas dari sapa lembutnya. Seolah hadirnya diharapkan,
suaranya dirindukan kala dia mendapatkan tugas ke luar kota atau tugas lainnya.
Banyak masyarakat yang
datang kepadanya sekedar untuk menanyakan perihal masalah yang dialami. Pernah
seorang Guru sekolah datang menanyakan tentang pengajaran, maka dijawabnya.
“Tidak
ada seorang pun yang dapat menanamkan ilmu, sebelum ia sendiri terjaga di fajar
pengetahuan. Seorang guru hanya menghantarkan ke depan pintu ilmu. Gajah yang
berilmu tidak akan memberikan belalainya kepada siapapun, manusia akan tegak
sendiri di hadapan Tuhannya, menguak tabir pengetahuan, dengan kesadaran tanpa
dapat dipaksa.
Jangan mengajari sesuatu yang
tidak engkau lakukan, ingatlah Allah secara tegas berfirman : “Ata’ Muruu
Nannasa Bil Birri Watansauna Anfusakum Wa Antum Tatluu Nal Kitaab. Afalaa
Ta’qiluun,
anda pasti tahu artinya bukan?”
”Jelaskan padaku Syaikh?”
“Baiklah. Aku akan menjelaskan
sebisaku. Artinya; Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan?
Sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab.
Maka apakah kamu tidak berpikir.’ Tulus ikhlaslah dalam memberi, jangan pernah
mengharapkan secuil pun dari buahnya. Biarkan dirimu seperti buah yang ketika
memberi, dia bersyukur dan Allah-lah yang akan membalasnya.
“Pengetahuan itu adalah kasih
sayang, maka ajarkanlah dengan rasa cinta dan ketulusan, ajarkan dengan hati
bukan dengan lisan semata. Curahkanlah airmu tanpa ragu akan habis, yakinlah
bahwa Allah akan menambah kucurannya, hingga jiwamu menjadi puas.”
Pernah juga datang dua orang
wanita, yang meminta dijelaskan tentang pakaian, lagi-lagi jawaban Ustadz Wahid
terekam kuat di ingatanku, ”Pakaian yang dikenakan manusia selalu menimbulkan penilaian baik itu,
akan terlihat indah maupun jelek, tetapi tak mampu menutupi keburukan akhlaq.
Akhlaq adalah perisai yang melindungi diri dari keburukan pandangan. Pakaian
terindah adalah taqwa, pakaian yang ditenun dengan jarum makrifatullah, dan benangnya adalah malu.
Manusia juga tidak
bisa menilai pakaian seseorang, kecuali Allahlah yang menilai secara hakiki,
mana yang melindungi dirinya dengan pakaian terindah atau pakaian
compang-camping penuh tambalan, Ingatlah, Allah telah berfirman tentang
pakaian, “ Hai anak Adam, sesungguhnya
kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah
untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu
adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat.”
Gadis yang di
sebelahnya bertanya pula, ”Syaikh, tolong jelaskan padaku tentang keturunan dan
anak,” pinta wanita itu penuh harap.
Ustadz menghirup napas pelan,
“Anakku, anak-anak kalian sejatinya bukanlah milik kalian. Mereka adalah
manusia yang merindukan kehidupannya sendiri. Melalui kalian, mereka lahir
namun bukan dari kalian, dan bukan hak kalian.
Berikanlah mereka cinta dan
kasih sayang, tumbuhkan kesadaran tentang Allah, karena mereka akan menjadi
penghuni rumah-rumah di masa depan, jangan memaksa mereka seperti kalian.
