Minggu Ini Dimulainya Liburan
Cawu Dua. Tepatnya, 3
Februari 1991.
“San, kamu jangan pulang dulu,
Mbak ingin bicara,” Fatimah mencegah Ihsan yang telah siap berlari, Ningsih
dimintanya untuk pulang duluan. Tinggallah mereka berdua.
Ihsan duduk bersila menghadap
guru ngajinya, wajahnya menunduk. Apakah dia berbuat salah? Sepertinya tidak.
“Kenapa kamu menunduk terus,
Mbak kan ingin bicara?”
Ihsan mengangkat wajahnya
pelan, tepat menatap mata Fatimah. Tiba-tiba wajahnya merekah, senyumnya
melebar, “Aku sedang bahagia Mbak, hari jum’at kemarin aku mendapatkan dua
hadiah sekaligus. Dan aku memberikan jilbab yang cantik untuk Ibu, seperti
punya Mbak. Aku mengatakan pada Ibu seperti yang Mbak ajarkan, dan Ibu
memelukku sambil menangis, Bapak juga tiba-tiba merangkulku erat sekali. Mereka
benar-benar menyayangi Ihsan. Terima kasih atas kata yang Mbak ajarkan itu,
dan…”
Ihsan melanjutkan ucapannya,
ketika Fatimah menatapnya semakin dalam, “Dan Ihsan juga mencintai Mbak karena
Allah,” dan benar apa yang diduga oleh Ihsan, Fatimah memeluknya erat, isaknya
lirih terdengar Pelan. Ihsan tersenyum dalam pelukan Fatimah. Berhasil,
ternyata kata-kata itu sanggup membuat siapapun menangis dan jadi
menyayanginya. Seorang bocah yang sebenarnya belum memahami kata-kata itu.
“Kenapa Mbak nangis?”
“Mbak merasa terharu, baru
kali ini ada yang mengatakan itu pada Mbak. Ayah mbak jarang sekali pulang,
apalagi kini Mbak harus tinggal di asrama tempat Mbak kuliah,” Suasana hening
sejenak. Cek…cek…cek… suara cicak
menggantikan kesenyapan, kaki-kakinya menempel erat pada dinding Mushola,
menyaksikan dua orang yang sedang duduk tepat di bawahnya.
“O…iya, bagaimana dagangan
kuenya tadi bersama ibu?”
“Siiplah! Tadi sebelum kesini
sudah habis, kata ibu kalau kita semangat bekerja, Allah pasti akan memberikan
rezeki yang banyak, dan aku bisa terus sekolah,” Yasmin belum bisa ditinggal,
karena itu bu Nur hanya dagang di rumah untuk sementara.
“Hasil raport kemarin kamu
dapat Ranking berapa di kelas San?”
“Siiplah! Ada kemajuan Mbak,
sejak Ihsan mulai mengaji sama Mbak. Pada cawu satu kemarin Ihsan dapat Ranking
30 dan cawu dua ini, naik satu peringkat jadi ranking 3 dari belakang, he…he…,”
dan senyum polos itu merubah senyum pula di wajah kekagetan Fatimah.
Fatimah tersenyum untuk
kesekian kalinya, anak yang belum saatnya bekerja keras, tapi Ihsan telah
membuktikan dirinya. Berbeda
jauh dengan anak-anak di Jakarta, bisanya hanya menengadahkan tangannya setiap
kali berangkat sekolah.
“Mbak punya tawaran untukmu,
apakah kamu mau menerimanya?”
“Apa ada hadiahnya?” mata Ihsan
bulat berbinar.
“Tentu saja, kali ini
hadiahnya coklat. Terserah
mau coklat yang mana.”
“Aku mau coklat satu kotak
besar, biar gak pernah habis sampai aku gede nanti,” mata yang
tajam penuh keyakinan.
“Baiklah, satu kotak besar.
