Kawan, ini adalah desa
Cahaya. Tak kuperi, tak kuperkirakan, tak ada dalam bayangan persepsi logikaku.
Pohon-pohon menjulang gagah di pinggir-pinggir jalan. Aneka rupa pepohonannya
dan aneka rupa beburung yang menggelantung, jungkir balik di balik dahan-dahan,
berseliweran sekehendak hatinya.
Aku masih berdiri,
mematung, setegak-tegaknya. Menatap jalanan lurus di depanku, sempurna terheran.
Lihatlah, bagaimana matamu akan terpukau. Jarak rumah antara satu dengan
lainnya berkisar 20 sampai 25 meter. Dahsyat! Ini pertama yang kutangkap dalam
persepsiku.
Kakiku melangkah, satu
langkah tepat. Satu langkah memasuki kawasan desa Cahaya. Tatapanku lurus ke
depan, memantapkan diri. Aku melihat langit yang cerah tertutupi sedikit
rindangnya pepohonan. Aku memejam sejenak, menghirup udara yang demikian segar,
tidak kubayangkan bisa menghirup udara sesegar ini. Jika kau hidup di Jakarta
atau di kota besar lain, sampai kiamat pun tak akan kau temukan udara sesegar
ini, sungguh.
Langkahku terayun kembali,
pepohonan menjulang aneka jenis, aneka ragam beburung begitu banyak, aku tak
tahu namanya; ada yang berkicau di dahan-dahan, ada yang jumpalitan, ada yang
berseliweran berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Aku harus siap menghadapi
setiap ujian dan cobaan dalam hidupku, bukankah sedari dulu begitulah hidupku?
Seorang pemberani selalu mencari jalan menghadapi, sedangkan seorang pecundang
selalu mencari-cari alasan untuk menghindar. Siapa yang menyalahkan keadaan
maka dialah pengecut, situasi apa pun adalah tantangan. Kau tahu kenapa aku
berkata seperti itu? Sebenarnya aku sedang menyemangati diriku sendiri agar
tidak mundur selangkah pun.
Lagi-lagi aku teringat
sebuah cerita, jika saja aku berhadapan pada situasi dalam perjalanan hidupku,
pasti akan teringat salah satu kisah yang serupa dengan keadaanku. Dulu, waktu mendengarnya
aku belum paham arah cerita itu mengalun, tapi sekarang aku baru sadar akan
makna cerita-cerita itu. Siapa lagi yang memberikan nasihat dengan cerita
kecuali satu-satunya keluargaku. Bukan ibu atau ayah, tapi dia adalah Kakekku.
Dia satu-satunya keluargaku.
Kakekku pernah bercerita
tentang dua orang tahanan yang terpenjara dalam ruangan tertutup, hanya celah
jendela yang cukup tinggi. Jendela yang diterali besi. Suatu hari mereka
mempunyai inisiatif, mereka ingin melihat dunia luar. Maka mereka bergantian
junjung-menjunjung, untuk melihat alam luar melalui jendela tralis. Giliran
pemuda pertama, dia naik ke pundak temannya yang jongkok di bawah.
Lelaki pertama itu melihat
ke bawah, tanah tandus, tembok yang menjulang tinggi, kawat berduri, dan
petugas yang menjaga di gerbang begitu banyak, berpatroli kian kemari. Dia
langsung turun.
‘Aku tak mau lagi,
sudahlah! Kau tidak usah melihat dunia luar, memang takdir kita seperti ini!’
begitu katanya pada temannya saat turun.
Pemuda kedua tetap nekat,
akhirnya pemuda pertama jongkok. Lelaki kedua naik dan melihat melalui jendela
terali itu, senyumnya mengembang. Bahkan, dia betah melihat dunia luar yang
teramat indah itu, dia melihat bunga yang beraneka ragam indahnya, dia melihat
matahari bersinar, awan bergumpal, dia melihat langit luas, dia melihat
layang-layang yang meliuk-liuk terbang, dia melihat burung yang bernyanyi
riang.
