Telisik di antara rindangnya ilalang
Mengintip di arakan awan
Kala tabir di kuak
Ada mutiara yang tersembunyi
Aku kini harus lebih selektif
menata waktuku. Kuputuskan ingin mengakhiri privatku. Tapi setelah istikharah,
dan aku berpikir sejenak, hanya satu yang akan kuhentikan yaitu privat di
tempat Hasan ba’da Isya’. Padahal
kini Rahma adiknya yang dulu sangat nakal, mulai menyukaiku dan sudah rajin
mengeja Iqra’ satu. Aku minta kepada
Farhan untuk menggantikanku, tapi jika Fadli tetap privat padaku. Aku punya
alasan sendiri yang tak kuungkapkan. Sebenarnya selama ini, aku menyembunyikan
bahwa mereka memberi honor separuh dari harga yang sebenarnya. Karena Fadli memang terlihat serba
kekurangan, walau rumahnya terlihat mewah.
Honor yang kudapat pun harus
kusisihkan untuk kepengurusan lembaga privat, walau Farhan menolak, aku selalu
memberikan Rp 100.000, setidaknya untuk administrasi berjalannya PMPP, yang
didirikannya bersama teman-teman aktivis dakwah yang lain. Agar tetap exist.
Untuk Fadli, aku memang meluangkan sedikit waktuku untuknya, karena kutahu dia
banyak membutuhkan bimbingan, karena selama aku mengajarinya ba’da Maghrib, belum pernah sekalipun
kutemui salah satu anggota keluarganya. Yang kutahu hanya tentang kakaknya, yang bekerja keras membiayai sekolahnya, dan menyelimutinya di
kala malam telah terlelap. Walau komunikasi mereka kurang, namun kurasa ada
kekuatan kasih-sayang yang terpendam. Selama ini, uang honor selalu dititipkan
kepada Fadli, baru diserahkan kepadaku. Aku pun memberikan yang seratus ribu
untuknya. Aku meminta Fadli untuk menabungnya, siapa tahu suatu saat dia
membutuhkannya.
Fadli kini mengalami kemajuan
yang pesat. Selain bacaan Al-Qurannya telah lancar, aku sering mengajarinya
belajar pelajaran Sekolah, dan menambahkan materi hafalan Quran padanya. Ketika
melihat wajahnya, aku jadi teringat diriku sendiri waktu kecil. Aku tidak mau
Fadli yang pendiam harus memendam potensinya, kuusap kepalanya lembut. Dia
tersenyum. Aku harus banyak berkaca padanya, buku-buku islami yang kubelikan
untuknya, pun telah ludes di bacanya. Kemauannya untuk belajar tinggi, mau jadi
apapun engkau aku tidak peduli Fadli. Aku hanya berusaha mengantarkanmu ke
depan pintu gerbang pilihanmu, biarlah Allah yang merencanakannya.
”Kak, aku telah hafal surat Al-Mujaadillah. Aku mau setor,” katanya semangat.
”Baiklah, bacalah aku akan
mendengarkanmu dan membenarkannya,” sedikit banyak, ini memotivasiku pula untuk
menghafal juz 28, jadi aku juga berpacu dengannya menghafalkan Al-Quran. Alhamdulillah aku hafal duluan, jadi aku
tidak akan malu pada Allah. Aku tersenyum dan mengangguk. Mempersilakannya.
Ayat-ayat cinta mengalun dari mulut mungil Fadli. Aku begitu menikmatinya, aku
teringat potongan kenanganku sewaktu menghafal surat An-Naas, saat aku mengharapkan hadiah dari mbak Ningsih. Airmataku
menetes, hangat. Menyiram kejahilanku, menyiram keangkuhan. Allah! Dengarlah
hatiku menghiba agar Kau tetapkan jalan imanku. menujuMu, hanya padaMu. Hingga
kudengar akhir ayat ke-11, aku meresapi maknanya, ”Dan apabila dikatakan, ’Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Fadli terus membaca. Airmataku
tumpah, ”... Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan
dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya.
Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka
pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung,” Fadli menatapku polos, ”Kakak
menangis?”
Aku segera mengusap airmataku
yang mengalir. Rabbi, apakah aku termasuk dalam golongan yang Kau ridhai?
seperti tangisan Imam Ahmad Rahimallah yang menangis seharian, karena takut
jika tidak digolongkan ke dalam barisan orang yang Engkau ridhai, atau bersama
barisan mereka yang kafir. Naudzubillah.
”Bacaanmu bagus, hanya jaga
hafalan itu lebih penting. Usahakan kalau shalat sunnah, surat yang sudah hafal
dibaca agar tidak hilang,” anggukan kepalanya menentramkan hatiku.
”Kak,” mata Fadli mengedip di
sebelah.
”Kenapa? Ada yang aneh dengan
Kakak?” tanyaku bingung.
”Malam ini ada kejutan,” Fadli
membenarkan letak pecinya, ”Hari ini aku ulang tahun. Kakakku pasti minta izin pulang cepat dari
kerjanya nanti, mungkin ba’da Isya’.
Kakak pasti membawakan kue dan hadiah untukku,” senyumnya menerawang.
”Subhanallah! Tapi Kakak belum tahu. Bagaimana ini, Kakak kan tidak
menyiapkan hadiah untuk Fadli,” aku benar-benar tidak tahu hari ulang tahunnya.
Biasanya ulang tahun bagi seorang anak kecil, adalah moment yang penting.
”Tidak apa-apa. Asalkan nanti
Kakak menemaniku waktu meniup lilin, aku sudah bahagia,” benar-benar ucapan
yang polos.
”Insyaallah, nanti Kakak pasti akan menemanimu,” belum selesai kami
asyik ngobrol, adzan menggema. ’Alhamdulillah!
Isya’ telah datang, panggilan cinta itu datang lagi, pengobat rindu, tempat
mengadu, tempat menikmati hidangan terindah dari Allah yaitu berbincang-bincang
denganNya,’ batinku berucap lirih, mencoba menuai kesyukuran, ”Ayo ke masjid
dulu. Nanti kembali kesini lagi, Kakak tidak akan langsung pulang, tapi
menemani acaramu dulu,” kami berangkat ke masjid.
Alhamdulillah! ”Fadli tunggu di sini sebentar
ya? Kakak ingin membeli sesuatu. Penting. Pokoknya tunggu Kakak disini,” aku
meninggalkan sejenak Fadli di depan masjid setelah shalat Isya’. Aku segera
berlari di toko buku, sampai malampun toko Taqwa masih buka. Aku buru-buru
membeli dua buku dan minta kubungkus. Aku harus memberikannya hadiah. Buku,
’Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim’ karya Salim A. Fillah dan satunya,
’Kisah 20 sahabat untuk anak-anak’ karya Syaikh Muhammad Hamid. Kurasa pas
untuknya, kini dia suka sekali membaca. Aku harus menjembatani.
Aku menyusulnya di
masjid. Fadli manyun, ”Pasti Kakak telah menungguku di rumah. Kakak sih kelamaan,”
aku hanya membelai rambutnya. Untung kadonya telah kumasukkan ke dalam plastik
hitam. Jadi dia tidak tahu. Hp-ku menjerit di perjalanan ke rumah Fadli. Sms
dari Kakaknya Fadli;
”Asw. Apakah Fadli sedang
bersama anda?”
”Wasww. Iya, skrng sedang
diperjlnan.” aku segera mengetik balasan.
”Mohon cepat pulang. Hari
ini dia ulangtahun.” kukira dia agak khawatir.
”Fadli, mau
kugendong!” tanpa babibu dia langsung merangsek di pundakku, aku berlari. Dia
terlihat bahagia sekali. Keringatku bercucuran, walau jaraknya hanya setengah kiloan.
