”Bagaimana anakku?
Bukankah kau juga pusing?”
Aku mencoba
mengembalikan semuanya pada Allah. Apakah ini keputusanMu ya Allah? Kau berikan
surat cinta dari Ibu dan Adik-adikku. Mereka telah dapat mandiri, adikku,
Yasmin telah menjadi seorang Penulis, adikku Fajar menyanyikan lagu-lagu
nasheed. Dan Ibuku dia memintaku untuk segera menikah, lalu Ustadz Umair
memintaku untuk menikahi puterinya. Kemarin juga aku telah dikarunia nikmat
berupa pekerjaan. Apakah ini petunjukMu ya Allah?
Pak Salim yang akan
mengatakan pada adiknya, wanita yang memakai cincin bulan itu. Persahabatan
itu? Aku harus merelakannya. Allah sudah memberi jalanNya, aku akan mengambil
jalan cinta padaNya. Bukankah dengan cinta sejati kita akan menemukan sahabat
sejati? Jika memilih, maka aku memilih cinta. Persahabatan dapat hilang, tapi
cinta akan selalu menemani selamanya, dia akan terus hidup di hati.
”Bagaimana Ali, jika
kau tak mau tidak masalah. Aku akan mencari orang lain,” nada Ustadz Umair
nampak tenang.
”Bolehkah aku
menghubungi keluargaku dulu di kampung Tadz?”
”Silakan. Menikah
bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan
tergesa-gesa. Karena umurnya tidaklah sehari, satu bulan atau setahun tapi
selamanya bahkan hingga di akhirat kelak.”
Aku mengambil Hp
bututku, kupilih nomor Yasmin yang pagi tadi kuterima dari suratnya. Aku
menghubunginya. Nada sambung, ”Tuut...tuut,” seolah berpacu dengan getaran dan
deguban jantungku. Ustadz Umair tenang menatapku.
Sebuah suara lembut
menyapa salam. Yasmin. Di malam hening, aku menjawab salamnya.
”Enten nopo malam-malam telepon Kak?”
”Tadi hendak Qiyamul layl jam tiga, tapi ini jam satu
kakak udah bangunin. O ya, ada apa Kak?”
Aku lalu menceritakan
semua keadaanku. Terjepit tapi mengasyikkan, aku sedikit bercanda dengan
adikku. Ustadz Umair seolah penasaran dan menunggu-nungguku. Adikku
kadang-kadang tertawa, dan lalu nadanya serius.
”Insyaallah Yasmin sangat setuju apa yang menurut Kakak baik, Yasmin
juga akan mengatakan baik. Tapi sebentar ya Kak, Yasmin akan berbicara sejenak
dengan Ibu dan kak Fajar.”
”Ok adikku. Aku tunggu
segera,” hubungan terputus.
Aku kembali menatap
Ustadz, dia menatapku kembali.
”Saya akan segera
memutuskannya Tadz, setelah Ibuku memberikan ridhanya padaku untuk melangkah.
Menunggu detak jarum
detik yang terus berputar, seirama dengan denyut nadi, setara dengan deguban
jantung, seimbang dengan larikan napas, semua bertasbih menunggu segala
keputusan Allah ’Azza wa Jalla.
Setelah lima menit Hp-ku menjerit. Sms.
”Ibu sangat setuju, Ibu
ingin segera menimang cucu. Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu.
Terima saja, Ibu sangat setuju. Fajar Insyaallah merestui, kami mendukungmu.”
Aku tersenyum, ”Tadz,”
aku menatapnya. Kini aku mantap, ”Bismillaahirrahmaanirrahim,
saya siap menikah dengan puteri bungsu Bapak.”
Ustadz Umair kembali
tersenyum, ”Tapi ada syaratnya Ali.”
”Apa lagi Tadz?”
”Aku sangat tahu
seleramu, maka syaratnya kau tidak boleh melihat isterimu dulu hingga zafaf,
aku takut engkau berubah pikiran ketika melihat wajah puteri bungsuku.”
Kini aku yang terdiam.
Aku mencoba meraba hatiku, kembali kuingat sms dari Ibu, ”Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu.” Allah. Mantapkanlah
langkahku dalam meniti jalanMu, ”Saya siap Ustadz, semoga Allah meridhainya.