Kalian ibarat sebuah busur, dan anak-anak kalian itu anak panah yang meluncur,
laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang sejatinya kalian
sendiri. Jadikanlah anak kalian sebagai mujahid-mujahid, yang akan memenuhi
bumi dan menegakkan kalimatullah,”
Pernah juga seorang tua yang
terlihat kusut datang. Dia menceritakan bahwa dia baru saja keluar dari
penjara, dia telah banyak melakukan kejahatan. Dia bertanya tentang kebaikan,
maka Ustadz tersenyum dan menjawabnya, ”Saudaraku, kebaikan adalah akhlaq yang baik,
akhlaq yang telah dicontohkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, semoga salam
sejahtera selalu untuk mereka. Ingatlah jika dosa adalah yang merisaukan hatimu, dimana kamu merasa tidak
suka apabila hal itu sampai dilihat oleh orang lain. Kebajikan akan terasa
tenang, dan dosa akan menggelisahkan hatimu. Berikanlah maafmu sebelum diminta,
dan berlakulah rendah kepada siapapun.
Kebajikan yang kita lakukan
pada orang yang baik pada kita itu, adalah kebenaran namun yang jauh lebih
berat adalah, kebajikan yang ikhlas kepada orang yang menyakiti kita. Ingatlah
firman Allah dalam surat, “Tolaklah
perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang
mereka sifatkan,”
dan sifat-sifat yang baik itu, tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keberuntungan yang besar.
Kebaikan itu mempunyai
cabang-cabang, seperti ranting yang menjulur ketika buahnya mulai terlihat
semakin menjulurkan, agar manusia lebih mudah untuk memetiknya. Ada yang
memetiknya dengan lembut maupun dengan keras, dan melemparinya, namun sang
pohon dengan cinta dan ketulusan memberikannya, dan tidak pernah mengharapkan
buahnya kembali lagi ke dalam dirinya, karena dia yakin akan menghasilkan buah
kebaikan lagi untuk selanjutnya.”
Datang juga seorang kontraktor,
yang menanyakan tentang tempat tinggal dan bangunan, yang merupakan pekerjaan
yang setiap hari digelutinya.
Ustadz lembut yang tak pernah
menampakkan wajah lesu itu menjawab pelan, “Tempat tinggal yang sejatinya
adalah tempat kalian berteduh dari sengatan matahari dan lebat hujan, atau
pekatnya malam yang menebarkan jubah hitamnya ke penjuru alam, menjadi nyala
semangat, tapi tengoklah dari balik pintu apakah kalian temukan kedamaian?
Kalian bukanlah penghuni bangunan-bangunan mati, maka hidupkanlah. Hidupkanlah
dengan mengalirkan ketaqwaan diri, hidupkan dengan bacaan Al-Quran, yang
mengalirkan ke angkasa semesta raya, hingga sampai menembus Arsy-Nya.
Saudaraku, setiap manusia yang
hendak membuat konstruktur, harusnya dia mentadaburi Al-Qur’an. Allah ’Azza Wa Jalla secara tegas mengingatkan
manusia, bagi siapapun yang hendak membuat rumah. Ingatlah peringatan Allah
dalam firman-Nya, “Perumpamaan
orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti
laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah
rumah laba-laba kalau mereka mengetahui,”
nyala sebuah rumah adalah pancaran dari jiwa, pancaran dari orang-orang yang
menghuninya. Percuma jika rumah yang mewah dibangun, tanpa pemiliknya mau
menghidupkannya.
Kalian adalah hamba Allah yang
mempunyai kebebasan mutlak, tanpa terkungkung oleh apapun. Namun, apakah kalian
tenang di tempat peristirahatanmu yang teduh, jika terlena kalian akan masuk
perangkapnya, dan mungkin dikuasai olehnya. Rumah kalian tidak akan menjadi
sangkar, melainkan tiang utama kapal layar yang siap mengarungi alam raya.
Kalian tak perlu bernapas dengan cemas, karena takut dindingnya retak. Karena itu, segala sesuatu adalah
muara jiwa mengalir ke angkasa, berpintu embun pagi dan berjendela tasbih, dan
kebisuan malam akan menyejukkan hati.”
