“Akh…, dapat surat dari Lampung! Surat dari Lampung!” matanya
berbinar ketika masuk ke kamar sewaktu lantunan murottal menentramkan hati,
sewaktu aku sedang menyetrika baju-bajuku. Tangannya menggoyang-goyangkan
amplop putih bertanda cap post itu. Hatiku langsung bungah.
“Sini Hid,” Syahid
masih menimang-nimang surat itu.
“Jangan bercanda Hid,
atau kugosok kau nanti,” aku mengancamnya. Sambil mengangkat kedua telapak
tanganku, dia lalu menyerahkan amplop itu dan tersenyum menatapku, “Aku sangat
bahagia ketika melihat senyummu Akh,”
aku tersenyum kearahnya. Persahabatan yang indah bagiku.
Aku teringat surat
dari Wanda sebulan lalu. Surat yang kurasa dibuatnya karena keputus-asaan yang
mendalam. Jika mau jujur, jika Wanda tidak mau menikah dengan Jamaaluddin
kenapa dia mau menerima pinangannya? Rasa cinta haruslah kepada orang yang
telah resmi menjadi istri atau suaminya, bukan cinta menggebu-gebu yang tidak
ada ikatan. Kecuali syetan telah menggiringnya dalam lembah kehinaan.
Beberapa hari yang
lalu, saat aku ke Rektorat bersama Hanif, aku melihat Wanda sedang bersama
suaminya, bergandengan tangan dengan mesra. Mereka tidak melihatku, dan aku pura-pura tidak
melihat mereka. Aku jadi yakin kini pada awal pernikahan setelah akad terjadi,
dan bersama dalam malam Zafaf serta
bulan madu, semua kenangan dengan kekasih atau yang dicintai selain suaminya
akan lenyap. Ia hanya akan mencintai suaminya, orang yang pertama menyentuhnya.
Aku jadi teringat kembali
pesan Ibnu Qayyim rahimallah, beliau berkata, “Ketika orang lain bergantung pada dunia, gantungkanlah dirimu kepada
Allah, ketika orang lain merasa gembira dengan dunia, jadikanlah dirimu gembira
karena Allah, ketika orang lain merasa senang
pada kekasih-kekasih mereka, jadikanlah dirimu bahagia dengan Allah. Dan
ketika orang-orang pergi menghadap raja-raja dan pembesar-pembesar mereka,
untuk mengais harta dan mencintai mereka, jadikanlah dirimu benar-benar
mencintai Allah.” Dahaga cintaku terpuaskan oleh lautan untaian Ibnu
Qayyim.
Dalam hal ini, dapat kupahami
bahwa cinta Allah yang besar akan dapat menggetarkan hati, sehingga jika di
hatimu dipenuhi cinta kepada Allah, maka dengan sendirinya cinta kepada wanita,
harta akan tersingkirkan. Kita akan sibuk memikirkan Allah, dan rindu yang
menyesak dada maka teringatlah kita pada doa Rasulullah saw, “Ya Allah, aku minta padaMu kenikmatan
melihat wajahMu yang mulia, dan aku minta kerinduan bertemu denganMu,” rindu adalah puncak kecintaan. Jika hati
kita tidak mencintai Allah dengan kesungguhan, maka syetan akan memasuki hati kita dengan cinta pada syahwat; baik harta maupun
wanita, sehingga ada orang yang gila karena harta maupun karena wanita.
Kenapa ada cinta yang membuat
manusia tersiksa, karena rasa rindunya yang teramat sangat? Jawabannya sangat
sederhana. Karena mencintai sesuatu yang tak abadi, dalam arti selain Allah
maka kesempatan untuk kehilangan pasti ada, sehingga menimbulkan kecemasan dan
keraguan dalam segala tindakannya. Jika mencintai makhluk Allah, maka
kesempatannya ada dua, yaitu yang pertama kita akan diterimanya,
namun juga masih ada kesempatan berpisah dan itu menimbulkan keraguan serta
kecemasan juga. Yang kedua adalah kesempatan di tolak, dan itu yang akan
membuat seolah dunia hancur menimpamu, karena perasaan kita sendirilah yang
menjerumuskan dalam lubang kehinaan.
