Setiap sore setelah pulang
sekolah dan menyelesaikan mengantar telur-telur kepada para langganan, aku
melatih sepak bola kelas lima dan enam untuk persiapan pertandingan sepak bola,
tinggal dua-tiga minggu lagi. Pak Danu selalu menyertai latihan kami, penuh
semangat menyoraki ketika gol dilesakkan, berteriak kala siswa menggiring bola
dan tak terebut. Kawan, kulihat semangat dan harapannya kembali, dia telah
menjelma menjadi pemuda belasan tahun yang penuh semangat.
Ada 20 siswa. Untuk memilih
pemain sayap kiri dan sayap kanan, aku mengadu kecepatan mereka berlari dari
satu gawang ke gawang lain, lari sprint. Tidak tanggung-tanggung,
kuulangi sebanyak 25 kali, dan beberapa siswa berguguran tak bisa meneruskan
karena lari itu bukan satu kali lalu istirahat, tapi terus-menerus. Seorang
penggiring bola sampai depan harus prima, kuat untuk bertahan lari seperti larinya
kuda.
Hanya empat orang yang
bertahan, walau dalam hitungan akhirnya, ketika sampai pada putaran ke 20,
mereka berlari sangat lambat. Seminggu ini, aku telah menentukan pemain-pemain
sesuai kemampuan mereka. Terpilih pula pemain cadangan. Back di gawang
yang mempunyai jiwa rela berkorban paling tinggi, karena mereka bertugas
menjaga pertahanan sebagai jiwa dan raga mereka, bagai prajurit berani mati
yang mengawal raja, membela walau raga melayang. Striker utama tetap
kuberikan pada Syahid, dia tak pernah berhenti melatih tendangan bengkoknya,
dia melatih tendangan Beckham, tendangan Ronaldo, Ronaldhino.
Di lain sore, aku
mengumpulkan semua pemain yang telah siap bertanding. Aku belikan bola baru
dari gajiku mengajar, semua murid bergembira. Tapi, hari ini aku tidak memberi
aba-aba apa pun. Jadi, sore ini tidak latihan. Di sana ada Pak Danu, Pak Yusuf,
Bu Siska dan Bu Ria yang bersemangat ingin menonton latihan yang begitu
bersemangat, akibat hasutan Pak Danu pada mereka semua. Pak Danu terkena sindrom
positif menang, hingga siapa pun yang ditemuinya akan dikatakan bahwa
pertandingan di kecamatan, akan dimenangkan Sekolah Cahaya.
Satu pelajaran lagi
kudapatkan, ’Jika kau memberi semangat atau motivasi pada seseorang, maka
jangan berlebihan, kau akan kesusahan sendiri nantinya.’
Para guru kecewa karena
hari ini, mereka tidak melihat latihan, tapi mataku dan mata Syahid bertemu.
Kami saling mengangguk, saatnya menunjukkan kekuatan mimpi, seperti pernah
kukatakan padamu, bahwa pahlawan ilmu pengetahuan Einstein pernah berkata, ’Imajinasi
lebih penting dari ilmu pengetahuan.’
Aku dan Syahid berlari,
menuju ruangan balai sekolah untuk rapat sekaligus balai desa, yang kondisi ruangannya telah parah. Semalam,
saat setelah latihan bela diri aku dan Syahid menyiapkan ruangan itu, mamasang
kursi yang terlipat-lipat, kami rapikan tempat duduknya. Ruangan kami bersihkan
dari debu yang menempel di setiap kursi, sarang laba-laba kami bersihkan.
Semua guru dan para siswa
mengikuti kami tanpa kami komando. Ikut serta pula beberapa warga desa yang
diundang Pak Danu untuk menyaksikan latihan agar masyarakat semakin yakin
dengan kemenangan yang menjadi mimpi-mimpinya, memenangkan pertandingan sepak
bola antar sekolah. Tentu saja, setelah sekian lamanya menjadi Kepala Sekolah,
dia merasa gagal karena dalam pajangan ruangan guru, tak satu pun tampak piala
bertengger di sana sebagai kebanggan sekolah.
Mereka masuk satu-persatu,
dimulai oleh Pak Danu sendiri. Syahid melayani mereka, bagai penerima tamu saat
resepsi pernikahan atau khitanan. Kawan, ruangan balai sekolah ini kupersiapkan
karena bisa menampung lebih dari seratus orang. Kursi kayu, yang mulai reot
itu, satu-persatu diduduki. Satu kekurangan, atap papan di atas lapuk dan
rusak, dan gentingnya telah banyak lubang, makanya tadi malam, kami menggelar
terpal untuk dibentangkan di atas kepala manusia, tinggi dari lantainya
kira-kira dua meter, bisa dicopot jika acara
yang kami rencanakan ini selesai.
