Setelah judul skripsi
kuajukan dan ternyata dari empat judul, akhirnya salah satunya disetujui juga.
Aku berucap syukur. Setelah itu, selama seminggu menyusun proposal dan seminar
ternyata semua dimudahkan Allah ‘Azza wa
Jalla. ‘Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan?’
tidak ada ya Allah. Tidak ada yang kami dustakan sedikitpun. Teman-teman di
Pesantren mengucapkan selamat dan mereka siap membantu jika dibutuhkan. Mata
kuliah telah habis, aku bisa lebih konsentrasi
menyelesaikan skripsi dan memikirkan usaha yang hendak kulakukan.
Pikiranku berkelebat,
alangkah indahnya menyelesaikan skripsi didampingi seorang bidadari? Aku segera beristighfar. Hari ini aku juga harus
mengisi khutbah jumat. Alhamdulillah
telah kuseiapkan materinya tadi malam.
Saat hendak ke Masjid,
Hp-ku berdering. Nomor pak Salim.
“Assalamu’alaikum. Ada
apa Pak?”
“Wa’alaikumsalam
warahmatullah, bisa bicara selepas shalat Jumat?”
“Di Jakarta Timur
Pak?”
“Tidak di UI, saya
sudah di UI Insyaallah shalat jumat
disini. Kamu bisa datang ke Masjid Ukhuwah Islamiyah Ba’da shalat?”
“Subhanallah, kebetulan saya juga Insyaallah shalat disana Pak.”
“Dengan senang hati saya
tunggu. Assalamu’alaikum.”
Aku menjawab salam dan
hubungan terputus. Aku
melihat jam tanganku pukul 11.30 menit. Aku bergegas naik Bikun. Kebetulan bikun
yang ditumpangi pak Bejan. Aku duduk di dekatnya.
“Bagaimana kabarmu Ali?”
“Alhamdulillah baik Pak. Bapak sendiri bagaiman?”
“Bapak Insyaallah selalu sehat. Ternyata kamu telah jauh berbeda dengan
Ali yang pertama kali kukenal dulu ya, pantas...,” nada bicaranya gamang.
“Pantas kenapa Pak?” aku
bertanya lembut.
Pak Bejan seolah ingin bicara
sesuatu dari nada bibirnya, tapi segera kembali lagi seolah tak ada apa-apa.
“Bagaimana kabar si Farid,
Hilwa dan Husein Pak. Lalu bu Yanti juga baik-baik saja kan?” aku bertanya tentang
tiga putra-putrinya serta isterinya. Kebetulan dulu pernah bersilaturahim.
Alangkah lucunya ketiga anaknya.
“Si Farid kini kelas 2 SMA, si
Hilwa baru semester dua ini di kelas 2 SMP, lalu si Husein masih di SDIT kelas
3. Isteriku memang hebat, semua anakku mendapat ranking tiga besar semua,”
senyum pak Bejan menampakkan kebanggaan. Dulu ketika bersilaturahim, si Farid
masih kelas 3 SMP, ternyata waktu bergulir begitu cepat.
Saat senyum supir bikun itu tercipta, aku jadi teringat
sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda “Ada empat perkara yang memberi kebahagiaan
kepada seseorang. Jika ia mempunyai istri yang seiya sekata dengannya, putra
putri yang berbakti, saudara-saudara yang baik dan bila rezekinya dapat
diperoleh di tempat tinggalnya.
Kata Syaikh Abu Hamid Al
Ghazali rahimallah menerangkan tentang hadits ini adalah ’apabila seorang
istri memiliki hal-hal yang menyenangkan suaminya, yaitu kebaikan agamanya,
kehalusan budi pekertinya, cantik parasnya, mempunyai anak, nasabnya yang baik,
dan masih perawan ketika menikah.’ Karena banyak wanita
maupun pria pada masa ini telah kehilangan nilai-nilai kesucian Ilahiahnya.
Itulah nilai keindahan yang harus dijaga.
Tiba
di depan Masjid. Aku turun, aku mengucapkan terima kasih. Pak Bejan seolah akan
berkata sesuatu lagi, tapi tiba-tiba bibirnya terkatup kembali.
