September
2007, Jum’at.
Samar,
Farid mendekatiku, ketika aku baru pulang dari kampus. Dia tergesa mendekatiku.
Hari ini mata kuliah hanya satu, sehingga aku dapat pulang lebih awal. Farid
mengucapkan salam dan menyalamiku, sorot matanya seolah menginginkan sebuah
bantuan.
”Ada apa Rid? Tumben,
tidak seperti biasanya.”
”Daripada lupa, ketika
melihatmu masuk gerbang aku langsung mendatangimu,” matanya menatap tanah
sejenak, lalu kembali menatapku, ”Begini Ali, tadi aku bertemu Syaikh Umair.
Dia memintamu menggantikan Dr. Ramadhan Al Buthi mengisi kajian besok ahad,
karena beliau besok tidak bisa mengisi karena alasan yang mendadak.”
Aku pamitan dengan
Farid, sambil mengucapkan terima kasih atas infonya. Aku menuju ke masjid.
Biasanya dhuha, Ustadz Umair disana. Menggantikan seorang pemikir Islam dari Mesir itu? Kutahu dia
sahabat baik Ustadz Umair sewaktu kuliah di Mesir. Kutahu itu dari Ustadz
Wahid. Mana bisa aku menggantikan orang yang kukagumi karena
pemikiran-pemikirannya? Buku-bukunya pun menjadi referensiku, diantaranya buku,
Islam Funding yang membahas masalah islam tradisional dan modernis atau
buku Kajian ilmiah Sirah Nabawiyah yang telah cetak berulang-ulang. Dan
aku? Seseorang yang masih mencari nilai ketulusan dan keikhlasan, seseorang
yang baru mulai merasakan manisnya iman.
Ustadz duduk di
samping Masjid, di sebelah kolam ikan. Aku mengucapkan salam dan mendekatinya.
Dia mempersilakanku duduk di sebelahnya, matanya lalu menatap ikan yang
lalu-lalang ke atas permukaan. Beberapa lama, kami hanya terdiam memerhatikan
ikan yang terlihat riang. Aku belum berani memulai.
”Farid sudah
menyampaikan padamu, tentang kajian ahad esok pagi di Masjid Ukhuwah
Islamiyah?” aku mengiyakannya.
”Tapi Tadz..., kenapa
harus saya. Bukankah...,”ucapanku terhenti demi melihat senyum simpulnya. Tak
tahu aku, apa maknanya.
”Banyak hal yang
terjadi di dunia ini, baik karena ada alasan atau tidak. Besok, sahabatku tidak
bisa datang karena suatu alasan. Undangan telah tersebar, dan aku tsiqah
padamu anakku. Kurasa itu sudah cukup menjadi alasan bukan?”
”Tapi Ustadz tahu
sendiri kemampuan saya, dan acaranya ahad. Saya khawatir kurang maksimal Tadz.”
”Bukankah kamu sendiri
yang sering nekat dalam melakukan banyak
hal. Jika untuk melakukan kejahatan banyak orang nekat, kenapa tidak mau nekat
dalam melakukan kebaikan? Sudahlah, besok aku akan datang kesana, dan engkau
harus menggantikan sahabatku mengisi kajian. Materinya kuserahkan semuanya
kepadamu,” Ustadz Umair berdiri lalu mengambil sandalnya, dan pergi
meninggalkanku yang masih kebingungan. Walau begitu aku segera menyusulnya,
karena waktu shalat jum’at sebentar lagi tiba.
* *
*
Syahid sedari tadi
mengajakku berangkat, padahal acaranya masih satu jam lagi. Akhirnya karena
terlalu lama, dia berangkat duluan. Benar juga kata Ustadz Umair, untuk
kejahatan saja banyak orang nekat, kenapa untuk kebaikan aku tak berani nekat?
Kumantapkan langkahku, kusimpan sorban dalam tasku. Kumulai dengan Bismillah, kuniatkan untukMu ya Allah, tidak untuk Ustadz Umair, tidak untuk
popularitas, hanyalah untukMu ya Allah.
