Jumat sore, ketika anak-anak TPA hampir pulang.
Ihsan mendekati Mawar yang sedang duduk di pelataran Mushola, ketika mbak
Fatimah dan Ningsih sedang menilai tulisan para anak didiknya dalam buku
masing-masing.
Nampak kawanan burung Kuntul
terbang membentuk huruf V, dengan ujung runcing ke depan. Persis mata panah
raksasa, terbang kearah selatan untuk pulang ke sarang mereka kembali, setelah
paginya terbang kearah utara untuk mencari rezeki. Tiadakah mereka
memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada
menahannya selain dari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang beriman.
Dalam bukunya 7 habbits,
Sean Covey mengemukakan bahwa para ilmuwan telah menemukan sesuatu yang
menakjubkan dalam cara terbang burung, yang terbang membentuk mata panah itu.
Dengan terbang dalam formasi, seluruh burung mampu untuk terbang 71 persen
lebih jauh, ketimbang kalau masing-masing burung terbang sendiri. Mengapa?
Ketika seekor burung mengepak sayapnya, terciptalah arus angin bagi burung
berikutnya, yaitu burung yang terbang berada di belakangnya, namun agak serong
sedikit. Terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini. Jika
burung paling depan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang,
kemudian segera akan ada yang menggantikannya menjadi pemimpin perjalanan.
Burung-burung yang terbang di belakang pun mengeluarkan suara yang keras, untuk
menyemangati rekannya yang di depan. Setiap kali seekor burung keluar dari
formasi, ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang besar, sehingga
buru-buru ia akan kembali ke formasi.
“War, nanti malam kita main
yuk. Kata Bapak, kalau malam di dekat Balong sering ada kunang-kunang.
Aku sendiri belum pernah melihatnya,” Ihsan menatap Mawar yang masih melihat
jalanan yang sepi.
“Insyaallah San. Nanti aku izin dulu sama mbak Fatimah.”
“Baiklah, aku mau meneruskan ngaji
dulu,” senyumnya merekah pelan.
Mawar menoleh kearah Ihsan
yang telah menerima bukunya kembali, setelah dinilai oleh mbak Ningsih.
Ditatapnya wajah polos yang telah menemaninya beberapa hari ini, San apakah
kamu tahu, kamu adalah teman pertamaku yang menyenangkan. Apakah kamu tahu?
Besok aku akan dijemput Umi kembali ke jakarta. Nanti malam aku akan
menemanimu. Tunggulah aku…
* *
*
Malam menyapa, jangkrik
berpesta ria, katak berdendang, combre mengakak tawa, burung Guek menatap liar, luak merambat keluar dari rumpunnya, bintang
bertebaran, bulan cerah menyapa jagat. Sungguh malam ini tidak seperti biasa di
musim rendeng. Biasanya hujan, jika tidak, setidaknya gerimis
kecil menyapa bumi. Malam ini bulan tersenyum indah, bulan tanggal 15.
Bocah Gedung Dalam Baru secara
serempak tanpa komando keluar rumah, untuk merayakan masa kecilnya, di bawah
sinar bulan, berdendang ria, bermain gobak sodor, petak umpet atau sekongan.
Ah! Betapa indahnya masa anak-anak.
Rik…rik… suara gangsir
telah menjadi incaran beberapa bocah yang telah mengendap-endap mendekatinya,
dengan melangkahkan kakinya tanpa suara. Setelah dekat, tubrukan berupa rebutan
yang dilakukan bersama itu ternyata bernilai gagal total, gangsir itu telah mengetahui gerak yang mengancam, melalui dua
antena di atas kedua matanya.
“Kencingi bersama lubangnya,
pasti gangsir sial itu akan keluar,” saran Wahyu yang merasa kesal
karena lompatannya didahului Bimo.
Bimo, Wanto, Kubro
menganggukkan kepalanya pelan tanpa suara, mengiyakan saran Wahyu, dan suurrr!
Air telah menggenangi lubang gangsir
itu, hingga lubang itu penuh dengan air, dan meresap meninggalkan basah, masuk
ke dalam lubang. Beberapa detik, seekor gangsir besar keluar kepayahan,
membuat mereka segera menubruknya, hingga binatang itu mati tertekan
tangan-tangan serakah itu. Akhirnya, mereka tetap memakan bersama seberapa pun
dapatnya, namun untuk mengetahui siapa yang paling hebat, mereka diajarkan alam
untuk saling berebut mendahului.
Ihsan tersenyum melihat Mawar,
yang berada diantara penonton yang sedang menyaksikan permainan gobak sodor,
mawar membalas senyuman itu.
“Ayo kita ikut main?” tanpa
menunggu jawaban, Ihsan segera menarik tangan Mawar, mereka suit untuk
menentukan siapa yang harus masuk ke dalam kelompok yang sudah menang.
Permainan dimulai, Mawar sering melakukan kesalahan karena dia belum pernah
memainkannya, hingga sering kebobolan ketika menjaga.