Tapi dengar dulu apa yang harus kamu selesaikan. Kamu…”
Terlambat. Ihsan sudah
cengar-cengir sambil melonjak-lonjak matanya melirik ke atas kian kemari,
seperti membayangkan sesuatu, “Hore…hore…coklat. Fajar dan Yasmin pasti aku
bagi, hore…”
Fatimah
menepuk jidatnya keras dengan kedua telapak tangannya, gelengan kepalanya pun
tidak ketinggalan. Belum sempat kata-katanya keluar lagi…
“Apa yang harus Ihsan
selesaikan, apakah misi rahasia atau… hafalan surat seperti yang diminta Mbak
Ningsih, atau menyelesaikan suatu pekerjaan, atau…” Ihsan menatap cicak yang masih betah di atas
kepalanya, merambat di lampu neon panjang.
Fatimah
menggelengkan kepalanya berkali-kali, “Bukan. Bukan itu, semuanya salah.
Dengarkan baik-baik, besok adikku akan datang bersama Ibu Mbak. Tugasmu mudah.
Dia akan tinggal disini selama satu
minggu bersama Mbak, jika kamu bisa mengetahui namanya langsung dari adikku,
maka coklatnya akan Mbak berikan. Mudah bukan, Bagaimana? Apakah kamu sepakat?”
Ihsan diam tanpa ekspresi,
dagunya ditopang oleh kedua tangannya dengan siku tangannya menolak mester –lantai-
“Cukup Mbak, hanya itu?”
Dan anggukan berat kepala
Fatimah membuat Ihsan tertawa puas, hingga terpingkal-pingkal. Untuk
mendapatkan coklat yang hanya mendengarkan rasanya dari teman-temannya yang
terbilang kaya itu, akan diperolehnya dengan mudah, coklat yang hanya di makan
beberapa kali oleh Bowo anaknya Bayan, Ratna anaknya pak RW, atau Rani anaknya
pak Kades. Sebentar lagi, dia akan menikmatinya.
“Aku sepakat Mbak, siapkan
saja coklatnya. Aku pamit dulu, aku harus menggiring si Jali dan Jalu untuk
pulang.”
“Baiklah, pulanglah dan Persiapkanlah dirimu San.”
Ihsan mengucapkan salam dan berlari menuju sepeda kecilnya, dua ayamnya
mungkin kini telah memasuki kandang.
Kalau lupa memberi makan dengan menir, ibu bisa marah. Eh… kan selama ini, ibu belum
pernah marah.
Fatimah
tersenyum menjawab salam, memandangi Ihsan hingga menghilang di balik pepohonan
teduh. Terdorong cerita Ningsih, membuatnya harus melakukan uji coba, hafalan
huruf hijaiyah dikiranya hanya kebetulan, namun ketika mendengar Ningsih
tentang penjelasan sekalinya tentang hujan, dan hafalan surat An Naas dalam waktu sehari, bukanlah
pekerjaan remeh. Tapi adik bungsunya…, Kali ini apa yang akan terjadi, karena
dia tahu adiknya yang paling kecil adalah…
Senin, Hari Kedua Liburan Cawu
II
Mobil Kijang merah melaju
memasuki jalanan batu terjal, memasuki Desa Gedung Dalam Baru, pembangunan yang
belum merata di Indonesia membuat desa terpencil itu terabaikan, karena
mementingkan jalur di jalan-jalan kota dan lintas. Setelah mobil itu melewati
perbatasan desa Besuki 37C, berhenti di rumah nomor dua. Rumah nomor satu
adalah pabrik padi, dan di pagi hari pemilik rumah masih di Pekalongan, karena
giliran kerja menggiling padi pada sore hari sebelum Ashar.
Syarif, sang supir turun dari
mobil, meminta izin kepada seorang ibu yang berada di jok belakang, untuk
bertanya kepada sang pemilik rumah kecil geribik itu. Kebetulan seorang Ibu
sedang berada di luar, menggendong seorang anak dalam dekapannya. Syarif
membenahi pecinya yang sedikit miring, tampak guratan kelelahan menyembul dari
wajahnya yang berkumis tipis. Sudah lama dia bekerja kepada majikannya, sejak
masih bujang. Mereka sungguh baik padanya, selain bekerja, dia diminta
menempati rumah kecil yang letaknya tidak berjauhan. Di rumah yang menurutnya
cukup besar itulah, dia bersama istri dan kedua anaknya, merawat rumah itu.
