Semangat yang berkobar
tidaklah cukup. Tapi setidaknya itu mendobrak segala keterbatasan yang ada.
Berpikir positif adalah kunci utama pembuka rezeki, karena kita adalah apa yang
kita pikirkan. Setidaknya kini aku jadi trainer untuk diriku sendiri.
Kususuri kembali jalanan yang
penuh debu ini. Debu-debu jalan menyambutku tak bersahabat. Tak tersisa alam
yang indah, sejuknya dedaunan, atau ada pepohonan rindang penuh kicau burung.
Apakah masyarakat kota
tak pernah mendamba dan memimpinya? Atau pikiran mereka telah seluruhnya penuh
sesak oleh keasyikan dunia yang serba panas dan serba tak peduli?
Apakah aku akan betah
hidup di kota
seperti ini? Bagaimana jika seumur hidup? Ah! Membayangkan saja aku tidak
sanggup. Bayangkan saja, tanpa ada jarak maupun pembatas, tetangga sebelah
rumah saja tidak kenal namanya kalau tidak ada hajatan atau mungkin syukuran. Itu
pun jarang. Lalu? Kemana arah hidupku?
Itu dia, Kawan, aku sedang
berpikir hingga hampir setahun ini. Ini sangat susah kujawab. Aku sebatang
kara, tak ada harta warisan atau yang lain yang tersisa, yang tersisa hanya
yang melekat di tubuh ini. Tak ada yang lain, kecuali Tuhan.
Aku melangkah, kembali
menyusuri jalan. Sebuah perusahaan yang terlihat sederhana, hanyalah seperti
ruko-ruko di pinggir jalan. Bukan, bukan itu yang ingin kukabarkan. Di etalase
depan ruko itu. Tertulis dalam lelukan kertas yang dibuat bentuk segitiga, dan
menghadap ke arahku, menantangku, tertulis, ’Dibutuhkan karyawan, khusus
laki-laki perkasa!’ ini dia! Sebuah kertas bertuliskan yang membuat mataku
bahagia menatapnya.
Sepertinya aku harus
berterima kasih kepada Ts’ai Lun. Kau tahu siapa dia? Dan kenapa aku harus
berterima kasih padanya? Dia bukan salah satu tokoh yang diidolakan oleh kakekku,
terkaanmu salah. Dia adalah salah satu tokoh yang kukagumi. Jika kakekku punya
tokoh-tokoh idola, tentu aku sebagai salah satu garis keturunannya, aku juga
mempunyai tokoh-tokoh idola. Bukan plagiat, mungkin ini yang dinamakan sebagai
’ikatan darah.’
Ts’ai Lun adalah penemu
bahan kertas pertama kali. Mungkin kalian asing mendengar namanya, apalagi
seorang penemu kertas? Menimbang betapa pentingnya penemuan kertas, amatlah
mengherankan jika orang-orang meremehkannya. Tidak sedikit eksiklopedi besar
tak pernah mencantumkan namanya, barang sepatah pun. Ini sungguh keterlaluan
menurutku.
Dia adalah seorang pegawai negeri di pengadilan kerajaan yang pada
tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Catatan Cina
tentang penemuan Ts’ai Lun ini—terdapat dalam penulisan sejarah resmi dinasti
Han—sepenuhnya terus terang dan dapat dipercaya, tanpa sedikit pun bau-bau
magis atau dongeng. Orang-orang Cina senantiasa menyebut nama Ts’ai Lun sebagai
penemu kertas dan namanya tersohor di seluruh Cina. Kertas yang ia perkenalkan
berasal dari bambu, diiris-iris tipis, dibersihkan dan dijemur. Kreativitas
yang memukau, orang pertama, pencipta pemikiran strategis, berpikir beda
tentang penggunaan suatu benda. Ini inovasi.
Tidak banyak yang
diketahui tentang kehidupan Ts’ai Lun. Kaisar langsung menaikkan pangkat Ts’ai
Lun, memberinya gelar kebangsawanan. Tapi, pada akhirnya. Dia terlibat
komplotan anti istana yang menyeret pada kejatuhannya. Sejarah mencatat bahwa sesudah
dia disepak, Ts’ai Lun mandi bersih-bersih, mengenakan gaunnya yang terindah
lantas meneguk racun. Ini bagian kepahlawanan yang hilang bagiku.
Walau aku mengidolakannya,
itu hanya sebatas prestasinya saja. Kata Kakek, setiap kesuksesan itu selalu
diiringi oleh kemantapan spiritual, maka jika manusia kehilangan iman,
hilanglah sudah kesejatian hidupnya. Ts’ai Lun, sebuah kisah yang tragis.
