KAJA, Spirit of Protector
Chapter
1.
Kaja,
Sudah Waktunya
Perguruan
Angin Timur
Boom
Boom Brak!
Bam
Bam Bam
Tempat
latihan di Perguruan Angin Timur terlihat ramai, seorang Master terlihat
memberi pengarahan kepada 20an muridnya di dekat pintu masuk atau lapangan
perguruan tersebut. Plang besar terlihat megah. Ya, di desa terpencil yang
bahkan jauh dari akses kota serta daerah perbukitan yang bisa dibilang terletak
di pulau kecil yang tidak teridentifikasi oleh dunia.
Zaman
ini, dimana kekuatan adalah segalanya. Mereka yang kuat menjadi tuan dan yang
lemah menjadi budak. Perguruan menjadi satu-satunya tujuan anak-anak di
sekolahkan, selain belajar ilmu beladiri mereka juga diajari pengetahuan secara
umum.
Dan…
setiap anak hanya menginginkan satu tujuan untuk masa depan cerah mereka…
MENJADI ANGGOTA AFLIF
Aflif
adalah sebuah bentukan yang diakui seluruh dunia, mereka mendaftarkan
kelompoknya untuk menerima misi dan mendapatkan uang. Ini dunia modern, hidup
di daerah terpencil tentu saja harapan untuk menjadi orang besar sangat minim
dan juga menjadi cita-cita tertinggi seseorang.
*****
Seseorang
remaja melewati perguruan Angin Timur, angin menerpa wajahnya yang tenang dan
setetes keringat terlihat normal membasahi wajahnya. Seperti biasa, dia akan
menerima penghinaan dari murid-murid perguruan, namun dia akan tenang dan
melewatinya.
“Bocah
kuli air lewat lagi, masa depanmu pasti di bawah kaki!” Baron
tertawa ditemani rekan-rekannya.
“Benar
Bos! Hidupnya akan sengsara selamanya, menjadi budak si Kakek Noran,” Sahut
Bowo yang selalu menjadi tangan kanan Baron.
Remaja
itu tanpa ekspresi tetap berjalan, satu kayu pikulannya memikul ember di kanan
dan kiri, sedangkan tiap tangannya masih memegang ember berisi air. Jumlahnya
jadi 4 ember air. Dia harus membawanya tiap hari dan harus menerima hinaan
setiap harinya.
Seorang
wanita berumur 12 tahun meminta Baron untuk berhenti menghina, “Sudahlah Kak,
Biarkan dia!” Itu adalah Putri, adik kandung dari Baron.
“Membiarkannya?
Hahahaha,” Baron mengambil batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke
salah satu ember remaja tersebut.
Ember
sempat limbung namun remaja itu sudah tiap hari membawa ember air itu dan dia
sudah bisa menyeimbangkan air jika ada goncangan atau lainnya meskipun dia
hampir jatuh dan dia menyangga kuat kaki kanannya sehingga dia dapat mencapai
keseimbangannya kembali.
Putri
berlari mendekati Remaja itu, “Kaja, maafkan Kakakku,” wajah gadis itu terlihat
memohon dan akan membantunya untuk tegak lagi.
KAJA, 13 Tahun. Tanpa Kemampuan, bisa dibilang kemampuan beladiri 0 dan tak pernah berlatih,
TINGKATAN TEMBAGA.
“Tidak
Perlu Nona, Aku bisa meneruskan jalanku,” Kaja menolak bantuan Puteri, “Aku
Pamit Nona, Terimakasih. Oya, terimakasih untuk apelnya, suatu hari aku pasti
membalasnya, aku janji itu.”
Kaja
melangkah pergi meninggalkan murid-murid perguruan yang masih tertawa.
Putri
menatap punggung Kaja, rasa kasihan menyeruak padanya. Dia hanya kasihan pada
masa depan remaja itu, terasing tak berteman dan hanya bekerja keras tinggal di
gubuk bersama kakeknya.
Sebutir
apel, Putri memberikan pada Kaja dari bekalnya saat Kaja berumur 6 tahun dan
kelelahan membawa dua ember air dari gunung. Putri melihat Kakek Noran sebagai
kakek yang kejam, membiarkan Kaja terus membawa air dari gunung, bukankah di
rumah juga ada air. Saat itu, Kaja terjatuh dan airnya tumpah, Kaja kelelahan
dan akan kembali ke gunung mengambil air dari sumber di pegunungan itu, Putri
memberinya sebutir apel.
