Tak ada yang lebih menarik
di kelas itu, kelas pertama kalinya aku menjadi guru, pertamanya pula dalam
hidupku berubah haluan, seorang lulusan sarjana Fakultas Ekonomi mengajar,
menjadi guru yang seharusnya menjadi tugas lulusan Fakultas Ilmu Pendidikan dan
Keguruan. Tak ada yang menarik, kecuali
sepasang bingkai di depan kelas, di ujung kiri dan kanan papan hitam, pakai
kapur.
Bingkai bergambar Presiden
RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan wakilnya, Boediono. Mereka memakai baju
kebesaran militer, tersenyum kepada semua murid dengan gagahnya, dan
murid-murid mengacuhkannya, bersorak, bermain semaunya sendiri. Maka, aku ikut
tersenyum, seperti senyum dua orang besar di negeri ini.
Kelas yang berantakan,
arah guru yang duduk menghadap ke barat, di belakang para siswa yang tengah ribut,
tepat di sana geribik papan-papan selebar jengkal orang dewasa, berdiri tegak
ditata dari ujung ke ujung sebagai pembatas dengan kelas empat. Kayu-kayu
ditata tidak terlalu rapi hingga menimbulkan lubang-lubang di antara paduannya
yang tegak. Dan dua orang siswa laki-laki, tengah mengintip dari celah itu,
mengintip adik kelasnya.
Kawan, hanya senyumku yang
bisa pertahankan rasa hambar dan sakit. Bukan, bukan karena melihat tingkah
mereka, melainkan kondisi kelas. Lihatlah sendiri, meja-meja reot, lapuk.
Kaki-kaki mejanya tampak dimakan rayap kayu, banyak sawang-sawang serabut di
celah bawah lacinya, dan laci-laci itu pun banyak yang jebol sehingga di pojok
belakang terdapat tumpukan beberapa meja hancur sehancur-hancurnya beserta
kayu-kayu yang telah habis lapuk.
Sampah di mana-mana,
lemari di pojok depan kiriku dekat papan tulis terbuka pintunya, gagangnya
patah dan berlubang. Tembok di sisi kanan dan kiri, tidak mirip tembok, tapi
mirip lukisan teraneh di dunia. Lukisan bertinta sepatu, tapak kaki, tapak
tangan, oret-oretan tak penuh bentuknya. Dindingnya di mana-mana retak, tak ada
triplek penutup karena semuanya telah lindap, terbuka dan ada yang menjuntai
hampir mengenai kepala siswa.
Genting-genting banyak
yang terlihat celahnya, sinar matahari ada yang masuk dari lubang genting. Tapi
tenang saja, jika hujan, tak usah khawatir banjir, karena lantai di bawah telah
hancur di mana-mana, sehingga air akan mudah meresap dan hilang di telan bumi. Tiada
kata lagi menggambarkannya, kecuali kata takjub, ’memprihatinkan.’
Sinar matahari menelisik
masuk melalui celah, karena posisi kelas agak miring ke tenggara-barat laut, hingga arah timur tepat sedikit masuk. Masuk dan
memantul ke arah tembok di belakang kelas. Sinar itu menimbulkan samar kabut,
begitu banyak seperti debu beterbangan menari dipantul sinar, debu, serabut dan
apa pun berjejalan terlihat jelas. Dan semua murid masih asyik bermain, kertas
berhamburan, ada yang dilipat membentuk pesawat dan terbang melayang, meliuk,
semua mata takjub karena daya terbangnya begitu indah, berputar dan membelok,
menikung tajam ke kiri, mengarah padaku. Aku takjub, pesawat kertas itu terus
terbang dan membentur tepat di jidatku. Jatuh ke lantai, semua memandangiku,
murid-murid terdiam melihatku, menunggu gerakku.
Aku merunduk, pesawat
kertas itu tepat jatuh di antara kedua sepatuku, sepatu Kang Mukhlis tepatnya. Aku
jongkok ke bawah, tanganku tergerak menggapai pesawat kertas dan memungutnya.
Aku berdiri, murid-murid masih terbengong melihatku, tak ada yang bergerak.
Masih menunggu reaksiku.
Aku melihat rancangan
pesawat kertas itu, ”Imajinatif, inspiratif. Sayang dari kertas, coba dari
perpaduan besi, maka jadilah burung besi yang terbang megah di angkasa.
Sebagaimana terbangnya kepak burung elang, melanglang buana. Berkelana di
angkasa, cepat seperti asteroid jatuh, gagah bagai matahari.”