Beberapa warga masih
terbengong di luar, melihat dari jendela, mungkin masih bingung. Di hadapan
mereka semua, terlihat sebuah kotak tertutupi kain jarik yang panjang, sebuah
benda seolah berada di dalamnya, di atas meja. Aku dan Syahid, memegang dua
ujung kain itu berlawanan, dengan senyum, kami membuka kain tersebut.
Pada mulanya wajah mereka
penasaran, tapi setelah kubuka, wajah mereka tampak kecewa. Tapi tak apa,
karena ada yang antusias melihat benda
itu, yaitu anak-anak. Benda itu adalah televisi yang kupinjam dari Pak Lurah,
ukurannya 20 inci. Selain televisi, di sampingnya ada VCD player
kupinjam pula dari Pak Lurah.
Pak Lurah dan Indah
putrinya hadir, dan duduk di depan barisan. Indah sangat anggun dengan balutan
gaun berwarna hijau, hijau sangat muda, serasi benar dengan kulit wajahnya.
Gaun yang sopan, sampai di leher dan menutupi pergelangan tangannya.
Anak-anak sontak
berteriak, Pak Danu yang kurus seolah tampak lebih menyusut lagi tubuhnya
melihat benda di depannya, apa ini? Begitu kira-kira maksudnya, bagaimana
bisa menang? Jika tak latihan, malah rehat dan bersenang-senang nonton
televisi.
Syahid meninggalkanku dan
duduk di kursi depan, satu kosong.
”Bapak-bapak, ibu-ibu
sekalian, dan para pejuang sepak bola pemenangan lomba yang sebentar lagi
diadakan Kecamatan. Seperti pernah saya katakan
bahwa mimpi itu harus menjadi aliran dalam darah kita.”
Aku menghidupkan televisi
dan VCD player, kumasukkan sebuah kaset CD, remote kupegang. Kupencet tombol play.
”Saksikanlah semangat
tanpa batas! Bahwa mimpi dan harapan adalah kekuatan yang tidak bisa dikalahkan
oleh apa pun.”
Aku menyingkir dan berdiri
bertumpu pada tembok, terpal yang kupasang di atas semakin membuat ruangan
sedikit gelap seolah di bioskop. Para warga dan pemuda yang tadi berdiri di
luar mulai masuk, dan beberapa masyarakat menyusul hingga kursi di belakang
telah penuh. Semua mata, seolah terpusat pada gambar yang keluar, mereka sangat
penasaran. Film apa gerangan?
Kawan, jujur saja, Syahid
sebenarnya juga belum pernah melihat film yang kusetel ini. Di bagian awal,
terlihat tulisan-tulisan mandarin berseliweran, terlihat bagan tubuh manusia
tiga dimensi, mempraktikkan gerakan-gerakan, gerakan bela diri Cina, kungfu.
Ada wajah yang kulihat
sedikit kecewa, masak menonton film kungfu?
Biarlah! Durasi waktu
berjalan, dan tampaklah bola-bola beterbangan, dan tampaklah judul film
tersebut, Kungfu Soccer. Dari awal, tampak seorang tengah dihina,
kemudian saat pertandingan besar, tendangan penalti. Dia yakin bisa, tapi
tendangannya melesat melebihi tiang gawang. Lemparan terjadi dan beberapa orang
turun dan mematahkan kedua kakinya.
Para penonton histeris,
para pemain sepak bola didikanku merinding. Kasihan betul pemain sepak bola itu,
sudah berusaha sekuat tenaga tapi satu kesalahan telah membuatnya dicampakkan.
Lelaki itu akhirnya tua,
dia bertemu dengan seorang tokoh utama yang bekerja sebagai penjual
barang-barang bekas, kakinya yang kuat menendang bekas kaleng minuman, ternyata
menancap pada sebuah tembok hingga retak, saat Sang Lelaki pincang menarik
kaleng bekas itu, tembok itu runtuh.
Kawan, aku bukan melihat
filmnya, aku sudah melihatnya. Reaksi para pemain andalanku-lah yang kulihat,
para masyarakat yang antusias, Pak Danu dan Pak Yusuf mereka tampak menikmati
suguhan, begitupun Bu Ria, Bu Siska melihatku tepat saat aku melihatnya, sekali
lagi, dia tersenyum begitu manis. Bu Siska, lalu menunduk dan meneruskan
menonton film itu.