Satu hal yang terpenting yang
patut dicatat, oleh setiap makhluk hidup, bahwa apabila mencintai Allah, Dzat
yang menciptakan kita penuh cinta dan kasih sayang pasti cinta kita akan
diterima. Kita tidak akan pernah merasa
kehilangan, dan hilang sudah semua kecemasan dan keragu-raguan. Tidak akan ada
makhluk yang dapat merebut Allah dari hati kita. Allah tidak akan pernah
meninggalkan kita kecuali kita sendiri yang meninggalkanNya. Cinta itu indah
sebenarnya, jika kita bisa mamaknainya dengan hati kita, bukan dengan rasio
semata kita. Cinta menyembuhkan segala macam penyakit, dan itu membahagiakan.
Itulah cinta sejati, cinta pada Allah ‘Azza
wa Jalla.
Sekarang coba kita cerna
dengan akal kita, “Tidak ada yang aneh
ketika seorang hamba mencintai tuannya, tetapi sangat aneh. Sungguh sangat aneh
ada tuan yang mencintai hambanya,” itulah Allah yang mencintai
hamba-hambaNya. Manusia diciptakanNya tapi dicintaiNya. Rasulullah saw
bersabda, “Innallaa Halaa Yan Dzuru Ila
Suwarikum Wa Amwalikum Walakin Yan Dzuru Ila Quluu Bikum Wa A’maa Lakum, Allah
tidak memandang pada rupa-rupa dan harta-harta kalian, tetapi Ia memandang pada
hati-hati dan amal-amal kalian,” jujurlah pada hati kita, dimanakah letak
ketidak adilan Allah? dimanakah letaknya Allah tidak cinta dan tidak mengasihi
kita? Semua manusia dicintai Allah, bukankah itu indah dan menenangkan hati?
Dalam sebuah hadits Qudsy,
Allah ‘Azza wa Jalla menjabarkan
cintaNya, “Dan hambaKu senantiasa
mendekat kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah (Nawaafil), sampai Aku
mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang dia
gunakan untuk mendengar; Aku menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk
melihat; Aku menjadi tangan yang dia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya
yang dia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepadaKu, pasti Aku
kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepadaKu, pasti akan Kulindungi.” Hati siapa yang tak akan bergetar mendengarkan firman Allah ini? Sampai
Allah begitu sayang sehingga pasti dikabulkan dan diberi perlindungan. Seluruh organ kita selalu dituntunNya
seandainya Allah mencintai kita. Aku melelehkan airmataku.
Begitulah cinta, dari zaman
nabi Adam hingga kiamat nanti. Selalu indah dan menyejukkan jika kita tahu
rumusnya. Aku kembali bertasbih.
Aku membuka surat itu
perlahan, hatiku membuncah rindu tak terukur oleh apapun. Dalamnya lautan dapat
diukur, tapi dalamnya hati tak ada yang bisa mengukur kecuali Rabb Semesta
Alam.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Anakku tercinta di Depok
Salam terindah dari keluarga di Gedung Dalam Baru, salam terindah dari para
perindu selayak bidadari-bidadari yang mengintip dari balik-balik daun, Yang
mata mereka begitu lentik seumpama embun-embun yang jernih lagi jeli, yang siap
menyatu dengan bumi menciptakan penghidupan bagi kehidupan.
Semoga cinta dan kasih sayang Allah selalu untukmu Le..., dimanapun dan
kapanpun engkau berada, dalam keramaian ataupun kesendirian, dalam waktu luangmu
maupun waktu sempitmu, dalam belajarmu menuntut ilmu maupun dalam pekerjaanmu,
dalam lelahmu juga dalam tidurmu, Ibu tak pernah lupa selalu mendoakanmu,
hingga wajahmu selalu terbayang dalam ingatan ibu siang dan malam, ibu selalu
melihatmu bersinar dari segala ruang saat bintang menemani bulan yang purnama.