Putri,
Tingkatan Perunggu Bintang 1
Baron,
Tingkatan Perunggu Bintang 2
Dan
tingkatan Tembaga, adalah tak ada harapan, Sampah.
Memasuki
Tingkatan Perunggu, masa depan seseorang bisa digambar indah, tinggal kerja
keras dan berlatih sungguh-sungguh. Ada harapan.
******
Tepat
pukul 12.02 siang, Kaja sampai rumahnya. Gubuk sederhana, di depan gubuk itu
tanah lapang dan tempat menjemur sesuatu, rempah dan hasil kebun.
“Salam
Kakek, aku pulang,” Kaja tersenyum, kakeknya memang terlihat keras padanya dan
bahkan memaksanya bekerja keras. Namun, dia tahu Kakeknya sangat menyayanginya
karena setiap malam, kakeknya selalu di sampingnya dan mengelus kepalanya. Kaja
sadar akan hal itu, dan itu perasaan yang nyaman.
Kaja
menaruh ember-embernya pelan ke tanah. Satu untuk minum sehari, dua untuk
kakeknya dan satu lagi untuk dirinya. Itulah peraturannya. Kaja membawa satu
untuk dituangkan ke bak mandi disana sudah ada rempah yang disiapkan kakeknya.
“Kaja!!
Kau telat dua detik lagi, siapkan hukumanmu! Kau berendamlah dan mandilah
dulu!” Kakek Noran terlihat memilih rempah-rempah dan juga membiarkan TV
menyala.
“Iya
Kakek.”
Kaja
pun berendam air yang sudah ada rempah disana. Rasanya nyaman dan sejuk, energi
yang dilepaskan selama pagi hingga membawa air seolah hilang dan tertinggal
hanya kesegaran. Meskipun lelah seperti apapun, jika berendam maka dirinya akan
segera pulih, dia tahu kakeknya adalah pembuat obat dan penawar terbaik.
*****
37,
38, 39, 40, 41
Kaja
terus melakukan Push Up, genap 100. Lanjut Kaja berlari mengelilingi lapangan
di depan rumah gubuknya, mungkin luasnya setengah hektar, dan dia pun harus menggenapkan
larinya 100 kali putaran. Namun, Kaja sudah terbiasa dan larinya pun sudah
sangat teratur, memang berkeringat tapi tak lagi lelah. Staminanya sudah sangat
konsisten.
Noran
yang merupakan kakeknya melihat sesekali dan tersenyum dari pintu.
Genap
100 Putaran, tubuh atletis Kaja bermandikan keringat. Dia pun membasuh wajahnya
dengan kain dan Kakeknya sudah berada di dekatnya.
“Ayo
Pergi!”
“Iya
Kakek.”
*****
Kegiatan
Rutin Kaja bersama kakeknya, sekira pukul 15.00, mereka akan ke hutan. Noran akan
mengajari Kaja tentang karakteristik tumbuhan, kandungan serta racun tanaman,
semua hal. Ramuan, herbal, semua hal sudah dipelajari Kaja dengan baik.
Namun
anehnya, Noran tidak menyembuhkan manusia sebagai prakteknya. Noran mengajari
Kaja mengobati setiap hewan yang terluka, entah itu sakit karena luka pemburu,
bertarung sesame hewan, hingga penyakit bawaan atau bahkan luka lainnya.
Pengobatan
Noran sangat manjur, belum pernah Kaja melihat hewan yang tak sembuh apapun
penyakitnya dan Kaja pun diajari semua cara pengobatan pada hewan.
Saat
mengajari campuran herbal penyembuh, suara auman terdengar begitu keras.
AAAUUUMM
AUUMMMM AAAUUMMM !!!
“Bergerak!”
Noran meminta Kaja bergegas mengikutinya, tak jauh dari sana Nampak hewan yang
besar sebesar gajah dewasa. Kaja membelalakkan matanya, Itu! Itu! ADALAH…
Rakuta,
Hewan Jiwa, Hewan Surga atau bahkan disebut Hewan Iblis.