Sungguh, jauh-jauh hari
minggu kemarin, saat kuajak Syahid dengan sepeda ke pasar di Kecamatan. Tak
menyesal rasanya, mengayuh sepeda sejauh 30 km, untuk membeli kaset CD ini,
lunas terbayar oleh senyum mereka. Aku melihat semangat membara dari para
pemain andalanku.
Mereka bersorak gembira
kala Kungfu Soccer menunjukkan keahliannya, kocak, baru peluit
dibunyikan, satu tendangan dan gol! Musuh belum sempat bergerak, satu tendangan
lagi, gol! Hingga terakhir saat tim harus mengganti kiper ketiga kalinya,
semuanya cedera, hingga diganti kiper wanita.
Musuh melancarkan
tendangan mautnya, tetapi kiper yang belum pernah bermain bola itu menjadikan
bola seumpama adonan kue dan menggulungnya membentuk kanji lingkaran. Di putar
kuat oleh sang kiper dan diberikan pada Stephen Chow yang kakinya telah patah,
kekuatan mimpi dan harapan, membuat tendangan terakhir itu menerbangkan seluruh
tim musuh, hingga gawang musuh jebol.
Kawan, saat pertunjukan usai,
gegap gempita, tepuk tangan, dan lonjak-melonjak mewarnai ruangan balai sekolah
itu. Ada yang berangkulan antar warga,
kulihat mimpi-mimpi itu menyatu, menjadi persepsi dan menjadi kekuatan besar.
Kekuatan untuk menang. Dan itulah mimpi yang kulihat. Tuhan, jangan kecewakan
mimpi-mimpi mereka.
***
Sore itu, setelah acara
menonton film Kungfu Soccer, seluruh pemain baik utama maupun cadangan,
menyatukan tangan, menyatukan senyum, dan berteriak kuat, ’Menang!”
Warga berangsur-angsur
pulang. Mereka menggotong televisi dan VCD player untuk dikembalikan pada Pak Lurah,
aku dan Syahid menggulung terpal. Syahid memangku terpal dan duduk di belakang
sepeda, saat itulah ketika matahari mengingatkan berakhirnya siang, saat
keadaan benar-benar sepi, seorang wanita mendekati kami, menenteng plastik
hitam di tangan kanannya, dan menuntun seorang anak kecil di tangan kirinya.
Wanita yang dituntunnya adalah adiknya perempuan satu-satunya, masih kelas satu
SD.
Langkahnya mendekat ke
arah kami, tak salah, kamilah tujuannya.
”Ini untuk Pak Arif.”
”Untukku?”
Aku heran, penasaran, ”Apa
isinya, Bu Siska?”
”Kau selalu membuat
kejutan di desa ini. Ini bukan aneh-aneh, ini adalah baju-baju peninggalan almarhum
ayah dan juga ada dari almarhum kakekku. Kulihat, Pak Arif jarang sekali ganti
baju, hanya memakai itu-itu saja, makanya lebih baik baju-baju ini untuk Pak
Arif saja. Semoga bermanfaat.”
”Sebenarnya,
baju-bajuku...”
”Dirampok orang. Aku sudah
diceritakan Kang Mukhlis, makanya baju ini untuk Pak Arif.”
Aku malu. Kuterima baju-baju
dalam plastik hitam itu. Aku pamitan, mengayuh sepeda, semanjak bersepeda itu,
syahid selalu menggodaku. Katanya pipiku berwarna merah, benarkah kawan? Ah!
Tapi aku bahagia menerima baju-baju itu.
Setelah shalat Isya’ aku
membuka bungkusan plastik itu, beberapa setel baju dan rata-rata batik dan
kemeja. Aku melihat kemeja yang berwarna hitam, kucoba, kulihat di cermin,
cocok. Ketika aku lepas, secarik kertas terjatuh dari dalam saku baju itu. Aku
memungutnya, membuka lipatannya, terdapat tulisan latin di sana. Tulisan yang
membuat keningku berkerut, makna yang aneh.
’Tekanlah seperti Archimedes, putarlah seperti
Copernicus dan Galileo terhadap sistem tata surya, nyalakan seperti Thomas Alfa
Edison, sempurnakanlah dengan relativitas Einstein.’
Rumus aneh! Tapi
menurutku, ini adalah bagian dari misteri desa Cahaya. Baju-baju ini adalah
baju-baju wasiat yang mempunyai arti mendalam.
Not Comments Yet "Bagian 22, Baju - Baju Wasiat"
Posting Komentar