Fadli turun langsung mengucapkan salam, terdengar jawaban lembut dari dalam.
Aku masih terengah-engah. Mengipasi wajahku dengan telapak tangan.
Pintu terkuak, wanita
berjilbab. Senyumnya tersungging kearah Fadli. Wajah itu terlihat kurang jelas,
dari sorot lampu jalan yang hanya beberapa watt. Tapi, aku terkejut begitu
wajah itu menoleh kearahku. Bibirku kelu tak kuasa berucap.
”Si..., silakan
masuk,” wanita itu masuk ke dalam. Sedangkan Fadli menarik tanganku erat. Jadi
selama ini, kakaknya Fadli adalah Aisyah teman sekelasku di kampus. Masyaallah!
Kenapa aku sampai hampir setahun setengah tidak menyadarinya. Jika Hanif tahu
pasti terjadi gempa, geger habis. Kenapa aku tidak tahu sama sekali. Alangkah
malunya aku berada di rumahnya seminggu tiga kali, mengajari adiknya tapi aku
tidak tahu siapa yang membayar honorku setiap bulan.
Wanita yang selalu
diceritakan Fadli itu, selama ini adalah Aisyah teman kuliahku? Aku masih belum
percaya. Wanita tegar itu ternyata Aisyah, yang kini telah berhijrah memakai
hijab. Iman telah merasuk ke dalam dadanya, sebagaimana aku dulu menentukan
pilihanku, untuk mempelajari dan memahami Islam sebagai lakon hidupku.
Aisyah keluar
menyuguhkan minuman, ”Silakan diminum, beginilah keadaan rumahku,” lalu duduk
di sebelah Fadli.
”Iya,” aku tak tahu
harus bicara apa, ”Bukankah hari ini hari ulang tahunnya Fadli.”
”Benar!” Fadli
langsung pindah di pangkuanku, ”Keluarkan kuenya dong Kak Ais, sudah lama kita
tidak merayakan ulang tahun ada tamu seperti hari ini.”
Aisyah masuk ke dalam.
Beberapa saat kemudian keluar sambil membawa nampan berisi kue tart. Ada lilin yang menunjukkan angka
12, dan dipinggirnya ada beberapa lilin merah yang mengelilinginya. Acaranya
sederhana itu dimulai, sikap kaku yang tercipta makin lama makin pudar. Aku
mencoba menikmati acara ini setidaknya agar berkesan bagi Fadli. MC-nya Aisyah, mirip sekali sewaktu kami
presentasi tugas kemarin, aku membaca tilawah dan doa. Fadli sangat senang,
tertawanya lepas. Seolah hilang sudah kemurungannya sewaktu awal bertemu dulu.
Kami sedikit bercanda,
agar Fadli merasakan bahagia. Sambil meniup lilin, Fadli berdoa khusyuk.
Matanya terpejam. Aku jadi teringat diriku, belum pernah aku merayakan ulang tahunku sama
sekali. orangtuaku pun tak pernah mengingatnya, kecuali hanya terpampang di
raport, hanya saja kasih sayang mereka tercurah sepenuhnya untukku. Aku rindu
mereka, rindu yang menyentak.
”Fadli, apa yang kau
minta?” aku mencandainya seusai berdoa.
”Rahasia! Hanya aku
dan Allah yang tahu.”
Aku menatapnya,
”Baiklah tunggu sebentar, Kakak punya kejutan untukmu,” aku keluar sejenak,
untuk mengambil bungkusan plastik yang kutaruh di teras rumah.
”Ini hadiah untukmu,
semoga Allah selalu mencintaimu,” aku mengelus kepalanya.
”Amiin..., Amiin...,”
bibirnya berujar. Kudengar suara lembut juga mengamini ucapanku, Aisyah. Aku
pamitan pulang, karena waktu telah menunjukan pukul 20.15 aku tidak mau ada
fitnah. Mereka berdua mengantarku hingga di pintu. Aku melangkah pulang.