Di dekatinya wanita
berkerudung itu, “Maaf Bu, saya mau tanya. Rumah pak bayan Yadi di sebelah mana
ya?” Syarif melihat si kecil. Bayi yang manis, menciptakan rindu.
Nur menjelaskan arah jalan
sambil memperagakan tangannya. Kebetulan
Ihsan keluar karena mendengar deru mobil lewat, ternyata berhenti di
depan rumahnya, teriakannya membahana, “Mobil lewat…, ada mobil lewat…, gerrrengg… greeeeng…,” maklum untuk ukuran mobil lewat, mungkin hanya sebulan sekali
atau hingga setahun, karena saking jauhnya dari Kecamatan.
Sang Ibu meminta Ihsan
mengantarkan mereka ke rumah pak Bayan,
bibir Ihsan cemberut sejenak, tapi sang Ibu segera menangkap kegamangan itu,
“Biar Fajar Ibu yang nemenin, sekarang laksanakan tugas, wahai permata Ibu.”
“Baiklah Bu, ayo pak ikuti
saya, rumahnya tidak jauh kok,” langkahnya langsung diikuti Syarif
hingga Ihsan berada di depan mobil. Setelah syarif masuk, dia meminta Ihsan
untuk masuk, namun Ihsan menolak, “Bapak ikuti saja aku, kejar kalau bisa,”
dasar Ihsan. Tangannya membentang seperti sayap pesawat atau sayap Alap-alap,
yang betah mengapung di angkasa, tanpa mengibaskan sayapnya. Langkahnya menari
bersama cerianya siang, seorang Ibu menatapnya dari dalam mobil yang mulai
melaju, “Anak yang lucu,” seorang gadis kecil berumur 6 tahun tepat, yang
berada di sampingnya bergumam dalam hati, “Dasar anak desa!”
Sampai di rumah pak Bayan,
Ihsan mendahului memasuki rumah itu. Mbak Fatimah dan Ningsih sedang
duduk-duduk di kursi halaman rumah. Ihsan mengucapkan salam, berbarengan dengan
itu, tiga orang dalam mobil kijang itu keluar. Fatimah segera menyambut Ibunya;
Ratih, mencium punggung tangannya. Kemudian duduk untuk mensejajarkan diri
dengan gadis kecil berkerudung pink, “Adik Kakak sudah datang, bagaimana
kabarmu?”
Senyum gadis kecil itu
terlihat sekilas, lalu kembali ke posisi semula, “Baik. Aku akan menemani Kakak disini, walau hanya
sebentar,” tangannya menyambut tangan Fatimah dan menciumnya pelan.
Syarif mengambil barang bawaan
dari mobil, dan membawanya memasuki halaman rumah itu. Ningsih sedang
berbincang dengan bu Ratih.
Fatimah mengapit tangan
adiknya, dan mendekati Ihsan yang sedari tadi berdiri terdiam, “Kenalkan, ini
salah satu murid ngaji Kakak, namanya Ihsan,” Ihsan cengar-cengir sambil
menggarukkan tangannya di kepala, sambil menganggukkan kepalanya.
“Mbak aku pulang dulu
ya? Aku harus menjaga adikku. Dan misinya akan aku mulai besok, siapkan saja
hadiahnya,” Ihsan mengucapkan salam, namun bu Ratih mencegahnya dan mengambil
dompetnya. Ihsan paham, “Gak usah Bu. Ibu Mbak Fatimah adalah ibu saya juga,”
Ihsan berlari mendekati jalan, namun tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan,
“Mbak, pokoknya siapkan saja. Aku pasti berhasil.” Langkahnya mengayun,
orang-orang di halaman rumah itu merasa bingung kecuali satu orang; Fatimah.
Entah apa yang ada
dalam pikiran Ihsan, langkahnya melaju kencang, ingin segera dicapainya rumah.
Kalau saja dia adalah burung, mungkin dia menggunakan daya kepaknya dengan
tenaga maksimum. Sampai di rumah, ibunya masih di depan pintu.