“Aku keluar!” Mawar merasa
bosan karena selalu melakukan kesalahan, Ihsan mengikutinya sambil berpamitan
kepada teman-temannya. Sepeda mengayun kembali, mereka menuju balong, walau waktu menunjukkan pukul
21.00.
Sepeda kecil itu
tergeletak begitu saja di tanggul ledeng. Ihsan mondar-mandir gelisah menunggu sesuatu,
“Dimana mereka bersembunyi ya? Padahal kita sudah lama disini.”
Mawar menggoncang-goncangkan
kakinya di atas permukaan balong, gelombang air yang timbul terlihat
indah, karena membuyarkan bayangan rembulan penuh di permukaan balong.
“Setiap pertemuan pasti ada
perpisahan, kita harus sadar bahwa pertemuan yang kita rasakan indah,
mengisyaratkan bahwa perpisahan merupakan awal yang indah, untuk menciptakan
pertemuan kembali,” Mawar semakin menundukkan kepalanya, memandangi air,
“Sebenarnya besok aku akan dijemput Umi
untuk kembali ke jakarta. Aku ingin berkata jujur padamu San. Namaku sebenarnya
bukan Mawar, namaku…,” kalimat itu terhenti sejenak, “Namaku…, San, San!” wajah
putih itu mendongak, Astaghfirullah…, Ihsan berada sekitar 30 meter di
pinggir balong, di kebun milik mbah
Teno, berjalan mengendap-endap.
“Berarti…” wajah putih itu
berubah merah, “San! Sedang apa kamu disana?”
Ihsan hanya meletakkan jari
telunjuknya di antara bibirnya. Mawar semakin kesal, hingga Ihsan merangsek ke
depan, telungkup di tanah, “Horee…dapat! Aku dapat gangsir besar,” Ihsan
menggengam gangsir, itu dan membawanya kearah Mawar.
“Untung saja suaramu tidak
membuatnya takut,” Ihsan tersenyum bangga.
“Jadi, kamu tadi tidak
mendengarkan aku bicara?”
“Bicara
apa? Baiklah, sekarang aku akan mendengarkannya. Memangnya Mawar mau ngomong
apa sih?” wajah polos tanpa kabut itu, pias terpantul cahaya rembulan.
“Dasar anak desa!” Mawar kembali
menekuri sujud pandangnya ke air.
Ihsan semakin bingung, “Kenapa
kamu marah?” lalu ikut duduk di samping Mawar, “Aku dapat gangsir besar,
rasanya enak banget. Kita bakar disini saja ya?” senyumnya, mencoba melerai
kecemberutan Mawar yang kini bertopang dagu.
“Jangan!” Mawar tiba-tiba
menoleh cepat kearah Ihsan.
“Kenapa? Kalau kamu gak suka,
biar aku sendiri yang memakannya.”
“Jangan!”
“Kenapa?” Ihsan menatap Mawar
penuh tanda tanya, anak ini memang aneh.
“Kasihan, dia juga makhluk
Allah. Dia juga ingin hidup,” suara itu merendah.
Ihsan tersenyum untuk kesekian
kalinya, “Baiklah sahabatku, kamu tidak usah menangis. Untukmu, aku akan
melepaskannya.”
Mawar tersenyum manis, meminta
binatang itu dari tangan Ihsan, lalu melepaskannya di semak-semak tanggul.
Semburat kelegaan tampak dari wajahnya yang memantulkan sinar rembulan, yang
telah berada tepat di atas kepala.
Malam semakin senyap, tinggal
suara-suara angin yang masih mendesau. Suara katak masih menyisa, tepatnya
tengah malam.
“San, apakah kamu mau menjadi
sahabatku selamanya. Hingga… kita tua nanti,” kesenyapan yang tercipta lama,
membuat Mawar harus memulai, Ihsan dari tadi merebahkan dirinya di rumput
tanggul, “Aku memang belum bisa menjadi teman yang baik, tapi aku akan berusaha
San. Aku selama ini kesepian, ketiga Kakakku jarang mau menemaniku, Ayahku
jarang pulang, dan ibuku lebih menyayangi Kakakku dan sering mengabaikanku, aku
ingin menjadi temanmu San,” isak pelan itu mengalun pelan, agak lama menambah
kesenyapan malam, “San…, kumohon jadilah temanku? San…, San, San!” wajah
sendu itu menoleh, menatap Ihsan yang tersenyum. Tidur pulas.
Mawar tidak menyiratkan kemarahan kini, dia merebahkan dirinya di samping
Ihsan. Bulan yang indah, alangkah indahnya jika dia hidup di desa selamanya,
tanpa ada kebisingan jalan. Matanya mulai menutup perlahan, malam terakhir ini,
akan dimulainya dengan merubah sikapnya yang selalu berbuat kasar.
