”Desa Cahaya sangat
membutuhkanmu saat ini.”
Ani terdiam, matanya
menyorot sela antara kepalaku dan Syahid, tembus hingga jendela transparan,
memandang pepohonan di sepanjang panorama. Melihat semilir angin menggerakkan
daun-daunan, serta sayur-mayur dan helai daun singkong.
”Kenapa kau berpikir bahwa
desa Cahaya membutuhkanku?”
”Tidak ada orang lain lagi
di sini, di desa ini yang memahami tentang kesehatan melebihi dirimu. Kau
lulusan keperawatan, kau bisa menjelaskan dan mengidentifikasi penyakit yang
mewabah, bukan karena kutukan yang meracuni pikiran orang-orang desa. Untuk hal
ini, kaulah pahlawannya.”
Satu kata yang kuharapkan
dari bibirnya, dari sorot matanya yang tak jelas ke mana arah pandangnya, dari
kewibawaannya, dari semua diamnya, dari sikap ketegapannya. Satu kata saja: bersedia!
Bersedia untuk bekerja sama.
”Sok pahlawan! Aku muak
dengan kata itu. Apalagi kabar tentang kepahlawananmu!”
”Apa maksudmu? Ini tidak ada
hubungannya dengan pahlawan atau bukan, ini tidak ada hubungannya dengan pujian
atau bukan. Ini adalah nasib yang harus diperjuangkan desa Cahaya,” belum
pernah rasanya aku bersemangat demikian gencar, entahlah, aku tiba-tiba ingin
memperjuangkan prinsip.
”Kau lihatlah dirimu, Pak
Arif! Sungguh naif! Kau bukan lahir di sini, kau bukan anak desa ini, kau
bahkan seperti tiba-tiba datang dan mengacau. Begitu hebatnya kau mengatakan
kemajuan desa? Ironis sekali, sedangkan banyak yang lahir di sini, merasa nyaman
saja dengan kondisi yang ada.”
”Apa maksud Anda?”
”Aku ingin tahu, kenapa
kau ngotot memperjuangkan sebuah desa. Desa yang jauh dari kemajuan dan
terjebak dalam kebodohannya? Jawablah pertanyaanku ini, Pak Guru?”
”Panggilan hati! Jika hati
yang bicara, seluruh malaikat yang ada tak akan bisa menahannya, seluruh dunia
dikumpulkan untuk menggoyahkannya tentu tak akan bisa, kecuali yang
menghentikannya adalah Pemilik kehidupan ini.”
”Kau pintar bicara Pak
Guru.”
”Kau pikir aku mengarang
retorika? Lalu, bagaimana dengan kau sendiri, apa yang telah kau lakukan?
Apakah kau lupa janjimu pada almarhum Bu Fitri, ibunda Syahid? Kau lupa
cita-citamu dulu? Bahwa kau akan menjadi dokter di desa ini?” aku tahu cerita
ini dari kang Mukhlis.
”Jangan ungkit-ungkit itu lagi
Pak Arif, aku peringatkan pada Anda.”
Hening. Padahal, aku hanya
memancingnya agar ingat salah satu memorinya, tentang janjinya pada ibunda
Syahid, karena mereka adalah sepupu, dari ibunda Syahidlah Ani belajar banyak
hal. Jadi, dalam kamus Ani, salah satu tokoh yang masuk dalam daftarnya adalah
Ibunda Syahid.
”Baiklah, aku tak
mengungkit itu lagi. Tapi, lihatlah hanya karena isu wabah aneh itu, seluruh
murid tak sekolah. Mau jadi apa mereka di masa depan? Apakah Anda tak kasihan
pada mimpi-mimpi mereka? Di antara mereka ada yang ingin jadi dokter, apa kau
tega membiarkannya? Bukankah dokter adalah profesi yang mulia?”
”Tahu apa kau tentang
profesi kesehatan!”
”Aku tidak tahu! yang aku
tahu, jika kita punya kemampuan lalu ditinggalkan dan lari dari kemampuan itu,
padahal banyak yang membutuhkan, berarti dia adalah seorang pengecut...”
”Plak!”
Sebuah tamparan membuat
wajahku melencong ke kanan. Kawan, panas sekali. Satu pelajaran penting
untukmu, jangan main-main dengan wanita. Beginilah akibatnya, tak kukira wanita
yang terlihat tenang itu menghanyutkan. Apa kata-kataku ada yang salah, Kawan?
”Kau pikir aku pengecut?
