Waktu seolah
berkejaran, bagai sepasang burung yang saling kejar, atau bagaikan angin yang
bertiup setiap saat, atau bagaikan air yang terus mengalir dari dataran yang
lebih tinggi ke dataran yang lebih rendah, hingga air itu akan habis. Sudah
setengah tahun aku di Pondok Darussalam, setelah pindah dari Asrama UI. Semua
berjalan seperti biasa, tidak banyak yang berubah. Aku seminggu sekali masih
juga belajar dengan kak Nugroho, dia masih sering memberiku motivasi-motivasi.
Untungnya dia tidak bosan mengajari dan memberi saran kepadaku.
Pasca semester ganjil
ini, liburan selama dua minggu. Beberapa teman di Pondok sebagian besar sudah
pulang. Ada yang pulang kampung, tapi ada yang di kota di sekitar Jawa. Lelaki
yang menerimaku saat pertama tes pada saat pendaftaran ternyata adalah pemilik
Pesantren Darussalam, tentu saja dia punya otoritas yang paling tinggi, namanya
Abdullah Umair. Biasa dipanggil Ustadz Umair, selama ini dia mengisi Ta’bir
untuk tingkat satu, tingkat dua dia mengisi bahasa arab, untuk tingkat tiga dan
empat aku sendiri belum tahu. Ketika mengajar dia sering terlihat serius walau
wajahnya sebenarnya menyiratkan ketenangan dan keteduhan. Beberapa santri saat
berbicara di ruang tengah antara kamar-kamar, katanya Ustadz Umair adalah
Ustadz paling seram. Kadang ketika mengajar memang pernah nadanya meninggi,
seperti kekesalan, namun wajahnya juga terlihat sendu dan seperti ada kesedihan
yang disimpan. Mungkin hanya perasaanku saja.
Motivasi demi motivasi
yang kudapatkan dari para Ustadz dan santri, ataupun dari teman-teman sesama
aktivis membuatku semakin giat belajar dan bekerja. Bukan pada jumlahnya lagi,
melainkan kerja yang terbaik. Aku mulai dapat melupakan penghalang-penghalang
yang ada termasuk persahabatan yang kucari dari dulu, walau kadang aku sempat
melihatnya, saat di bikun atau pada
acara tertentu hatiku masih berdebar. Aku segera beristighfar, padahal satu
semester kemarin aku hanya melihatnya tiga kali. Namun kenapa perasaan aneh itu,
masih menyisa di salah satu ruang di hatiku?
Liburan kali ini aku
manfaatkan untuk banyak meluangkan waktuku di Pasar Minggu, sekaligus melupakan
kepenatan selama ini di kampus, IP
ku juga naik, 3,50. tiada kata yang sanggup kuucapkan kecuali kesyukuran
kepada Allah. Kini aku mulai mengerti arti kehidupan yang hanya sekali ini,
terima kasih Ya Allah.
Saat mengangkat kardus
berisi perabotan rumah tangga, sebangsa piring atau gelas. Mataku menatap
seorang anak kecil yang terlihat pindah dari satu toko ke toko lainnya. Mencari
sesuatu dan kebingungan, dia adalah Fadli, murid privatku. Setelah selesai
memasukkan barang pecah-belah itu ke mobil pick-up, aku mendekati Fadli yang
menjawab salamku dan mencium punggung tanganku. Dia tak merasa canggung dengan
pakaianku yang terlihat lusuh, seperti rumahnya yang sebenarnya besar namun
perabotannya seolah tak ada, seperti ruangan yang baru saja dikosongkan.
”Fadli mencari apa?”
baju kotak-kotak birunya basah oleh keringat, karena panasnya matahari yang
mengiringi manusia beraktivitas.
”Nyari hadiah untuk kakak. Aku bingung mau membelikan apa,” matanya
masih sempat mengedar ke setiap penjuru toko.
”Bagaimana kalau
kutemani mencarikan hadiah terbaik untuk kakakmu?”
”Benarkah Kak?”
”Insyaallah, berapa uang yang Fadli punya?” aku mencoba menakar.
Fadli diam agak lama.
