”Ketika itu, aku baru
saja lulus Madrasah Aliyah. Aku adalah orang dari desa yang kedua orangtuaku
telah meninggal dunia. Ibuku meninggal ketika melahirkan adikku, yang umurnya
berjarak sepuluh tahun denganku. Setelah itu, setahun kemudian ayahku meninggalkan
kami dan menyusul ibuku. Ayahku meninggal karena dituduh mencuri kardus di
depan sebuah toko, karena ayahku adalah seorang pemulung. Ayahku hanya ingin
menyambung hidup kami, tapi zaman memang telah gila. Dia dihakimi massa hanya
karena mengambil kardus bekas, yang dibuang di tempat sampah.
Aku lalu dibesarkan
oleh bibiku di Klaten. Setiap hari, sepulang sekolah, aku bekerja membantunya berdagang buah-buahan
di pasar. Setiap pagi sebelum sekolah, aku harus mengantarkan koran-koran yang
berlangganan. Aku sadar jika aku tak bekerja keras, aku tak akan bisa sekolah.
Aku juga harus menunaikan amanah ayahku yang meminta adikku untuk dapat menjadi
Hafidz Qur’an, aku memasukkannya di pesantren Fatahillah Jombang. Dia belajar
disana, gratis dengan membantu pekerjaan Kyai Amarullah. Adikku menjadi Khadim
di Pesantren itu, dan aku melepasnya saat usianya 6 tahun.
Lulus Madrasah Aliyah,
betapa aku bersyukur padaNya yang memberi kemudahan padaku, aku mendapatkan
nilai terbaik. Saat itu, aku mencintai seorang wanita yang sangat cantik.
Kecantikannya begitu jernih, lebih jernih dari mutiara, terangnya lebih terang
dari terangnya siang hari, dan tingkah lakunya yang lembut, benar-benar
membuatku tak kuasa mendebarkan melodi cinta dalam hatiku, yang selalu
berdebar-debar kala mendengar namanya. Apalagi ketika aku bertemu dengannya,
seolah kakiku gemetar. Dia adalah teman sekelasku ketika Madrasah Aliyah.
Aku datang ke
rumahnya, aku membawa suatu kekuatan yang membuat pikiranku tak tenang. Aku
selalu gelisah jika tak bertemu dengannya, gejolak itu benar-benar terasa
menyiksaku. Wanita itu bernama Sarah, jika aku mengingatnya maka wajahnya
seperti rembulan yang tak memiliki cela. Kau tahu, dia adalah anak tunggal dari
Kyai Husain, pemilik pesantren kecil di sebuah desa. Aku datang kepada beliau
dan melamar puterinya untukku. Saat itu, aku di mintanya membaca Al-Quran
dengan tartil. Aku membacanya, tapi hasilnya hanya sekedar membaca. Aku tak
lulus ujiannya.
Kyai Husain berkata
padaku, ”Pergilah menuntut ilmu, kau akan mendapatkan cinta yang sesungguhnya.
Jika kau mau sungguh-sungguh belajar, mungkin aku bisa mempertimbangkan tentang
lamaranmu ini,” Setelah itu Kyai Husain mengurus keperluan surat-suratku,
ternyata dia bekerja di KUA dan aku ketika masuk test ternyata lulus untuk
kuliah di Al-Azhar Mesir. Sebelum berangkat kuminta pada beliau untuk
menyalamkan rinduku pada Sarah, dan aku pasti kembali untuk melamarnya. Aku
juga pamitan dengan Bibi. Aku berangkat ke Mesir dengan harapan besar.
Ketika baru menginjak
satu tahun usia belajarku di Al-Azhar, kudengar kabar bahwa bibiku telah
meninggal dunia. Kini, aku tak punya siapa-siapa lagi. Di Mesir, aku harus
berjuang keras untuk meneruskan kuliahku, dan menyiapkan segalanya. Kulakukan
karena cintaku yang besar pada Sarah, sebagaimana cinta Adam as kepada Hawa,
sebagaimana cinta Majnun kepada Laila. Ketika libur tiba, aku bekerja bersama
para buruh bangunan, di saat panas terik ku panggang tubuhku di tingkat-tingkat
bangunan, hingga kulit terasa terbakar. Semua luka dan kelelahan pun sirna jika
teringat Sarah, hanya ingat saja membuatku menatap dunia dengan keindahan. Saat
pulang kuliah, kuhabiskan untuk belajar ilmu, tapi semuanya kumuarakan pada
Sarah. Gadis yang membuatku terpukau karena pesonanya.
