Satu lagi masalahku, tepat
ketika pertandingan penyisihan pertama melawan sekolah desa seberang timur.
Hasan, kiper andalanku tidak diperbolehkan ibunya ikut. Dia harus membantu
memarut kelapa agar bisa untuk makan dan biaya sekolah. Karena waktunya telah
banyak digunakan untuk latihan, sepulang sekolah cuma membantu sebentar. Dan
hari ini, tepatnya saat penyisihan pertama, ibunya tidak rela dan memintanya
bekerja, hari ini adalah hari minggu.
Kawan, terpaksa aku
gunakan rumus tercepat dalam mengurus dunia. Sekali lagi dunia, Kawan. Aku
membayar jam kerja Hasan, membayar uang sepuluh ribu pada Bu Siti. Padahal,
biasanya Hasan membantu sekuat apa pun, paling hanya menghasilkan lima ribu.
Bayangkan, memarut kelapa setiap satu kilo dinilai lima ratus rupiah. Padahal,
berapa butir kelapa agar bisa menghasilkan parutan satu kilo, belum lagi luka
parutan membekas, belum lagi tangan yang pegal-pegal. Dan Pak Manar selaku
pemilik usaha, tak peduli dengan luka-luka parut maupun pegal-pegal, dia hanya
tahu perkilo lima ratus rupiah.
Kujemput Hasan, kubonceng
dengan sepeda. Berkali-kali di perjalanan dia terisak, kubiarkan saja sampai
dia tenang.
”Aku berjanji pada Bapak,”
nadanya masih terisak, kubiarkan saja.
”Tak akan kubiarkan satu
bola pun masuk ke dalam gawang!” optimisme.
Akhirnya semua pemain
lengkap, grup yang mendaftar ada 35 sekolah, berarti 35 tim pula. Pertandingan
diadakan seminggu penuh, penyisihan pertama dibagi di 17 tempat. Jadi pagi
senin itu, ada 17 pertandingan. Tempatnya ditentukan dengan suit. Yang menang
berarti pertandingan diadakan di sekolahnya, dan untuk mempermudah,
pertandingan dilakukan berdasarkan desa yang paling dekat dulu, persis seperti
tahun-tahun sebelumnya.
Sekolah Karya Mukti,
sekolah yang membuat desa Cahaya selalu kalah setiap penyisihan pertama. Syahid
suit dengan striker kubu lawan. Kalah. Kami bertanding di Sekolah Karya Mukti. Tak
jadi soal, kita kalahkan semut di sarangnya sendiri, agar gaung semakin
terdengar kuat. Biasanya, jika bertanding di kandang sendiri akan semakin kuat
karena penonton pendukung lebih banyak, dianggap menambah kekuatan. Tidak, akan
kuhancurkan mitos itu, kemenangan adalah milik orang yang berusaha keras. Man
jadda wa jada, begitulah syair negeri Arab sana.
Kedua regu berhadapan,
seluruh guru menjadi penonton duduk di kursi kehormatan, baik guru dari Sekolah
Cahaya maupun Sekolah Karya Mukti. Wajah Pak Danu tampak cerah. Tangannya tak
henti-hentinya terangkat menjulang ke langit, mirip cerita kakek saat nabi
Muhammad Saw berdoa pada perang badar. Jika Sekolah Cahaya tidak menang, aku
tak akan pernah melihat harapan itu lagi!
Pelatih Sekolah Karya Mukti
tepat berhadapan denganku.
”Jadi kau pelatih baru,
ya? Ke mana Pak Yusuf? Sudahlah, kuperingatkan, menyerah saja dan mengaku
kalah, sebelum malu hingga seumur-umur,” bibirnya mencibir, bengkok sedikit ke
depan. Aku tersenyum.
”Tim kami selalu masuk dalam
perempat final, walau tak pernah menang. Tapi kami pernah mendapatkan juara
ketiga, sedangkan kalian penyisihan awal pun tak pernah lolos.”
Aku menatapnya dan
tersenyum.
”Oya, siapa nama Bapak?”
aku mengulurkan tanganku.
”Panji Widodo,” dia
menyambut tanganku malas, wajahnya melengos. Kawan, dia sangat meremehkan orang
lain, jangan kau ikuti orang seperti ini.