Seorang pedagang datang suatu
hari menanyakan tentang perdagangan. Seolah tak menggubrisku yang saat itu
duduk di sebelah mereka. Di emperan masjid, ”Sebenarnya engkau lebih mengetahui
hakikat perdagangan, karena engkau langsung melakukannya dari terkecil, praktek
yang senantiasa bertahap mengajarimu semakin mengetahui makna barang dan harta.
Bumi tak pernah kehilangan
buahnya, asalkan kita tahu bagaimana cara mengisi tangan-tangan kita. Jika
telah terisi tanpa disertai cinta dan itsar,
maka akan menyeret pada keserakahan.
Jual beli adalah seni,
perdagangan adalah sembilan bagian dari sepuluh rezeki yang diturunkan Allah ke
dunia, melalui jalannya masing-masing. Ingatlah setiap transaksi hendaknya
ditulis, bukan untuk ketidakpercayaan, namun untuk menjaga kepercayaan. Sebelum
transaksi selesai, hendaklah teliti dahulu sehingga tidak ada yang meninggalkan
jual beli dengan tangan kosong, apalagi hatinya kosong. Jual beli tidak akan
dikatakan benar, jika ada di antara kalian belum terpenuhi kebutuhannya.
Rasulullah saw –Semoga salam
senantiasa untuknya- bersabda dari Jabir bin Abdullah ra : “Allah mengasihi orang yang bermurah hati ketika menjual, ketika
membeli dan ketika menagih, (Rohimallaahu Rojulan Samhan Idzaa Baa ‘Awa
Idzaasy Tarowaidzaaq Tadho). Berdaganglah dengan cinta, seperti teladan
Rasulullah dalam perniagaanya.
Syahid suatu hari bertanya dan
aku menemaninya. Dia bertanya tentang kesyukuran. Lagi-lagi aku mendapatkan
ilmu gratis, ”Anakku, sesungguhnya jikalau dunia ini digulung dijadikan lautan.
Samudera dan sungai serta sumur dikumpulkan airnya, untuk dijadikan tinta dan
seluruh semesta dihamparkan untuk dijadikan kertasnya, sampai dunia ini
berakhirpun tak akan mampu menuliskan seluruh karunia Allah di dunia. Bukankah
telah sampai cerita padamu, tentang seorang hamba yang seluruh hidupnya
dihabiskan hanya untuk beribadah di dalam gua, dia hanya keluar saat lapar dan
memetik buah di depan gua, serta minum dari air sungai yang mengalir pula di
depan gua, selanjutnya dia beribadah kembali hingga akhir hayatnya.
Tahukah antum, seluruh
ibadahnya ditimbang tidak sebanding dengan beratnya sebiji bola matanya, dia
masuk surga karena rahmat Allah, bukan karena ibadahnya sepanjang waktu.
Napas kita, denyut nadi kita,
detakan jantung kita, hembusan lembut setiap pori-pori adalah cinta yang
dianugerahkan Allah untuk manusia. Tahukah ayunan tangan dan langkah kaki kita
adalah cinta, rambut, kuku, dan gigi kita adalah cinta. Setiap organ dalam tubuh
manusia, adalah cinta yang tersalur dari satu organ ke organ yang lain. Saling
melengkapi untuk membentuk satu kesatuan cinta, dan itulah bentuk dari cinta,
yaitu kehidupan.
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha
Penyayang, dan Allah
melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki. Tetapi
orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka
kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu.
Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?
Nikmat mana yang akan manusia
dustakan?, karena semuanya telah sempurna ada pada diri manusia. Manusia yang
berputus asa hanyalah manusia yang tidak bersyukur akan hidupnya, dia berpikir
lebih baik menjadi sahabat setan, daripada hidup bersanding dengan cinta dan
keindahan dalam naungan Allah. Ingatlah sabda Rasulullah saw, “Apabilah kamu melihat seseorang dikaruniai
kelebihan dengan harta melimpah-limpah dan dengan kecantikan, hendaklah ia
memandang kepada orang yang lebih rendah darinya daripada memandang orang yang
melebihi dirinya,”
karena itu lebih menjadikan kamu, tidak meremehkan nikmat Allah.