Aku semakin mencintai
ilmu, aku dapat belajar dengan cepat dan akhirnya lulus S1 dengan nilai
tertinggi, Jayyid Jiddan. Aku
mendapatkan tawaran beasiswa kembali untuk melanjutkan S2. Aku tak ingin
mengecewakan Sarah ketika telah melihatku nanti pulang ke Indonesia, dan
menemuinya. Akhirnya aku nekad, mengambil S2 di Universitas yang sama itu,
Universitas tertua di dunia. Nama Umair terkenal di kalangan mahasiswa
Indonesia. Apa saja yang bisa kulakukan disana, pasti kulakukan untuk mencari
uang, selain itu aku bisnis catering untuk pesanan. Di sana aku membangun link,
untuk semakin menambah wawasan dan perkembangan usaha. Aku berpikir belajar
sekaligus mengumpulkan uang untuk Sarah dan Adikku kelak.
Saat akhir-akhirku
studiku menyelesaikan Tesis, barulah kusadari semuanya bahwa ilmu itu bukanlah
untuk mendapatkan dunia, apalagi wanita. Aku bertobat kepada Allah, aku sadar
bahwa ilmu itu hanya bisa didapat dengan menjernihkan niat untuk Allah. Tetapi,
hatiku begitu berat melupakan Sarah. Wanita yang begitu anggun dan memikat
hatiku, aku merasa bahwa aku diciptakan sebagai bayangannya, untuk selalu
menemaninya.
Hatiku yang resah,
hanya bisa diobati dengan melamarnya atau melupakannya sama sekali. Tapi, aku
tak bisa. Hatiku telah dipenuhi oleh wajahnya, senyumnya, jernih matanya. Aku
tak kuasa, satu jalan yang akan menenangkan hatiku adalah ketika Tesisku
selesai, aku akan langsung terbang dan menjemput Bidadari itu.
Hari yang begitu
kurindu untuk segera menyapaku itu, akhirnya datang juga. Aku teramat bahagia,
aku akan bertemu dengan Sarah dan adikku. Setelah itu aku pulang ke Indonesia,
kutemui adikku dulu di Jombang. Umurnya telah mencapai 16 tahun, dia kelas 2
SMA. Adikku telah hafal Al-Quran 21 Juz, aku teramat bahagia. Kuajak dia
mengantarkanku ke tempat Sarah untuk melamar. Saat disanalah petir seolah
menyambar kepalaku, bagaikan godam besar memukul keningku, bagaikan beliung yang menerbangkan rumput-rumputan,
setelah mendengar kabar dari Kyai Husain.
Sarah telah menikah.
Sarah menungguku terlalu lama, padahal dia juga menantiku, sebagaimana yang
diceritakan kyai Husein. Tapi, apalah daya dan kekuatan kecuali Allah-lah yang
telah menggariskan segalanya. Aku pulang dengan langkah yang berat, mataku
berair sepanjang jalan menaiki Bus itu. Aku kembali pulang ke Klaten, di rumah
bibiku yang telah meninggal, dan adikku ingin menemaniku karena kebetulan dia
juga sedang liburan.
Hal yang tak kuduga
adalah, aku seorang lulusan S2 Al-Azhar Mesir yang menempa generasi Rabbani.
Menjadi pemurung, aku telah kalah dengan keadaan. Hidupku serasa jasad tanpa
ruh.
Aku jatuh sakit,
hingga berbulan-bulan.
Adikku terpaksa
menungguiku, dia meminta izin liburan di pesantrennya dan sekaligus di sekolahnya. Dalam hening sakitku, aku ingin
bangkit dari keterpurukan tapi wajah Sarah selalu berada di kelopak mataku, aku
benar-benar telah gila. Setiap hari mataku hanya membuyarkan bening aliran. Aku
benar-benar terpuruk. Adikku dengan sabar membimbingku untuk berubah.
Hingga suatu hari
keyakinanku bangkit oleh kata-katanya.
”Kak, bangkitlah.
Kakakku Umair tidaklah bermental lemah seperti ini. Kakakku Umair adalah
seorang ksatria, Ibu dan Bapak di sisi Allah juga memercayakan aku padanya. Aku
percaya kakakku, bukanlah menghancurkan dirinya hanya gara-gara seorang wanita.
Sungguh Allah begitu sayang kepada Kakak! Dia tidak pernah bersikap dzolim
sedikitpun pada Kakak. Allah telah menganugerahkan ilmu kepada Kakak, kakak
telah lulus dan menguasai ilmu hadits. Hanya seperti inikah, orang yang telah
Bapak dan Ibu percaya untuk menjagaku,”
Adikku menangis,
mungkin kesabarannya mulai hilang. Tapi, aku masih diam tak berbahasa. Walau,
airmataku mengalir karena kecewa pada diriku sendiri.