”Ali...,
kamu bisa silaturahim ke rumahku lagi tidak, dalam beberapa hari ini. Ini
sangat penting bagi kehidupan seseorang. Hanya kau yang bisa menolongnya!”
”Hanya
aku?” Pak bejan mengangguk, ”Insyaallah, setelah segala urusanku sedikit
longgar Pak.”
”Baiklah,”
ada sedikit nada kekecewaan dalam raut wajahnya, ”Maaf, aku tidak bisa
mendengarkan khutbahmu nanti. Aku langsung pulang ke rumah, ada keperluan. Aku
Shalat di masjid sekitar rumahku itu,” aku mengangguk dan bikun melesat
membelah jalan aspal, menyisakan sedikit debu dan sedikit asap knalpot. Aku
segera menuju bilik Masjid, kesempatkan mandi. Tinggal beberapa menit lagi,
kupakai surban putih yang kubeli di Pasar Minggu, sudah dua tahun namun warnanya
masih jernih.
Aku
masuk dari arah samping, sehingga dapat tempat dekat dengan mimbar. Aku shalat
dua rekaat. Selesai shalat aku menyalami sesosok pria di sebelahku, dia sangat
kukenal. Kak Nugroho.
”Kaifa haluk ya Akhi?” sapanya
lembut, senyumnya seteduh telaga kautsar.
”Khoir,
wa anta?
Kami
sedikit berbincang dan beliau menanyakan beberapa hal, aku menjawabnya dengan
tenang. Bukankah kak Nugroho sudah menikah empat bulan yang lalu, dan itu
bertepatan dengan kepulanganku ke Lampung.
”Maaf
Kak, waktu Walimatul Ursy, saya tidak datang. Saat itu Bapak saya
meninggal dan saya harus pulang ke Lampung.”
”Iya,
saya paham tidak apa-apa, yang penting doanya,” kami tersenyum.
Waktu
telah tiba, si Amir sang muadzin memberi isyarat kepadaku. Aku maju ke
mimbar. Aku mengucap salam dan adzan menggema indah ketika aku duduk.
”Jama’ah
shalat jum’ah yang dimulyakan Allah. Mari kita bertawakkal kepada Allah dengan
sebenar-benarnya tawakkal, bukan pasrah dan menerima tanpa kerja dan usaha. Ketika kita
tawakkal, maka anggota badan kita mulai kaki, tangan dan lisan kita harus
bekerja keras seolah tidak ada tawakkal. Karena kita jangan berfikir tawakkal,
tapi kerjakanlah kebaikan dengan sekuat tenaga. Janganlah kita pasrah dan
berdiam diri menunggu ketetapan Allah dan tidak mau merubah kebiasaan buruk
kita.
Allah
swt berfirman, ”Katakanlah, ’Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu
malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah, setiap hal
harus dijemput dengan kerja keras dan kesungguhan. Berjihad di jalan Allah adalah
menjemput kerja keras mengalahkan hawa nafsu kita. Dalam kehidupan ketika kita
mencari rezeki, maka bertawakallah dengan sungguh-sungguh dengan bekerja secara
profesional dan terarah.
Rasulullah
saw bersabda, ”Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar
tawakkal, maka Allah akan memberi rizeki kalian seperti Dia memberi rizeki
kepada burung yang keluar pagi dalam
keadaan lapar dan kembali sore dengan keadaan kenyang, bertawakkal
dalam segala hal, jangan sedetikpun terlintas untuk memenuhi pikiran kita untuk
meminta-minta. Jagalah izzah kita dengan kesungguhan dan kerja keras bukan
bermalas-malasan dan membiarkan negara dipimpin oleh orang-orang yang tak paham
agama. Saatnya Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti agama,
sehingga tahu mana jalan menuju Tuhannya.
Rasulullah
mengajarkan nilai berharga, Nabi mengajarkan ilmu yang dahsyat pada Ibnu Abbas
ra. sewaktu kecil, ketika beliau berumur sepuluh tahun, ”Wahai Ghulam, aku
akan mengajarkan padamu beberapa kata : Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu;
jagalah Allah, maka kau akan dapatkan Dia di hadapanmu; jika kau meminta,
mintalah kepada Allah; jika kau minta pertolongan, mintalah pertolongan pada
Allah. Ketahuilah, sekiranya satu ummat berkumpul intin memberi manfaat, mereka
tidak akan memberikan manfaat kecuali telah Allah tulis untukmu. Demikian pula
sekiranya mereka berkumpul ingin mencelakakanmu, maka mereka tidak akan
mencelakakanmu kecuali dengan apa yang telah ditulis untukmu. Pena telah
terangkat, dan kertas telah kering.”