”Saya Arif, senang
berkenalan dengan Anda Pak Panji, dan kehormatan bagi Bapak karena akan
berhadapan dengan tim impian worldcup,” tegas seperti Pak Danu.
”Apa? Ha..ha...ha... worldcup!”
Lelaki itu tertawa
terbahak-bahak, berjalan masih dalam keadaan tertawa di depan para murid
andalannya, ”Anak-anak! Buat mereka tak berkutik, tak usah gunakan seluruh
kekuatan kalian, seperti biasa! Tanpa formasi lone ranger pun kita bisa
menang!” dan tawanya kembali meledak, seluruh murid-muridnya bersorak mengejek.
Pak Yusuf telah
menjelaskan bahwa formasi lone ranger adalah satu-satunya senjata
pamungkas tim Karya Mukti. Mereka akan menggunakannya kala terdesak, formasi
yang entah bagaimana pengaturannya, tapi setiap tempat selalu ada kawan,
sehingga musuh bingung untuk membongkar strategi itu. Tapi mimpi telah merebut
setiap kenyataan. Segalanya menjadi mungkin.
”Anak-anak Cahaya!” aku
berteriak lantang! Sontak, keriuhan tim lawan terhenti, Pak Panji melihatku.
Aku berjalan pelan di depan siswa-siswaku, baik utama maupun cadangan.
Kuangkat tangan kananku,
telunjukku menyembul, ”Kalian lihat di sana, lampu sorot ribuan watt, bukan
satu tapi empat, lihat di setiap sudut dan ujungnya!” tangan kiriku terangkat
bergantian, ”Lihat di sana! Jutaan penonton melihat pertunjukan hebat kalian!
Dan di sana! Keluarga kalian, seluruh penduduk desa Cahaya menonton dan
menyoraki kalian! Lihat di sana,” kuluruskan kedua tenganku lurus ke kiri,
”Puluhan stasiun televisi, dari Indonesia dan seluruh dunia merekam setiap
strategi kalian, mereka merekam pertandingan ini!”
Kini, telunjuk tangan
kananku, satu persatu kuarahkan tepat di wajah mereka. Sambil berjalan, satu
persatu, seluruhnya, ”Pertandingan ini! Bukan pada menang dan kalah! Tapi
berikan yang terbaik dari kalian! Keluarkan seluruh potensi dan kekuatan! Mimpi
kalian, itulah kekuatan yang terbaik! Katakan semangat melalui tangan kalian!”
Aku menghulurkan tangan
kananku, dimulai dari barisan pertama dari kanan, bukan! Tapi semua pemain baik
utama dan cadangan berhambur ke depan, menumpuk tangan mereka tepat di atas
tanganku.
”Semangat!” teriakan
membahana, menggelegar bagai petir, itulah teriakan terkeras kami. Dan dunia
melihatnya. Tim lawan terbengong melihat kejadian itu. Kawan, ini psywar, perang awal menurunkan mental
lawan.
Dan tahukah kau, tim
Cahaya menang 7:0, striker dibantu sayap kiri dan kanan, begitu
bersemangat menggiring bola, Syahid menghadiahkan gol empat kali. Hasan
bergulingan, tak peduli lagi tubuhnya yang remuk, kekuatan janjinya kupegang,
tak akan membiarkan satu bola pun masuk! Tim lawan telah kelelahan, mereka tak
sempat sekali pun menggunakan formasi lone ranger-nya. Saat pertandingan
usai, Pak Panji telah raib dari lapangan sepak bola itu.
Kulihat wajah
berbinar-binar Pak Danu! Dia mengepalkan tangannya kuat ke langit, menatapku
penuh kemenangan. Pak Yusuf tersenyum padaku, kubalaskan kekalahanmu kawan. Bu
Ria dan Bu Siska sangat cerah wajahnya, dan para siswa tersenyum di sela-sela
napas yang memburu, di sela ketidakpercayaan bahwa mereka bisa menang dan
menghancurkan mitos kalah tiap tahun. Mereka siap melaju ke pertandingan
selanjutnya.
***
Ahad, final kompetisi
sepak bola Kecamatan. Aku memilih Syahid sebagai kapten kesebelasan Cahaya, dan
semua orang setuju.