”Kakak telah
mengecewakanku. Kini, akulah tulang punggung keluarga. Kakak tega? Menjadikanku
seorang pemulung demi mencari sesuap nasi untuk Kakak yang hanya bisa
bermalas-malasan. Demi Allah! Dia sangat membenci orang berilmu yang tidak mau
mengamalkan ilmunya. Allah sangat mencintaimu Kak,” tangisnya malam itu membuat
hatiku teriris-iris.
”Selama Kakak di
Mesir, Kakak selalu mengirimkan uang kepadaku untuk biaya sekolahku. Aku kira
Kakak adalah seorang yang tegar, kini kutahu. Aku sangat kecewa pada Kakak!”
isaknya yang lirih terdengar, lebih keras di keheningan malam. Airmatanya
menetes di lenganku yang kurus, berbalut kulit saja.
”Kakak, kumohon
bangkitlah. Aku mencintaimu karena Allah, aku akan selalu menemanimu hingga
nyawaku pun akan terpisah, aku tak peduli. Karena aku tidak punya siapa-siapa
lagi, kecuali Kakak. Jika Kakak seperti ini, Kakak tidak ingin membuktikan
bahwa Kakak seorang yang kuat? Apakah Kakak merasa Allah tidak adil? Aku ingin melihat
Kakak bangkit! Aku tak akan bisa tidur dengan tenang jika Kakak seperti ini,”
Aku memejamkan mataku,
gerimis jernihnya tak kuasa membasah dipan yang telah reot. Kayunya telah mulai
lapuk, bunyi kriut-kriut setiap kubergerak adalah buktinya.
Sepertiga malam
terakhir itu, kulihat adikku kembali bermunajat di atas sajadahnya. Di depan
tidurku yang sebenarnya mataku melihat, hatiku merasa, tapi seolah tak ada
kuasa untukku bertindak lebih kecuali bagaikan jasad semata.
Dia kembali menangis
dalam doanya. Aku mendengarkannya.
”Ya Allah, berilah hambaMu cintaMu, dan cinta orang yang cintanya
memberi kebaikan padaku di sisiMu. Ya Allah, apa yang kau berikan padaku dan
aku senangi, maka jadikanlah itu kekuatan bagiku untuk melakukan apa yang Kau
sukai. Ya Allah, apa yang Kau jauhkan dariku dari apa yang kusenangi, maka
jadikanlah itu kelapanganku dari apa yang Kau sukai.” kumemohon hanya kepadaMu, tidak
ada selainMu dalam hatiku. Jagalah kakakku ya Allah. Ya Allah, tidak pernah
hambaMu ini berputus asa kecuali hanya karena kakakku yang malang nasibnya ya
Allah. Kumohon, dengan segenap cintaMu, kembalikan dia padaku ya Allah. Jangan
Kau ambil dia, jangan Kau jadikan dia bagaikan jasad tak bergerak.
Allah..., aku telah
ikhlaskan diriku kepadaMu. Aku belajar menghafal Al-Quran hanyalah mengharap
ridhaMu, seandainya Engkau ridha akan amalku itu. Maka kembalikanlah kakakku
seperti semula. Kakakku yang akan memperjuangkan agamaMu dengan segenap
jiwanya. Allah..., kembalikan kakakku ya Allah. Jadikanlah dia kuat, jadikan
dia tegar. Jika aku dijadikan tebusanpun untuknya, aku bersedia ya Allah.”
Isaknya yang meratap
membuat tanganku bergerak. Terus kupaksa bergerak, sangat berat. Menjentik dan
akhirnya terangkat, gemetaran kuletakkan pelan telapak tangan kananku, di kepalanya
yang tertutup surban. Bibirku bergerak sembari tepat tanganku yang gemetaran
menyentuh kepalanya, ”Adik...k,” suaraku keluar.
Dia langsung menoleh
dan menatap mataku. Kami bertatapan lama, kedipan mata kami berpacu dan derai
airmata terus mengalir menyiratkan ikatan kami yang kuat. Bibir kami sama-sama
bergetar, tasbih dalam hati kami tak kuasa tercurahkan untuk Allah. Allah
membangkitkan aku lagi. Aku harus bangkit!
”Aku akan bangkit dari
kelemahan ini adikku,” kugerakkan tubuhku untuk duduk.
Adikku langsung
menghambur dan menubrukku. Dia sesenggukan. Dia berujar hamdalah tanpa henti hingga adzan subuh dari masjid Ar-Rahman
berkumandang. Airmata kami bersatu dalam kesyukuran. Aku dibantunya untuk
bangkit lalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Tertatih aku membasuh semua bagian,
wudhu, bergetar kurasakan kesegaran yang tiada terkira. Kulihat adikku
memerhatikanku sambil terus menangis gembira.