Saya akan menerima syarat Ustadz, tapi saya juga mempunyai satu syarat,”
kulihat perubahan air muka Ustadz Umair.
”Apa itu Ali?”
”Ustadz harus mulai
mengupayakan cinta kepada istri Ustadz, alangkah menderitanya seorang isteri
yang melayani suami dan anak-anaknya, tanpa mendapatkan cinta dari suaminya?
Ustadz harus memenuhinya,” Ustadz Umair manggut-manggut, airmatanya menetes di
pipinya. Dia mencium keningku, ”Aku tak salah pilih memilihkanmu untuk anakku,
Ali.”
”Tapi aku hanya orang
desa yang miskin harta Ustadz,” aku teringat kembali statusku. Aku tak mau ada
kecewa di belakang.
Mata Ustadz Umair
menatapku, ”Kau pikir Ali bin Abi Thalib lebih kaya darimu pada saat menikahi
Fatimah? Kau pikir anakku hanya akan kau beri makan? Dia hanya membutuhkan keimanan
dan ketaqwaan seorang suami yang akan membimbingnya.”
Aku menundukkan
kepalaku, ”Maafkan saya Ustadz.”
Ustadz Umair memegang
pundakku pelan, ”Jadi, kamu mau berubah pikiran?”
”Tidak Tadz, Insyaallah saya siap menikah. Bukankah
Allah yang memberi rizki pada hamba-hambaNya. Bukan saya, tugasku hanyalah
berusaha,” kulihat ada senyum secerah mentari dari sudut bibirnya.
Kami sedikit
berbincang tentang calon isteriku. Dia adalah mahasiswa UI juga, tapi Ustadz
Umair lupa konsentrasi yang diambilnya. Calon isteriku adalah penulis, beberapa
karyanya telah terbit, diantaranya sebuah novel yang begitu disukai Ustadz
Umair adalah novel berjudul, ”Kudus
Gelombang Cinta,” yang menceritakan ketegaran seorang lelaki yang merawat
anaknya seorang diri, setelah isterinya meninggal dunia. Gelombang-gelombang
kedukaan dihadapi dengan cintanya yang besar pada anaknya. Dia tidak ingin
menikah lagi, untuk mengabdikan dirinya pada anaknya. Ternyata buku itu juga
pernah kubaca. Aku beruntung akan mendapatkan seorang isteri Penulis. Cerita
itupun selalu mengingatkanku akan almarhum Bapak.
Ustadz Umair merasa
bahwa cerita itu ditujukan padanya, yang kurang memerhatikan anak-anaknya,
namun cintanya amat melekat dari kejauhan. Betapa hati ingin dekat tapi cinta
yang menghalangi.
”Semua telah diatur
Allah. Kini, puteriku telah menyelesaikan skripsinya. Dia sekarang berada di
Pesantren ini, menginap di salah satu rumah Ustadz. Setelah Maghrib tadi dia
kesini. Di rumah Ustadz Wahid. Aku akan menikahkanmu saat ini juga. Bersiaplah,
aku akan memanggil para santri yang lain,” kini aku yang melongo, benar-benar
Ustadz Umair ini. Dia berlalu.
”Tapi Tadz,” beliau
menengok kembali, ”Aku tidak mempunyai uang banyak untuk maharnya?”
”Kau tidak usah
khawatir Ali, ada seorang jama’ah yang telah menyediakan mas kawin untuk
pernikahanmu. Kalung emas seberat 100
gram.”
Aku kaget, ”Siapa dia
Ustadz?”
”Pak Purwiro, dia
merasa harus memberi hadiah kepadamu. Dia sebenarnya ingin menikahkan anaknya
padamu, tapi Allah berkehendak lain sehingga dia ingin agar bisa membantumu,
dalam menyediakan mas kawin untuk isterimu. Bersiap-siaplah!” Ustadz Umair
berlalu. Aku terdiam tak dapat berkata apa-apa. Allah, alangkah dekatnya Engkau. Betapa cepat doa hambaMu Kau kabulkan.