Ihsan mengucapkan
salam, tiba-tiba Ihsan merengkuh tangan Ibunya, dan sebuah kecupan mendarat di
punggung tangan Nur, yang masih menina-bobokan Yasmin. Keterkejutan nampak dari
raut mukanya, begitu pula ketika sang Ayah pulang di hadapan malam, punggung
tangannya di kecup dengan mesra oleh Ihsan. Jika diteliti di Gedung Dalam baru
pada saat itu, yang mencium tangan orangtuanya mungkin baru Ihsan. Hari ini
adalah hari terindah dalam bayangan Ali dan Nur, hilang sudah kesusahan hidup
yang menghimpit mereka selama ini. Ternyata buah hati adalah harta yang tak
terbayar oleh lautan berlian
*
* *
Matahari muncul lagi
di Gedung Dalam Baru, seluruh makhluk melakukan rutinitasnya kembali. Ihsan
baru saja memberi makan dua ayamnya yang sedari pagi sudah ribut, Ihsan tampak sewot
karena kakinya sempat di patuk si jalu, ketika memberi segenggam beras dan
satu butir terjatuh tepat di punggung kakinya, tentu saja Ihsan berteriak keras.
“Bu,
Ihsan mau main ke tempat Mbak Fatimah,” dan anggukan Ibu membuatya segera
mengambil sepeda kecil, pemberian ayahnya sebulan yang lalu. Dia belum bisa
menaiki sepeda jengki milik ayahnya karena terlalu tinggi. Hari ini, ayahnya
sedang memanen padi, di tempat yang dekat dengan rumah.
Ihsan baru bisa mengemudikan
sepedanya. Siulnya susul-menyusul sambil mengiringi putaran pedal. Dia, sewaktu
sekolah selalu menaruh kue buatan ibunya yang akan dijual ke sekolah, di boncengan
kecil sepedanya. Sekarang Ihsan pergi ke sekolah dan mengaji dengan sepeda
barunya.
Sebuah mobil merah
melintasinya dan berhenti. Mobil ibunya Fatimah. Seorang supir memanggil Ihsan,
“Berhenti Nak.”
Ihsan menghentikan lajunya dan
memutar kemudi dengan cepat. Istilah
Farid, “ngempot,” lalu mendekati Syarif. Seorang ibu
muncul dari pintu yang dibukanya, di jok belakang, jilbabnya menjuntai, “Terima
kasih ya Nak, siapa namamu?”
Ihsan menyangga sepeda dengan
satu kakinya, “Ihsan Bu. Ibu mau pulang ke tempat yang jauh lagi ya?”
“Iya, ini terimalah sedikit
uang untuk jajan kamu,” selembar uang yang lumayan besar untuk ukuran desa
terulur.
“Tidak Bu, terima kasih. Aku
juga sudah bekerja kok, jadi saya juga punya uang jajan,” Ihsan menggelengkan
kepalanya pelan.
Bu Ratih tetap memaksa, tapi
Ihsan tetap menolak, hingga akhirnya kewalahan dan berpamitan pulang dengan
senyuman yang akan selalu diingat Ihsan, “Ternyata orang jauh itu baik-baik,
tidak seperti yang di bilang Bowo, yang katanya banyak yang jahat.”
Pedalan kakinya berlanjut, senyumnya selalu
menghiasi bibirnya.
“San, tolong kamu temenin
adikku. Mbak lagi banyak pasien, ajaklah dia bermain,” Fatimah yang sedang
mengukur tensi salah satu ibu hamil, meminta Ihsan yang baru saja datang. Ihsan
menganggukkan kepalanya.
Seorang gadis kecil berkerudung
pink, kini duduk di boncengan kecil sepeda Ihsan. Sedari tadi hanya
diam, Ihsan bersiul lalu bernyanyi, bersiul lalu bernyanyi lagi. Bingung
memulai. Hingga lagu Bintang kecil versi orang buta, mengalun melalui bibir
kecilnya, “Bintang kecil katanya-katanya, di langit yang tinggi katanya-katanya,
amat banyak katanya-katanya, menghias angkasa katanya-katanya,”
bagian katanya di buat Backing
vokal cempreng, hingga sebuah tawa kecil muncul dari arah belakang sepeda,
membuatnya salah tingkah dan menghentikan alunan syairnya.