Lihatlah
keyakinan dan komitmen kita, masihkah ada keyakinan? Jika satu kota Depok
sepakat memberi kita uang seratus ribu, mereka tidak akan mampu memberikan
kepada kita kecuali dengan apa yang Allah tentukan. Pena telah terangkat, Ia
tak akan menulis lagi. Maka tiada ada yang dihapus dari yang sudah ditulis?
Tidak akan ada yang terdzolimi. Itulah keyakinan yang harus ummat Islam jemput
untuk mencapai kemenangannya melawan hawa nafsu, untuk kemenangan dirinya dan
umat Islam. Ingatlah, ’Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga kita.”
Selesai
shalat aku sejenak berdzikir di masjid, sudah terlihat jama’ah bubar. Seseorang
mendekatiku. Pak Salim, mungkin beliau akan menyerahkan uang pesangonku? Dia
memintaku untuk bicara di luar, tidak pas jika di Masjid untuk membicarakan
masalah dunia. Aku mengikuti langkahnya ke depan masjid. Kami duduk di serambi
masjid.
”Khutbahmu
begitu menyentuh. Aku memang banyak belajar darimu Ali,” saat kedua matanya
menatapku tulus, aku membalasnya senyumannya.
”Pak
Salim ada keperluan apa dengan saya?” aku memerhatikannya yang belum langsung
ke pokok permasalahan. Jadwalku harus segera ke Pasar Minggu.
”Kau
tahu, ada perubahan apa setelah kau mengundurkan diri dari kerja?” Pak Salim
melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di kantong kemejanya.
”Saya
tidak tahu Pak,” aku memang tidak tahu ada apa setelah aku pamit sewaktu rapat
itu. Mungkin telah terjadi perampingan personalian dengan memberhentikan
karyawan atau mungkin terjadi sesuatu?
”Aku
mengambil keputusan untuk melakukan apa yang kau sarankan saat itu, walau dari
para mereka ada yang tidak sepakat. Kurasa pendapatmu pada saat itu ada
benarnya. Dan kini, aku datang mengucapkan terima kasih padamu. Berkat ide-ide
sederhanamu, yang kamipun tak sempat memikirkannya para karyawan tidak ada yang
diberhentikan. Perusahaan terlepas dari resiko kerugian yang kata pengawas
tidak bisa dihindari. Saya datang juga mewakili teman-teman di kantor minta
maaf, karena mereka meremehkanmu dan mereka mengajakmu untuk kembali. Mereka
optimis untuk bisa membesarkan usaha ini bersamamu. Bersama ide-idemu,” matanya
yang jernih, sejernih embun itu begitu tulus.
”Mereka
terlalu berlebihan Pak, saya hanyalah orang desa.”
”Kau
tahu, ide sederhanamu itu telah membuat omzet perusahaan naik, bahkan hotel
yang kemarin telah sepi kini begitu ramai. Seperti kata-katamu, kami membuang
semua isi gudang dan kami hias menjadi tempat pemutaran film-film yang baik,
kadang kami adakan konser dari para pencinta seni. Para pengunjung hotel merasa
puas, dan akan menjadi langganan tetap. Rumah makan yang telah diedarkan surat
resmi dari MUI, kemudian bukti keaslian bahan bebas dari bahan-bahan pengawet,
kami iklankan di koran dan kami tempel di tempat pengumuman, ternyata
mengembalikan para pengunjung. Mereka merasa terpuaskan dan akan kembali jika
ingin makan.”