Ihsan membuka matanya, silau cahaya membuatnya terbangun. Diedarkan pandangannya berkeliling, rembulan mulai
turun melewati tengah malam. Di sebelahnya, Mawar telah terlelap. Matanya
menatap gadis kecil yang baru beberapa hari ini bersamanya, bukan itu yang
dilihatnya kini. Tapi, beberapa kunang-kunang yang baru dilihatnya pertama kali
ini, sedang berputar-putar di atas wajah pias Mawar. Wajah itu begitu bersinar, andai saja dia mau
sejenak menjadi sahabatku, walau pergi lagi.
“War,
bangun War. Lihatlah, banyak kunang-kunang,” Ihsan menggoncang-goncangkan tubuh
Mawar pelan. Gadis kecil itu membuka matanya, senyumnya merekah, bagaikan mimpi,
dia dikelilingi cahaya. Mereka saling tersenyum.
“Indah
bukan?” Ihsan mengangkat kedua tangannya ke atas, menyatukan teluntuk kanan
dengan telunjuk kiri, dan ibu jari dengan ibu jari. Mirip bentuk lingkaran tak
sempurna namun juga segitiga tak sempurna, me-ngeker rembulan penuh, dan memasukkannya dalam
lubang jemari yang dibentuknya, “Lihatlah rembulan dari tanganku.”
Mawar
mendekatkan kepalanya menyentuh kepala Ihsan. Bulan itu benar-benar berada
dalam lingkaran tangan Ihsan, begitu mempesona membuat mereka merenda imajinasi
masing-masing, ditambah kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang menyemarakkan
panorama. Bagaikan melihat bulan dari teropong. Lama mereka menatap wajah bulan,
yang terus menyapa bumi dengan
cahayanya.
* *
*
Keindahan yang menyusup
membuat Mawar mengangkat tubuhnya, duduk dan kunang-kunang itu terbang
berkelip-kelip di atas air, menciptakan pantulan yang begitu mengindahkan
cerminan air, ditambah sinar bulan yang menyatukan cahayanya.
“War, tadi kamu mau bicara
apa?” Ihsan teringat sesuatu
“Sudahlah, aku tidak mau
bicara lagi, ayo pulang. Aku marah padamu!” Mawar mulai melangkah berlalu.
“Tapi War, aku hanya ingin
menjadi temanmu…”
Mawar menoleh seketika, dari
balik pohon jambu, tiba-tiba menghambur kunang-kunang yang entah dimana
sebelumnya bersembunyi, begitu pun dari rerimbunan di pinggir balong, begitu banyak mirip lebah yang
sedang mencari madu. Tiada keindahan kecuali terangnya cahaya, semesta begitu
indah. Bulan tersenyum, gemintang penuh memenuhi langit, angin malam rindu
membelai, dan kunang-kunang layaknya lampu berkelip, memenuhi semesta terpantul
air, menimbulkan sinar terang.
Mawar tiba-tiba memeluk Ihsan,
isaknya lirih terdengar, “Kumohon, jadilah sahabatku? Kumohon.” Kepalanya
tersandar di pundak Ihsan.
“Aku akan selalu menjadi
temanmu War. Tapi kenapa kamu menangis?”
“Besok Umi akan menjemputku, aku akan kembali ke Jakarta.”
Ihsan melepaskan pelukan Mawar
dan memegang bahunya, “War, pergilah. Suatu saat aku akan mencarimu, dan kita
akan menjadi sahabat selamanya,” sorot mata itu begitu tajam, menyiratkan
keyakinan.
“Benarkah?” Mawar mengusap air
matannya, dengan punggung tangannya.
“Tapi kamu harus janji?”
“Janji apa?”
“Kamu tidak akan nakal lagi,
jangan memukul orang lagi, dan harus menurut dengan keluargamu.”
“Baiklah, aku akan
menepatinya. Tapi kamu juga harus janji.” Mawar meneruskan perkataannya setelah
melihat anggukan Ihsan, “Kamu tidak boleh memakan hewan-hewan yang kamu tangkap
lagi, kamu harus menyayangi mereka. Mereka juga ingin hidup seperti kita.”
“Satu hal lagi,” Mawar
menghirup udara mengembun sejenak, “Ini hanya akan menjadi rahasia kita, ini
janji rahasia kita,” senyum pun berpadu.
Ihsan menganggukkan kepalanya
lagi, “Aku akan menepatinya untukmu,” tangannya membentuk huruf V, “Ayo kita
pulang.”
Sepeda kecil itu mengayun
menuju rumah pak Bayan Yadi, yang
letaknya kurang lebih 250 meter dari balong. Malam telah senyap, kehidupan
manusia banyak dihabiskan di ranjang.
“Aku pulang dulu ya War,”
Ihsan memutar stangnya setelah Mawar turun dari boncengan, kakinya hendak
mengayuh pedal.
Mawar mendekati Ihsan dari
arah depan, “San!” wajahnya setengah menunduk, “Maafkan semua kesalahanku
selama ini?”