Dia menghela napas berat, tangannya mengambil sesuatu di kantong celananya,
”Hanya Rp. 3.000, aku tidak punya uang lagi,” wajahnya terlihat sedih.
”Ayo kita cari yang
terbaik untuk Kakakmu,” aku tersenyum kepadanya. Fadli terlihat masih ragu,
”Aku akan menambah uangnya untuk membelikan hadiah, tapi ada syaratnya...,”
”Apa syaratnya Kak?”
wajahnya berubah sumringah.
”Kamu harus rajin
belajar dan tidak boleh lagi banyak main, mulai semester depan kamu harus masuk
ranking tiga besar. Bagaimana?”
”Insyaallah Kak! Aku akan berusaha menepatinya,” wajahnya polosnya
teramat ceria, aku merasakan kegembiraan pula.
Aku berkeliling
bersama Fadli. Kadang kutunjukkan padanya boneka, tapi dia menggeleng, kutawari
dompet atau tas yang menjadi kesukaan wanita tapi Fadli juga menggeleng, aku
tawari yang lain tapi dia terus menggeleng. Aku belum pernah memberi seorang
wanita pun hadiah, jadi aku tidak tahu apa hadiah yang terbaik itu. Saat
melewati sebuah toko buku dan pakaian muslimah, Fadli menarik tanganku untuk
menghentikan langkahku. Aku berjongkok karena sepertinya dia ingin membisikkan
sesuatu. Benar. Aku mendekatkan telingaku.
”Apakah untuk menjadi
bidadari di surga, wanita di dunia harus memakai jilbab?” aku sedikit heran.
Kutatap wajah polosnya yang menatapku serius.
”Iya. Memangnya
kenapa?”
”Ayo Kak! Kita beli
jilbab untuk Kakakku,” dia menarikku masuk, aku mengikutinya.
”Apakah Kakakmu sudah
memakai jilbab?” tanyaku pelan.
”Belum, tapi beberapa
hari yang lalu kulihat dia memakai selendangnya untuk menutupi rambutnya di
depan cermin. Saat dia melihatku, dia
tersenyum padaku dan berkata, ”Apakah Kakak pantas memakai kerudung? Apa Kakak
terlihat lucu?” aku menjawab bahwa Kakak begitu cantik lebih cantik dari
bidadari. Wajahnya semakin bersinar dan dia tersipu, lalu melepaskan
selendangnya lagi,” Fadli menatapku penuh harap.
”Apakah engkau
mencintai kakakmu?”
”Iya Kak, hanya dialah
yang aku miliki di dunia ini. Aku tak tahu dimana ibuku, sedangkan ayahku tak
pernah pulang jika pulang dia selalu memukulku,” airmatanya menetes pelan, aku
memeluknya. Kurasakan kepedihan itu dari setiap tatapan matanya ketika privat,
dan untaian kata-katanya. Kubelai rambutnya, tak kuhiraukan pandangan orang
yang mungkin terganggu.
”Kenapa Fadli ingin
membelikannya jilbab? Kenapa bukan yang lain?”
”Karena aku ingin
masuk surga bersama kakakku. Jika dia tidak masuk surga, aku tidak akan mau
masuk surga sendirian. Aku tidak mau.”
Aku membeli dua
jilbab. Satu warna pink dan satunya hitam. Sekalian satu Mushaf Al-Quran plus
terjemahnya. Mungkin uang hasil kerjaku hari ini habis untuk membelikan hadiah
untuk kakaknya Fadli, namun demi melihat cerianya Fadli, membuatku semakin
merasakan kedekatan Allah yang membersamaiku setiap langkahku. Tak kukhawatiri
rezeki, karena Dialah yang mengaturnya dengan seadil-adilnya, kapan rezeki itu
akan aku dapatkan dan akan menghilang kembali. Aku menyerahkan segala urusan
pada Allah ’Azza Wa Jalla. Uang Rp
3.000 Fadli aku kembalikan, aku memintanya untuk menyimpannya saja. Lagi-lagi
dia menginginkanku mendekat padanya, ada yang ingin dibisikinya, ”Kak, aku
mencintaimu karena Allah. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh belajar untuk
menepati janjiku,” aku terenyuh oleh kata-katanya, dia sangat mirip dengan
kecilku dulu.