Aku memainkan pesawat
kertas itu, kupegang segitiga di bawahnya, kumainkan berputar-putar di depan
kepalaku. Ke kanan, ke kiri, berputar-putar. Semua murid masih terdiam.
Aku ambil ancang-ancang ke
belakang, ”Inilah burung besi!” aku melontarkannya kuat, ke atas, kertas itu
melesat lurus. Namun, tak membentur tembok, dia berbelok ke kiri karena pada
dasarnya, perbedaan sisi sayap kertas lebih berat di sebelah kiri, maka pasti
daya tariknya akan lebih condong ke kiri. Terus berputar, dan berbalik kembali
ke arahku. Dan kutangkap lagi.
Semua murid masih tegang
melihat pertunjukanku. Aku tersenyum, ”Bagaimana murid-murid?” Riuh tepuk
tangan membahana di kelas lima, tapi sebenarnya tak akan terdengar terlalu
jelas di kelas-kelas yang lain. Kenapa? Karena semua kelas terdengar ribut
begitu keras, aku baru menyadarinya setelah masuk ke kelas ini, ternyata semua
kelas mempunyai tipikal sama, ribut dan guru pun tak dihargai. Pasti kelas lain
pun demikian, dan pastilah ini yang membuat para guru tidak betah di sini.
”Sudah-sudah!”
Yang berdiri di meja
turun, dan berdiri di lantai retak di mana-mana, yang bermain panco berhenti
dan menghadapku, yang berlarian kembali ke tempat duduknya, yang mengintip di
papan belakang kelas kembali ke tempat duduknya, semuanya berdiri di tempat
duduknya masing-masing.
Inilah orang Indonesia,
jika sudah tertarik dengan seseorang apalagi pertunjukkannya, maka mereka pasti
memerhatikan dengan sebaik-baiknya. Mereka berdiri diam semuanya, memandangku
lekat.
Wajah-wajah polos,
wajah-wajah kagumlah yang terlihat. Kurasa kawan, aku telah berhasil membuat
mereka tenang, dan memberikan apresiasi secara utuh padaku. Inilah metode
seorang guru sejati, buat mereka menyukai gurunya dulu dan selanjutnya,
terserah Anda! Maka pelajaran baru kudapatkan, ’Buat orang lain menyukai kita,
maka setiap yang kita lakukan akan menuai apa yang kita inginkan.’
Aku pelan melangkah ke arah
kursi guru, pastilah suara sepatu terdengar berderak karena semua diam tenang.
Hanya berisik di kelas lain yang masih terdengar. Aku sedikit menegakkan daguku
ke atas, tanda menang mutlak. Lihatlah wajah-wajah mereka, tetap berkonsentrasi
melihatku antusias.
Aku bersiap duduk di kursi
guru. Dan, pastilah seorang guru harus duduk duluan, mereka pasti menungguku
duduk duluan, mereka teramat menghormatiku, mereka teramat luluh hatinya. Dan
pastilah, mereka menunggu ucapanku menyilakan mereka untuk duduk.
Aku lega.
Aku menjatuhkan pantatku
ke kursi. Dan...
Grubak!
Debu beterbangan, banyak
repah dan bubuk bagai menghujaniku, suara gemeretak kuat terdengar. Kenapa
banyak kunang-kunang terbang di sekitar kepalaku? Lalu, kenapa siang hari ada
kunang-kunang? Tubuhku seolah remuk, di depanku hanya terlihat meja reot, ke mana
anak-anak pergi. Aku linglung. Aku terduduk sempurna di atas tumpukan kursi
yang remuk redam, hancur, dan kaki-kaki kursi berserakan, satu ujung paku
menancap di pantatku. Sekitar satu centi meter.
Ahhhh! Aku mencabut paku
itu.
Teriakanku membahana dan
terdengar tawa meledak-ledak. Aku memaksa berdiri, berat. Kursi yang tadi
kududuki patah-patah kakinya, tulang punggungku terasa ngilu.
Aku berdiri dengan
kepayahan, mataku kedap-kedip bagai burung hantu yang mengintai sekeliling.
Kepalaku nongol di bibir meja, pelan-pelan, malu terhadap murid jika melihatku
jatuh begini. Dan mataku mulai ke atas, kulihat semua murid.
Kawan, sungguh. Semua
murid sempurna bermain kembali, mereka main gladiator di atas meja dengan sapu,
mereka mengintip celah papan pembatas kelas, main panco, main suit, dan memukul
kepala dengan bodem tangan kepada yang kalah. Oh, tidak!
Not Comments Yet "Bagian 16, Tata Ruang"
Posting Komentar