Berjalan kaki. Sambil berjalan kuingat obrolan selama milad
Fadli tadi. Ternyata mereka selalu berdua ketika milad diantara mereka. Sempat
terucap ucapan terima kasih Aisyah, karena telah kembali menanamkan keceriaan
di wajah adiknya. Bagaimana pula esok jika bertemu dengannya waktu kuliah? Semoga
dia tidak memberitahukan kepada yang lain. Semoga. Tapi satu hal yang
kusimpulkan, Aisyah membiayai kuliah dan biaya sekolah adiknya sendiri. Sama
sepertiku. Aku dapat merasakan apa yang dia rasakan.
Ketika masuk areal
pondok, Hp-ku berbunyi. Aisyah.
”Asw. Terimakasih untuk
semuanya. Fadli sangat menyukai hadiahmu, akupun ingin ikut membacanya. Jadi
kami membaca giliran. Satu-satu. Adikku kini ceria, aku sendiri kesusahan untuk
membuatnya ceria. Aku juga mulai mengenalmu malam hari ini banyak hal dari
Fadli. Tetap semangat akh.”
Aku masuk ke dalam
Asrama. Semoga ini tidak membuatku sombong, apalagi menjadi bangga. Allah!
Malam ini aku ingin mengadu banyak hal padaMu. Maka bangunkanlah hambaMu yang
lemah ini di sepertiga malam nanti. Malam ini aku tidak masuk kajian kitab.
Semoga aku bisa mengejar ketertinggalan ini.
* *
*
Astaghfirullah! Tubuhku tersentak. Mataku pelan terbuka, kutatap samar ruangan serba
putih. Kamar asrama pondokku. Aku mengingat kembali mimpi yang sempat terjadi
barusan. Mimpi yang terngiang. Bibirku kembali beristighfar, aku duduk.
Kupejamkan mataku sejenak. Mimpi yang seolah nyata, aku berada di sebuah taman
indah penuh bunga, aku sedang main ayunan bersama dua orang. Fadli dan Aisyah,
kami tertawa renyah bersama, sambil melihat hamparan sungai yang airnya jernih
di bentangkan di dekat bunga-bunga. Allah! Tiada kulupa berdoa sebelum tidur
tadi. Aku mencoba melupakan mimpi itu, harus bisa.
Aku melihat jam
dinding di atas pintu. pukul 03.00, kuucapkan tahmid lalu mengambil air wudhu. Teman-teman sekamar, ada Syahid
dan Samsul yang masih terlelap. Kubangunkan mereka dan memercikkan air. Syahid
bangun agak kesal, tapi Samsul meneruskan tidurnya, katanya setengah jam lagi.
Mencoba bersepakat dengan syetan ya? Kuambil air lebih banyak. Dan akhirnya dia
bangun sambil bersungut-sungut. Biasa, tapi nanti ketika subuh biasanya kami
berangkulan, dan membersamai persahabatan karena Allah ini. Jadi tidak masalah,
kami harus saling memahami disini.
Kami lalu menuju
masjid, disana ada seorang yang berada tepat satu shaf di belakang mihrab imam.
Dari baju koko putih itu, kupastikan dia Ustadz Wahid.
Samsul mengambil
posisi di belakang. Di pojok sebelah kiri mirip pemain sepak bola pemain sayap
kiri, hanya saja dia inginnya selalu di belakang. Bagaimana jika pemain sayap
kiri maunya di belakang terus. Gol tidak akan tercipta. Syahid mengambil shaf
sejajar dengan Ustadz Wahid, namun di pojok depan sebelah kiri. Aku mengambil
posisi di pojok depan sebelah kanan. Kami bermunajat kepada Allah, menyerahkan
hati hanya kepadaNya. Saat itulah, mimpi itu seperti slide yang
berputar-putar di benakku. Aku mamaki diriku sendiri, tangisku kali ini pecah
karena berkurangnya khusukku tidak seperti biasanya. Aku gelisah, Allah
ambillah kembali ingatan yang merusak ibadahku.