Aku shalat subuh
berjamaah, saat itulah aku menjadi manusia yang baru. Aku bangkit dari
keterpurukan. Tapi, rasa cintaku kepada Sarah tidak pernah berubah sampai kapan
pun. Aku mulai mengatur pola hidupku. Aku mengirim kembali adikku ke Jombang
yang telah libur selama setahun. Selama menungguiku, dia menghafal Al-Quran
sendiri tanpa ada yang memandunya. Kini disana dia ingin mengetes hafalan 30
juznya yang telah selesai.
Aku mencoba mencari
peluang usaha. Aku ingin menjadi enterpreneur,
aku telah banyak belajar di Mesir. Bukankah Rasulullah saw, Abdurahman bin auf
ra., Utsman bin Affan ra., Abu Bakar ra. juga sukses dalam berdagang, modalnya
yang utama sangat sederhana. Jujur.
Aku kembali membaca
buku-buku bisnis yang kubeli sewaktu di Mesir. Aku harus berpacu akan
ketertinggalanku selama ini. Kini, adikkulah harapanku. Aku bertekad kuat dalam
hatiku, tak akan membuatnya menangis lagi, walau hanya dalam mimpi. Hidupku
akan kucurahkan untuknya. Dia yang membangkitkanku dalam tidur panjang, saatnya
kubuktikan padanya bahwa dia tidak pernah sia-sia menjagaku.
Uangku dari hasil
kerja di Mesir selalu kusimpan, sehingga dapat kugunakan untuk modal usaha di
Indonesia. Pound masih mahal harga jualnya dari rupiah.
Sebagai langkah awal,
aku di terima sebagai dosen di salah satu Universitas Swasta di Surabaya. Aku
terus mempelajari usaha-usaha yang berkembang. Teringat pepatah bisnis, ”Masa depan bukannya di depan kita, melainkan
sudah terjadi.”
aku mencoba membuka rumah makan ala Arab di dekat Kampus. Walau cibiran datang
dari beberapa mahasiswa dan Dosen, tak aku gubris. Aku harus maju, kalau
gerbang masa depan sudah terjadi, siapa tidak mau masuk akan tertinggal di
belakang. Seperti itulah ucapan Philip Khotler, ”Hari ini anda harus berlari lebih cepat untuk tetap berada di tempat
yang sama.” untuk menempati posisi yang sama, kita harus berlari lebih
cepat bukan?
Di rumah makan itu
semakin ramai, setelah kusediakan panggung untuk para pecinta seni untuk unjuk
kebolehan, bukankah mereka juga senang jika unjuk kebolehannya? Maka ini saling
memanfaatkan, mutualisme, tidak ada
yang dirugikan. Jika rumah makanku ramai, mereka juga kebagian jatahnya,
setidaknya makan gratis. Aku membuat menu-menu baru, apalagi aku banyak belajar
masakan ala Timur Tengah. Subhanallah,
Allah sangat menyayangiku. Rumah makan itu semakin lama semakin ramai,
kuperlebar dan tanah yang semula menyewa, dapat kubeli walaupun mengangsur.
Rumah makan Barakah
akhirnya semakin maju, dan membuka cabang di dekat-dekat Kampus, di titik
strategis. Di dekat UI Depok, lalu di dekat UM Malang, di dekat Stasiun Gambir
dan beberapa titik strategis lainnya.
Pengelolaan rumah makan
Barakah, akhirnya kuserahkan pada Ridwan, karyawanku sejak awal. Aku hanya
sesekali memantaunya, aku akan mencari usaha yang lain. Aku beralih membuat
usaha baru di Stasiun Gambir. Sebuah hotel yang mempunyai standar khusus, yaitu
standar Syariah Islam. Saat awal launching, banyak kebingungan dari banyak
pihak. Hotel Mawaddah bertuliskan Syariah di belakangnya.
Hotel itu, seluruh
pelayan wanitanya memakai jilbab. Di setiap sudut tembok banyak ukiran
ayat-ayat Al-Quran, sebagai bahan muhasabbah. Di setiap kamar tersedia,
Al-Quran, buku hadits Bukhari dan Muslim, juga kumpulan doa, perlengkapan
shalat, dan lain-lain. Setiap pengunjung yang akan menginap diperiksa, jika
berpasangan harus menyertakan surat tanda nikah, menggeledah jika ada
barang-barang haram dan sebagainya. Alhamdulillah,
sambutan masyarakat sangat antusias.
Menyitir kembali
kata-kata Philip Khotler bahwa, ”Jangan
membeli pangsa pasar, pikirkanlah bagaimana mendapatkannya. Dan siapakah yang
akhirnya merancang suatu produk baik jasa maupun barang? Tentu saja pelanggan.”
masyarakat kurasa sudah muak dengan segala kebobrokan, masyarakat Indonesia
telah merindukan syariat di tengah-tengah kehidupan mereka. Bukankah syariah itu menentramkan?