Ihsan hanya tersenyum
meringis, “Gak pa-pa, aku sudah memaafkannya,” seperti biasa, garukan kepalanya
yang memang benar-benar gatal, karena jarang keramas.
Sebuah ciuman di pipi Ihsan,
yang serba singkat membuatnya melongo, tangan yang semula menggaruk kepala
terkulai lemas jatuh ke bawah. Mawar berlari sambil mengucapkan salam dan
menuju pintu.
Ihsan sempat diam sejenak,
seperti terpaku di bumi. Tangannya perlahan menyentuh pipinya, yang mungkin
kini berwarna merah tak menentu. Dunia seperti khayal, sebentar-sebentar
berubah drastis, lalu kayuhnya membahana bersama riangnya ayam yang telah
siap-siap berkokok, untuk mengingatkan manusia.
Sebuah pandangan melihat
kejadian itu, dengan perasaan bingung dari balik jendela, malam ini dia tidak
bisa tidur, lalu menutup horden dan membuka pintu, karena gadis kecil itu
mengetuk pintu.
* *
*
Malam itu walau mendekati pagi, Mawar tidak bisa
memejamkan matanya, dihampirinya kamar kakaknya. Dilihatnya seorang wanita
berada di ruang tamu, mbak Ningsih. Mawar tidur bersama anak perempuan pak
Bayan yang telah SMP.
“Mbak, bolehkah aku meminta
bantuan?”
“Kesinilah, apa yang bisa mbak
lakukan untukmu?”
“Aku belum bisa menulis.
Tolong tuliskan ucapanku.”
“Baiklah. Mbak Ningsih ambil
kertas dulu ya?” anggukan kecil itu membuat Ningsih mengambil tasnya, dan
mengambil selembar kertas dengan pena-nya.
“Katakanlah, Mbak siap menuliskannya,”
tanpa bertanya, Ningsih menyanggupinya.
Beberapa kata terbata-bata,
keluar dari bibir kecil Mawar, Ningsih pun sibuk menulis sambil beberapa kali
sorot matanya menengadah ke atap. Entahlah! Kenapa hanya menulis seperti berpikir.
Mungkin karena bacaan kesukaannya adalah sastra.
* *
*
Ihsan, sesampai di rumah juga tidak bisa
memejamkan matanya, Bapak yang membukakan pintu tidak banyak bertanya, hanya
mengatakan kalau pulang jangan malam-malam, lalu beranjak tidur kembali masuk
ke kamarnya.
Dilihatnya Fajar masih
terlelap. Pulau telah terbentuk di bantalnya. Sesekali pandangannya menengadah,
besok Mawar akan pergi lagi, aku harus memberinya sesuatu untuk
mengingatkannya padaku. Langkahnya segera digerakkan menuju dapur,
mengambil sebongkah kayu dan mematahkan bagian kecilnya, kebetulan kayu jati.
Diambilnya sebilah pisau, lalu
berjalan menuju kamarnya kembali, sedetik kemudian jemarinya bekerja mencoba
mengukir kayu kecil itu. Serpihan-serpihan kayu mulai mengelupas kecil-kecil,
hingga waktu merambat tanpa mengenal kata henti. Senyumnya tiada tertinggal
senyum, yang mengiringi gerak jemarinya.
Matanya mulai merasa perih,
namun tangannya terus menari memegang pisau, membuat lekukan-lekukan imajinasi
yang ada di pikirannya, telah ada lubang yang nampak, di pinggirnya seperti
garis melingkar, dengan salah satu tengah membentuk lincipan melengkung. Ah!
Entahlah bentuknya memang mirip cincin, tapi masih penuh lika-liku seperti
jalanan yang terjal. Akhirnya mata itu
benar-benar tak kuat, setelah menguap beberapa kali, dan tubuh itu jatuh di
tikar yang digelarnya di atas alas tanah dalam kamarnya. Matanya nampak begitu
lelah, tidurnya bagitu lelap.
Suara langkah lelaki itu,
tidak membuat Ihsan bangun. Ali setelah shalat malam sebenarnya sedikit terganggu
dengan suara menyisik kayu, setelah memasuki kamar kedua anaknya, didapatinya
Ihsan tertidur di tikar bawah, sedangkan Fajar di atas dipan. Tangan kanan
Ihsan masih memegang pisau, dan tangan kirinya mengepal. Ali mengambil pisau
itu dan membuka kepalan tangan kiri Ihsan, di dapatinya sebuah ukiran yang
belum jadi, diamatinya, mencerna bentuk yang belum jadi itu.
Jemari lelaki yang kini
memiliki tiga orang anak itu, meraba ukiran kecil itu, merasakannya dengan
hati, Ukiran yang dibuat dengan penuh rasa cinta, walau raga tidak kuat,
namun kekuatannya mampu menggerakkan sendi yang telah lelah menjadi bercahaya.