Aku mendekat, tak
kupedulikan toko apa itu, aku butuh kerja. Setidaknya ada uang untuk pindah
dari kota yang
seolah mengutuk keberadaanku ini.
”Maaf,” aku menyapa wanita
paruh baya yang make up-nya sedikit berlebihan, bayangkan saja wajahnya
lebih ngeri daripada, kuntilanak dalam film-film yang dibedaki hingga putih. Yang
ini dibedaki kemerah-merahan seperti buah apel merah ranum. Wajah itu lebih
lucu dari badut, aku ingin tertawa, tapi sekarang aku sedang melamar pekerjaan.
Wanita berwajah merah itu melihatku.
”Saya mau melamar
pekerjaan di sini, ini biodata dan surat
lamarannya,” aku mengulurkan map merah itu. Menaruhnya di atas etalase.
Wanita norak merah itu
melihat mapku, ”Apakah kau sudah siap?” wanita itu menilik tubuhku yang
terlihat ringkih. Dia memerhatikanku dari bawah hingga ke ubun-ubunku. Penuh
selidik, ”Apa kau kuat?”
Aku sedikit tersentak,
suaranya sedikit keras. Aku menegakkan tubuhku, setegak-tegaknya agar terlihat
lebih macho, tidak ringkih. Aku kuat! Tujuh ratus badai telah kulalui,
aku kuat dan berani. Aku meyakinkan diriku sendiri.
”Saya kuat, Mbak.”
”Boleh! Boleh!” ada senyum
kecil menghias wajahnya yang menor, sambil manggut-manggut, ”Tapi, apakah kamu
ahli dalam bidang ini?”
”Oh, tentu, Mbak!” tanpa
ba bi bu, aku mengiyakan. Aku bertambah yakin.
”Bagus!”
”Kalau boleh tahu,
sebenarnya lowongan ini untuk keahlian apa, Mbak?”
”Ini panti pijat modern,
katanya tadi kamu ahli!” mata wanita itu mendelik, aku serius kaget. Kulihat saksama
sekeliling ruko itu, ada gambar wanita maupun pria berpakaian tak senonoh,
dipajang begitu saja. Vulgar. Tertulis, ’Layanan maut!’ Tanpa perlu pikir
panjang, kuambil map itu, merebutnya dari tangan wanita berwajah merah seperti
tomat. Dan aku berjalan cepat meninggalkan ruko itu sambil berteriak, ”Tidak
jadi Mbak.”
Kususuri jalan kembali. Seorang
lelaki berkendara motor menyenggol lengan kiriku dari belakang. Aku terdorong
ke kanan, dan hampir masuk ke parit yang berlubang, ”Hei! Lihat-lihat dong!”
Lelaki yang memakai ransel
besar di punggungnya itu berhenti. Tubuhnya besar, lumayan juga. Tapi aku
menegakkan tubuhku kembali, mencari kestabilan terbaik. Bersiap-siap. Lelaki
itu mendelik, aku kaget. Kenapa dia marah? Padahal dia yang memulai. Dia
menabrakku! Aku tak takut, walau tak membalas mendelik, aku hanya tegar dalam
berdiriku, mengantisipasi setiap kemungkinan, tegak setegak-tegaknya.
Tanpa dinyana, lelaki itu
mendengus keras. Mengambil sesuatu dalam tas ranselnya, aku menunggu. Mau apa
dia? Aku jadi penasaran. Lelaki yang sedikit tambun itu melipat-lipat sebuah
kertas menjadi gulungan yang acak-adut. Wajahnya begitu mengesalkan,
jujur saja. Dia melemparkan kertas itu. Gulungan kertas itu mengenai wajahku,
aku kena. Aku memang paling tidak bisa menangkap bola atau menghindar, pasti
kena.
Aku sigap! Kuambil
gulungan kertas itu, hendak kubalas melemparnya. Tapi, aku telat. Lelaki itu
telah raib, ke mana perginya lelaki kurang ajar itu? Kau tahu, Kawan, pasti dia
takut kepadaku dan lari terbirit-birit. Atau dia bersembunyai di sekitar sini?
Mataku mengitar sekitar, ramai memang, bisingnya jalan dan kendaraan yang lewat
menghalangi pandanganku ke segala penjuru. Aku benar-benar kehilangan jejaknya.
Sial!
Tanganku semakin meremas
kuat gulungan kertas biru muda itu, aku bertemu dengan kertas lagi. Kertas ini
bahkan membuatku mengkal setengah mati. Tapi, aku penasaran juga. Apa isinya?