Pelangganlah yang
membuatku mendirikan setiap usaha, dan akhirnya Allah mempermudah segala
jalannya. Setiap kuanalisa masyarakat butuh ini, maka aku ciptakan barang ini.
Jika masyarakat membutuhkan barang itu, maka aku menciptakan barang itu. Aku
bekerja berdasarkan pemenuhan akan para perancang itu sendiri, yaitu konsumen.
Misalnya di Stasiun Gambir, kulihat sering ketika malam banyak para wanita dan
pria yang kebingungan ketika sampai disana kemalaman. Untuk menghindari segala
marabahaya dan resiko di kala malam, aku ciptakan hotel syariah itu. Dan
hasilnya Insyaallah baik dan sukses.
Aku semakin gemar
berusaha, tapi tak kutinggalkan kegemaranku dalam berdakwah sebagaimana
kebiasaanku saat di Mesir. Aku benar-benar bisa bangkit. Adikku telah lulus SMA,
dan dia telah hafal Al-Quran, aku masih kalah dengannya. Setelah kami berkumpul
dan berembuk, dia sepakat dengan usulku untuk meneruskan kuliah di Mesir
seperti aku dulu. Dia mendalami ilmu Tafsir. Dengan mudah, beasiswa cepat di
perolehnya, karena aku sangat paham dengan kemampuannya.
Sejak dia berangkat,
jujur selalu ada kerinduan yang menyesak dalam dada. Tapi selalu kuobati dengan
menyebut nama Allah, dalam setiap ruang jiwaku. Kuobati pula dengan menyibukkan
diri dengan usaha, dan banyak meringankan beban fakir miskin. Walau tak bisa
sepenuhnya menggantikannya, hingga suatu hari.
Datanglah seorang
lelaki seumuran denganku. Bertandang ke rumahku di Klaten.
”Aku tahu sampai
sekarang, kau sangat mencintai Sarah. Sampai sekarang pun, walaupun dia telah
menjadi sah isteriku. Tapi dalam hatinya
selalu dipenuhi oleh namamu Umair. Aku hanya ingin
menawarkan segala kebaikan untuk kita berdua saudaraku. Jujur saja, aku
membutuhkan uang banyak, untuk meneruskan hidupku yang sampai sekarang masih
menjadi pengangguran.”
”Aku tidak tahu
maksudmu saudaraku?”
”Aku akan menceraikan
Sarah yang pernah membuatmu sakit hingga lama. Dan kau bisa menikahinya. Dan
berikanlah santunan kepadaku sebesar lima juta rupiah, bukankah itu sepadan
dengan Sarah yang begitu cantik?”
Wajahku langsung
memerah, bagai bara api yang di tambah dengan minyak. Darahku mendidih, sore
yang sejuk itu seolah berubah bagai siang di Mesir kala musim panas menyenggat,
lebih-lebih ketika matahari tepat beradi di atas ubun-ubun. Seluruh organ di
tubuhku mendidih. Sarah, alangkah menderitanya kau di tangan seorang suami yang
rela menjualmu. Hatiku bergumam marah.
”Ceraikanlah dia, akan
kuberi kau uang itu. Tapi aku tak akan menikahinya!” emosiku meluap. Ingin
sekali kutampar dia, tapi baginda Rasulullah saw mengajarkan pada umat muslim
untuk memulyakan tamunya.
Aku menulis cek, lalu
kuserahkan padanya, ”Terserah padamu, yang jelas ceraikan Sarah segera, dan
kembalikan dia pada orangtuanya. Biarkanlah dia hidup bahagia tanpa lelaki
bejat sepertimu.”
”Jangan marah
saudaraku! Baiklah kau tidak mau menikahinya cukuplah bagiku uang ini untuk
segera menceraikannya. Bukankah kenikmatan kuncup mawarnya telah kuhirup. Jika
kau menikahinya kau hanya mendapatkan sepahnya. Ha..ha..ha..”
Aku sudah tak sabar
lagi. Tamu yang keterlaluan. Aku memukulnya dari belakang. Dia mencoba melawan,
saat berbalik ketendang dia sekali lagi. Saat kami bergelut, Satpam rumahku
datang dan melerai kami.
”Baiklah! Aku terima
pukulanmu ini! Tapi ingat, uang ini telah menjadi milikku dan Sarah akan
kubuang!” pergilah dia, meninggalkanku yang masih memendam bara.