Anakku, engkau memang belum mengetahui banyak makna kehidupan, tapi cinta akan
menjadi bekalmu dalam melangkah. Dibopongnya tubuh Ihsan, lalu membaringkannya
di dekat Fajar. Diambilnya ukiran itu dan sebilah pisau, meneruskannya,
diambilnya beberapa lembar amplas di dapur. Subuh hampir menyapa, Ali
meletakkan ukiran itu dalam genggaman Ihsan kembali. Sebuah cincin bulan sabit
Sabtu seolah semesta hening, membawa perasaan
Mawar yang semakin gelisah, hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Mandinya
begitu lama, seperti tidak ingin pergi meninggalkan Gedung Dalam Baru, hingga
Ningsih dari tadi merengek seperti anak kecil meminta gantian. Mawar tidak menghiraukannya,
dia melamun, diingatnya suratnya tadi malam telah dititipkannya kepada mbak
Ningsih untuk diberikan kepada Ihsan.
Setelah mandi pun, Mawar
mendiamkan dirinya di dalam kamar, duduk menekur menatap lantai, hingga suara
yang amat dikenalnya terdengar dari arah depan. Mawar buru-buru mengenakan
bajunya, dan mengintip pelan dari jendela kamar Harmi yang telah keluar rumah
bersama teman-temannya. Mbak Fatimah sedang berbicara dengan Ihsan, suaranya
terdengar walau pelan. Terdengar percakapan yang aneh di telinganya.
“Terimalah San, Mbak sudah
tahu kalau kamu berhasil,” tangan itu telah mengalihkan bungkusan kotak itu ke
tangan Ihsan.
“Tapi Mbak, sebenarnya…,”
kalimat itu tercekat, berat hendak mengungkapkan.
“Sudahlah, bukankah kamu dulu
begitu antusias menginginkan coklat ini. Mbak ikhlas memberikannya untukmu yang
telah menjaga adikku.”
“Bukan itu maksud Ihsan mbak,
tapi…,”
“Ihsan!” sebuah suara keras
lagi serak keluar dari celah jendela yang membuka, membuat Fatimah dan Ihsan
segera menengok. Wajah itu nampak berurai airmata, mengusapnya dengan punggung
tangannya.
“War! Dengarkan dulu
penjelasanku, aku akan menjelaskannya.”
Terlambat, jendela itu segera
tertutup rapat, Ihsan mulai berlari hendak memasuki rumah, namun suara Fatimah
menghentikannya sejenak, “Sebenarnya ada apa San?”
“Aku tidak mau hadiah itu,
buat Mbak saja!”
“Tapi ini untukmu San.”
“Berikan saja buat Fajar. Aku
tidak mau menerimanya,” Ihsan berlari masuk menuju kamar Mawar dan mengetuknya
hingga berkali-kali, “War, aku akan menjelaskannya! Aku hanya ingin menjadi
sahabatmu,” tapi yang terdengar hanya isakan lirih, membuatnya lemas dan
meninggalkan rumah itu untuk pulang. Fatimah semakin bingung, namun
pertanyaannya tak diungkapkan melihat situasi yang tidak tepat.
Hari ini Ali tidak berangkat
kerja, entahlah, dia merasa tak enak badan. Ihsan pulang dengan wajah kuyu,
kotak yang telah dipersiapkannya untuk diberikan kepada Mawar masih dipegangnya
erat.
“Kenapa cincinnya belum
diberikan kepada Mawar, katanya kesana untuk memberikannya?” Ali menangkap
kegelisahan anak pertamanya itu.
“Pak, tadi aku bahagia sekali,
karena Malaikat telah menyelesaikan ukiranku tadi malam yang belum selesai,
tapi… Mawar marah padaku dan tidak mau menemuiku, karena dia tahu, kalau selama
ini aku hanya menginginkan hadiah dari mbak Fatimah.”
Ali mengelus kepala Ihsan
lembut, “Berikan kotak itu pada Bapak, biar Bapak yang memberikannya. Bapak
tahu sebenarnya kamu tidak hanya menginginkan hadiah itu, buktinya Malaikat
telah membantumu membuat hadiah itu.” Walau tidak tahu masalahnya secara jelas, tapi Ali tahu perasaan anaknya.
Ihsan memberikan kotak itu
pasrah, “Tolong katakan padanya Pak, kalau aku ingin menjadi sahabatnya sampai
kapanpun juga, bukan karena hadiah.”
Ali menganggukkan kepalanya
dan pergi ke rumah pak Bayan. Entah
apa yang terjadi selanjutnya, yang Ihsan ketahui, Bapaknya bertemu dengan Mawar
dan memberikan kotak hadiah itu kepada Mawar.
Sebuah mobil yang sangat
dikenalnya melewati rumahnya, Ihsan tidak berteriak seperti biasanya dikala
sebuah mobil lewat. Kini
tatapannya kosong, tapi hanya sementara, segera diraihnya sepedanya dan
mengayunnya dengan cepat.