Setelah shalat dhuha,
kuambil topi pemberian Bapak untuk menghalangi panas matahari. Minggu yang
teduh, seteduh hatiku. Masih kuingat, surat dari Aisyah. Ternyata Fadli membuka
lemari kakaknya dan menemukan amplop itu, di depan amplop itu memang tertulis
Untuk Ali Sahabatku, maka tanpa pikir panjang Fadli langsung memberikannya
kepadaku, tanpa sepengetahuan Kakaknya. Kuminta mengembalikan surat itu ke
tempatnya, dan jangan menceritakannya pada Aisyah, aku takut dia menjadi serba
salah. Biarlah, toh setelah beberapa bulan tidak ada masalah lagi, kurasa
semuanya telah membaik. Semoga.
Aku naik bikun langsung menuju Masjid Ukhuwah
Islamiyah. Saat kulangkahkan kakiku mendekati Masjid, kakiku agak gemetar
berjalan. Begitu banyak orang. Kembali kutata niatku. Saat langkahku mendekati
undakan masjid, mataku sejenak melihat Aisyah dengan jilbab hitamnya. Kami
sama-sama menundukkan pandangan. Kulihat dia langsung memutar arah ke tempat
samping, tempat para akhwat yang disekat dengan papan pembatas. Kuteruskan
langkahku. Allah, tetapkan hatiku..., tetapkan hatiku..., kuingin memurnikan
ketaatan hanya kepadaMu. Syahid langsung menghampiriku, dan mengajakku lewat
samping, katanya dia diminta Ustadz Umair menungguku di luar.
Aku lewat samping bersama Syahid. Saat melewati beberapa orang kudengar bergumam kasak-kusuk
membicarakan ulama besar Mesir, Dr M. Ramadhan Al Buthy. Aku masuk ke bilik di
samping Masjid, kupakai surban dan kulilitkan mengelilingi peci putihku. Syahid
menungguku di luar bilik.
Aku dan Syahid duduk
di deretan depan, karena masuk dari bilik di samping depan Masjid. Ustadz Umair
tersenyum kearahku, aku membalas senyumnya. Kulihat Ustadz membisikkan kepada
salah satu kakak tingkatku di pondok, lalu Santri itu berdiri dan memulai
acara. Saat inti, MC menginformasikan kalau DR M Ramadhan Al-Buthy tidak bisa
hadir, karena suatu halangan. Beberapa jama’ah sedikit terdengar gaduh, namun
segera tenang kembali. Saat namaku disebutkan menggantikan materi, hatiku
berdetak cepat. Aku mantap melangkah, Allah..., kemulyaan apa yang kau berikan
kepadaku, sehingga aku dapat berbicara di hadapan ribuan manusia yang ingin
mendekatkan dirinya kepadaMu?
Beberapa orang masih
risuh terdengar. Kutatap sejenak banyaknya manusia yang ingin mendengarkan
ujaranku. Aku mengucapkan salam dan tak terasa aku terisak lirih. Semuanya
hening mendengarkan isak lirihku, menunggu kata-kata dariku.
”Alhamdulillah. Ya
Allah, milikMulah segala puji, Engkaulah pemilik langit, bumi dan segala
isinya. Dan milikMu segala puji, Engkaulah cahaya di langit, di bumi dan
diantara keduanya. Dan milikMu segala puji, Engkau adalah benar, janjiMu benar,
pertemuan denganMu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu
benar, Muhammad saw itu benar, dan kiamat itu benar.
Ya Allah,
kepadaMulah kami berserah diri, denganMu kami bergantung, kepadaMulah kami
beriman, karenaMu kami berdebat, denganMu kami berhukum, ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan
datang, yang tampak atau yang rahasia, Engkaulah yang awal dan yang akhir,
tiada Tuhan selain Engkau.” Aku merasa bahagia sekaligus bersedih.