Kemarin kami sempat
melawan kembali Karya Mukti di perempat final. Pak Panji muncul lagi, dia
berkeringat menatapku, dia langsung menggunakan formasi lone ranger
dengan aba-abanya di awal pertandingan.
Formasi itu bagus, tapi
mereka tengah berlawanan dengan kiper terhebat sepanjang sejarah Tim Cahaya.
Kekuatan janjinya telah membuat tubuhnya demikian gesit, lompatannya mencapai
gawang walau tubuhnya kurus, dia cekatan bagai beruk berayun-ayun. Tak ada bola
yang sempat melewati dua meter di depan gawangnya. Tangannya yang luka terkena
parut, semakin membuatnya kuat menangkap serangan bola seperti apa pun. Ini
sudah kuperkirakan dari awal.
Lone ranger hancur, saat itulah, Tim Cahaya melancarkan
serangan bertubi-tubi, dan posisi akhir pertandingannya adalah 8:0. dan
lagi-lagi, Pak Panji hilang saat pertandingan usai.
Kembali lagi ke final ini,
Kawan. Lawan Tim Cahaya kini adalah tim dari kecamatan sendiri, pemenang empat
kali berturut-turut, setiap tahun minimal mereka mendapatkan juara satu atau
dua.
Saat kedua tim berhadapan,
tim dari kecamatan tampak heran karena mereka belum pernah bertemu dengan Tim Cahaya
sebelumnya. Kedua tim sama-sama prima, sama-sama bersemangat! Bedanya hanya
satu, tim lawan semangat karena tiap pertandingan mereka selalu menang,
bukankah setiap kemenangan akan mengantarkan pada kemenangan selanjutnya, itu
juga benar, Kawan. Dan Tim Cahaya semangat karena mimpi dan harapan mereka,
lepas dari ikatan kalah, mereka berontak dari keterbatasan.
Pelatih tim Kecamatan,
Sekolah Simpang, Pak Joko mengobarkan semangat menggebu-gebu, berteriak di
hadapan para siswanya, bahwa mereka harus menang! Sontak, para penonton
bersorak demikian ramai.
Giliranku.
Aku berjalan di depan para
siswa pilihanku itu, mondar-mandir.
”Tak perlu kuulangi lagi
apa yang kita inginkan,” aku tak berteriak, tetapi memelankan suaraku, sehingga
membuat seluruh manusia di lapangan kecamata itu terdiam, mencoba mendengar
gerangan apa kata yang kuberikan pada para
pemain.
”Aku tak perlu tanamkan
apa-apa lagi pada kalian! Karena...” aku menatap langit, matahari semburat,
menyinari wajahku, ”aku telah menyerahkan seluruh kepercayaanku pada pundak
kalian! Tak akan kuajarkan strategi lagi, karena kalian lebih tahu apa yang
harus kalian lakukan untuk meraih mimpi kalian!” aku berteriak sekuat tenaga.
Aku berlalu meninggalkan mereka. Kini, kuserahkan semuanya pada kalian
murid-muridku.
Kedua puluh anak itu maju
ke depan, menyatukan seluruh tangan mereka. Aku berhenti, mereka terdiam
melihatku. Aku berbalik, kutumpuk tanganku di atas tumpukan tangan mereka.
”Mimpi kami adalah
menang!”
Sorak gempita berasal dari
penonton dari desa Cahaya yang kuperhatikan demikian banyak. Ini pasti bujukan Pak
Danu, bahkan seluruh pekerja parut kelapa libur kerja, mereka ingin menyaksikan
pertandingan ini, inilah sejarah pertama Sekolah Cahaya masuk dalam
pertandingan final. Bisa masuk final, sudah merupakan kebanggaan desa.
Aku minggir, dan
pertandingan dimulai dengan bunyi peluit dari wasit. Saatnya aku beristirahat,
kuserahkan seluruh kepercayaanku pada kalian, wahai murid-murid Cahaya.
Pertandingan dimulai, bola
melambung, adu striker, adu sayap kiri, adu sayap kanan, pertahanan yang
sama-sama kuat, semangat yang sama-sama prima, ketahanan fisik relatif sama.