Kau tahu, Kawan, pelajaran
apa yang aku petik dari kisah itu? Jika kau masih bingung, akan kuberikan
contoh tentang seorang pemuda yang datang kepada orang bijak dan berkeluh kesah
tentang apa pun yang dihadapinya, beban hidup, segala kesusahan, seolah
takdirnya selalu buruk.
Si bijak tersenyum,
memberinya satu gelas air dan menumpahkan satu genggam garam dan diaduk di
gelas itu. Pemuda itu diminta meminumnya, pemuda itu muntah karena rasanya
sangat asin. Si bijak mengajak pemuda ke danau, kemudian memasukkan beberapa
genggam garam dan mengaduknya dengan tangannya.
Si bijak mengambil air
danau dengan gelas dan meminta pemuda meminumnya, rasanya segar. Kau pasti
sudah tahu jawabannya kawan. Aku tak perlu menjelaskannya lagi. Pelajaran itu,
hanya bagaimana kita merespon keadaan.
Tapi, tidak cukup sampai
disitu. Ini bonus, karena ini adalah langkah awalku. Memulai masa depanku di
desa Cahaya yang keadaannya pun belum kuketahui. Maka aku akan kisahkan dua
cerita lagi kepada otakku, agar pijakannya semakin kuat. Kisah dua orang pemuda
yang bekerja di sebuah pabrik besi. Kedua orang pemuda adalah karyawan baru.
Di pabrik itu, pemiliknya
mengambil dua pelat besa dan dua martil untuk diberikan kepada mereka,
masing-masing satu pelat besi dan sebuah martil. Mereka diminta untuk memukul
pelat besi tersebut sampai pelat besi patah atau putus. Setelah itu, baru dia
akan bersedia menerima mereka berdua, dan memosisikan mereka sesuai test
tersebut.
Kedua pemuda itu mengambil
peralatan yang diberikan itu, masing-masing mencari tempat untuk memulai
memukul besi. Setelah beberapa saat lamanya, pemuda pertama datang kepada
pemilik pabrik dan mengatakan kepadanya, ‘Tidak bisa! Pelat besinya terlalu
keras!’ pemilik pabrik hanya tersenyum.
Selang beberapa lama,
pemuda kedua datang kepadanya. Dengan muka penuh keyakinan dan semangat dia
berkata, ‘Pak, saya ingin bertanya, apakah ada martil yang lebih kuat?’
wajahnya menandakan bahwa dia benar-benar ingin menyelesaikan pekerjaan
tersebut.
Semangatku membara, tapi
masih kurang. Aku jadi teringat sebuah cerita dari pak Ratmono, dosen yang
pernah mengajarkan Manajemen sewaktu kuliah. Kisah dua orang sales sepatu,
ditugaskan di sebuah tempat.
Satu orang sales
berangkat, saat tiba di tempat yang dituju, alangkah kagetnya dia melihat
tempat barunya untuk menjual sepatu. Seluruh orang di tempat itu tidak ada yang
memakai sepatu, nyeker semuanya. Sales pertama langsung pulang, ke
kantor dan menghadap bos, ‘Tidak bisa melakukan ekspansi di sana, Bos, sepatu
kita tidak akan pernah laku!’
Sales kedua diterjunkan ke
tempat semula, Bos merasa kurang puas dengan pendapat sales pertama, namun dia
ingin sales kedua segera pulang untuk memberikan gambaran sebenarnya di tempat
kejadian. Sales kedua melihat tempat yang dituju, dimana akan didirikan cabang,
dia tersenyum. Dia kembali ke kantor dan menemui Bosnya, ‘Harapan besar!
Momentum awal! Bravo! Semua orang belum memakai sepatu. Tidak ada saingan. Kita
akan bisa menjual sebanyak-banyaknya sepatu kita!’
Dan, aku tersenyum.
Langkahku semakin yakin, melangkah dan melangkah.
Saat aku berada di depan
rumah nomor tiga dari perbatasan, tiga motor menghadangku, suaranya bukan main
pekak dan menderu-deru kuat. Mereka menuju ke arahku, seolah bersemangat ingin
melumatku. Motor-motor itu mengitariku. Lima orang, dan salah satu motor hanya
satu pengemudi. Deru-deru suara semakin membuatku bising! Tapi aku tetap
tenang, hanya saja, kakiku telah siap jika harus adu nyawa. Tidak boleh jadi
pengecut! Itu kata Kakekku!