Mataku gerimis.
Aku menulis pesan
singkat di Hp-ku untuk keluarga di rumah. Mereka pasti kaget bukan main, ”Aku menikah saat ini juga, segeralah ke
Depok. Aku mencintai kalian.”
Beberapa santri datang
dan tersenyum kearahku, Syahid masih mengucek-ucek matanya. Dia pasti belum
tahu apa yang terjadi. Ketika kutanya dia hanya bilang dibangunkan untuk segera
ke Masjid, segera. Sebuah sms masuk.
”Masyaallah, secepat itu Ibu akan mendapatkan bidadari?? Kami
bersiap-siap sekarang berangkat, mungkin besok sore baru sampai. Semoga kau
diridhai Allah anakku.” aku semakin mantap melangkah.
Ustadz Umair datang.
Para santri sekitar dua puluh orang,
yang lain mungkin masih terlelap. Aqad mendayu mantap, ijab qabul
terucap. Nama isteriku baru kuketahui lengkapnya, ”Zahra Mutaqwiati” Aku telah
mendapatkan ketentraman jiwa. Ustadz Umair memelukku erat. Ustadz Wahid juga
tersenyum menatapku. Lantunan doa, ”Barakallahulaka
wabaraka ’alaiku wajama’abainakuma fikhoiri.” aku diantar Ustadz Umair
menuju rumah Ustadz Wahid. Calon isteriku menginap disana. Pak Purwiro memelukku
kuat, ”Aku mencintaimu anakku, semoga
isterimu, ilmu, hartamu berkah bagimu,” aku mengamininya.
Di depan kamar
pengantin. Ustadz Umair menepuk punggungku agak kuat, ”Masuklah, dan jangan
mengecewakanku,” senyumnya mengiringi deraian airmata, dia mengusapnya. Dia
meninggalkanku.
Aku bingung. Tanganku
gemetaran mengetuk pintu pelan, kuucapkan salam. Sebuah suara lembut menjawab
salam.
”Masuklah suamiku,
pintunya tidak dikunci,” aku membuka pintu itu perlahan. Seorang wanita
membelakangiku. Mukena putih bersih masih dipakainya. Aku menutup pintu
perlahan. Kamar itu sederhana, hiasannya belumlah sempurna. Hanya ada beberapa
bunga di taruh di meja kayu, dan rak buku yang luas. Banyak buku-buku baru
dipajang disana.
Dadaku gemetaran,
kuraba agar tak lepas jantungku. Sekamar dengan seorang wanita yang tak
kukenal? Dia bidadariku? Tapi wajahnya belum kuketahui. Aku duduk
dibelakangnya, ikut membelakanginya.
”Berbaliklah isteriku,
biarkan aku melihat wajahmu,” jujur dadaku tak kuat lagi kutahan. Rasa
penasaran dan ingin tahu berpacu dalam setiap aliran darahku. Seperti apa wajah
isteriku? Apakah Ustadz Umair akan rela menjerumuskanku? Tapi aku yakin dengan
Allah yang tak akan mendzalimi hambaNya.
”Bersabarlah suamiku.
Terangkanlah kepadaku, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai dari seseorang
agar aku dapat mentaatimu,” suaranya yang lembut telah menggetarkan seluruh
jiwaku.
”Aku..., menyukai
orang yang sedikit bicara. Dia hanya berbicara jika bermanfaat, aku ingin kau
tidak terbahak-bahak jika tertawa, aku ingin kau mengerti keadaanku yang orang
miskin harta ini, aku ingin kau menerima cinta Ibuku dan adik-adikku, dan satu
hal lagi.”
”Apa itu Suamiku, kini
sepenuhnya aku berada di kuasamu.”
”Isteriku harus
menerima resiko menikah denganku, dia harus merelakanku dengan ikhlas jika aku
pergi untuk urusan Allah, berdakwah untukNya,”
”Insyaallah, adik akan mengusahakan itu semua.” keheningan
menyelimuti kamar zafaf itu.
”Sekarang maukah kau
membuka tabirmu isteriku?”