Dia pamitan sambil
melambaikan tangannya, ada keceriaan di wajahnya. Liburan kali ini privat libur,
menunggu hingga sekolah telah masuk. Jadi dua minggu ini aku tidak akan ketemu
dengan Fadli. Aku hanya bisa mendoakannya.
* *
*
Hari minggu tiba, hari
terakhir libur karena besok kuliah mulai aktif. Teman-teman santri sudah hadir, hanya beberapa orang yang belum
datang, mereka izin karena datangnya senin pagi, jumlahnya mungkin hanya dua
atau tiga orang. Nanti malam akan ada I’lan
setelah ba’da isya’.
Malam harinya ba’da
isya’, seluruh santri tingkat satu berkumpul di ruang Munaqosah. Ustadz Umair telah duduk di meja depan. Kami semua duduk
menghadapnya, ada 29 orang. Dua orang belum datang.
Setelah mengucapkan
salam dan penyambutan untuk semester baru, setelah beberapa minggu yang lalu
pondok mengadakan Imtihan
dan hasilnya juga telah dibagi, maka kami semua lulus untuk meneruskan ke
semester dua. Selain itu ada pengumuman penting yang membuatku bersemangat,
”Pondok mengadakan semacam sayembara. Barangsiapa diantara kalian selama dua
bulan ke depan, yang paling banyak hafalan Qurannya, maka akan ada hadiah dari
pesantren...,” Ustadz Umair menghentikan kata-katanya sejenak, mungkin menunggu
respon.
Ada dua orang yang
mengangkat tangan ingin bertanya, Farid dan aku sendiri. Aku mengalah, biarkan
Farid kupersilakan duluan.
”Apakah waktunya tidak
bisa dipercepat satu bulan atau seminggu saja. Bukankah aku pasti menang?”
nadanya sedikit mengejek.
Ustadz Umair
tersenyum, ”Aku hanya memberi kesempatan kepada yang lain untuk saling
berlomba-lomba dalam kebaikan, Fastabiqul
khoirot. Walau kini kamu paling banyak, bisa jadi nanti ada yang
mengunggulimu.”
”Mana mungkin!
Sekarang aku sudah hafal 7,5 juz Ustadz!”
Ustadz kembali
tersenyum, ”Wallahua’lam, hanya
Allahlah yang tahu. Sekarang kamu silakan bertanya,” beliau menatapku.
”Maaf Ustadz, apakah
kami boleh tahu hadiahnya Ustadz,” wajah Ustadz agak kaget, tapi hanya sejenak,
lalu tersenyum kembali. Memang sekarang saja aku baru hafal 1 juz dan setengah
juz di juz 30.
”Hadiahnya,
biaya pondok dibebaskan dan berhak mendapatkan beasiswa dari salah seorang
temanku di Mesir, namanya Syekh Utsman. Dia memberikan beasiswa senilai 400
dolar untuk program ini!” semuanya sempat kaget, namun beda dengan wajah Farid
yang sudah cengengesan dan senyam-senyum. I’lan
ini hanya berlaku bagi tingkat dua, berarti kesempatanku lumayan besar. Aku
harus bekerja keras untuk mengalahkan keangkuhan Farid, aku pasti bisa. Izinkan
aku ya Allah, hatiku mengazamkan perjuangan yang pasti berat, seperti
perjuangan Fadli untuk memenuhi janjinya.
Seusai
pengumuman, semua Santri terlihat buru-buru meninggalkan ruang Munaqosah. Aku masih duduk di kursi,
kulihat Ustadz Umair masih memasukkan beberapa buku dan kertas ke dalam tasnya.
Setelah beres dia melihatku sejenak, senyumnya teduh dan mendekatiku, lalu
duduk di sebelahku. Aku salah tingkah.
”Mau
ikut mencoba berpartisipasi dalam sayembara? Tapi butuh kerja ekstra untuk
mengalahkan Farid yang kini telah hafal 7,5 juz, dan itu belum termasuk dua
bulan ke depan. Butuh kesungguhan dan tekad yang kuat,” beliau menatapku sambil
tersenyum.