Motor-motor itu berhenti
mengitariku. Seorang yang berewoknya lebat, kumisnya tebal pula turun, dia
sendiri menaiki motornya. Pasti dia ketuanya. Dia memandangiku dari sepatu
bututku hingga ke atas, turun lagi dan memelintir berewok awut-awutannya.
“Hei! Kamu tahu siapa
kami?” si Berewok menyalak, seperti anjing yang menggonggong. Wajahku mundur
sedikit karena kaget, mereka terkekeh.
Aku menggelengkan
kepalaku. Mereka semakin terbahak-bahak.
“Kami ‘Geng Sar!’ sekarang
pasti kamu kenal bukan?” dia terus-menerus memelintir berewoknya.
Aku menggeleng lagi.
“Kurang ajar kau!” satu
hentakan, tanpa kuperkirakan. Tangannya yang kekar telah mencengkeram kerah
baju satu-satunya yang kupakai. Tubuhku bergoyang karena dia memaju-mundurkan
cekalannya yang kuat. Aku kehabisan napas, kancing baju atasku lepas. Aku
tercekik kuat, susah bernapas.
Sayup-sayup kudengar empat
orang yang masih berlagak di motor tertawa terbahak-bahak. Apa mereka pikir ini
tontonan asyik! Kawan, apa yang akan kau lakukan jika dalam keadaanku sekarang
ini? Aku tak tahu hendak berbuat apa.
Celanaku terasa ada yang
menggeledah, dan beralih ke dompetku di saku belakang. Tapi, sebelum dia dapat
mengambil dompet itu…
“Hentikan!” sebuah suara
menggelegar dari pinggir jalan.
Kelima orang gila itu
melihat arah suara datang. Mataku kulirikkan sedikit, seorang lelaki kekar,
berjenggot tipis sedang menuju arahku.
Lelaki kekar yang
mencekikku melepaskan cekalannya, mendorong tubuhku ke belakang. Aku
terjerembab. Sial! Coba kalau aku tidak dalam keadaan lapar, pasti aku hajar
semuanya! Beraninya waktu perutku melilit-lilit. Aku berdiri dan membersihkan
bajuku yang terkena debu.
Kelima orang itu menatap
lelaki pahlawan yang menyelamatkanku. Mereka berpandangan lama, semuanya
terdiam, aku sendiri bingung. Seolah aku sendiri yang bergerak, menoleh
kian-kemari, kebingungan.
Si berewok yang
mencengkeram leherku memulai gerakan pertama, mengangkat dagunya sedikit ke atas
dan menuju motornya. Empat orang lainnya mengikuti, dan deruman knalpot kasar
dan memekakkan telinga kembali menggelegar. Mereka melaju meninggalkanku,
asapnya benar-benar bau tak karuan.
“Kau terluka?”
Suaranya lembut, kukira
orangnya kasar. Kulihat lelaki itu, Wajahnya tampan, mungkin umurnya sekitar 33
tahun. Sebuah golok bersarung terselip di ikat pinggangnya. Aku sedikit kaget
melihatnya.
“Jangan takut? Aku membawa
golok ini untuk menakut-nakuti mereka. Mereka memang kurang ajar! Selalu
mengganggu orang yang masuk wilayah ini.
Bahkan, mereka selalu berbuat keonaran.”
Aku manggut-manggut.
“Kamu siapa, Nak?”
Kelihatannya dia jujur.
Pelajaran penting yang kudapat hari ini, ‘Cobalah untuk selalu berpikiran
positif pada orang lain.’
“Nama saya Arif Maulana,
Pak. Saya ingin menjadi guru sekolah di sini,” pantatku masih sedikit sakit,
akibat didorong jatuh ke belakang tadi, “Bapak sendiri siapa? Dan Bapak di sini
sebagai apa, Pak?
“Saya jawara di desa
Cahaya, namaku Mukhlis. Panggil saja, Kang Mukhlis!”
Not Comments Yet "Bagian 11, Sang Jawara"
Posting Komentar