Terlambat. Mobil itu telah
meluncur lagi, meninggalkan rumah Bayan ketika Ihsan telah sampai. Mobil itu
melintasinya, sekilas terlihat wajah putih Mawar sedang menatapnya. Dikayuhnya
sepeda, mengejar mobil kijang itu, walau kecepatan tidak seimbang, dia berharap
dapat mengantar Mawar hingga jalan besar. Debu beterbangan, mengepul
mengangkasa, pandangan mata Ihsan kabur. Berhenti. Terlihat Mawar sekilas
melambaikan tangannya menempel di kaca, sorot matanya susah diungkapkan.
Bagaimana ini, aku belum
meminta maaf padanya. Walau dia marah padaku, aku hanya ingin dia tahu, kalau
aku akan menjadi sahabatnya sampai kapanpun, setidaknya dia tahu kalau aku akan
merindukannya, sepeda itu
mengambil arah yang berbeda, melewati lereng-lereng di atas jalan, jika lewat
jalan umum akan berkelok memutar sampai jalan raya, lereng itu lurus, namun
jalannya kecil sekitar dua meter.
Sepeda itu terus mengayuh,
begitu kencang, ingin rasanya terbang tapi tiada mungkin, tanpa disadari sebuah
bongkahan kayu melintang di tengah jalan. Keseimbangannya susah dikendalikan
karena kecepatan kayuhnya tinggi.
“bruukk!” terdengar suara
rintihan mengaduh, tiada orang karena ini hanya jalan lintas orang yang hendak
mencari kayu. “Mawar!” segera diangkatnya sepeda yang tergeletak melewati
bongkahan kayu itu, dilupakannya rasa sakit dan darah yang mengalir pelan di
lututnya. Aku harus menemuinya walau hanya sekilas, agar dia tahu bahwa aku
hanya ingin menjadi sahabatnya, aku tidak membutuhkan hadiah itu.
Jalan terjal itu tak
dihiraukannya lagi, darah menetes walau sedikit, cukup menjadi bukti
perjuangannya. Gerakannya cepat menghentikan laju sepeda, pandangannya
mengedar. Mobil itu terlihat di bawah, tinggal dekat dari jalan besar, kini dia
berada di turunan yang menghubungkan dengan jalan besar. Aku akan datang War!
Dan pengorbanan itu terbukti lagi, kecepatannya melesat cepat, angin mendesau
marah di sekitarnya, tangannya memainkan rem dan kemudi agar tidak ketinggalan
mobil yang hampir mendekati jalan raya. Bukan lagi keselamatan yang ada di
pikirannya, melainkan hanya ingin sekali lagi melihat wajah sahabatnya itu.
“Mawar!” mobil kijang itu
telah mendahuluinya, dengan jarak yang sangat dekat, sekitar 10 meter.
Pandangannya hanya tertuju pada jendela belakang mobil, tatapan mereka bertemu,
hingga Ihsan lupa kalau kini sepedanya menyentuh jalan raya dari turunan
panjang itu. Jiwanya seakan melayang dan keseimbangannya pun hilang. Sepeda itu
mencelat di pinggir kanan jalan dan Ihsan tertinggal, tersungkur.
Ihsan mengangkat tubuhnya
sekuat tenaga, darah segar keluar pelan dari bibirnya. Dalam posisi duduk, dia
masih melihat mawar meneteskan airmata, menempelkan kedua tangannya di kaca
belakang mobil. Ihsan mengangkat tangan kanannya, menggerakkan telapaknya
melambai. Senyumnya merekah, di antara kesakitan yang dirasakan. Hanya
sebatas inilah aku dapat berusaha. “Maafkan aku sahabatku!” teriakan itu
membahana, alam seolah berusaha memantulkannya hingga bersahut-sahutan. Jarak
semakin jauh, hingga akhirnya lurus pandangan hanya setapak jalan terhampar.
“Kenapa Non, kenapa menatap
keca terus? Non menangis?” Syarif, sang Supir
melihat dari spion di atasnya, menatap sedari tadi anak yang dijemputnya
itu menatap ke belakang , dan seperti mendengarkan sebuah isakan lirih.
“Tidak ada apa-apa Bang! Aku
pasti akan selalu merindukan desa ini,” Mawar membalikkan tubuhnya, lalu
menatap ke depan, disekanya airmatanya dengan tissu yang tersedia di mobil itu,
ibunya tidak ikut menjemput karena menemani kakaknya berlibur ke rumah ‘Ammi Yusuf. Walau pergi, separuh
jiwanya berada tertinggal di belakang, akankah suatu saat tertemukan.
Maafkan aku San. Mobil itu melaju mendendangkan lagu penantian, mendayu
dari hati seorang yang baru menemukan seorang sahabat, yang membuatnya berjanji
untuk berubah.