Bahagiaku karena saya diperkenankan Allah berbicara di depan manusia yang
dimulyakan oleh Allah, dan sedihku karena belum tentu saya di akhirat nanti
dikumpulkan bersama orang-orang yang beriman, ataukah akan digabungkan dengan
golongan yang zalim, ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
”
Suatu hari, mungkin
setiap pagi kita mengatakan, ”Aku adalah orang baik dan selalu berbuat baik,
tiada yang menyamai banyaknya amalku. Aku telah beramal ini dan itu. Di saat
kawan-kawanku tertipu dunia, aku telah menjadi orang mulia.” berhati-hatilah
saudaraku, waspadalah akan diri sendiri. Cucu Rasulullah saw, Zainal Abidin
rahimallah, bisa mempelajari ilmu ikhlas selama empat puluh tahun belajar
mendalaminya. Lalu, apa yang kita sombongkan dengan amal kita? Apakah kita
yakin, setiap amal kita ikhlas dan diridhai Allah ’Azza wa Jalla? Bukankah Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang
bertakwa?
Kita menyadari. Tak
setetes pun susu yang diperah, bercampur dengan darah atau tahi, padahal
letaknya antara tahi dan darah. Susu itu segar dan murni, seperti itulah amal
yang diterima Allah, dia tulus dan
ikhlas. Maka, mari berusaha dan berkata, ”amal ini tidak untuk siapapun kecuali
Engkau, wahai Allah. Sejernih susu.” mari kita ingat firman Allah, ”katakanlah,
’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku...”
kita akui bahwa keikhlasan itu berat, seperti yang dikatakan Sahl bin Sa’d
ketika ditanya, ’Apakah yang paling sulit bagi jiwa?’ jawabnya adalah, ’Ikhlas.’
Sufyan Ats-Tsauri rahimallah berkata, ”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang
lebih berat dari niatku.”
Pertanyaan ringan
untuk kita, apakah kita mampu untuk ikhlas? Apakah tingkatan ikhlas yang paling
mendasar? Bagaimana kita dapat menggapainya?
Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya
semua amal itu dengan niat, Inna mal a’malu binniy yat. Dan sesungguhnya bagi
setiap orang (balasannya) apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya
karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan RasulNya. Dan
barang siapa hijrahnya karena dunia atau wanita, maka hijrahnya itu untuk apa
yang ia berhijrah karenanya.”
Maka Saudaraku, ketika kita memulai amal, perhatikanlah niat. Carilah niat yang
baik karena berapa banyak amal kecil
tapi ganjarannya dilipatgandakan karena niat. Ketika berinfak, hati kita
merasakan rindu kepada Allah ’Azza wa
Jalla. Saudaraku, marilah belajar dan membiasakan niat yang baik. Saat
makan, minum, pergi ke toilet, mencuci pakaian dan piring, saat ke masjid,
tidur kita, karena seluruh kehidupan kita untuk Allah semata. Janganlah kita
melakukan sesuatu tanpa didasari niat untuk Allah.
Berhati-hatilah dengan
ibadah kita, saat kita terbiasa dan tak memperbarui niat. Bisa jadi ibadah
menjadi rutinitas yang kering akan keikhlasan, sekedar menyelesaikan kewajiban.
Mungkin kita menemukan orang yang rajin beribadah, lalu dia pergi berjudi, atau
seorang wanita muslimah yang memakai jilbab lalu melepasnya. Na’uudzubillaahi
min dzaalik. Ini adalah kemaksiatan besar. Seandainya bukan dosa besar,
tentu itulah musibah yang membuat Allah sangat marah. Maka mari pelajari niat.
Mari persiapkan niat
ketika melakukan apapun, dan memperbaruinya terus. Lihatlah para pemuda yang terbiasa
shalat berjama’ah di masjid. Hendaknya selalu memperbarui niat sebelum
melakukan shalatnya, Insyaallah niat
akan selalu terjaga dan ikhlas akan terpelihara. Siapa diantara kita, yang
ketika sepuluh tahun lagi masih tetap komitmen dengan keimanan? Siapa yang akan
berpaling? Siapa yang akan bertambah imannya? Semua bisa dimulai dengan niat
yang ikhlas.