”Insyaallah, saya akan berusaha sekuat
mungkin Tadz. Walau aku tidak yakin bisa mengungguli yang lain,” kurasa
jawabanku sesuai dengan realitas.
Lelaki
itu menyentuh pundakku, ”Anakku,” matanya menatapku pelan. Menghunjam, ”Aku
ingin bertanya, bagaimana jika engkau engkau dikejar oleh anjing. Apa yang akan
kamu lakukan agar anjing itu tidak mengejarmu lagi?”
Pertanyaan
yang aneh. Tapi sekarang aku sedang berhadapan dengan seorang pembesar Pondok,
”Aku akan terus berlari, ya! Kurasa seperti itu,” jawabku mantap.
”Kamu
yakin anakku, dia tidak akan mengejarmu lagi?”
”Saya
tidak yakin Tadz.”
”Lalu,
mungkin Engkau punya cara yang lain anakku?”
”Aku
akan berhenti dan melemparnya dengan batu,” jawabku mantap.
”Kamu
yakin Anakku, dia tidak akan mengejarmu lagi?” aku hanya menggeleng.
”Lalu,
apakah engkau mempunyai cara yang lain?”
Aku
tersenyum, mencoba mencari jawaban yang lain, ”Aku akan ganti menggonggongi dia...,”
lelaki tua itu tertawa terkekeh. Aku juga ikut tertawa, baru kulihat lelaki
yang dianggap teman-temanku sebagai orang yang selalu serius, kini tertawa
hingga gigi serinya terlihat.
”Ha...ha...ha...,
apakah engkau masih mempunyai jurus yang lain?”
Aku
mencoba menemani senyumnya. Aku bersemangat menjawab, ”Aku akan berteriak
dengan keras, ”Siapapun pemilik anjing ini! Tolong! Dia mengejarku!” atau...,”
kata-kataku terhenti. Kulihat wajah Ustadz Umair serius, tawanya tadi sirna
tiba-tiba.
”Kamu
benar anakku. Ada pemilik segala sesuatu, Dialah yang menciptakan segala hal
dan Dialah yang memberikan kita akal, hati dan perasaan kita.”
”Maksud
Ustadz? Allah!”
aku menatapnya.
”Iya
anakku. Dialah segalanya, jangan berjuang untuk selainnya, apalagi untuk sebuah
hadiah atau dunia. Berjuanglah untukNya, maka engkau akan menemukan ketenangan
hati yang hanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Potensi untuk maju akan
engkau peroleh, jika engkau menggantungkan semuanya pada Allah, engkau akan
menjadi orang yang terbaik jika engkau selalu bersamaNya.”
Air
mataku tak kuasa kubendung, menetes pelan. Bibirku bergetar, ”Allah...,
Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah...”
”Iya
anakku. Engkau pasti bisa melakukan apapun, jika Allah selalu bersamamu. Engkau
akan bisa seperti Khalid bin Walid ra. saat mengalahkan tentara Romawi pada
saat perang Yarmuk walau dengan pasukan 36.000 pasukan melawan 240.000 pasukan.
Engkau pasti bisa seperti Hanzhalah ra. yang di saat kesyahidannya dimandikan
oleh malaikat. Engkau pasti bisa seperti Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang
berperang seorang diri, menunggang kuda, menerjang gurun sahara, menempuh jalan
panjang untuk membebaskan Konstantinopel, setelah mendengar Rasulullah bersabda
bahwa Konstantinopel akan dibebaskan oleh sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik
komandan. Engkau harus yakin, bahwa dengan pertolongan Allah, engkau pasti
bisa.”
”Ustadz,
bolehkah aku memelukmu,” bagiku itu merupakan nasehat yang aku cari selama ini.
Aku memeluknya erat, aku bagaikan anak kecil. Airmataku berguguran, ”Insyaallah aku akan berusaha sekuatku
bukan karena hadiah melainkan karena Allah semata, Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maula wani’man nasiir.”
Aku
kembali ke kamarku dan langsung menorehkan tulisan yang harus kulakukan besok.