Kecemasan nampak di
wajah-wajah keluarga Ali Rahman, beberapa orang
dari desa 37C datang membawa Ihsan yang terluka dan sepedanya,
tidak ada tangisan dari bibirnya, hanya saja pandangannya terlihat diliputi
mendung kesedihan. Nur menghambur menggendong Ihsan, tetesan airmatanya tumpah,
“Kenapa kamu Nak?”
Ihsan hanya menghapus airmata
ibunya sambil tersenyum. Ali Rahman menemani tamu yang membawa Ihsan, bukan
waktunya menanyakan kepada Ihsan, dia tahu perasaan anaknya yang kini
kehilangan. Fatimah dan Ningsih menjenguk Ihsan, setelah mendapat kabar kalau
Ihsan kecelakaan.
“Ini surat dari Sahabatmu itu.
Bacalah sendiri jika kamu sudah bisa membaca,” Ningsih sambil membawa jajanan snack,
memberikan amplop coklat kecil ketika dia hanya berdua di kamar Ihsan. Ihsan
tersenyum, matanya mulai bercahaya kembali, luka-lukanya seolah tiada terasa
lagi, “Terima kasih ya Mbak.” Senyum itu pun dibalas dengan ulasan serupa dari
bibir Ningsih.
* *
*
Sabtu sore. Di salah satu rumah di kota Bogor,
nampak bu Ratih sedang duduk bersama
anak perempuannya yang ke-tiga. Mereka baru saja pulang dari tempat pamannya,
Yusuf. Sebuah mobil terdengar memasuki garasi rumah. “Wardah, sepertinya adikmu
sudah pulang.”
“Iya Mi. Aku akan
menyambutnya, pasti dia bawa oleh-oleh dari desa,” senyum gadis kecil itu
tulus, membuat siapapun terbius untuk menyayanginya.
“Assalamu’alaikum,” Mawar
nampak lesu, mungkin perjalanan lampung ke Pulau Jawa membuatnya sedikit capek.
Dijinjingnya plastik hitam, oleh-oleh dari pak Bayan dan ayah Ihsan.
Terdengar jawaban salam dan
pintu terbuka, Wardah tersenyum menatapnya, “Kelihatannya kamu kecapekan Zahra?
Bagaimana liburanmu bersama Mbak Fatimah?”
“Menyenangkan Kak, tapi Zahra
capek banget, mau istirahat dahulu. Nanti Zahra akan cerita bagaimana keindahan
desa yang sering kita baca,” senyum itu juga tulus.
Wardah sempat terpaku sejenak,
seperti dalam mimpi. Adiknya Zahra tidak seperti biasanya, dan yang semakin
membuatnya penasaran adalah, adiknya
tiba-tiba merangkulnya dan berbisik pelan, “Maafkan kenakalan Zahra selama ini,
zahra akan berusaha menjadi anak yang baik.”
Zahra masuk ke dalam rumah,
meninggalkan Wardah yang masih mencerna kebingunngannya sendiri, apa yang terjadi?
Tapi ini adalah mukjizat, pikirannya melayang.
Zahra Mutaqwiati
Umurnya 6 tahun tepat, atau lebih sedikit. Anaknya nakal, bandel dan suka
berkelahi. Seluruh keluarganya kewalahan mendidiknya, itu terjadi sebelum
bertemu dengan sahabat dari sebuah desa saat dia berlibur. Dia terlahir kembar.
Kakak kembarnya bernama Wardah Mutaqwiati, jarak lahir satu jam. Ibunya bernama
Ratih Sanggarwati, seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya di rumah,
mendidik anak-anaknya. Ayahnya seorang pengusaha muslim sukses, sangat sayang
kepada anak-anaknya, namun karena alasan tertentu, dia hanya pulang di hari
ahad saja, dan keluarga begitu menunggunya penuh harapan ketika ahad menyapa.
Dia anak ke-4. Kakaknya yang pertama kini telah bekerja di perusahaan setelah
lulus S-1 di perusahaan ayahnya, sambil meneruskan kuliahnya. Kakaknya yang
ke-dua kini sedang KKN di Lampung, karena sebentar lagi penyusunan Skripsi
untuk kelulusannya di Fakultas Kedokteran.
Zahra. Pendidikan Umminya mengajarkannya selalu untuk memahami arti
kehidupan. Setelah liburan II selesai, keluarganya merasakan perubahan yang
nampak nyata pada perilakunya, mereka bahagia karena kenakalan itu telah
hilang. Pendidikan selama ini dari ummi ternyata berhasil. Di balik itu, ada
kontribusi yang disembunyikan Zahra melalui sahabat, yang entah nanti masih
bisa bertemu atau tidak
Merambat
waktu, Wardah masih kebingungan dengan perubahan adiknya yang hanya terbilang
beberapa hari. Biasanya, ketika dia mencoba berbuat baik padanya selalu
dibantah, ketika sebuah boneka ia beli pasti dirusak, ketika dia menonton TV
pasti dimatikan, ketika belajar Iqra’
dengan Ummi pasti selalu dikelitiki. Ah! Benar-benar aneh.