Niat dapat mengubah
kebiasaan menjadi ibadah. Niatkan belajar kita untuk mengembalikan kejayaan
Islam, belajar untuk mendapatkan kedudukan lalu menyeru kepada jalan Allah,
atau sudah waktunya muslim memimpin dunia dengan ilmu pengetahuan. Maka, Insyaallah, setiap pandangan mata pada
tiap huruf ilmu, setiap goresan tinta akan menerima pahala. Bukankah Islam
adalah indah? Bagaimana kalau kita berniat menjadi orang kaya? Niatkan harta
kita untuk diinfakkan di jalan Allah. Bukankah berinfak di jalan Allah, lebih
baik dari seribu khutbah? Mari merenung saudaraku, apakah memulai berniat itu
sulit? Demi Allah yang menggenggam jiwaku, ini mudah dilakukan. Untuk sempurna
berikhlas memang berat, tapi berniat dalam kebaikan sangat mungkin dilakukan.
Niat untuk hal yang
tidak bisa kita lakukan, juga tidak pernah sia-sia. Betapa banyak orang yang
berniat haji, dan mengumpulkan uang dengan sungguh-sungguh, tetapi dia tidak
jadi berangkat haji, namun Allah mencatatnya telah mendapatkan haji mabrur.
Betapa banyak orang yang berniat syahid, lalu meninggal di ranjang tapi Allah
mencatatnya syahid sempurna, ”Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah
dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para Syuhada, meskipun
ia mati di atas ranjangnya,
betapa banyak orang yang tidak Qiyamul
layl tapi mendapatkan pahalanya. Karena niat, ”Siapa yang mendatangi
ranjangnya sambil berniat melakukan shalat lail, tetapi ia terserang kantuk
sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan
tapi semua dengan catatan bahwa kita tawakkal kepada Allah.
Para Sahabat
Rasulullah saw, ketika melakukan suatu amal akan membuat banyak niat. Ketika
berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, maka dia berniat shalat berjamaah
dengan banyak keutamaannya, bertemu dengan kawan-kawan yang shalih, mencari
sahabat baru untuk sama-sama melakukan ketaatan, mengambil manfaat dari agama,
aku ke masjid untuk menjauhi maksiat. Dengan kebiasaan niat ini, Insyaallah kita mendapatkan pahala yang
berlipat-lipat.
Adakah agama yang
lebih mulia dari Islam? Bukankah anugrah Allah terbesar adalah niat? Kita
sepakat untuk melakukan amal dengan niat. Pada awalnya mungkin terasa begitu
berat, tetapi setelah itu saudaraku..., kita akan termasuk hamba Allah yang
terbaik, dan mampu meninggalkan semua kemaksiatan. Mengapa? Bukankah kita
paham, betapa beratnya berlaku maksiat jika harus berniat karena Allah ’Azza wa Jalla?
Aku mengakhiri
pengajian itu setelah muhasabah,
beberapa hadirin menangis sesenggukan bersamaku. Beberapa stasiun televisi
meliput pengajian tadi. Dikiranya yang datang DR Ramadhan Al Buthy, tapi mereka
tetap merekam acara ini. Seseorang yang mengaku dari salah satu stasiun TV
swasta, bahkan memintaku untuk mengisi kajian setiap pagi hari, karena materi
yang saya sampaikan amat simpel dan menyentuh. Aku belum memberi keputusan
kepadanya, tapi dia meminta nomor Hp-ku.
Sesudah Dzuhur di
Masjid, aku langsung ke Pasar Minggu lalu mengganti bajuku dan mulai bekerja
lagi. Aku teringat kata-kata Umar bin Khattab, ”Tiada hal yang aku senangi
sesudah berjihad kecuali berbisnis,” bagiku jika pekerjaan itu halal, aku
tak akan malu melakukannya. Bagiku menjadi kuli juga bagian dari bisnis.