Kau tak tahu, aku telah setahun lengkap membaktikan diriku menjadi penjaga
kesehatan di Cahaya, selesai kuselesaikan program D3-ku, aku tak ambil semua
tawaran, karena ingin kupenuhi desa dengan baktiku. Saat itu, aku sendiri
berjuang. Tak ada yang datang sekadar mengecek kesehatan. Bahkan, kutawarkan dari
rumah ke rumah, tapi tak ada yang menanggapi.
Setiap hari kutunggu di
rumahku, jikalau ada yang sekadar konsultasi kesehatan. Bukankah telah kau
lihat ibuku sendiri, tak memercayai kesehatan yang kupelajari di bangku kuliah?
Hingga aku memutuskan menjadi petani sayur, karena aku tak akan menjadi perawat
di kota atau di daerah lain, kalau aku tak bisa menjadi perawat di Cahaya. Kini,
saat penyakit menjangkit, kau berkata seolah kaulah pahlawan? Jika kau tahu,
hatiku lebih sakit. Kau sebut aku pengecut! Hari ini pun, tak akan ada yang
percaya tentang kesehatan. Karena itu, pulanglah dan jadilah seorang guru yang
baik! Dan maaf atas tamparan tadi.” Ani berdiri tegap, sempurna hendak
melangkah.
”Jikalau warga desa
meminta bantuan padamu, apakah kau akan kembali mengenakan baju kebesaranmu?” Kawan,
nadaku kali ini kupelankan, bahkan sangat pelan. Ini adalah usaha terakhirku.
Semilir angin masuk
melalui celah lubang di atas jendela, teramat sejuk.
Syahid memegang
pergelangan tanganku, saat aku hendak meneruskan kata-kataku, ”Mbak Ani, kali
ini aku yang memohon. Berkenanlah untuk membantu desa ini, ini adalah
permintaanku dan Ayah, serta seluruh penghuni Cahaya.”
Wanita itu menoleh, ada air
mata yang berkaca di pelupuk matanya, “Baiklah, insya Allah aku akan berusaha
semampuku, Hid.”
Alhamdulillah.
Walau tak mengatakan bersedia, kata-kata itu sudah cukup bagi kami.
”Menurutmu, apa yang harus
kita lakukan sekarang?”
Ani duduk kembali.
”Buatlah kartu peserta
jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS), itulah pertama yang harus dilakukan. Dulu, tak satu pun mau mengisi blangkonya.
Kartu itu untuk keringanan biaya, jika ada yang sakit dan berobat ke Rumah
Sakit maupun Puskesmas. Dari situ akan kulihat kesungguhan kalian.”
”Kalau begitu akan aku
diskusikan dengan Pak Lurah segera. Selain itu, apa yang bisa kita lakukan?”
”Bersihkan desa, sampah
menumpuk, kebersihan tak terurus adalah akar semua penyakit. Makanya,
kebersihan adalah sebagian dari iman.”
Kami kaget, pembicaraan
terhenti, terdengar deruman memekakkan telinga. Dan di luar sana, dari balik
kaca rumah, lima orang tengah mengeraskan suara motornya. Geng Sar, mereka
tertawa, raut wajah ingin melumat. Bahaya, Kawan.
”Waktumu sudah habis, Pak Guru!
Keluarlah pahlawan edan! Sudah kutunggu waktu ini, kalau penduduk desa tak mau
keluar membantumu lagi. Tak ada yang menolongmu, keluar! Atau kubakar rumah
ini!”
Ibunda Ani keluar dan
kebingungan, Ani gelisah, aku menenangkannya. Mataku mengedip pada Syahid,
semoga dia paham isyaratku, kau lewat belakang, ambil sepeda dan siap-siap,
aku urus mereka dulu. Syahid mengangguk.
Aku mendekati pintu,
hendak membukanya.
”Berhati-hatilah,”
kutengok suara itu, wajah Ani tampak khawatir. Aku tersenyum, baru kali ini
kudengar nada suaranya tampak perhatian, mirip karakter seorang perawat yang
membawa ketenangan. Kurasa, mental perawat, mental penjaga kesehatan telah
kembali sepenuhnya.
”Tenang saja, jika aku
harus mati sudah ada yang meneruskan perjuanganku kembali. Seorang pahlawan
telah lahir kembali,” aku tersenyum padanya.
Kubuka pintu rumah,
kututup pelan, aku mendekati mereka berlima. Mereka berlima, turun dari
motor-motor mereka.