”Kau
juga yang menyarankan untuk produk makanan, untuk dapat segera dipatenkan, lalu
diperiksakan kebersihannya di dinas kesehatan dan untuk lebih menguatkan kami
serahkan ke MUI untuk diperiksa. Kebetulan teman saya banyak disana. Setelah
itu kami menempel copy-nya, di pengumuman dan kami iklankan juga di koran. Kamu
harus tahu, respon dari masyarakat menyambut baik dan mereka merasa senang
dengan perusahaan yang terbuka kepada publik. Tidak ada yang disembunyikan,
atau tidak ada label resmi tentang kebersihannya dari bahan-bahan sejenis
pengawet, dan bahan berbahaya lainnya. Dan satu hal lagi yang lebih patut kau tahu dari
saranmu Ali.”
”Apa
itu Pak?”
”Analisamu tentang keberkahan harta telah terjawab.
Pak Rangga yang mengurusi bagian keuangan sekarang sedang menjalani proses
hukum. Ternyata benar, laporan keuangan seluruh usaha diperkecilnya, dan dia
bekerja sama dengan oknum pihak pajak untuk meraup keuntungan pribadi. Kau
telah menyelamatkan banyak asset perusahaan Ali, aku bahagia pernah berkenalan
denganmu. Banyak para karyawan, baik yang sudah mengenalmu atau belum, mereka
ingin kau bekerja sama lagi bersama mereka. Aku mewakili yang lain untuk
meminta maaf padamu. Mereka mengakui kalau mereka juga pada awalnya meremehkanmu.
”Dari
awal sebenarnya aku sudah percaya pada kemampuanmu. Karena orang yamg
mengirimmu, adalah orang yang hebat dan kau pasti telah melalui ujian-ujian
darinya. Kini aku mempunyai tawaran untukmu Ali, aku akan menempatkanmu di
bagian pengawasan sebagai CEO, aku berharap
kau mau kembali bekerja bersama kami, dan akan kunaikkan gajimu menjadi sepuluh
kali lipat. Itupun sebagai awal, jika kau bisa memberi ide-ide yang lebih baik,
maka gajimu akan perusahaan naikkan. Bagaimana?”
Hatiku
berdesir kembali, detak jantungku berdebar lebih cepat. Alangkah cepatnya
Engkau memberi jawaban atas doa-doa hambaMu ya Allah. Kudengar lagi kata,
’Orang itu’ pasti itu Ustadz Umair. Seolah ini bagaikan mimpi yang nyata, ”Saya
siap kembali bekerja sama, tapi ada satu syarat?”
”Jika
bisa kita bicarakan mungkin bisa disepakati,” pak Salim mengangguk.
”Saya
mau bergabung kembali, jika waktunya sesuai dengan kemauanku, maksud saya
seperti ini. Ehm..., saya akan selalu berangkat kerja, jika waktu saya longgar
di luar jam kuliah, karena saya sedang menyelesaikan skripsi. Lalu, jika saya
ada kepentingan dakwah izin saya tidak dipersulit, walau begitu saya akan
bekerja secara profesional. Saya akan berusaha mengoptimalkan tenaga dan
pikiran, untuk kemajuan usaha. Dan satu hal lagi yang ingin kutanyakan. Apakah
yang Bapak bilang dengan ’Orang itu’ adalah Ustadz Umair?”
Pak
Salim menatapku dan mengangguk, ”Benar. Dia adalah Ustadz Umair, pemilik Pondok
Pesantren Darussalam, dan seluruh syaratmu aku terima,” beliau menyalamiku.
Ternyata Ustadz Umair adalah orang yang masih misterius, entah apa yang masih
disembunyikannya. Biarlah waktu jua yang akan menjawabnya kelak.
”Hari
ini, isteri dan adikku sedang memasak makanan kesukaanku. Bagaimana kalau untuk
memperkuat ikatan kerja ini, kau makan di rumahku. Kau juga belum pernah
sekalipun ke rumahku. Bagaimana?”
”Tapi
Pak, aku belum mengganti pakaianku. Saya juga harus menyelesaikan skripsi
saya,” aku berusaha menolak, tapi bingung alasannya.
”Skripsi
itu tidak usah ngoyo, jika kau mau, aku yakin kau dapat
menyelesaikannya dalam waktu dua hari saja. Atau kau ingin kupaksa, siapa tahu
kau tertarik dengan adikku si Zahra. Siapa tahu kalian berjodoh. Dia cantik
lho, banyak pemuda yang terpikat padanya, tapi selain cantik, dia Insyaallah
shalihah.”