”Baiklah, tapi
pejamkan dulu matamu suamiku,” aku yang duduk di pinggir ranjang empuk itu
memejamkan mata. Sebuah gerakan lembut, tangan kananku disentuhnya dan kecupan
lembut mendarat di punggung tangan kananku.
”Sekarang bukalah
matamu suamiku,” mataku yang basah memaksa membuka. Aku tertegun, kekagetanku
tergantikan rasa manis memandang wajahnya. Wajah pualam, bibirnya yang lembut,
matanya jernih dan bening. Wajah bersih itu yang dulu pernah kukejar
mengeliling UI, wajah yang dulu kulihat di ruang Fakultas Budaya Sastra. Wanita
yang tadi sore kutemui di rumah pak Salim. Dialah adiknya. Kini, semua
pertanyaan itu mulai terjawab satu-persatu. Siapa Ustadz Umair? Syaikh Wahid?
Lalu Pak Salim? Apakah ini nyata? Dia adalah Mawar. Wanita yang Aku memakai
cincin di jemarinya. Cincin yang pernah di pahat almarhum Bapak. Aku menangis
tersedu. Rahasia takdirMu yang luar biasa ya Allah.
”Apakah aku
menyakitimu suamiku?”
Aku tak menjawabnya.
Aku mengecup ubun-ubunnya, ”Allahumma
innii as aluka khoiri haa wa khoiri maa jabal tahaa ’alaihi,”
kudengar desahan lirih lembut mengamini. Seolah Malaikat berkumpul di
sekeliling kami dan mengamini doaku. Aku kembali meneteskan airmata.
”Isteriku,” wanita
berwajah bersih itu mendongakkan kepalanya padaku, ”Apakah Kakakmu ada yang
bernama Mbak Fatimah?”
”Iya, dia sekarang
berada di Sudan menemani suaminya. Kau kenal dengan dia Suamiku?” wajahnya
nampak teduh. Dia duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
”Ayo kita shalat
dulu,” aku menjentikkan telunjuk jariku tepat di hidungnya. Dia hanya
mengangguk.
Kami khusyuk dalam
sujud panjang itu. Aku membaca Ar-Rahman
dan Al-layl, alangkah mesra dan
hening. Allah menaungi kami dengan cahaya. Para malaikat bertasbih. Aku masih
sesenggukan, kudengar Zahra juga sesenggukan. Saat sholat selesai, Zahra
memelukku dari belakang. Kepalanya menyandar di punggungku. Dia belum tahu apa
yang terjadi dalam hatiku. Yang bergemuruh dalam dadaku.
”Adakah kau mempunyai
seseorang lelaki dalam hatimu selain diriku Isteriku?”
”Ada.”
Aku kaget. ”Siapa
dia?” aku berbalik dan menatapnya. Dia hanya tersenyum.
”Dia Ayahku,” aku
mendesah napas lega. Hatiku kembali penasaran, apakah dia benar Mawar?
”Tiadakah lelaki lain
yang ada di hatimu, yang dia bukan keluargamu?”
Wajahnya berkerut,
seolah memikirkan sesuatu yang sulit, ”Baiklah, tapi Kakak tidak boleh marah
sedikitpun apalagi cemburu pada Zahra. Kakak harus janji.”
”Baiklah, aku janji,”
hatiku penasaran, akankah dia bercerita tentang persahabatan?
”Aku hanya bertemu
dengannya beberapa hari,” dia tersenyum sendiri.
”Kenapa tersenyum?”
”Dia sangat lucu,”
Zahra kembali tersenyum.
”Sangat lucu?”
”Kakak janji tak akan
marah dan cemburu. Ingat itu?” aku hanya mengangguk.
”Aku bertemu dengannya
saat aku masih kecil. Waktu itu aku menemani kakakku Fatimah di salah satu desa
di Lampung. Saat itu aku masih sangat nakal, kenakalanku membuat Umi menyerah
apalagi kakak-kakakku. Sahabat kecilku yang lucu itu bernama Ihsan,” saat itu
dadaku bergetar hebat, mataku kembali gerimis. Dia benar-benar tidak tahu,
siapa suaminya saat ini.
”Kau menangis suamiku?
Apakah aku membuatmu cemburu?”
”Tidak Dik.