”Berani juga sang pahlawan
kampung kita ini!” mereka tertawa terbahak-bahak. Tanganku mulai gatal kawan,
aku ingin membalas kejadian tempo pertama aku datang ke Cahaya, perutku saat
itu kosong. Berbulan-bulan ini, latihan yang diajarkan Kang Mukhlis harus
minimal dilihat sampai mana kemampuannya.
”Sikat!” itu pasti
Sarjito, ketua Geng Sar. Dua orang mengarahkan tinjunya, menyerang bersamaan,
saat itu kulihat kelebat Syahid telah mencapai sepeda. Cepatlah Hid! Kutangkap
salah satu tangan mereka, aku berputar dan memelintir tangan itu cepat, kakiku
refleks menendang pukulan seorang yang lain, dan tubuh itu limbung. Lelaki yang
masih kupelintir tangannya, kupukul tengkuk lehernya, dia terjatuh ke tanah.
Satu orang datang lagi
dengan tendangannya. Saat tendangan kaki kanannya mengarah padaku, aku
menjatuhkan diri ke bawah, kutendang kaki kirinya dari belakang, dia terjungkal
ke belakang, aku melompatinya dan menyongsong dengan tendangan baru, ke arah
orang keempat yang hendak menyerang, tendangan lurus, tepat di dadanya.
Sang Ketua mengkal, aku
mengayunkan kepalan tanganku padanya. Apa? Dia bukan berusaha menghindar, malah
menutupi wajahnya sambil berteriak dengan kedua tangannya, dasar penakut!
Tapi, bukan itu tujuanku.
Aku berlari ke arah Syahid yang telah mendirikan sepeda, aku langsung mengambil
kemudi, Syahid naik, kukayuh dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Geng Sar
mengkal, mereka mengambil motornya masing-masing, bisa-bisa terkejar,
apalagi penduduk desa tak berani keluar.
Sial juga agaknya hari ini, harus berhadapan lagi dengan mereka jika sampai
terkejar.
Motor mereka tak bisa
distarter, macet. Kami lumayan jauh.
”Aku copot busi-busi motor
mereka.”
Ternyata isyaratku
dibaca lebih olehnya, anak yang pintar.
”Tapi, jika mereka tahu. Mereka
akan memasangnya dan bisa menyusul kita. Itu adalah kabar buruknya!”
Benar saja, motor menderu
terdengar. Mulai dekat, sudah mulai terlihat di spion sepeda yang dipasang Kang
Mukhlis. Ah! Harus berurusan lagi dengan mereka. Mereka semakin dekat,
bagaimana turunnya? Kita pasti ditabrak. Harus cari belokan. Yap! Di depan, ada
belokan, masih 50 meter. Kutambah kecepatan.
Telat! Tak ada waktu lagi,
saat jarak dengan belokan tinggal sepuluh meter, jarak motor-motor mereka
kutaksir juga 10 meter. Jika melihat hukum kecepatan, maka kami pasti kalah,
hanya doa kini yang kupanjatkan. Allah, bantulah kami.
Sepersekian detik, kala
tadi masih kudengar tawa mereka terbahak-bahak sambil bersiap melumat kami
dengan motor-motor mereka. Keajaiban terjadi, sedikit lagi, dan motor mereka
macet semua, berhenti begitu saja. Kami melaju meninggalkan mereka jauh, motor
mereka miring dan terjatuh. Terlihat dari jauh, mereka mengkal setengah mati
dan menendangi motor-motor mereka.
”Allah menolong kita,
Hid.”
”Selain kucopot sambungan
busi, aku juga memutus selang bensin ke mesin mereka. Allah menolong tepat pada
waktunya.”
Aku kaget. Anak ini? Ternyata
isyaratku dibaca lebih olehnya, anak yang pintar. Kawan, jangan kau
remehkan kemampuan manusia, sekecil apa pun. Bisa jadi, kecil itulah yang membuat manusia mulia.
”Dari mana kau belajar
secepat itu?”
”Pak Arif lupa gelar yang
disematkan pada Hasan? MoM, Master of Machine, dia adalah temanku, aku
juga belajar darinya,” amat bangganya dia mengatakan itu, dan aku tersenyum,
menatap langit biru yang tertutupi pohon-pohon menjulang, sela-selanya seolah
menyapu desa ini dengan cahaya.
Not Comments Yet "Bagian 29, Tahu Apa Kau Tentang Profesiku?"
Posting Komentar