Mendengar
itu aku tak berani lagi menolak. Mendengar kata jodoh, sebuah harapan tiba-tiba
terbersit untuk mengukuhkan keimanan dan ibadah kenikmatan. Kenikmatan, agar
manusia dapat mencicipi surga dunia. Bukankah ini juga termasuk ikhtiar
untuk mencari istri? Terpaksa aku masuk ke mobilnya, lalu kami meluncur.
Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari kompleks Terminal Depok. Rumah yang
tidak semewah yang ada dalam bayanganku, rumah pak Salim sederhana dan anggun.
Taman yang indah terhampar mesra di sekeliling rumah itu.
”Ayo
masuk, Insyaallah makanannya telah tersedia.”
Aku
turun. Pak Salim memencet bel, dan sejurus kemudian seorang wanita keluar
sambil menggapai tangan pak Salim dan menempelkannya di keningnya. Mereka
mempersilakanku masuk, pak Salim masuk ke dalam rumah sebentar, lalu keluar
lagi dan menemaniku berbincang-bincang.
”Aku
mempunyai seorang Paman di Pesantren Darussalam. Mungkin engkau kenal.”
”Siapa
dia Pak?”
”Dia
salah satu Ustadz disana, namanya Muhammad Wahid Al-Faza. Biasanya beliau
sering dipanggil Ustadz atau Syaikh Wahid.”
”Subhanallah,
jadi beliau itu paman pak Salim?”
”Iya,”
aku jadi teringat tentang lamaran yang beberapa bulan yang lalu. Dalam hatiku
ingin menolak, tapi ternyata calon yang diajukan Ustadz Wahid ternyata juga
sama denganku.
Istri
pak Salim keluar, membawa teh dan satu toples kue. Nama istri pak Salim adalah
Nurul Fadhilah. Wanita itu lalu di dekat suaminya, saat teh yang telah mulai
hangat itu kuangkat dan kuminum sedikit, seorang wanita berjilbab keluar dari
dalam dengan membawa buah-buahan. Mataku terpana sejenak melihatnya, bukan
karena cantiknya, tapi karena aku kenal betul siapa wanita itu. Dia adalah
Mawar.
Aku
tersedak tiba-tiba. Mata kami sempat bertatapan sejenak, lalu kami sama-sama
menunduk. Tiba-tiba desiran halus itu menyusup, menciptakan suasana aneh di
hatiku. Segera kutata hatiku sekuat tenaga, bukankah dia sudah menikah. Aku
harus sadar, Allah tolong hambaMu. Mawar menaruh piring berisi buah-buahan itu
di meja.
”Tadi
itu Adikku yang terakhir, namanya Zahra. Mungkin kau kenal karena dia juga
kuliah di UI. Kau ingat sewaktu menolongku di komplek UI. Saat itu aku baru
saja mengantarkan kedua adikku. Adikku yang ketiga dan keempat kembar, saudara
Zahra yaitu Wardah sudah menikah dengan Ilham, Mahasiswa pasca sarjana dan kini
sedang menyelesaikan program Doktornya, dia membawa Wardah ikut ke Mesir,
karena kebetulan suaminya juga diamanahi menjadi bekerja di kantor KBRI di
Mesir sekaligus meneruskan S3. Bagaimana? Aku tidak bohong kan, adikku cantik
bukan?”
Aku
menyambut senyum ejekan pak Salim, hatiku semakin mendesir-desir mendengar
penjelasannya. Hanya Allah dan diriku yang tahu, apa yang ada di dalam hatiku
mencerna kata-kata pak Salim barusan. Jika kembar, yang manakah yang Mawar,
ataukah tidak ada dari keduanya?
”Bukankah
engkau yang mengisi Tausyiyah acara Walimatul Ursy saat pernikahannya
Wardah?” aku hanya mengangguk, ”Setelah acara, aku mencarimu tapi kau telah
pulang,”
Pak
Salim mengajakku makan di ruang tengah. Makanan telah disiapkan, begitu banyak
menu yang disediakan. Aku makan berdua dengan pak Salim, Istrinya dan Zahra
tidak ikut makan bersama.