Baru
pertama kali ini Kaja melihat Rakuta, mereka adalah hewah yang bisa bertahan
hidup lebih lama dari hewan biasa. Mereka mengalami panjangnya kehidupan,
anugerah itu membuat mereka menjadi kuat namun sayang, dibalik itu manusia
mengincar kekuatan mereka dan menjadikan manusia memiliki kekuatan lebih demi
keserakahan dan ambisi mereka.
Rakuta
jenis Singa besar dan bersayap, dia terluka dan terlihat sudah kehabisan
tenaga. Tiga orang di sekitarnya sudah mati menjadi mayat, sepertinya dia habis
bertempur habis-habisan.
Noran
meminta Kaja berada di belakangnya dan mendekati Rakuta tersebut, pelan-pelan
mendekati namun nampaknya Rakuta jenis Singa Bersayap itu hanya melihat mereka
mendekat dan hanya mendesah semata. Sepertinya lukanya serius.
“Racun!”
“Apa
dia terkena racun Kek?”
“Ya!”
Noran
dan Kaja mendekati Rakuta tersebut, sangat dekat. Noran sangat hati-hati,
Rakuta adalah hewan Jiwa yang kekuatannya besar dan jika marah tentu sangat
berbahaya. Namun, Noran melihat kaki Rakuta Nampak biru tua dan sisanya
seluruhnya pucat membeku biru.
“Racun
Big Cobra. Racun yang sangat mematikan. Jika tak tertolong, Rakuta ini tak akan
bertahan lebih dari dua jam, dan ini sudah satu jam sejak racunnya menyebar.”
Kaja
mendengarkan apa yang dikatakan kakeknya dengan seksama, sepertinya racun itu
memang mematikan. Big Cobra sendiri adalah rakuta jenis ular Kobra yang
racunnya dikeluarkan dengan menyemburkan air dari mulutnya, yang terkena akan
mengalami sekarat hingga dua jam dan akhirnya meninggal.
Jika
itu bukan Receptarier hebat, pasti yang terkena racun Big Cobra akan menemui
kematiannya.
“MANUSIA…., dengarkanlah Aku.”
Kaja
terkaget mendengar suara dari Rakuta tersebut, namun kakeknya Noran seolah tak
bergeming.
“Manusia…”
“Kau
memanggilku?” Kaja menatap mata sayu Rakuta singa bersayap tersebut.
Noran
Nampak keheranan melihat cucunya, “Kamu bicara dengan siapa, jangan-jangan…”
Matanya membelalak.
“Ternyata kau bisa mendengarku, aku adalah
Bajra. Nyawaku sepertinya tak lama lagi, manusia selalu mengejarku. Aku
dilumpuhkan oleh racun mematikan, manusia selalu menginginkan kekuatan kami.”
“Aku
mendengar suaranya Kakek,” Kaja menjelaskan pada Kakeknya, Rakuta itu bernama
Bajra dan sudah diracuni dengan anak panah.
Noran
menepuk pundak Kaja, “Ini adalah takdir, sembuhkan dia aku akan memandumu
melakukannya.” Kaja pun mengangguk.
“Aku
dan Kakekku akan berusaha menyembuhkanmu. Jadi, tenanglah.”
Bajra
pun pasrah.
Kaja
sudah belajar banyak, dia mengambil Rumput dan bahan untuk menghentikan peredaran
racun. Kaja mengambil pisau menyobek kaki Rakuta yang Nampak rajun, mengoleskan
ramuan tumbukan dan mengikat agar racun tak menyebar.
Noran
melihat Cucunya itu, “Kaja, ini adalah giliranmu. Aku hanya akan memandumu
saja, aku akan mengajarimu Teknik Tertinggi Pengobatan Surgawi.”
“Letakkan
tanganmu pada Kaki Rakuta yang terkena racun,” Noran memerintahkan Kaja.
“Rasakanlah
seluruh aliran darah dan sel tubuhnya, gunakan konsentrasi penuh dan satukanlah
pikiranmu, masuklah ke area dimana pergerakan Rakuta, cobalah.”
Kaja
mengikuti apa yang dikatakan kakeknya, terdiam dan merasakan seluruh pergerakan
di dalam Rakuta.