Jujur kuakui wanita
itu memang cantik. Alangkah sempurnanya Engkau sebagai pencipta yang
menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Allah, aku tidak meragukan
kekuasaanMu. Engkau bisa menggulung daratan kapan saja bagaikan tikar yang digulung
untuk dibersihkan, Engkau bisa menabrakkan semua galaksi dan meremukkan bumi semauMu, Engkau bisa mencairkan es di kutub utara
dan selatan dan bumi akan menjadi lautan. Engkau meledakkan semua gunung secara
bersamaan, dan jadilah bumi serpihan debu. Engkau berhak melakukannya Ya Allah!
Demi kekuasaanMu, hilangkanlah rasa yang membuatku melupakanMu, yang
menjauhkanku dariMu.
Hilangkanlah...,
hilangkanlah ya Allah. Hanya kepadaMu aku menyerahkan segala urusan dunia dan
akhiratku. Aku belum bisa menjaga amanah yang Engkau berikan. Ampuni akan
kekufuranku Ya Allah. Berilah yang terbaik untukku, walau dengan itu aku harus
berpayah-payah. Jadikanlah hatiku tunggal kepadaMu, tak goyah imanku kala badai
menjelang, tetapkanlah aku dalam karuniaMu. Karena semuanya adalah dariMu,
cukuplah Engkau bagiku. Cukuplah Engkau bagiku ya Allah! Biarkanlah hatiku
hanya menjadi milikMu Allah...
Hatiku perih menyayat.
Airmataku tumpah, airmata yang tidak seperti biasanya karena biasanya aku
menangis karena merasa begitu dekat denganMu ya Allah. Kini aku menangis,
karena aku tidak bisa menghadirkanMu utuh dalam sujud cintaku, dalam hamparan
sajadah, namun hatiku keras, aku tak merasa menemukanMu. Ampuni aku ya Allah!
Ampuni aku ya Allah! Ampuni aku ya Allah...”
* *
*
Aisyah berlaku seperti
biasa sesudah malam ulang tahun Fadli. Dia memang jarang berbicara dan
cenderung pendiam. Hanya dia kini di kelasku yang memakai jilbab teruntai
sampai melewati dada, ketika tak sengaja mataku melihatnya. Aku baru sadar,
bahwa jilbab yang kubelikan untuk Fadli ternyata untuk Aisyah. Apakah dia tahu
itu? Aku tak berani menebak. Aisyah tetap seperti biasa, kadang lelap dengan
dunia bukunya. Kulihat dia sedang membaca buku, ’Saksikanlah bahwa Aku Seorang
Muslim’ matanya yang lentik betah membaca, ketika Dosen terlambat hadir atau
pada saat istirahat.
Wanita itu cerdas,
suatu kali sewaktu satu kelompok kemarin, dia banyak menyumbangkan ide.
Lingkungan kerjanya mungkin menambah kontribusi atas metode-metode keuangan
yang kami kerjakan. Astaghfirullah!
Kenapa aku jadi memikirkannya. Ditambah lagi Hanif sering cerita tentang
Aisyah, aku kadang memintanya untuk berhenti membicarakan wanita serba sempurna
itu. Walaupun begitu, Hanif masih betah bercerita. Apalagi katanya sejak
memakai jilbab wanita itu, terlihat semakin anggun dan lembut, walau sikap
pendiamnya masih terjadi. ’Benar-benar seorang wanita idaman, karena dia
terlihat sudah matang dan mandiri’ begitu biasanya celotehnya, mengganggu
pikiranku tanpa dia sadari.
Allah..., hilangkanlah
hal-hal yang akan menjauhkanku dariMu. Hasbunallah, cukuplah Engkau
bagiku.
Not Comments Yet "Part 20, Gadis Tegar itu Bernama Aisyah"
Posting Komentar