Mungkin sebuah misteri? Atau surat
cinta? Atau surat
PHK? Atau jangan-jangan cek? Sepertinya bukan.
Kubuka pelan, susah payah.
Kertas itu telah sempurna lusuh. Terpampang dalam kertas itu di sebelah kiri,
terbuka pertama kali, banyak tulisan namun terlihat jelas tulisan besar
berwarna hitam, dengan font huruf yang indah dan tak kutahu
namanya. Tulisan itu terdiri dari empat huruf, ’LOWO.’ Sudah lelah aku rasanya
hari ini, sarapan baru dengan roti, perut keroncongan. Kau tahu kawan,
perasaanku begitu marah. Terlihat kotak sampah di depanku, seorang pemulung
sedang membersihkannya. Kubuang dengan keras kertas yang sempurna belum terbuka
itu dengan desahan kesal. Pemulung itu heran melihatku, kubiarkan saja, dia
juga melanjutkan aktivitasnya mengaduk-aduk kotak sampah itu. Mencari yang
masih bisa dimanfaatkan.
Kulanjutkan langkah
kakiku! Hingga sekitar 50 meter.
Bodoh! Aku menepuk
jidatku. Otakku bermain kata-kata, mencoba merangkai beberapa kemungkinan
huruf. LOWO, LOWO, LOWO, LOWO, LOWONGAN!
Benar! Lowongan. Pasti
lowongan pekerjaan.
Tanpa berpikir panjang,
aku membalik langkahku. Berlari, kakiku begitu mantap. 50 meter cukup membuatku
terengah-engah. Si Pemulung kembali melihatku dengan mengerutkan dahinya,
alisnya hampir beradu. ”Maaf, saya mau mencari kertasku tadi,” masih terengah-engah.
”Enak saja! Pasti kamu mau
mengambil jatahku, ini daerah kekuasaanku! Pura-pura pakai alasan. Lagaknya di awal
membuang kertas, gak boleh!”
Sobat! Jika kau berada di kota, kemudian engkau
menjadi pemulung, dan terjadi kasus seperti yang kualami saat ini, maka
ikutilah petunjukku, ikutilah apa yang akan kulakukan padanya. Aku memiting
sesuatu dari sakuku, ”Sekarang boleh, kan?”
Senyumnya mengembang dan
menyambut uang kertas lima
ribuan dari tangan kananku. Benar, bukan? Jika dia masih mengaduk-aduk terus
isi kotak sampah itu, belum tentu dia mendapatkan uang lima ribu.
”Baiklah! Ambil saja
semuanya, aku pindah ya?” senyumnya teramat ramah, seramah senyum calon anggota
legislatif sebelum menjadi anggota dewan.
Dia pergi, aku
mengaduk-aduk isi kotak sampah itu. Di mana gulungan kertas itu? Ternyata si
pemulung tadi telah benar-benar mengobrak-abrik isi tempat sampah itu. Peluh
membasah, tanganku penuh dengan kotoran. Aku tak peduli. Mataku awas bagai
elang di angkasa membubung, menajamkan, mencari makanannya. Di tumpukan tengah,
kertas itu kutemukan. Kertas biru muda. Sedikit kotor, kuambil dengan
hati-hati. Kuangkat tepat di depan wajahku. Kubuka pelan, otakku yang tadi
merangkai kata, benar-benar penasaran ingin membuktikan daya analisanya. Sangat
pelan, gemetaran tanganku dibuatnya.
Huruf kelimanya adalah ’N’
selanjutnya ’G’. Berarti sudah lowong. Tak salah lagi. Kubukan sempurna dan di
bawah sinar mentari yang sebentar lagi mendekati waktu ashar. Kawan, apakah kau
juga ingin membacanya? Baiklah, aku juga sangat penasaran ketika seluruh kertas
itu terbuka.
LOWONGAN
PEKERJAAN
Di butuhkan tenaga pengajar, untuk mengajar di Sekolah Dasar di desa
Cahaya. Minimal lulusan SMA dan sederajat, Sarjana diutamakan, jurusan apa
saja. Kriteria; mampu bertahan hidup di pedesaan, punya keteguhan jiwa seorang
guru sejati!
Tertanda, Kepala Sekolah
Danu Ramajasa.
Ada
perasaan aneh yang melingkupiku, hatiku tenang dan damai. Sungguh. Seolah aku
telah menemukan apa yang kucari. Dan aku mengulang kata, ’Cahaya!’ aku mencari
cahaya, mimpi tentang cahaya, harapan tentang cahaya, semua tentang cahaya.
Begitu meneduhkanku.
Not Comments Yet "Bagian 7, Terima Kasih Ts'ai Lun"
Posting Komentar