Membeli kaset murottal, dari juz 2
sampai juz 10. Kujadwalkan membeli ketika bekerja di Pasar Minggu. Aku harus
mempersiapkan diri, untuk mengurangi makanku, agar tidak kekenyangan karena
bisa menerangkan pikiran, melaksanakan puasa sunnah, mengurangi tidurku karena
aku memang harus unggul dari yang lain. Di kala yang lain tidur, aku harus
menghafal Al-Quran dan pelajaran kuliah pun tidak boleh ketinggalan.
Walkman
tidak pernah lepas dari pinggangku, hanya aku yang mendengarkan murottal itu. Anggapan orang mungkin aku
mendengarkan lagu, di Bikun, saat jam
istirahat atau jam kosong, saat mengangkat barang di Pasar, saat berjalan kala
ke Rektorat. Kemanapun ayat-ayat cinta menggema di telingaku dan di hatiku.
Kebiasaan itu mulai mengundang tanya Hanif, mungkin sebenarnya teman-teman yang
lain. Akhirnya aku menceritakan perihalku pada Hanif, dia hanya geleng-geleng
dan menyemangatiku serta ikut mendoakanku.
Saat
sedang mendengarkan Walkman pagi hari sebelum Dosen masuk. Hp-ku menjerit. Dari
Wanda.
”Asw. Alhamdulillah. Ada
kejutan hari ini, engkau lihat sendiri. Ucaplah Alhamdulillah.”
Aku belum paham sms
dari Wanda. Aku berpikir sejenak, kurasa tak ada yang terlupa. Kesyukuran harus
selalu dipanjatkan karena Allah selalu menyayangiku, karena sampai sekarang
Allah masih berkenan memberi kehidupan, untuk memperbaiki
kesalahan-kesalahanku. Aku berhenti menebak-nebak kejutan yang diungkapkan
Wanda. Sebenarnya aku jarang bertemu dengannya, bisa dihitung dengan jari,
mungkin ketika kebetulan dapat satu bikun.
Itupun mungkin satu bulan sekali.
Belum hilang
kebingunganku, beberapa teman-teman terlihat ramai saling kasak-kusuk. Entah
apa yang mereka bicarakan, sepertinya seru, namun aku segera melantunkan
kembali bacaan murottalku juz 2 dan
mengikuti bacaannya pelan. Tajwidku kini mulai bagus, begitu kata Ustadz Saiful
guru tahsin.
Bateraiku walkmanku
habis. Harus beli sekarang! Sebelum Dosen masuk. Saat aku hendak mencapai pintu
yang terbuka, sesosok wanita berjilbab masuk mengucapkan salam, aku menjawab
salam dan lewat tanpa menatap wajahnya.
”Ali!”
”Iya,” sepertinya
suaranya aku kenal, kutatap sejenak. Wajah putih itu. Wajah pualam milik
Aisyah. Mahkota berwarna hitam itu menjuntai menutupi seluruh rambutnya. Wajah
putih bersihnya terlihat bercahaya, ”Alhamdulillah
ukhti, semoga Allah meridhaimu dan mencintaimu,” kutundukkan
pandanganku.
”Amiin, terima kasih akh
untuk semua bantuannya. Hampir lupa, tugas kita sudah selesai kuketik dan kamu
kebagian presentasi minggu depan. Aku sebagai moderator dan Rika sebagai
notulen. Kamu bisa kan?”
”Insyaallah. Boleh kupelajari hasil ketikannya untuk aku baca.”
”Iya. Kebetulan sudah
saya siapkan,” dia mengambil kertas di dalam tasnya, sudah di jilid. Aku
menerimanya, lalu berpamitan.
Kulangkahkan kakiku.
Sejenak kuberpikir sambil terus melangkah. Sms dari Wanda tadi, mungkin
maksudnya kejutan adalah berjilbabnya Aisyah. Dua minggu yang lalu saat masih
menyusun tugas, Aisyah memintaku mencarikan kajian yang bisa diikutinya pada
hari ahad karena hari itu dia libur kerja selain libur kuliah juga. Aku lalu
menghubungi Wanda dan memintanya membantu Aisyah mencarikan kajian Islam yang
hari ahad. Setelah itu aku tidak tahu lagi, sms dari Wanda mungkin menguak
misteri itu. Kuambil Hp dan mengetik beberapa kata.
”Wa’alaikumsalam Wr.