Kumulai dengan niat untuk biaya kuliah dan dakwah, Kujadikan pekerjaan sebagai
hiburan agar setiap hal menjadi ringan. Sore hari, seperti biasa aku langsung
pulang, setelah mengganti kaus untuk mengangkat barang di Pasar tadi. Ketika di
gerbang, Syahid sedang masuk pula dari luar bersama Ustadz Wahid, mereka
mendekatiku dan mengucapkan salam. Mereka menyampaikan kritik tentang materiku
tadi pagi, katanya materinya bagus, tapi nada bicaranya masih kurang stabil,
harus banyak belajar, aku menganggukan kepalaku.
”O iya,” Ustadz
merogoh sesuatu dalam tasnya, ”Ini undangan untukmu. Tadi Ilham, Mahasiswa
lulusan S2 Hadits dari Mesir, yang akan menikah besok karena Ustadznya tidak
bisa datang, dan dia meminta tolong agar engkau yang mengisinya. Anta bisa kan? Ini atas rekomendasi Ustadz
Umair. Insyaallah saya juga akan
hadir di acara Walimatul Ursy itu.”
”Insyaallah Tadz,” aku tak berani berkomentar, aku masih ingat pesan
Ustadz Umair, bahwa kebaikan harus segera dilakukan. Kejahatan saja berani
nekat kenapa kebenaran tidak berani? Menjadi khotib Walimatul Ursy?
Aku sendiri belum menikah, tapi bukankah Da’i juga harus menyampaikan apa yang
terjadi sesudah mati, tentang siksa kubur, surga dan neraka, walaupun Dai
tersebut belum pernah mati. Intinya jika kebaikan, itu bisa dilakukan sekarang
maka lakukan sekarang, dengan niat yang baik. Syahid pamitan untuk masuk lebih
dulu di garasi kecil pondok, Ustadz berjalan masuk ke pondok, dan aku kembali
ke kamar, menyiapkan materi yang akan disampaikan.
* *
*
”Duuoor!” ban motor
yang kunaiki bersama Syahid tiba-tiba meletus, padahal acara Walimatul Ursy-nya
tinggal tujuh menit lagi. Kami menuntun motor dan mampir di bengkel tambal ban.
Teryata lubang yang tertancap besar, jadi ban motor dalam harus di ganti. Kami
memakai motor inventaris Pesantren, Ustadz Umair membolehkan memakainya, tapi
sempat kutangkap ada kemurungan di balik wajahnya yang biasanya ceria dan
keras. Saat menunggu tambal ban selesai, Hp-ku berdering. Dari mas Ilham.
”Afwan
Mas, mungkin agak lambat. Sebaiknya Mas mulai saja akadnya, nanti taujihnya
sesudah akad saja. Tidak masalah,” aku mengakhiri hubungan.
Lima menit kemudian
tambal ban selesai. Aku menyerahkan uang. Syahid memboncengku agak ngebut,
kuminta agak pelan saja. Dia hanya tersenyum dan memelankan laju motor. Dia
dulu memang mantan pembalap liar, lalu bertobat, Alhamdulillah. Kalau bukan karena cintaMu, entah terperosoklah kami
ke dalam jurang kehinaan. Lakalhamdu walakas syukru.
Rumah yang megah.
Syahid sudah hafal betul jalanan di Depok dan sekitarnya. Acara walimah di
Jakarta Timur. Resepsi yang indah, megah namun yang luar biasa adalah, para
tamu dipisahkan hijab anyaman bambu yang indah. Berbeda jauh dengan resepsi di
kampungku, betapa campur-baur wanita dan pria, kadang tanggapan organ tunggal
atau tayub menggelegar, memekakkan telinga. Seorang lelaki berjenggot
mengantarkan kami duduk di depan, katanya acara akad telah selesai. Sekarang
sedang acara pertemuan dua keluarga untuk disatukan. Saat itulah, jantungku
seolah berhenti demi melihat dua mempelai yang sedang bergantian menyalami
orangtua masing-masing. Aku mengucek mataku, benar, dia adalah Mawar.
Hatiku
ribut di dalam, hanya aku dan Allah yang tahu. Syetan berbisik gencar, hati
nurani mencoba mempertahankan kemulyaan, di antara kehinaan yang siap melumatku.