Bola terpelanting ke sana-ke mari, semua penyerang berebut mencetak gol,
penjagaan di setiap tim begitu kuat sehingga Syahid kewalahan menerobos
pertahanan musuh. Aku mulai tegang.
Seorang penyerang dari
Sekolah Simpang, dan dua orang yang menyertainya. Mereka sangat lihai, jika
kulihat gerakan mereka, mereka telah terlatih demikian lama. Kawan, back
Cahaya tak bisa menahan permainan mereka, pertandingan hampir setengah main,
tapi gawang Tim Cahaya terancam gol.
”Kau benar, Pak Arif.”
Aku menengok ke arah suara
itu, Pak Joko, ”Mereka adalah pemain-pemain yang sangat terlatih, dan jujur
kuakui satu hal padamu, striker utama timku itu adalah seorang pelajar sekolah
menengah pertama. Dia alumni sekolah, tapi tak akan ada yang tahu! Dia adalah
pemain terhebat yang pernah kulatih, kalian tak akan bisa menang!”
Aku menatapnya, dia
melihat ke arahku. Aku tersenyum.
”Mengapa Anda tersenyum?”
kini dia yang terlihat keheranan.
”Pak Joko, aku tak mau
tahu apa-apa tentang kehebatan murid-murid Anda.”
”Apa maksud Bapak?”
”Kedua puluh siswa yang
kulatih, baik utama maupun cadangan, tidak ada pemain terhebat atau terbaik.
Tapi, mereka semua adalah yang terbaik.”
Dia bingung, lantas
menolehkan pandangannya pada pertandingan itu. Sebenarnya, aku sangat gugup dan
tegang, tapi jika sudah begitu aku tatap langit sejenak, dan ketenangan
kudapatkan kembali.
Detik-detik setengah main
yang mendebarkan, tiga penyerang tim lawan di depan gawang, satu tendangan di
pojok dalam gawang, Hasan menangkap sekuat tenaga, tapi tertipu, bola bertolak
ke gawang dan kembali kepada pemain di tengah. Inilah tendangan yang
sebenarnya, dan... Hasan mati-matian mendorong gawang sehingga tubuhnya dapat
terbang ke tengah untuk menangkis bola.
Tapi, lagi-lagi salah,
kaki kanan penyerang kedua menendang kosong, kaki kirinya menyepak bola pelan ke
arah kiri. Saat itulah penyerang ketiga langsung menendang, dan Hasan telah
terjatuh tepat ketika bola masuk dari gawang di sisi kiri. Gol pertama untuk
Sekolah Simpang.
Bunyi peluit, setengah
permainan. Tukar tempat. Hasan menghampiriku, menunduk, wajahnya penuh debu dan
kuusap debu di pipinya.
”Kau tak perlu merasa
bersalah, setiap kali kau jatuh, itulah pengalamanmu untuk belajar dengan cepat
dan menjadi terbaik. Kau paham! Jangan kecewakan Bapak untuk kedua kalinya, kau
mau berusaha lebih keras?”
Wajahnya sumringah, dan
mengangguk. Kelingking kami menyatu, bagai sebuah ikatan tak terbantahkan.
”Beberapa siswa ada yang
putus asa, Pak,” Syahid melapor padaku.
”Kuserahkan semua padamu,
kini, kau kapten kesebelasan. Aku percaya padamu, Hid,” cukuplah bagiku saat
kulihat anggukannya. Menang dan kalah bukanlah segalanya. Kawan, kuberikan kau
satu rahasia tentang tiga kekuatan ajaib di dunia ini, jika tiga hal itu ada,
maka seseorang akan menjadi orang paling ajaib di dunia ini: cinta, rasa
terima kasih, dan kepercayaan.
Pertandingan dilanjutkan.
Ketika kedua tim telah
saling menyiapkan formasi, kulihat Syahid mengumpulkan teman-temannya. Strategi
apa yang mereka gunakan? Syahid menatap teman-temannya, tepat di depan gawang,
aku berada di belakang gawang.
”Teman-teman,” Syahid
memelankan suaranya, ”Jangan kecewakan Pak Arif. Percayalah pada kekuatan kita,
kita pasti menang! Jadikanlah bola itu bukan sebagai bahan perebutan, tapi
jadikan bola itu sebagai sahabatmu yang tidak akan kalian biarkan terebut oleh
lawan, jika bola itu sampai terebut, maka anggaplah kalian kehilangan seorang
teman.”