Banyak sekali orang yang menginginkan kekuasaan
seperti yang Rasulullah dapatkan, banyak manusia yang menginginkan kehidupan
tenang dan mesra seperti keharmonisan Rasulullah dan keluarganya. Banyak orang
menginginkan puncak kebahagiaan yang dirasakan Rasulullah, tapi kadang mereka
melupakan bahwa Rasulullah biasa mengalami kelaparan, hingga perutnya diganjal
dengan batu-batu kerikil untuk menahan lilitan lapar, dan beberapa hari asap
tidak mengepul dari dapur beliau. Kesyukuran adalah lauk ternikmat yang ada di
seluruh dunia dengan kesyukuran. Setiap apapun yang didapatkan, adalah
keindahan karena Dia Yang Memberi.
”Tadz, terangkan padaku lagi
tentang Hukum dan Amanah?” Syahid kembali bertanya. Hukum? Dia memang mengambil
jurusan Hukum di UI. Pantas saja.
“Manusia selalu tak pernah
puas, mereka membuat undang-undang untuk mengatur kehidupan mereka, namun
seringkali dibuat untuk dilanggar seperti pembuat menara dari pasir di pantai
lalu tertawa renyah gembira, sambil bertepuk tangan ketika mereka
menghancurkannya. Atau seperti orang yang datang dalam sebuah undangan, dia
datang paling awal, kemudian perut mereka sakit karena kekenyangan, lalu
setelah pulang, mereka bergumam bahwa pesta itu adalah pemborosan.
Hukum mana lagi yang lebih
baik, daripada hukum Rabb yang menciptakan. Hukum manusia manapun, tak dapat
melarang burung kutilang untuk bernyanyi, tak dapat melarang capung untuk
berhenti dari terbangnya.
Allah mengingatkan manusia
melalui Ictinkari (kecaman) bagi orang-orang yang mengulur-ulur waktu, untuk
masuk dalam keindahan Islam secara total dan tidak mau berhukum hanya pada-Nya,
“Tiada yang mereka nanti-nantikan
melainkan datangnya (hukum) Allah dalam naungan awan dan malaikat, dan
diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.”
Tahukah engkau anakku apa itu
amanah, dalam Islam sesuatu yang paling ringan adalah mengucapkan syahadat, dan
yang paling berat adalah amanah. Jika mengkhianati, ibarat kekeringan yang lama
dan tiada bekasnya lagi terkena hujan lebat sehari. Jika mengkhianati, semuanya
akan musnah bagai debu di atas batu licin yang dihempaskan angin yang datang
berduyun-duyun. Amanah adalah cinta, engkau akan menjaganya dengan sepenuh
jiwamu, karena Sang Kekasih menginginkan keutuhannya. Engkau akan memeluknya
dengan erat, hingga tak pernah terlepas. Sedikit debu pun yang menempel, engkau
tiup dengan senyuman, jagalah ia agar selalu menimbulkan kerinduan, yang akan
memenuhi hatimu dengan cinta dan ketulusan.”
”Tadz, bolehkah aku bertanya?”
aku agak ragu hendak bertanya.
”Silakan Ali,” senyumnya
kembali menghunjam teduh.
”Terangkan padaku tentang
kematian, agar dapat kujadikan pegangan hidup.”
“Suatu ketika di zaman Nabi
Sulaiman as. Dihikayatkan Bahwa malaikat maut pada suatu ketika masuk kepada
Sulaiman ibnu Dawud as. Dia menatap lama dan tajam kepada salah seorang Sahabat
Nabi Sulaiman as, yang berada di dekatnya. Kemudian Malaikat yang menjelma
menjadi manusia itu keluar. Sahabat nabi yang ditatap tersebut bertanya, “Wahai
Nabiyullah, siapakah laki-laki itu? Nabi Sulaiman as menjawab, “Sesungguhnya
dia adalah malaikat maut.”