Bibirku mendesah dzikir. Kutata hatiku, Allah..., bantulah hambaMu...,
hambaMu..., kuakui dalam bayanganku saat pejam. Mawar memang cantik, tapi ingat
pertemuan dengan wajah terindah Allah, mampu meredakan gejolak dalam hatiku.
Persahabatan? Tiada yang abadi di dunia, hanya surgalah keabadian. Tak akan
lagi kubiarkan dunia merenggut hatiku, biarlah dunia di tanganku semata, tak
akan kubiarkan lagi merebut sedikitpun bagian di hatiku. Allah, betapa Kau tahu
pergulatan hebat dalam diriku, hanya Kaulah yang tahu. Betapa berat hati ini
kutata, benar kata NabiMu jika hati ini baik maka baiklah semuanya. Aku akan
berusaha sampai mati, sampai mati ya Allah...
”Akh, sebentar lagi Anta dipanggil,”
Syahid menyentuh pundakku pelan. Aku langsung membuka mataku. Kutahan semua
gejolak dan benturan-benturan antara taqwa dan fujur, ternyata begitu lama aku
berjuang dalam diriku, pergolakan yang dahsyat. Syahid keheranan menatapku,
”Kau sakit? Matamu menangis,” aku menganggukkan kepalaku. Dia mengambil sapu
tangan, dan mengelap airmataku cepat agar tak diketahui orang. Pandangan para
tamu berpusat pada mempelai pengantin.
Saat namaku, ”Ustadz
Ali,” disebut untuk mengisi khutbah, kuluruskan sorbanku sambil berjalan
santai. Aku harus bisa, cukuplah Allah bagiku..., cukuplah Allah bagiku. Aku
yakin dengan namaMu, Kau pasti menggantikan duka dan kepayahanku menjadi
keteduhan yang lebih baik, jika tidak di dunia maka di akhirat. Aku menatap
mempelai sejenak lalu para tamu pria. Suaraku kubuat setenang air samudera,
sejernih mata air zam-zam, selembut kapas yang beterbangan di bawah awan.
”Kedua mempelai, para
tamu undangan yang saya cintai karena Allah.
Saat serpihan telah
menyatu. Tali yang terpisah telah disatukan. Disitulah letak kuasa Allah yang
menyatukan perbedaan, menyemai persamaan menjadi cinta kasih yang dilandasi
iman. Menjadi subur karena kecintaan kepada Allah semakin menguat.
Kuyakin telah banyak
hal yang dipelajari oleh kedua belah pihak. Sangat bahagia rasanya saya
diperkenankan menyampaikan ujaran, walau sejatinya nasehat ini untuk diri
pribadi saya sendiri. Bukankah Allah ’Azza
wa Jalla berfirman, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh, dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati
supaya menetapi kesabaran”
tak banyak yang ingin saya nasehatkan untuk mempelai, karena saya yakin Insyaallah kalian lebih banyak tahu dari
saya,” mataku sekilas menatap kedua mempelai yang ceria dari senyum dan mata
mereka yang berbinar. Pergulatan di hatiku terus terjadi, Hasbunallah. Cukuplah Allah bagiku. Hati..., jadilah raja yang baik
untukku
”Rasulullah saw
bersabda, ”Segala sesuatu selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan
kecuali terhadap empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya,
seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran
(panah) dan seseorang yang berlatih perang,
kekuatan langgengnya keluarga Nabi saw adalah melengkapi bumbu-bumbu kehidupan
layaknya masakan. Tidak kaku, dan tidak longgar. Hidup tidaklah melulu serius
dan akhirnya rumah penuh dengan ketegangan. Ali bin Abi Thalib berpesan, ”Hiburlah
hati suatu ketik, karena jika dipaksa terus-menerus terhadap sesuatu, ia bisa
membuta,” setiap persoalan di dunia ini bisa diatasi dengan mudah, jika
kita mengembalikan setiap persoalan kepada Dzat yang berhak memberi dan
mencabutnya kembali.