Alhamdulillah..., apakh kejutan itu berjilbby Aisyah? Semoga Allah meridhai
langkah kita semua, Amiin.”
Aku membeli satu lusin
baterai National, kupersiapkan untuk perjuangan selanjutnya. Hitungan menit
kemudian, ketika kembali masuk ke kelas Hp-ku kembali berbunyi, suaranya masih
tat...tit...tut, Hp butut. Tapi bagiku ini termasuk lebih dari cukup untukku.
Untung volumenya masih pada peringkat satu.
”Iya! Dia berusaha akan
istiqomah. Kita harus selalu mendoakannya dan memotivasinya. Semoga cahaya iman
kita selalu bersinar, Amiin.”
Dosen masuk. Aku
menon-aktivkan Hp. Saatnya belajar. Aku harus selektif menentukan waktuku, agar
tidak ada kesiaan sebagai wujud amanahku.
* *
*
Dua bulan berlalu
begitu cepat. Hari yang ditunggu oleh santri tingkat dua itu akhirnya datang
juga. Di gedung Munaqosah itu, semua
santri tingkat satu dan dua sudah berkumpul. Ustadz Wahid, Umair dan Ustadz
Saiful telah duduk di depan kami. Farid Abdullah Sidiq duduk di shaf
terdepan. Sedari tadi kulihat senyumnya membuncah, berseri-seri. Acara
dibuka. Ustadz Saiful memanggil santri yang ingin dahulu di test hafalannya,
untuk memenangkan sayembara yang telah dinanti-nanti. Semua santri seolah
tegang, akan dimenangkan siapakah sayembara ini? Kurasa banyak detak jantung
yang berdetak lebih cepat dari biasanya, termasuk jantungku.
Beberapa orang telah
maju. Kemajuan yang pesat terjadi di setiap santri. Ada yang di tes selama dua
bulan telah mencapai tiga juz, padahal sewaktu semester awal hanya menghafal
satu juz selama enam bulan. Ternyata semua ingin mencoba. Hingga ahad ini,
sampai ba’da dzuhur acara masih
diteruskan. Sudah 25 orang yang maju, paling banter yang tertinggi
adalah 7 juz, tiga juz selama dua bulan terakhir yang lain memang sudah
dihafalnya sebelumnya. Syahid hafal hingga kini empat juz, dua juz waktu
semester satu, dan dua bulan terakhir dia hafal satu juz saja karena dia cerita
kuliahnya banyak sekali tugas.
Tinggal enam orang
yang belum tes. Farid maju dengan tenang menghadapi ketiga orang yang mengetes.
Mereka pembesar-pembesar pondok. Tak ada grogi, suaranya halus dan lancar,
ketika meneruskan setiap ayat yang di baca Ustadz Wahid dari juz satu sampai
juz 6, sedangkan tiga juz dia hafal juz 28 sampai 30. jadi totalnya 9 juz.
Ketika di tes tidak ada yang salah, hanya kekeliruan kecil namun dapat segera
diperbaikinya.
”Dari beberapa yang
belum di tes, adakah yang masih ingin maju untuk mengalahkan Farid?” Lima orang
yang belum ke depan hanya saling berpandangan, termasuk aku. Aku menunggu
mereka maju duluan. Ayolah! Pasti ada yang bisa mengalahkannya, aku hendak maju
terakhir.
Ustadz Umair seolah
menunggu, ”Aku hitung sampai tiga, jika tidak ada akan kuketuk palunya.
Satu..., dua...,” kutatap beberapa santri yang belum, mereka menunduk.
Menyerahkah? Kutatap Ustadz Umair yang menatapku teduh, ”ti...,”
Aku mengangkat
tanganku, ”Aku ingin mencobanya Ustadz,” aku maju ke depan. Banyak yang
menatapku saat maju. Aku tersenyum kepada mereka semua.
”Dari juz berapa
hingga berapa?” Ustadz Saiful, salah satu Ustadz yang mengetesku saat
pendaftaran dulu. Kukira dia sangat ingat denganku.
”Dari juz satu sampai
sepuluh,” kujawab pelan.