Sahabat nabi berkata, “Wahai
Nabiyullah, aku melihat dia memandang lama kepadaku, dan aku takut dia hendak
mencabut rohku. Selamatkanlah aku darinya?” dia berkata lagi, “Saya mohon tuan
memerintahkan angin, agar membawaku ke negeri India. Mudah-mudahan dia
kehilangan jejak dan tidak menemukanku.” Maka nabi Sulaiman as memerintahkan
angin, supaya membawa sahabatnya pada saat itu juga, ke negeri India. Lalu
angin itu membawanya pada saat itu juga.
Ternyata, setelah orang itu
sampai di India. Malaikat mencabut rohnya, dan Malaikat maut itu kembali lagi
kepada nabi Sulaiman as. Nabi bertanya kepadanya, “Apa sebabnya kamu memandang
lama kepada laki-laki itu?” Malaikat maut itu berkata, “Aku merasa heran,
karena sesungguhnya aku diperintahkan Allah untuk mencabut rohnya di negeri
India, sedangkan dia sangat jauh dari India untuk bisa sampai tepat pada
waktunya (dicabut rohnya). Ternyata, dia dibawa oleh angin hingga dapat sampai
disana tepat dengan habis ajalnya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah SWT.
Maka, aku mencabut rohnya disana.”
Anak-anakku, manusia itu
laksana buih di tengah lautan, yang mengambang di atas permukaan. Ketika angin
bertiup, dia hilang, seolah-olah tidak pernah ada. Begitupun hidup kita
dihembus oleh kematian. Betapa banyak para Mukminun menginginkan kematian yang
baik, namun berdiam diri tanpa melakukan amal sholih. Mereka takut pada neraka Allah, namun mereka tetap
diam saja, dan mereka juga sangat mengharapkan surga, namun mereka juga hanya
diam.
Kematian adalah wujud cinta
Allah yang paling nyata, karena dengan jalan itulah tiada lagi jarak antara
kita dan diri-Nya, hingga dapat setiap saat bermesraan dan merenda rindu tanpa
harus memendamnya lagi. Kematian tak dapat diundur walau setengah denyutan nadi,
ataupun seperempat detik sekalipun dan ia juga tidak dapat dimajukan.
Menghindar maupun mendekat tak akan pernah merubah ketentuan yang telah ditulis
dalam Lauh Mahfudz.”
”Bolehkah aku mewakili
pertanyaan Ayahku, seandainya dia ada disini, tentu dia akan bertanya tentang
pertanian,” aku menatapnya penuh harap.
“Pertanian,
Ingatlah Allah berfirman dalam Al-Quran, ketika melihat hambaNya bekerja
untuk-Nya : “Wamaa Yaf’aluu Minkhoirin Filayukfaruuh, Wallahu ‘Aliimun
Bilmuttaqiin,
dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak
dihalangi (menerima pahala) nya ; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang
bertaqwa,” Allah tidak akan melepaskan pandangnya sedetikpun dari setiap kerja
hamba-hamba-Nya, yang sejatinya untuk kemaslahatan ummat.
Petani
bekerja mengiringi langkah dunia, jika dia berpangku tangan saja, maka akan
terasa asing dari semua musim yang berjalan dan terlewati. Banyak orang berkata
bahwa kerja adalah kutukan, dan kesusahan adalah takdir yang telah ditentukan,
tetapi ingatlah ketika bekerja sebenarnya kita memenuhi puncak tertinggi
cita-cita dunia, mengisi perut siapapun untuk bertahan, dan kembali bertenaga
menyembah Allah dengan daya dari-Nya.
Bekerja dengan rasa cinta,
akan menyatukan diri dengan diri-diri orang lain dan kepada Allah. Bagaimanakah
bekerja dengan cinta? Bagaikan menjahit kain yang benangnya dari hati, seolah
kekasihmulah yang akan mengenakannya. Dan Kekasih itu, hanyalah Allah Rabb
Semesta Alam, kerja adalah cinta yang menjadi nyata.