Airmataku menetes, aku tahu
siapa yang merangkai kata-kata sehalus dan seindah ini, dia pasti Yasmin. Dia
ingin memberikan segenap cintanya dalam setiap goresan penanya. Ibu, kaulah
penyejuk kalbu, setiap tuturnya, setiap senyumannya, setiap kedipan matanya,
setiap marahnya, gelisahnya, setiap desah nafasnya, tatapan cintanya, setiap
gerak-geriknya, setiap lakunya, semuanya adalah cinta dan kerinduan yang nampak
melekat padanya. Terlalu sedikit yang bisa kuceritakan tentang Ibu.
Buih
dimataku menetes, bagaikan embun yang terkumpul di ujung daun dan jatuh
menyuburkan bumi. Aku meneruskan membaca surat Ibu.
Umurmu kini telah 22 tahun. Mungkin sudah
saatnya engkau menikah, dan mencari Bidadari yang akan memberikan ibu momongan
agar ibu dipanggilnya ’Nenek!’ Ibu akan
mengangkatnya tinggi-tinggi dan kudekatkan pada bintang yang gemerlapan
menerangi langit, agar anakmu dapat memetik bintangnya kelak. Dari sorot matamu
yang lelah, Ibu menangkap bahwa bidadari itu sudah dekat denganmu, kau pilihlah
sendiri bidadarimu. Ibu sangat percaya padamu, karena keyakinan cinta kita yang
kuat dan abadi.
Ibu mencintaimu dengan segala kelemahan
Ibu. Ibu tak kuasa memberimu lebih, tapi bukankah Allah hanya melihat isi
hati-hati kita, mana yang sungguh-sungguh menaatiNya, dan mana yang hanya
berpura-pura mencintaiNya. Setidaknya hati Ibu telah kucurahkan sekuat Ibu,
untukmu dan adik-adikmu, Ibu tak kuasa memberi kalian lebih, hanya doa Ibu...,
hanya doa Ibu...
Aku
memejamkan mataku. Genangan embun di mataku menetes, basah pipiku. Alangkah
besar cinta yang kau berikan Ibu, dan kau masih merasa bersalah karena kurang
mencintai kami? Ibu..., engkau bagai pelita di hati-hati kami yang merindukan
surga, untuk melepaskan kelehan dan segala dahaga. Ibu, harus dengan apakah
kami membalas cintamu yang tak bertepi?
Ibu tahu Le..., Ibu sudah berumur. Entah
berapa lama lagi sisa umur Ibu yang digariskan Allah swt. Ibu tidak tahu Le...,
sampai kapan Ibu bisa membersamai kalian bertiga untuk bertahan di bumi. Ibu
juga sangat kangen sama Bapakmu. Ibu merasa bersalah, bersalah padamu Le...,
karena tanggung jawabmu semakin besar. Entah sudah berapa banyak peluh dan
darah yang kau peras untuk kebahagiaan Ibu dan adik-adikmu. Ibu merasa bersalah
padamu Le...
Air
mataku terus bercucuran. Ibu tak bersalah sama sekali, cinta Ibu sudah cukup
membuatku bahagia, sangat bahagia. Ihsan-lah yang banyak menyusahkan ibu,
membuat Ibu marah. Allah begitu agung Engkau. Kau kuatkan ikatan cinta kami, Kau kuatkan pula
keimanan kami untuk selalu merindukanMu.
Banyak perubahan yang terjadi setelah
kepulanganmu tempo hari, itulah yang membuat Ibu sangat berbahagia dan juga
bersedih. Ibu tidak tahu seperti apa kehidupanmu di Depok, Ibu sangat tahu
dirimu Le..., Ibu sangat tahu, karena ikatan darah kita berasal dari satu
aliran. Kau tak ceritapun Ibu sudah tahu, kau sangat keletihan dan kepayahan,
namun sandiwaramu begitu meyakinkan dunia bahwa kau tenang seolah tak ada
beban. Tapi, Ibu tahu kau sangat kepayahan disana. Ibu merestuimu untuk
menikah, tak usah kau risaukan tentang adik-adikmu. Yasmin
dan Fajar juga ingin cerita kau baca saja surat mereka.
Ibu sangat mencintaimu Le..., sangat. Ibu
mencintaimu karena Allah.