Keajaiban terjadi, di dalam pikiran Kaja Nampak bersinar. Dia merasakan
pergerakan apapun di tubuh Rakuta, sedetail mungkin. Semakin berkonsentrasi,
tubuh Rakuta seperti tembus pandang dan dia melihat seluruh sel dan aliran
darah, melihat tulang yang dialiri urat syaraf, melihat gumpalan racun yang
menyebar perlahan.
Noran
sendiri pun kaget melihat hal itu, Tingkatan Anak ini sudah mencapai taraf
menengah Gold Receptarier?
“Kaja
pusatkan energimu, paksa seluruh kabut beracuh keluar melalui luka yang kau
sobek tadi, keluarkan semuanya”
Kaja
mengangguk, dia mengarahkan kedua tangannya, keringat mulai mengucur,
konsentrasi dan serpihan-serpihan racun dia dorong dengan energinya, sedikit
demi sedikit, hingga bersih dan keluar hitam darah dari luka yang digores tadi.
Kaja
kelelahan.
“Terakhir,
gunakan Spirit Recovery Sel.” Noran menjadi penasaran dan ingin melihat
kemampuan cucunya itu, dulu dia sendiri bisa melakukan Recovery Sel setelah
berumur 25 tahun.
Benar
saja, Kaja perlahan melakukannya. Luka bekas sobekan dalam kendali Kaja,
Recovery Sel adalah penyembuhan total dari luka dan membuat regenerasi sel
menjadi fantastis cepat, menyatukan sel-sel rusak, dan mengganti jadi sel-sel
baru dalam waktu singkat. Luka Rakuta sembuh total seolah tak pernah ada luka.
Noran hanya bisa berdecak kagum dalam hatinya, Luar Biasa!
“Terimakasih
Manusia, Siapa namamu?” Rakuta berdiri dengan gagahnya.
“Kaja.
Dan ini Kakekku, Noran.”
Bajra
si Rakuta pun berpamitan, suatu hari dia akan membalas budi pada Kaja dan Kaja
pun tersenyum padanya.
Hari
mendekati petang, Noran yang beberapa saat mengajari kembali tentang pengobatan
menyuling tanaman herbal hingga klasifikasi setiap tanaman. Noran mengajak Kaja
pulang, hari yang cukup melelahkan bagi Kaja, energinya sudah diluapkan namun
dia terlihat bahagia bisa mengobati Rakuta. Dia tahu, Rakuta bukanlah Iblis
seperti banyak dibicarakan orang, bahkan oranglah yang bisa disebut iblis
karena memburu Rakuta demi mendapatkan kekuatan besar.
*
* * * *
Malam
itu, langit terlihat cerah dan bintang bertebaran di langit.
Noran
berada didekat Kaja yang sudah tertidur lelah sekali. Senyuman indah terukir di
bibir Noran, Entah sampai kapan aku dapat
menemanimu Kaja
Tuutt
Tuuut Tuuutt Tuuttt Tuuuutt Tuuuutt
Suara
dari mesin lawas itu mesin puluhan tahun yang lalu berbentuk kotak. Sebuah
mesin pesan yang sudah ketinggalan zaman namun masih memiliki sistem energi di
dalamnya.
Tidak mungkin, apakah
ini waktunya. Atau jangan-jangan ada info penting?
Noran
mendekati sebuah kotak rahasia di atas lemari, mesin pesan berukuran handphone
itu menyala. Noran membacanya.
WAKTUMU
3 HARI, BERGEGASLAH PERGI. TEMAN LAMAMU.
Noran
membelalakkan matanya, sudah waktunya aku
pergi. Noran melihat Kaja yang masih terlelap.
Tak kusangka, sebatas
ini aku bisa melindungimu. Sisanya, biar kau jalani hidupmu sesuai takdir yang
akan membawamu serta. Kau memiliki takdirmu sendiri, jika kau kuat kau akan
bertahan dan menemukan jalanmu sendiri.
Noran
mematikan mesin pesan kecil itu, mendekati Kaja dan menjulurkan tangan kanannya
di atas kepala Kaja, ada cahaya di tangan tersebut dan seolah masuk ke kepala
Kaja.
Aku hanya bisa
memberikan sedikit aura kepadamu, sisanya kau sudah berlatih selama ini dan
semua tergantung padamu dan takdir Tuhan.
Sudah waktunya kita
berpisah Kaja
Not Comments Yet "Chapter 1, Kaja! Sudah Waktunya"
Posting Komentar