Teruskanlah ceritamu aku ingin mendengarnya.”
”Dia yang merubah
hidupku. Aku tak ingin menjadi anak nakal lagi. Dia yang mengubahku, aku
berjanji akan selalu menjadi sahabatnya. Kami melewati waktu beberapa hari
semasa kecil itu dengan keceriaan,” dia terus bercerita tentang Ihsan. Kadang
tawa kami berdua bersamaan, betapa lucunya Ihsan kecil itu.
”Saat itu aku
benar-benar marah padanya, dia ingin menjadi sahabatku hanya karena hadiah
coklat dari mbak Fatimah. Tapi, kusadari dari keberaniannya menaiki sepedanya
mengejarku ketika pulang hingga dia menyusuri tebing dan terjatuh di aspal.
Airmataku saat itu menetes. Aku berjanji dalam hati, tak akan mengecewakan
persahabatan itu,” kulihat airmatanya sembab.
”Isteriku..., apakah
kau pernah bertemu dengan Ihsan itu setelah itu?”
”Belum pernah, tapi
setidaknya aku selalu berdoa pada Allah untuk bertemu dengannya, dan meminta
maaf karena aku meninggalkannya saat dia mengantarku,” aku memeluknya. Dialah
yang selama ini kucari, tapi Engkau menentukan caranya ya Allah. Aku memeluknya
erat, entah apa lagi yang akan kuingkari dari kuasaMu Allah. Aku merasa Kau
begitu menyayangiku.
”Dik..., ayo
kutunjukkan sesuatu padamu,” aku mendirikannya dan menarik pergelangan
tangannya ke jendela. Kubuka perlahan, sinar bulan yang tak purnama tepat
menyorot dengan indah di langit utara, dia telah condong.
Aku
mengangkat kedua tanganku ke depan, menyatukan telunjuk kanan dan telunjuk kiri
dan ibu jari dengan ibu jari ke luar jendela. Mirip bentuk lingkaran tak
sempurna namun juga segitiga tak sempurna, aku me-ngeker rembulan tak penuh dan memasukkankanya dalam lubang
jemariku, ”Lihatlah Dik, kau ingat? Lihatlah rembulan itu dari tanganku.”
Zahra
menyandarkan kepalanya di pundakku, ”Sangat indah suamiku, menatap wajah bulan
yang terus menyapa bumi dengan cahayanya. Kau sangat romantis suamiku.”
Hatiku
sedikit jengkel, dia belum sadar juga, ”Aku punya sebuah puisi untukmu
isteriku, maukah kau mendengarnya?”
”Aku
sangat menyukai sastra, aku Penulis, pasti aku tahu mana syair yang bermutu dan
tidak. Bacakanlah untukku suamiku.”
”Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang
menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya”
”Syairmu sangat lembut dan menyentuh suamiku, syair-syairku pun bisa
kalah,” dia bermanja ria di pundakku. Hatiku semakin penasaran. Dia pura-pura
tak tahu atau memang tidak tahu? Bukankah puisi itu darinya?
”Bolehkah aku bertanya, tapi kau harus menjawabnya jujur isteriku,”
”Aku akan selalu jujur padamu suamiku, kaulah imamku.”
Aku memegang kedua pipinya,
wajah kami begitu dekat berpandangan. Kutatap bening matanya dalam-dalam,
”Kenapa kau memakai nama Mawar, ketika kau berteman dengan Ihsan?”
Kulihat kekagetan dari wajahnya. Matanya yang bening lembut menatapku,
”Da.. dari mana Kakak mengetahuinya. Tidak ada yang tahu tentang itu
kecuali...,”
”Iya isteriku, akulah Ihsan. Sahabatmu..., sahabatmu ketika kecil.
Sahabat dari sebuah desa yang kau tinggalkan bersama hilangnya Mawar,” kami
saling berpandangan lama.
Bibir Zahra bergetar, ”Kau Ihsan...,” aku mengangguk. Dia memelukku
erat, tangisnya pecah. Isaknya memenuhi ruangan kamar, tasbih bergetar di setiap
detak napas kami. Beriringan dengan kesyukuran. Zahra masih betah menangis di
pelukanku, di depan jendela yang terbuka. Bulan malu-malu menatap kami.