Ibumu
Tiada
orang lain di dunia ini yang begitu memahamiku, kecuali kalian berdua, Ibu dan
Bapak. Kita akan berkumpul lagi kelak, Allah izinkanlah pertemuan terindah kami
nanti bersama barisan orang-orang mukmin.
Aku
membuka surat yang masih terlipat di amplop.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kak Ihsan yang dicintai Allah
Kami tulis kala langit desa tampak sejuk
dan sedikit mendung,
Kala Allah menggerakkan matahari mendekati
waktu Maghrib, dia tutupkan siangNya sehingga berganti malam untuk
menyeimbangkan kehidupan. Ketika tiada lagi cahaya matahari, bulan purnama
menerangi kehidupan kami, kehidupan kedua adik Kakak, Fajar dan Yasmin.
Kakak-lah pelita Bulan itu, Kakaklah penerang dalam redupnya gelap yang kami
lewati, Kakaklah bulan penerang dalam hati-hati kami, Kakaklah yang menantang
badai untuk memberi sinarnya pada kami.
Airmata kami memburai saat tulisan ini
tergores pada kertas ini,
Kak Ihsan..., pengorbananmu laksana
bendungan yang menahan ombak besar, kau korbankan dirimu untuk kami agar
menemukan kedamaian. Malam ini tengah malam, kami bersama mengingatmu. Kakak
pasti kini sedang kelelahan, jika kami ada di dekatmu akan kami pijit dan usap
semua tanda-tanda keletihan Kakak dengan cinta dan rindu kami.
Kami tersenyum rindu dari desa,
Kakak boleh tersenyum kini. Yasmin telah
berusaha sekuat tenaga menekuni dunia Jurnalistik seperti yang kakak pesankan
sewaktu berangkat lagi ke Depok. Puji dan syukur hanya milik Allah yang Maha
Menentukan, Yasmin berusaha keras walau tak bisa sekeras Kakak disana. Yasmin
mendapatkan juara I penulisan artikel di Unila khusus pelajar, lalu karya-karya
Yasmin berupa cerpen sering dimuat di Lampung Post, terakhir kali novel Yasmin
sebentar lagi launching oleh Penerbit sekaliber Nasional. Kakak tahu cerita
novel itu?
Novel yang kutulis itu adalah cerita Kakak
yang berjuang keras demi menuntut ilmu dan bekerja keras untuk membantu membiayai keluarganya. Kata mereka novel
Yasmin banyak membuat mata menjadi menangis dan tersentuh begitu membacanya.
Kak, semuanya adalah petunjuk Kakak, kesuksesan Yasmin adalah kesuksesan Kakak,
kesenangan Yasmin adalah kesenangan Kakak, kebahagiaan Kakak adalah kebahagiaan
Yasmin. Cepatlah Kakak menikah, Yasmin ingin punya kakak Perempuan nih! Ok?
Insyaallah Yasmin kini bisa mengurusi biaya kuliah Yasmin walau tidak
sepenuhnya. Tapi kebahagiaan Kakak, adalah yang utama. Menikahlah Kak, kami
mendukung dengan sepenuh doa.
Eh..., Kak Fajar juga mau cerita. Sudah
dulu dari Yasmin, adik Kak Ihsan yang paling cantik. He..he..he..
Dasar
Yasmin! Masih bisa-bisanya bercanda. Aku bangga padanya.
Kak Ihsan di selimut kelelahan
Dari desa, aku menatap punggung Kakak yang
terasa lelah. Dari desa kupandang Kakak rasanya semua tulangku ikut remuk.
Fajar selalu menyusahkan Kakak, kakak menjadi motivasiku yang selalu hidup
dalam hatiku, tidak seperti motivasi dalam buku yang hilang setiap saat dan
muncul kembali tapi semangat dari Kakak selalu tumbuh setiap saat di hatiku.
Kakak juga harus bangga pada Fajar.
Setelah Fajar, ketika hanya bisa berjalan dengan besi penyangga. Fajar berusaha
keras agar tidak lagi mengecewakan Kakak. Fajar berjuang, Fajar tidak akan
tidur nyenyak jika tidak bisa membuat Kakak tersenyum. Fajar belajar dengan
sungguh-sungguh dan akhirnya hasil semester kemarin Fajar mendapatkan peringkat
ke-dua di Fakultas Hukum.