Aku merasa tak tenang
dalam setiap tidurku, Setiap makanku, setiap gerakku. Jujur wajah Sarah terus
membayang kembali dalam ingatanku, wajahnya tersenyum kepadaku. Aku langsung
menuju ke rumah Kyai Husein, ayahnya.
Kabar dari Kyai Husein
semakin membuat hatiku gerimis. Sarah dan suaminya telah meninggal dunia dalam
perjalanan, saat mereka sedang menuju rumah Kyai Husein. Hatiku bergetar hebat.
”Dua malam yang lalu,
Sarah menelepon kalau dia akan pulang ke rumah. Dari nada suaranya dia seperti
terisak dan menangis. Saat kami tunggu kedatangannya, dia tidak datang juga,
hingga kami ketiduran di ruang tamu. Hingga pagi, kami dikejutkan oleh
kedatangan Polisi, yang memberitahukan bahwa Sarah dan suaminya kecelakaan dan
keduanya meninggal di tempat.”
”Dari wajah Sarah
selain bekas kecelakaan, terdapat bekas pukulan tangan. Dia baru saja dipukul.
Lalu di mobil ditemukan surat cerai yang telah ditandatangani oleh kedua pihak
suami dan isteri. Mereka telah resmi bercerai. Kami kehilangan Sarah, aku
sangat menyesal menyerahkannya pada lelaki itu, bukan kepadamu anakku,” Kyai
Husein menangis dan mengusap airmatanya. Kyai Husein menyerahkan secarik kertas
yang ditemukan di dalam mobil, saat mobil itu kecelakaan dan digeledah Polisi,
tertulis di atasnya, ”Untuk Umair sahabatku.”
Aku pamit pada Kyai
Husein. Aku menjenguk Sarah di pekuburan. Semua ini telah digariskan Allah,
tapi atas kesalahanku juga. Kenapa aku begitu angkuh! Tanah merah itu terasa
lembab di pagi yang teduh. Embun masih menyelimuti gundukan itu.
Aku membuka surat itu.
Umair...
Maafkan suamiku yang aku tahu dia pasti memerasmu. Dia sangat marah
ketika sampai di rumah, langsung aku di hajarnya. Setiap hari memang itu yang
selalu dilakukannya. Aku selalu menunggumu dulu, tapi kukira kau telah melupakanku
maka aku menerima keinginan Abah, untuk menikah dengan anak salah satu
muridnya.
Bertahun-tahun aku bungkam dalam penderitaan. Aku tak katakan, apapun
tentang perlakuan suamiku. Hingga malam itu dia hendak datang ke rumahmu, aku
melarangnya dengan keras dan dia memukulku. Aku hanya bisa berdoa. Ketika dia
pulang sambil membawa mobil, yang entah dia dapat dimana dia langsung memukulku
dan memaksaku menandatangani surat perceraian.
Aku diaraknya masuk ke mobil sambil diseret. Aku menulis surat ini saat
di mobil, saat mantan suamiku sedang bernyanyi sambil menyetir. Dia
kelihatannya sangat gembira, aku yang sudah sangat menderita. Cukuplah rasanya,
aku ingin memukulnya saat ini karena aku telah bukan isterinya lagi. Maafkan
aku Umair, aku tak menepati janji kita dulu. Salamku
Sarah
Ada ciprat darah yang
mengotori tulisan Sarah. Alangkah besar penderitaanmu Sarah. Maafkan aku,
maafkan aku, semoga Allah memberimu tempat terindah, sehingga kau tak lagi
merasa menderita. Aku meninggalkan pekuburan itu dan menatap matahari yang
mulai meninggi.
Setelah itu hidupku
kembali seperti biasa, walau wajah Sarah selalu membayangi setiap langkahku.
Sebuah email dari Mesir masuk ke emailku, dari adikku. Dia memintaku untuk
segera menikah, bukankah umur telah menginjak hampir kepala tiga. Kini, hidupku
hanyalah untuk adikku. Aku balas emailnya, jika dia mau aku menikah, maka dia
harus mencarikannya dan pulang untuk sejenak ke Indonesia.
Dia langsung terbang
ke Indonesia. Walau kuliahnya masih ada, dia izin. Aku memarahinya, tapi dia
malah tersenyum. Hilang pula selera marahku dan terganti kerinduan. Aku
memeluknya.
”Sekarang mari kita ke
pesantren dimana aku dulu pernah belajar menghafal Quran.”
”Untuk apa?”
”Untuk menjemput kakak
iparku, menjemput bidadari Kakak!” semangatnya yang menggebu-gebu tak berani
kutolak. Tak kuceritakan ada kejadian apa setelah dia ke Mesir. Saat di
Pesantren di Jombang tempatnya dulu mondok. Dia mengatakan niatnya untuk
mencarikan isteri untukku, dia mengumbar kata-kata bahwa kakaknya adalah lulusan
Al-Azhar jurusan Hadits. Dasar adikku, dia menurun sifat promosiku. Aku kembali
tersenyum.