Dan ingatlah anakku, Allah juga
berfirman, “Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin
Allah, dan tanah yang tidak subur, tanam-tanamannya hanya tumbuh merana,
demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang
bersyukur,” setiap hasil yang kita peroleh adalah
dari-Nya, dan itulah buah hasil dari kerja, taat, dan taqwa kita. Apapun
hasilnya, tugas kita adalah bersyukur pada-Nya.”
Ustadz yang lembut dan ramah,
aku melangkah meninggalkannya. Banyak hal yang kuingat tentangnya. Perasaanku
ingin berbalik, ada suatu hal yang ingin kutanyakan padanya. Mumpung masih
pagi!
”Tadz, bolehkah aku bertanya
suatu hal?” anggukannya membuatku tersenyum, kami duduk di pinggir kolam ikan
mas di pojok depan pondok, ”Tadz, jelaskan padaku apa itu cinta? Setidaknya aku
ingin mendengar dari Ustadz tentang cinta, begitu banyak pengertian cinta dari
setiap orang. Katakanlah menurut Ustadz.”
“Cinta,” Ustadz terlihat
menatap langit sejenak, ”Apabila dia memanggilmu, bersamalah dengannya,
walaupun jalan itu berat kau tempuh, jika kamu punya sayap maka kepakkanlah
dengan sekuat tenaga mengikutinya. Peganglah erat tangannya, walau pada
tangannya terdapat banyak pisau tajam yang menempel. Jadikanlah dia mahkotamu,
jadikanlah dia rujukan untuk menentukan langkah. Jadikan dia pilihan terindah,
karena cinta itu ada di hati, maka tidak ada yang dapat melihatnya kecuali
cinta itu sendiri. Datanglah ketika panggilan cinta itu hadir, sebagaimana
Hanzhalah ra. Memenuhinya, walaupun dia ada pada malam pertama pengantin dan
dia masih junub.
Cinta itu begitu indah, karena
setiap bagiannya adalah cahaya dan keindahan. Meskipun engkau melihat ada kenikmatan lain yang
tampak di mata, sejatinya hanyalah tipuan. Datanglah pada Allah dengan penuh
cinta, maka cinta akan selalu menyertaimu dalam setiap lakumu.
Jika ada cinta yang bukan
bersumber dari Allah, hakikatnya adalah nafsu yang menjelma menjadi kuntum
mawar, yang menyedakkan hidung jika telah tertusuk racunnya. Jika engkau
memilih, maka pilihlah cinta karena dia memang tidak pernah salah untuk
memilih. Dengannya engkau akan merasakan kehebatan kekasihmu, sehingga engkau
larut secara keseluruhanmu, dan tidak tersisa sedikitpun daripadamu.
Allah ’Azza Wa Jalla berfirman, “Jika kamu benar-benar mencintai
Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi kamu,” dan jika
dunia dan seisinya lebih kamu cintai dari Allah, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan putusanNya pada kita semua. Pernahkah engkau mendengar kisah
seorang wanita yang sangat cinta kepada Rasulullah saw, hingga sering bersyair
di malam hari?”
“Belum
Tadz, ceritakanlah.”
“Dengarlah anakku. Ibnul Mubarak dan Ibnu Asakir meriwayatkan
kisah ini dari Zaid Ibnu Aslam, katanya : “Suatu malam, Umar Ibnu Khathab
keluar untuk menjaga kampung, maka ia melihat sinar pelita di suatu rumah. Ia
mendekati rumah itu, ia melihat seorang wanita yang telah lanjut usia yang
mengurai rambutnya dan ia sedang bersyair : “Semoga bagi Muhammad tercurah shalawat orang-orang baik, shalawat
atasmu dari orang-orang pilihan dan baik. Engkau suka beribadah malam
dan suka menangis di pertigaan malam. Semoga ketika mati datang menjemputku aku
dapat disatukan dengan kekasihku (Muhammad saw) dalam satu tempat.”