”Kau jahat sahabatku..., kau jahat,” sesenggukannya memiris hatiku.
”Kau tahu Dik, Allah mengatur pertemuan ini begitu indah. Dulu..., kau
ingat, aku pernah menciummu dan kau marah lalu memukulku. Sekarang..., bolehkan
aku menciummu?” wajahnya bersemu merah, airmatanya masih menetes. Dia
memejamkan matanya. Aku menatapnya lama, wajahnya putih sangat beda ketika
kecilnya dulu. Bibirnya yang merekah bagaikan mawar yang masih merah ranum,
lentik matanya begitu lembut. Aku ingat sebuah hadits;
”Sesungguhnya
seorang suami yang memandang isterinya dan isterinya pun memandangnya (dengan
syahwat); maka Allah akan memandang kedua insah itu dengan pandangan rahmat.
Dan saat ia memegang telapak tangan isterinya maka dosa-dosa kedua insan itu
berjatuhan dari sela jemari-jemarinya.”
Aku menyatukan tanganku dengannya, kutelusuri sela-sela jemarinya. Agar
dosa-dosa kami berjatuhan, Insyaallah. Aku melepaskan tanganku dari
jemarinya, Zahra masih menutup matanya. Seolah dia menunggu aku menciumnya,
tanganku beralih memegang kepalanya dan mengucek-ucek telekungnya, ”Dasar gadis
nakal.”
Dia membuka mata dan balas mengucek rambutku. Kami tersenyum bersama,
ada kebahagiaan yang ingin ditumpahkan, teringat kembali wajah kecilnya dulu
ketika bersama almarhum Bapak, memukul-mukulkan tangkai padi ke sabetan.
”Ini balasan karena Adik dulu memukulku tiga kali kali,” aku mengambil
bantal dan melemparnya, dia pun membalasnya. Suara sedikit gaduh. Seseorang
mengetuk pintu.
”Ali..., kalian tidak apa-apa,” suara Ustadz Wahid.
Isteriku membalas, ”Tidak apa-apa ’Ammu, biasa pasangan
pengantin, butuh penyesuaian,” suaranya nyaring. Dasar. Aku sendiri tak habis
pikir, semua yang menimpaku tanpa bisa kuperkirakan. Allah-lah yang menciptakan
segala rekayasa indah ini.
”Segala sesuatu
selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal;
yaitu seorang suami yang mencandai isterinya, seseorang yang melatih kudanya,
seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panah), dan seseorang yang berlatih
perang.”
Malam itu, pukul 02.30. Kami bercerita tentang perjalanan kami setelah
berpisah belasan tahun yang lalu. Ternyata semua jelas. Siapa Ustadz Umair,
siapa Syaikh Wahid yang ternyata adiknya yang telah diceritakan Ustadz Umair.
Perihal cincin bulan itu ternyata sejak kecil telah diambil Kakak kembarnya,
Wardah. Tanpa izin, setelah dia menikah lalu mengembalikan cincin itu dan menceritakan
bahwa dia mengambilnya sewaktu kecil dulu.
Satu hal yang masih mengganjal dalam jiwaku.
”Dik, lalu kenapa ketika kubacakan puisiku tadi kau tidak sadar kalau
aku adalah Ihsan? Bukankah kau menuliskannya untukku sewaktu kau akan pergi
dulu?”
”Tidak. Aku hanya menuliskan surat perpisahan saja.”
Aku membuka dompetku, walau dompetku sudah pernah ganti, tapi surat
yang kusimpan sejak kecil itu tak pernah kubuang. Aku menyodorkan surat itu,
istriku membacanya.
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
Ihsan Sahabatku
Perpisahan memang akan menyakitkan kita,
tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik
kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi
menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin
kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri
persahabatan, membelai heningnya kesepian.
Engkau adalah sahabatku yang telah
menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan
yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan
berusaha menjadi sahabatmu.
Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang
menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya
Ihsan! Aku menunggumu di Universitas
Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada
keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu
denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan
siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya padaku, ”Aku tak pernah menuliskan
itu suamiku. Sungguh. Berarti Mbak Ningsihlah yang menulis itu.”