Saat berhadapan dengan
Kyai Amarullah, aku tak bisa berkutik apa-apa. Kuserahkan semuanya pada adikku,
Kyai Amarullah menatapku teduh. Yang jelas aku percaya, adikku tak akan
menjerumuskan aku, dialah orang yang aku cintai di dunia ini. Kyai Amar
memintaku membaca beberapa Hadits tentang iman, tentang nikah, tentang dakwah,
tentang kasih sayang. Aku membacakannya sesuai dengan riwayat dan atsarnya. Dia
hanya manggut-manggut.
”Kau membawa orang
yang tepat,” Kyai itu berkata pada adikku, ”Allah telah menggariskan garis
takdirnya. Anakku yang terakhir kemarin memintaku mencarikan seorang suami yang
saleh. Insyaallah puteriku itu Hafidz
Quran, dia baru saja wisuda jurusan Kedokteran di Universitas Indonesia. Semoga
kalian cocok, dia akan kupanggilkan.”
”Kakak saya setuju
Kyai, dia memang mencari isteri yang Hafidz Quran, karena dia juga ingin
belajar darinya, karena dia hanya tinggal kurang sedikit lagi untuk mengkhatamkan
Quran,” dia melirikku dan mengangkat sebelah alisnya.
”Insyaallah saya bersedia, bukanlah Rasulullah saw bersabda, ”Sesudah taqwa kepada Allah, tidak ada yang
bermanfaat bagi seorang mukmin yang lebih baik, daripada seorang isteri yang
sholihah,”
”Baiklah, jika memang
ini kehendak Allah. Mari kita ke masjid untuk melangsungkan aqad nikah. Akan
kupanggilkan puteriku. Kau masih ingat masjidnya bukan?” adikku manggut, ”Inggih Kyai.” aku bangga pada adikku,
walau dia telah kuliah di Mesir, sikap sahajanya selalu terpelihara.
Aqad sederhana itu
terjadi di Masjid Baiturrahman, di Pesantren Baiturrahman tempat adikku dulu nyantri. Isteriku itu kuakui, dia lebih
cantik dari Sarah. Tapi entah kenapa, hatiku kurang condong kepadanya. Hingga
atas saran isteriku itulah, aku mendirikan pesantren Darussalam ini Ali.”
Ustadz Umair
mengakhiri ceritanya. Embun di matanya sembab, aku ikut pula merasakan, betapa
pedih dan beratnya perjalanan Ustadz Umair.
”Isteriku tahu kalau
aku belum bisa mencintainya hingga kini, kau tahu Ali. Setiap hari aku selalu
di Pesantren ini, kecuali hari minggu aku pulang untuk menemui isteri dan
anak-anakku, itupun jika aku tak ada agenda kajian tambahan atau undangan. Aku
merasa berbuat dzolim padanya, pada bidadari yang dipilihkan adikku. Pada
anak-anakku, darah dagingku. Aku tidak ingin menyakiti bidadari yang begitu
tegar hidup membina anak-anakku, hingga mereka semua menjadi soleh dan
solehah,” isaknya terdengar bagaikan ratapan.
”Aku ingin saran
darimu Ali, karena kumerasa sebenarnya kau juga mengalami hal yang mirip
denganku. Tapi kau dapat mengatasinya?”
Aku kaget, degup
jantungku seolah hampir berhenti. Ustadz Umair tahu? Padahal hanya aku dan
Allahlah yang tahu. Apakah kekuatan perasaan yang sama, bisa mendapatkan
gelombang resonansi yang terkait bisa terasakan.
Aku diam beberapa
saat.
”Ustadz, aku
sebenarnya tak pantas memberi masukan untuk Ustadz. Tapi Ustadz sepertinya
sedang membutuhkan nasehat, bukankah Allah menyuruh kita untuk saling
menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Yang harus Ustadz Umair lakukan adalah
mengupayakan cinta kepada isteri Ustadz. Tidak ada yang terlambat Tadz.
Bukankah baginda Rasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik
orang di antara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya,”
berbuat baik disini bukanlah hanya tidak menyakitinya, atau melayaninya
dengan baik, melainkan mencintainya dengan sepenuh hati, karena baginda Rasul
amat sangat mencintai isteri-isterinya hingga jika beliau saw diundang selalu
mencantumkan perhatian, ”Apakah isteriku juga diundang?” jika isterinya
diundang juga maka Rasulullah akan datang pula.
Ustadz haruslah
mencandainya, agar tumbuh rasa cinta diantara suami isteri, ”Rasulullah saw membolehkan dusta dalam tiga
perkara ; peperangan, mendamaikan dua orang yang berselisih, dan pembicaraan
suami kepada isterinya.