Kala menikah. Semua
hal menjadi berkah dan penuh kenikmatan. Bagaimana tidak, rezeki yang diberikan
suami kepada istri adalah sedekah, sampai menyuapi istrinya adalah pahala.
Adakah agama yang sehebat Islam? Saling memahami adalah kekuatan terbesar suatu
ikatan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimallah berkata tentang pasangan suami
istri, ”Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir
adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah swt. Penghadir kenikmatan
itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama, perbuatan tersebut
menyampaikan dirinya kepada ridha Allah ’Azza wa Jalla. Selain itu, akan datang
pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.” Sesungguhnya rasa
kasih dan cinta itu dari Allah, dan kebencian dari syeitan, maka apabila
istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah ia shalat di belakangmu dua
reka’at kala malam Zafaf,” aku
mengambil napas pelan, kesejukan di hatiku mulai terasa. Allah benar-benar
meniupkan kesejukan di hatiku. Aku merasakannya, indah. Sangat indah.
”Niat juga dibutuhkan
dalam membina rumah tangga yang Sakinah, mawaddah warahmah. Niat dari awal
adalah kepastian, seorang istri yang melahirkan. Apa yang diharapkan dari
seorang istri ketika melahirkan anak, wahai saudariku? Apakah sekedar menjadi
penyejuk mata? Menyaksikan mereka menjadi orang-orang sukses? Atau menjadikan
mereka teman bersendau gurau? Dengan niat ini, pahala Allah tak akan mengalir.
Niatkanlah agar, anak-anak kita mentauhidkan Allah, bertasbih dalam setiap
desahan napas mereka, akhlak mereka adalah Al-Quran, mereka menjadi orang-orang
yang mukhlis. Gembira apabila mereka bersujud di hadapanMu, wahai Tuhanku. Ia
menjadi seperti Shalahuddin atau Khalid bin Walid.
Istri adalah pakaian
bagi suami, begitupun sebaliknya saudara-saudaraku. Maka tutupilah setiap
kekurangannya, ”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian
takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah – mudahan mereka selalu ingat.
Ada sebuah petuah dari orang bijak, ”Di
balik setiap laki-laki agung, selalu berdiri seorang wanita yang agung pula,”
para pemuda yang sudah mencapai ba’ah
maka segeralah menikah, melengkapi kelengkapan dalam beribadah kepada Allah.
Tidaklah risaukan siapa yang mau memberi makan, bukankah Allah yang memberi makan
semua makhlukNya, tanpa kesusahan sedikitpun. Allah yang memberi rizki, jika
kita yakin maka jalanNya akan dibuka selebar-lebarnya.”
Kuakhiri khutbah. Aku
bertemu dengan Ustadz Wahid disana, aku dan Syahid pamitan pulang. Motor
kembali melaju kembali ke Depok, membawa hatiku yang mulai tenang. Bapak...,
kini aku tahu. Persahabatan memang ada, tapi Allah lebih berharga dari apapun,
bahkan nyawaku sekalipun. Persahabatan itu ada untuk mendukung mendekatkan diri
padaNya. Aku memang kehilangan hal yang kukejar, tapi aku menemukan banyak
persahabatan disini. Sepanjang jalan walau hambar, aku bercanda bersama Syahid,
kulihat dia menikmati humor-humorku.
Ibu, semesta alam akan
kulipat dan kupersembahkan sepenuhnya untukmu. Maafkanlah aku ibu..., karena
aku belum bisa melakukan sesuatu untukmu. Maafkanlah tingkah lakuku selama
bersamamu. Fajar, Yasmin..., maafkan kakak yang dulu menyia-nyiakan kebersamaan
kita. Allah, izinkanlah kami menyemai kebersamaan lagi, memulai dari awal
seperti matahari yang menyingsing menyambut hari yang baru, seperti seorang
pendosa yang bertobat dengan sungguh-sungguh.
Not Comments Yet "Part 24, Sebuah Undangan"
Posting Komentar