Sepeda itu berhenti di gubuk
bagian atas sawah, pandangan seolah terpaku tak mau beralih dari keindahan
panorama. Si gadis kecil tersenyum sendiri, lamunannya seolah terbang tak
terjangkau. Melayang bagaikan kehidupan ini miliknya sendiri. Terlihat beberapa
petani sedang menyabit padi, lalu di panggul di siku kirinya untuk di hantamkan
pada papan segitiga, yang di bawahnya di letakkan terpal untuk menampung padi yang bertebaran. Ada
beberapa di bagian lain yang sedang tandur, di lahan baru yang tanahnya barusan di garis
dengan garu, mereka berjongkok dan berjalan mundur,
sambil meninggalkan tancapan-tancapan wet pari-nya.
Di angkasa, banyak bertebaran
burung Sriti sedang mengundang hujan turun, walau matahari masih
menyala. Ihsan mendekati gadis kecil itu dan berdiri di depannya, menutupi
pandangan gadis kecil itu. Seekor burung Manyar sedang terbang di
angkasa dengan kecepatan tinggi, di belakangnya seekor burung alap-alap sedang
memburunya. Kecepatan yang tidak seimbang, menimbulkan desau suara angin. Wuusss.
“Aku
Ihsan. Aku boleh tahu namamu?” tak lupa senyumnya tersunggirng.
“Duk!” sebuah pukulan kecil
mendarat di antara mata kiri Ihsan, tanpa pengantar.
Ihsan merubah posisi bibirnya.
Hendak menangis atau marah. Tapi…, coklat gede. Tiba-tiba senyumnya tersungging
untuk kedua kalinya. Senyum
paksaan, “He…he… kamu suka bercanda ya? Sekarang pasti kamu mau memberi tahu
namamu?”
Ihsan
menunggu. Tapi tak juga keluar suara sama sekali, yang dilihatnya hanya sorot
mata tajam tanpa makna, “Hai manis, aku ingin menjadi temanmu? Siapa namamu?”
senyumnya kembali beraksi, kini dibuatnya semanis mungkin.
bunyi cicit terakhir keluar
dari Manyar, ketika kepalanya terpatuk oleh Alap-alap. Terjadi
pembunuhan di lengangnya angkasa.
“Duk!” pukulan kedua mendarat,
di antara mata kanan Ihsan. Kali ini hampir saja tangisnya pecah, kalau tidak
ingat wajah orang yang paling dia hormati, Kak Fatimah. Tentu saja plus coklat.
“He…he… kamu memang suka
bercanda,” padahal kerutan di keningnya menandakan tangisnya tak tertahan,
“Kerudungmu bagus, seperti punya ibuku. Aku ingin menjadi temanmu. Siapa
namamu?” ulangan senyum. Kini terlihat terpaksa.
“Wuaaaaa…,” Ihsan menutup
kedua mata dengan kedua telapak tangannya, ketika gadis kecil itu hendak
menggerakkan tangannya. Tapi salah, ternyata sasarannya kini adalah perut dan
ketiak ihsan, hingga Ihsan tertawa sambil berlari. Kelitikan itu membuat Ihsan
berlari menjauh, si gadis kecil mengejarnya sambil terkekeh-kekeh, “Hi…hi…,”
mirip si nenek sihir dalam cerita dongeng. Semesta sepakat, inilah tawa pertama
si gadis kecil.
* *
*
Ihsan duduk menekukkan kedua
lututnya, di gubuk yang sudah reot itu. Sepedanya ikut berteduh, di tatapnya
gadis kecil yang sedang asyik memandang panorama. Betah walau matahari sedang
terik, tanpa berteduh. Gadis kecil itu membentangkan kedua tangannya, berlari
di pematang antara pepadian yang menguning. Dasar anak aneh, teringat misinya
belum berhasil. Inilah misi tersulitnya selama ini.
Dua orang yang sangat
dikenalnya, Bimo dan Wahyu, sedang mendekati si gadis kecil. Di tangan mereka
memegang burung yang direnteng, burung Sriti yang mereka dapat dengan
menjeratnya melalui biting blarak, yang di buat melingkar di ujung dan diberi umpan
jangkrik kecil atau belalang, lalu di taruh di sawah yang sedang digarap. Di
saat Sriti sedang memangsa umpan itu, maka dia akan masuk ke lubang itu
dan menjeratnya.