”Bagaimana?
Engkau mau maju untuk melamar adikku Zahra?”
Aku
terbatuk-batuk karena tersedak. Aku mengambil air putih lalu menenggaknya, tiga
tegukan, ”Saya mawas diri Pak, siapalah aku. Aku hanya orang desa. Tanyakan
saja pada adik pak Salim itu, baru setelah itu Bapak tanyakan kepada saya.”
”Baiklah,
nanti Insyaallah kutanyakan padanya. Kemarin Zahra curhat pada istriku,
dia sedang mencari suami yang bisa membimbingnya, dan dia tidak minta kriteria
yang aneh-aneh. Dia hanya mengingingkan lelaki yang sholeh, sekarang dia sedang
menyelesaikan skripsinya,” kami meneruskan makanan kami. Ada soto lamongan, ada
sayur kuah wortel dan ada sayur jamur. Dalam hatiku, ada satu bagian yang
menginginkan agar pak Salim benar-benar mengatakan pada Zahra, karena gadis itu
sangat cantik, Insyaallah shalihah. Di satu sisi, aku harus menjaga
izzahku.
Setelah
makan pak Salim mengantarkanku hingga ke Pesantren.
”Salamku
untuk Ustadz Umair ya?”
”Insyaallah,”
mobil itu kembali melaju, menghilang di senjanya sore hari.
Langkahku
melangkah, pikiranku masih melayang. Mawar! Zahra yang kembar dengan Wardah,
yang menikah tempo lalu adalah Wardah. Seseorang memanggilku dari luar gerbang
Pesantren. Pak Purwiro.
Aku
berbalik arah. Dan menyalami beliau.
”Sudah
lama Bapak tidak kelihatan di Masjid?”
”Maafkan
aku Nak, aku baru saja pulang dari Bali. Biasa ada klien,” senyumnya kini
sejuk, jauh ketika membandingkan beliau dulu dengan sekarang. Aku jadi tidak
enak, sewaktu pernikahan anaknya si Laila, yang dulu pernah kutemui saat aku
menyerahkan koran-koran yang menumpuk. Aku tidak dapat hadir, karena bertepatan
ketika aku harus pulang ke kampung dan menjaga Fajar saat operasi.
”Memang
manusia hanya bisa berencana dan berusaha, tapi Allah jualah yang menentukan
hasilnya,” pak Purwiro menghembuskan napasnya panjang.
”Memangnya
ada apa Pak?”
”Aku
berencana menikahkan puteriku denganmu Nak, tapi ternyata ada seorang lelaki
yang datang dan melamar anakku, yang baru mulai berkomitmen memakai jilbab
sekitar seminggu. Laila puteriku langsung menerima lamaran itu, karena dia yakin Hamdi
bisa menuntunnya kepada kebenaran. Hamdi adalah salah satu lulusan Pesantren
ini.”
”Semuanya
sudah tertulis Pak, tidak usah khawatir. Bapak juga punya keinginan
menikahkanku dengan Laila, Laila memang pantas mendapatkan orang yang baik.
Lha, saya, bukankah tidak seimbang dengan Bapak,” aku tersenyum.
”Kau
ini Nak Ali, selalu merendah terus,” kami berpisah.
Malam
itu, setelah kajian shirah nabawi dan sirah
sahabat. Aku mampir ke masjid, biasanya ada Ustadz Umair. Aku ingin
menceritakan kisahku siang ini, saat bertemu dan berbincang-bincang dengan pak
Salim.
”Kemarilah
Ali, aku ingin cerita sebuah rahasia padamu,” ketika mulutku ingin bercerita,
ternyata Ustadz Umair mendahuluiku. Mungkin penting, dan urusanku tidaklah
terlalu penting, ”Aku ingin menceritakan kisahku padamu, tapi kau harus
menyembunyikannya. Aku percaya padamu. Setelah itu, kamu boleh menilai aku apa
saja. Kisah ini belum pernah kuceritakan pada siapapun, kecuali Allah yang Maha
Tahu. Berjanjilah kau tak akan menceritakannya pada siapapun.”
”Insyaallah
Tadz.”
Not Comments Yet "Part 32, Menjemput Bidadari"
Posting Komentar