Kami merasa semua telah diatur oleh Allah, jodoh, rizki, mati, telah
diatur oleh Allah. Kami menikmati takdir Allah dengan penuh kesyukuran. Zahra
kecil mengatakan namanya Mawar, karena dia sangat membenci pada Kakaknya Wardah
yang selalu mendapatkan perhatian lebih darinya. Bukankah Wardah artinya Mawar
dan Zahra adalah bunga?
”Bagaimana kalau kubuatkan masakan?”
Aku berpikir sejenak, ”Boleh, tapi jangan lama-lama ya Dik,” dia
menyilangkan jarinya di kening kanannya. Mirip tentara yang siap menjalankan
tugas. Senyumnya sangat menawan, dia keluar dengan mukena yang masih
dikenakannya. Memang tidak lama, hanya lima belas menit tapi serasa ribuan
tahun aku menunggunya.
Dia
mendekat kepadaku sambil tersenyum, dan meletakkan mangkuk sayur di meja rias,
“Kak, maaf kalau masakannya kurang sesuai dengan lidah kakak. Aku belajar
memasak dari restoran-restoran Abi belumlah lama,” dia tertunduk pelan, aku
sempatkan sebelum makan mengecup keningnya, dan wajahnya kulihat memerah.
Aromanya membangkitkan seleraku, semerbak. Masakan yang belum pernah kulihat,
telur yang diberi kuah. Kuambil sendok dan kubuka telur itu, isinya daging
cincang.
Aku
mencicipi kuahnya, masih hangat. Lezat. Kulihat Zahra begitu tegang melihatku
makan sehingga aku menyuapinya pula. Setelah selesai makan bersama.
“Bagaimana
rasanya Suamiku?” kulihat raut mukanya seperti terdakwa yang menunggu vonis
hakim dengan berdebar-debar.
“Masakanmu
terlalu pedas, padahal aku paling tidak suka rasa pedas, dan jika sudah
kepedasan biasanya akan sembuh lama mungkin dua hari. Tapi tidak apa-apa,
masakan Dinda begitu nikmat apalagi dicampur dengan bumbu cinta,” jujur kuakui
bahwa masakannya sebenarnya tidak kurang susuatu apapun. Aku ingin mencandainya
saja.
Waktu
menunjukkan pukul 03.00. aku mengajaknya shalat malam. Dia mengangguk. Wajahnya
tampak sedikit murung, biarlah sedikit kukerjai. Insyaallah besok ba’da
subuh aku akan memuji masakannya. Untuk saat ini, aku ingin tertawa tapi
kutahan. Alangkah kecewanya dia bersusah payah memasak? Tapi, kulihat lagi
wajahnya yang murung, aku tak tega. Insyaallah
nanti sesudah shalat akan kupuji dia.
Sesudah shalat, aku merasa lelah. Hari ini aku belum sempat istirahat tidur. Mataku tak kuasa ingin memejam.
”Sahabatku,”
aku menatapnya, ketika bibirnya mencium punggung tanganku.
”Ada apa
Kak,” kulihat senyumnya seolah dipaksakan.
”Bolehkah
aku tidur di pangkuanmu, aku ingin sejenak tidur, menunggu adzan subuh. Aku
belum tidur sejenakpun hari ini,” kepalanya mengangguk. Aku merebahkan kepalaku
di pangkuannya. Aku berdoa. Zahra membelai rambutku hingga aku terlelap. Seolah
terbang ke alam nirwana, semua hal adalah cahaya dan semua cahaya adalah
kesejukan, dan setiap kesejukan akan bermuara kepada kesejatian.
Tiada kusangka kata-kataku, benar-benar diingatnya
sepanjang malam itu aku kelelahan dan tidur. Ketika pagi beranjak aku,
merasakan seperti percikan air yang membasahi wajahku ketika mataku masih
terpejam, aku mengira bahwa Zahra pasti membangunkanku untuk shalat subuh
dengan memerciki air.
Not Comments Yet "Part 34, Antara Persahabatan dan Cinta"
Posting Komentar