Fajar berjuang lagi, sekarang yang bisa
Fajar lakukan adalah menyanyi. Fajar berlatih dan belajar hingga kukurangi
waktu tidur Fajar, karena kutahu Kakak juga jarang tidur nyenyak disana. Wajah
Kakak selalu hidup di hatiku, itu yang membuat semangatku berkobar. Kau tahu
Kak..., walau kakiku masih lumpuh kini Fajar selalu dapat order untuk
melantunkan Nasheed di acara walimatul Ursy, atau acara kajian-kajian Islam.
Kata mereka suara Fajar lembut dan
meneduhkan hati, dan merasa lebih dekat kepada Sang Pencipta. Fajar hanya mau
melantunkan lagu-lagu yang bermuara pada Allah, Fajar tidak akan pernah mau
bernyanyi jika muaranya pada syahwat dan dunia. Seorang pemilik studio musik
menawari membuat album, dan alhamdulillah berhasil lancar. Nilai penjualannya
tinggi untuk kategori pemula Kak. Kau yang membuat kami bangkit Kak,
pengorbananmu tidak akan pernah kami sia-siakan.
Bersama ini, Insyaallah menyusul kaset
lagu Fajar dan buku yang ditulis Yasmin. Tunggu ya Kak, dan Menikahlah Kak.
Kami sangat bahagia jika Kakak menikah. Aku ingin segera punya ponakan yang
akan aku ajari menyanyi dan akan kubuat dia menggemparkan musuh-musuh Allah
dengan musik pengobar jihadnya.
Eh..., anak Kakak nanti aku ajari dia
menulis agar menjadi penulis seperti ibnu Qayyim al Jauziyah. Yasmin.
Ini nomor telepon keluarga, Kakak bisa
langsung kasih kabar jika ada apa-apa. Aku membelinya untuk mempermudah
berkomunikasi, apalagi kalau nikahnya tiba-tiba. He..he..08xxxxxxxxxx
Salam dari keluargamu di Gedung Dalam Baru
Yang mencintaimu dengan sepenuh hati, di
jalan Allah.
Aku
sujud syukur, betapa agung Engkau ya Allah. Kau berikan kenikmatan yang luar
biasa pada hambaMu yang tidak mampu sempurna mencintaiMu. Kau begitu sayang
kepada hambaMu, walau Kau tahu ibadahku kepadaMu tidak akan pernah dapat
mengganti satu nikmat biji mata saja. Allah, kenapa manusia sering ingkar?
Jangan jadikan hambaMu sedikitpun ingkar, jadikan hati hamba selalu menetapi
cintaMu dan bersyukur dengan kesungguhan. Amiin.
Tiada
kubahagia sebahagia malam ini. Adik-adikku telah berusaha keras untuk
membuktikan kepadaku, mereka tidak mau kalah pada kakaknya. Aku pun akan
berusaha keras untuk tidak kalah, aku harus segera menyelesaikan skripsiku,
sekarang aku sudah tidak bekerja di ’Zahra Corporation’, mungkin besok aku akan
meneliti usaha apa yang mempunyai potensi, lalu untuk menutupi biaya aku masih
harus menjadi kuli lagi. Aku juga telah mempelajari banyak hal ketika menjadi
kuli, usaha-usaha telah aku teliti, tinggal memilih mana yang cocok untukku.
Satu hal
yang paling penting untuk memenuhi kebahagiaan Ibu dan adik-adikku, terutama
diriku. Mencari bidadari yang Allah masih menutupkan tabirnya untukku. Akan
kujemput segera. Aku tidak akan mencari dengan kriteria yang meninggi, aku
hanya mencari yang sholihah dan menerima aku apa adanya. Hatiku berucap doa
berulang-ulang. Syahid telah tidur, aku mengambil wudhu, shalat dua rekaat dan
tidur dengan senyuman terindah untuk Allah, untuk menjemput sang bidadari.
Not Comments Yet "Part 31, Surat Terindah dari Ibu"
Posting Komentar