Mendengar bait-bait syair itu,
umar menangis, sampai ia mengetuk pintu rumah wanita tua itu. Ia mendengar
suara dari dalam, “Siapa yang mengetuk pintu pada saat seperti ini?” Umar
menjawab: “Aku adalah Umar.” Akhirnya Umar dipersilakan masuk dan berkata,
“Maukah engkau mengulangi bait-bait syairmu tadi?”
Wanita itu mengulanginya hingga
di akhir bait. Tanya Umar : “Maukah engkau memasukkan aku bersama kalian
berdua?” maka wanita itu berkata : “Semoga shalawat Allah tercurah juga bagi
Rasulullah saw dan bagi Umar. Maka ampunilah ia, wahai Zat yang Maha
Pengampun.” Setelah itu Umar pun pulang.”
Itulah cinta wahai Ali, cinta
itu sangat banyak makna namun ingatlah pesan Rasulullah saw, “Cintailah
kekasihmu sekedarnya, mungkin, kelak, engkau akan membencinya. Dan bencilah
musuhmu sekedarnya, mungkin, kelak, engkau akan mencintainya.”
Ingatlah
juga pesan Ali bin Abi Thalib berkata : “Jadilah engkau sebagai penyimpan
kebajikan dan bersihkan dirimu dari segala noda, karena engkau akan melihat dan
mendengar apa yang pernah engkau lakukan. Cintailah kekasihmu sepantasnya,
karena engkau tidak tahu kapankah engkau akan membencinya dan bencilah musuhmu
sepantasnya, karena engkau tidak tahu kapankah engkau akan mencintainya.” Aku
tahu sebenarnya engkau sudah sangat paham Ali, tapi mungkin inilah pesan
dariku.”
“Ingatlah
anakku, Allah berfirman dalam surat cinta-Nya, “Dan di antara manusia ada
orang-orang yang menyembah selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika
mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa
Allah amat berat siksa-Nya,” dosa terbesar adalah syirik anakku,
mencintai apapun selain Allah apalagi melebihinya, semuanya adalah kemusyrikan
yang tersembunyi maupun yang nampak.
Apabila dalam hati manusia ada
posisi yang sama dengan Allah, letaknya sama dengan cinta pada Allah. Maka
bagaimana bila cinta Allah disingkirkan dari hatinya, lalu tandingan-tandingan
ini semata yang dicintainya, padahal cinta itu tidak boleh diberikan kecuali
kepada Allah? Sesungguhnya orang-orang mu’min tidak mencintai sesuatu
sebagaimana cinta mereka kepada Allah, bahkan tidak mencintai dirinya sendiri
sebagaimana mencintai Allah.
Adapun orang-orang beriman
amat sangat mencintai Allah, cinta total
yang tidak dapat dicari bandingannya, dan terlepas dari segala ikatan.
Lebih besar cintanya kepada Allah, ketimbang segala cinta yang dipersembahkan
kepada selain-Nya. Cinta itu begitu indah, hingga setiap bagiannya adalah
cahaya, setiap salurannya adalah kesejukan, dan setiap ruangnya adalah
petunjuk, setiap celahnya adalah ketenangan.”
Aku pamitan untuk ke kampus
pada Ustadz, lagi – lagi dia mengiringi kepergianku dengan senyuman. Aku
membalasnya. Pagi ini langit begitu cerah, kakiku melangkah penuh cinta di
setiap ayunannya, bahkan menginjak bumi pun harus dilakukan dengan cinta.
Bukankah kehidupan ini adalah bukti cinta dari Allah, maka aku akan mencintaiMu
ya Allah dengan cara mencintai semua ciptaanMu.
Not Comments Yet "Part 19, Ustadz yang Lembut"
Posting Komentar