Ustadz harus terus berdoa kepada Allah agar cinta itu ditumbuhkan. Sarah
yang telah meninggal, bukankah dia telah diambil oleh Pemiliknya. Ustadz harus
memberikan cinta kepada orang-orang yang masih Ustadz miliki. Penyesalan akan
terjadi, jika Ustadz mengecewakan karunia Allah berupa isteri yang shalihah.”
”Jazakallah Ali, hayyakallah
ya bunayya.
Aku akan mencoba mengikuti saranmu,” matanya masih berkaca-kaca, ”Seolah hadits
yang baru kau baca itu baru kedengar sama sekali. Padahal dulu aku
mempelajarinya, tapi kini aku langsung mendapat pengajaran darimu anakku.”
Aku sejenak terlelap
dalam buaian angin sepoi kota Depok. Baru kutahu, aku sedang berhadapan dengan
orang yang sebenarnya seorang sukses dalam berdagang, mungkin dia menyamakanku,
karena kami sama-sama berusaha bekerja dan berwirausaha.
”Ali...,” Ustadz Umair
menatapku, ”Aku ingin minta bantuan padamu,”
”Apa itu Ustadz?”
”Aku mempunyai empat
orang anak,” beliau menatap langit bertabur gemintang gemerlap, ”Mereka semua
telah besar dan mandiri. Anakku yang pertama laki-laki telah berusaha dan
menikah dengan seorang muslimah lulusan UIN Yogyakarta. Dia seorang aktivis
yang berkarakter, anakku yang perempuan dia telah menikah dengan seorang lelaki
sholih lulusan University of Sudan dan akhirnya menetap di sana, karena sang
suami menjadi duta besar disana. Dia pun mengabdikan dirinya menjadi Dokter di
Sudan. Anakku yang ketiga dia menikah dengan seorang lulusan Al-Azhar Mesir S2
Hadits. Saat ini puteriku itu menemani suaminya menyelesaikan S3 nya, dan dia
menyelesaikan S1 yang dilanjutkan dari UI ini.”
”Ketiga anakku yang
telah menikah itu semuanya memercayakan jodohnya pada adikku yang telah banyak
menunjukkan jalan padaku. Aku merelakan di setiap pernikahan anak-anakku, dialah
yang menggantikanku sebagai walinya. Aku tak kuat mengikrarkan aqad nikah,
karena aku merasa tak memberikan cintaku pada isteri dan anak-anakku. Aku
memang lelaki yang kehilangan cintanya, aku orang yang menderita karena cinta
tak ada dalam hatiku,” beliau mengusap bening di kedua sudut matanya.
”Kini, setelah kau
berkata padaku tadi dan baru saja anakku datang menjengukku kesini, dia adalah
anakku yang keempat. Seorang wanita, dia ingin aku yang menikahkannya, bukan
adikku lagi seperti ketiga kakaknya. Aku tak bisa menolaknya Ali..., dia
memintaku untuk mencarikan calon suami yang sholeh. Aku tak kuasa menolak
tatapan matanya yang penuh cinta. Dia akan patuh pada calon yang akan
kuberikan.
Lihatlah anakku itu,
alangkah percaya dan cintanya padaku. Padahal, cintaku belum juga bisa tumbuh
untuk isteriku. Aku ingin kau membantu meringankan bebanku ini Ali. Aku ingin
kau membantuku mencarikan pasangan untuknya.”
”Tadz, insyaallah lelaki sholeh itu banyak.
Disini juga banyak, insyaallah saya
akan membantu sekuat tenaga. Saya juga kenal beberapa santri atau aktivis atau
orang yang hanif saat bertemu di kala itikaf, juga saya kadang ke tempat
pesantren lain untuk mengisi kajian ataupun mengikuti kajian. Ustadz tidak
perlu pusing.”
”Anakku...,” dia
menatap mataku, seolah menusuk tajam, ”Kaulah orangnya Ali, dia memintaku
mencarikan orang yang benar-benar aku kenal, dan kaulah yang kukenal.
Seandainya kau tidak mencintainya kau tidak akan pernah menyakitinya karena
ilmumu anakku. Itulah masalahnya kenapa aku pusing. Saat kusebutkan namamu dia
tampak memerah wajahnya. Dia mengenalmu, tapi kau mungkin belum tahu dia.”
Dadaku benar-benar
sesak. Kupegangi dadaku agar jantung tidak jatuh. Dan bulan menyapaku merdu.
Dia kenal denganku? Anak Ustadz Umair?
Not Comments Yet "Part 33, Cinta yang HILANG"
Posting Komentar