Ihsan segera berlari mendekati
si gadis kecil, sebuah bahaya. Dua orang itu anak kelas III yang biasanya
jahil, dan kadang meminta uang kepada anak-anak kelas I dan II. Mereka berdua
benar-benar menggangu gadis kecil itu. Mereka meminta uang. Sebelum Ihsan
sampai ke tempat mereka, si gadis ternyata melakukan hal yang sama kepada
Wahyu. Tanpa pengantar, tinjunya mendarat di pipi Wahyu. Ihsan menepuk jidatnya
sambil berlari sekencang-kencangnya, tinggal sebentar lagi.
Ketika Wahyu dan Bimo hendak
membalas dan mengeroyok gadis kecil itu, Ihsan datang tepat waktu, “Hentikan!”
mengatur napas, “Jika kalian mau membalasnya, balaslah aku. Beraninya sama anak
perempuan, main keroyokan lagi!” keberanian yang tiba-tiba muncul, entah dari
mana. Biasanya dia paling takut, apalagi dua preman sekolahnya ini.
Jadilah Ihsan bulan-bulanan
kedua anak kelas III itu, jurusnya yang dikeluarkan tak akan mampu menghadapi
mereka berdua, apalagi itu jurus yang asal-asalan.
Belum sembuh dua pukulan dari
gadis kecil itu, di tambah seluruh tubuhnya remuk di pukul membabi buta.
Mukanya kini tampak kebiru-biruan. Gadis kecil itu hanya diam saja. Setelah dua
orang pengeroyok itu puas, mereka pergi meninggalkan Ihsan begitu saja dan
melupakan si gadis kecil itu.
Ihsan meringis kesakitan
sambil bergumam, “Kalian belum mengetahui jurusku, coba kalau tahu, kalian
pasti sudah terbirit-birit, aduh…,” Ihsan mendudukkan dirinya, sambil
membersihkan pakainnya dari debu-debu dan lumpur yang menempel. Bajunya kotor,
pasti ibunya akan marah. Tapi, selama ini ibu kan belum pernah marah. Senyum
kecilnya mengembang.
“Kenapa kamu malah tersenyum?”
suara si gadis kecil itu keluar juga, mendekati Ihsan dan duduk di sebelahnya.
“Aku bahagia. Karena aku
menolong orang, dan ibuku tidak akan marah padaku. Mbak Fatimah juga pasti bangga padaku. Semua orang
mencintaiku. He…he…, eh! Kamu…, horee… akhirnya kamu bicara juga. horeeee….,”
angin sepoi membelai mereka, memberikan kesejukan di tengah teriknya siang.
“Dasar anak desa!” mulut itu
sewot, namun segera diambilnya tissu kecil dari saku bajunya. Lalu mengelap
debu di pipi Ihsan. Sesekali Ihsan meringis ketika tissu itu menyentuh lukanya,
mata Ihsan menatap sejenak mata gadis kecil itu.
“Anak desa! Kenapa kamu
menatapku seperti itu?”
“Matamu begitu indah. Mungkin
seperti itulah cerita Ibu, yang menceritakan kepadaku tentang Bidadari yang
mempunyai mata jeli.”
“Diam! Atau aku beri satu
lagi,” tangan kanan itu mengepal menandakan siap beraksi, “Tapi…, terima kasih
kamu tadi menolongku. Padahal itu membahayakan dirimu sendiri,” kepalan tangan
itu turun dan mukanya menunduk perlahan.
“Dasar perempuan,
sebentar-sebentar sedih. Cengeng! Dan ingat, jangan panggil namaku dengan anak
desa. Namaku Ihsan tahu!”
Ihsan segera berlari menuju
gubuk, karena dilihatnya muka gadis kecil itu berubah garang lagi. Lari sebelum
terlambat.
Mereka pulang ketika matahari
tepat berada di atas kepala, ketika ubun-ubun terasa dikecup oleh bara panas,
bersama beberapa petani yang pulang untuk ngaso dan shalat dhuhur.
Not Comments Yet "Part 3, Sebuah Kesepakatan"
Posting Komentar