Pikiran
kecilnya sedikit menyelidik, terbang, “Pasti ada sesuatu yang membuatnya
berubah, dari liburannya di desa tempat kak Fatimah praktek,” dipacunya langkah
menuju kamar, mencari sesuatu yang bisa memantapkan argumennya. Sebuah tas
kecil. Tangannya cekatan membuka tas itu cepat ketika Zahra sedang mandi,
sebuah kotak mini terbungkus kertas putih diambilnya, lalu berlari ke taman
belakang. Mungkin kotak ini bisa menjadi petunjuk, idenya mengelitik.
“Sebuah
cincin bulan sabit yang indah, ukirannya benar-benar menggambarkan keindahan,”
Wardah takjub, Terlalu kebesaran. Dipakainya cincin itu, “Maafkan aku Zahra,
ini sesuatu yang indah. Aku akan menyimpannya.” Walau berat karena menyalahi
didikan Ummi, tapi ini akan menjadi
yang pertama dan yang terakhir, maafkan aku ya Allah, hati itu membenarkan dan
meyakinkan.
* *
*
Malam senin
menyapa, besok dimulainya Sekolah mengawali cawu ke-tiga, ingin rasanya Ihsan
memulai Sekolahnya, hingga libur yang ditunggunya datang lagi, siapa tahu Mawar
akan mengunjungi lagi ke desanya. Ah! Menunggu adalah pekerjaan yang
membosankan, Ihsan teringat kata-kata mbak Ningsih.
Ihsan menatap Fajar yang telah
pulas di sebelahnya, jemarinya mengelus rambut adiknya itu sejenak. Pikirannya
melayang, dia teringat sesuatu. Surat itu! Tangannya menjulur ke bawah bantal,
mengambil amplop kecil itu, dibukanya perlahan. Sreek!
“A,” hanya itulah yang
tertangkap dalam bacaan pertama tulisan itu, ah! Aku belum bisa membaca. Tapi
suatu saat aku akan membacanya. Ihsan memasukkan kembali surat itu ke dalam
amplop, lalu berpikir hendak menyembunyikan dimana, ya! Di atap. Ihsan memaksakan
dirinya bangkit, lukanya masih membasah. Dia meletakkan amplop itu di selipan usuk
kayu atap. Memanjat meja. Beres deh!
* * *
Gedung dalam Baru masih
seperti semula, tidak terjadi banyak perubahan. Petani masih absen di sawah,
pembajak tanah masih membawa brujul dan luku-nya, pengupas singkong
masih menenteng peretan-nya, pembuat batu bata masih setia
mengadon tanah merahnya, Pak Kades masih menekuni tugasnya di balai desa, Bayan juga setia memberikan laporan
kepada lurah.
Hari ini, hati seorang anak
kecil menitikkan airmata membasahi pipi, membuat perasaannya tiba-tiba mengiris
sepi. Dua orang yang telah beberapa bulan ini selalu bersamanya dikala belajar Iqra’, berpamitan padanya, tidak ada
yang istimewa ketika tangan kedua wanita itu melambaikan tangannya kepada
seluruh penghuni pedukuhan, tapi nampak
sembab pula seluruh mata. Pertama kali ada penyuluhan kesehatan gratis masuk ke
desa ini, apakah masih ada lagi yang mau meneruskannya?
Aktivitas desa memang masih
sediakala, namun ada setitik kesedihan yang mereka rasakan. Fatimah dan Ningsih
memang telah banyak membantu mereka, dari mulai penyuluhan kesehatan hingga
pengobatan gratis, ditambah dengan ide-ide mereka yang digunakan untuk
pembangunan desa, walau hanya sebatas wacana.
Sedikit hilang keceriaan di
wajah Ihsan, siapa lagi yang akan mengajarinya Iqra’, walau sedikit terobati
karena Ibu siap menggantikannya. Kesedihannya bertambah lagi setelah kepergian
Mawar, kesepian mulai menjalari hari-hari cerianya yang terenggut, mungkin agak
lama dia bisa mengobati kesedihannya ini. Kedua orangtuanya membiarkan sejenak
Ihsan menyelami sejenak kesepiaannya, karena mereka yakin, ini adalah pelajaran
berharga bagi anaknya, perjumpaan dan kebersamaan itu memang indah, namun
perpisahan adalah kepastian dan itu juga merupakan keindahan.
Kesedihan yang bersandar dalam
diri manusia, biasanya akan sirna seiring berjalannya waktu, tapi Ihsan merasa
waktu itu begitu lama, hingga hari-harinya seolah merupakan penantian yang tak
kunjung berakhir, untuk perasaan seorang anak kecil berusia kurang dari tujuh
tahun, apakah itu perasaan normal atau berlebihan?
Not Comments Yet "Part 5, Kemenangan yang Kalah"
Posting Komentar