Pertama Ustadz
membacakan ayat yang dia pilih, sepuluh pertanyaan setiap juz satu ayat. Aku
meneruskannya tanpa kesalahan. Berulangkali aku memohon kepada Allah untuk
memberikan yang terbaik untukku, karena Dialah yang menggerakkan seluruh
organku termasuk pikiran dan lisanku, semua atas izinNya. Ustadz Wahid ingin
mengetesku juga, dia membacakan ayat yang acak dan bervariasi tidak harus
setiap juz. Aku meneruskan setiap ayatnya dengan lancar. Aku kembali bersyukur,
tak kulihat reaksi ke-30 teman di belakangku. Aku hanya berkonsentrasi dan
kulihat ada senyum kecil menghiasi Ustadz Umair kepadaku, Dia tidak mau
mengetesku, karena dia sudah yakin dengan hafalanku. Dia hanya bertanya.
”Apakah hanya 10 juz
hafalanmu?”
”Satu juz lagi Ustadz,
juz 30.”
”Berbaliklah kearah
teman-temanmu, dan ceritakan bagaimana engkau melakukannya. Jika engkau bisa
tentu yang lain pasti bisa.”
Aku menghadap wajah
teman-temanku. Wajah mereka, diantaranya ada yang meneteskan airmata terutama
Syahid. Dia mengacungkan jempol tangan kanannya. Aku tersenyum padanya,
”Semuanya karena Allah, hanya karena Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali
milikNya, aku hanya bisa berikhtiar
dan berdoa padanya. Tak berpengaruh bagiku ada hadiahnya atau tidak. Aku
melakukannya sebagai hobi, sebagai kebutuhan. Aku mendengarkan murottal dari sembilan kaset yang kudengar dengan walkman,
ketika aku menyetrika, ketika berangkat kuliah, ketika jam senggang sambil
membaca buku, ketika dari kalian terlelap tidur aku bertahan untuk
menghafalnya, aku mengurangi tidurku, aku mengurangi makanku agar tak kenyang,
aku menjaga mata, lisan, pendengaran, hatiku dari keburukan-keburukan. Dan aku
menghafal sembilan juz dalam dua bulan. Allah memudahkan langkah hambaNya yang
menujuNya. Man Jadda Wa jadda!
Kita semua bisa melakukan apapun kalau kita yakin bahwa Allah bersama kita.
Kalian semua pasti bisa..., karena aku yang dari kampung ini bisa,” kutatap
semua teman santri terutama Syahid, selama ini dia yang tahu aktivitasku.
Syahid tiba-tiba maju
ke depan. Mendekatiku. Aku berdiri. Syahid merangkulku erat, tangisnya
memburai. Kudengar sayup suaranya bergetar, ”Akh, aku mencintaimu karena
Allah, aku bersyukur dapat mengenalmu,”
”Aku juga mencintaimu
karena Allah,” airmataku tak tertahan, semua teman-temanku berdiri maju
kearahku, termasuk Farid yang meneteskan
airmatanya. Dia menepuk pundakku pelan, ”Aku banyak belajar darimu Ali, jadilah
seperti Ali bin Abi Thalib karena dialah gembok ilmu Rasulullah saw. Kita akan
belajar bersama-sama. Maafkan aku mungkin selama ini aku berbuat sombong
kepadamu.”
Aku tersenyum
kepadanya, ”Dan jadilah engkau orang yang selalu mengajariku, memberi nasehat
kepadaku. Aku senang bersahabat denganmu dan dengan kalian semua,” jadilah
acara hari ini acara saling mempererat ukhuwah, dan sampai kembali ke kamar
kulihat senyum Ustadz Umair. Apakah semua ini skenario beliau? Aku tak mau
menebak-nebak, kuanggap dia mampu membuat hati siapapun tersentuh oleh
kata-katanya yang tegas. Aku menatap awan yang terus berarak di timpa cahaya
rembulan, kadang membentuk kadang hilang lagi. Tapi Allah yang mengaturnya tak
pernah tidur sejenakpun, dia melihatku dari singgasanaNya. Aku tersenyum
menatap langit, mata yang menatap penuh kesyukuran, untuk berdzikir, bertasbih,
dan bershalawat mengiringi alam.
Not Comments Yet "Part 18, Kembalinya Anugerah Kemampuan"
Posting Komentar