Peluit dibunyikan, Tim Cahaya
seolah mendapat suntikan baru, semuanya tersenyum penuh yakin, walau kalah satu
poin. Mereka kini bekerja sama dengan baik, rapi, teratur, tak lagi
mementingkan sendiri untuk mengutak-atik bola, mereka telah belajar lebih cepat
dari yang kukira. Jika mereka menggiring sendiri, potensi terebut akan besar
karena pihak lawan sudah sangat terlatih.
Bola dikuasai Tim Cahaya,
operan cantik sering terjadi, mirip sekali dengan kesebelasan kelas
internasional. Mendekati gawang lawan, sebuah operan tepat menuju arah Syahid,
seorang lawan menghadangnya. Syahid cekatan, bola operan tinggi, dia meloncat.
Tuhan! Lompat! Ya, Syahid lompat tinggi melewati lawannya, dan satu tendangan
memutar di udara itu sangat mendebarkan, seluruh penonton dan pemain
terbengong. Bola berputar demikian cepat, sang kiper tak menyangka, bola itu
masuk melalui kedua kakinya yang terbuka. Gol kawan!
Kedudukan 1:1, permainan
tinggal lima menit, mendebarkan. Tim Simpang menggiring bola, cara menggiring
mereka sangat lihai, gesit dan cepat. Dan sampailah mereka berada dekat dengan
gawang tim Cahaya. Satu tendangan kuat di luncurkan, back kehilangan
arah, bola menuju pojok. Tapi tepat! Seperti beruk, Hasan melompat, bola itu
tertangkap di tangannya.
Hasan belajar lebih cepat
pula, ”Tak akan kubiarkan kalian melukai sahabatku!” bola dilemparkannya.
Setiap tim Cahaya mendapat bola, dan melempar kepada yang lain, mereka
berteriak, ”Tolong jaga temanku!” jadilah, lawan mereka heran, semua penonton
lebih bingung. Syahid mengambil kesempatan, saat konsentrasi lawan lemah, dia
menggiringnya.
Waktu tinggal sedikit,
Syahid masih menggiring bola di tengah lapangan. Sempat ragu kakinya, jika dia
menendang langsung kesempatan masuk adalah fifty-fifty. Karenanya, semua lawan
menghadangnya dengan cepat setelah beberapa kali mengetahui kekuatan tendangan jauh
Syahid.
Tak ada waktu lagi
Syahid! Aku tegang. Waktu
sangat mepet. Dan tendangan diluncurkan, semua lawan maju ingin menghadang
bola, tapi arah mereka salah. Syahid memberikannya pada Syamsul, pemain
cadangan yang baru masuk, yang berada di dekat gawang lawan sebelah kiri.
Kenapa kau berpikir
seperti itu Syahid? Aku heran.
Waktu tinggal beberapa detik saja saat bola melayang ke arah Samsul. Samsul
tersenyum, dan ketika waktu mendekati akhir, sebuah sundulan itu terlaksana
dengan baik. Dan... gol terjadi saat detik paling akhir. Dan, gol masih
diterima karena waktunya masih ada.
Samsul dipeluk
teman-temannya, aku terdiam kaku di tempat berdiriku. Aku terbengong, Kawan.
Semua penonton masih bengong, semua tak menyangka. Sekolah Cahaya memenangkan
final. Wajah Pak Danu menyala bagai bara. Dan saat peluit tanda berakhir
dibunyikan, jadilah gegap gempita terjadi. Aku tersadar, kuhampiri Syahid yang
berdiri. Sedang yang lain tengah mengerubungi Samsul.
”Syahid, permainan yang
bagus. Super, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Dan tentang bola sebagai
sahabat. Kau punya ide dari mana?”
Syahid tersenyum padaku.
”Kau sahabat, Bapak bukan
seperti seorang guru, tapi sahabat bagi para murid. Itulah inspirasiku.”
Sahabat? Aku
dianggapnya sahabat?
Not Comments Yet "Bagian 23, Anggap Saja Dia Sahabat"
Posting Komentar