Kota
Depok yang ramai dikala pagi. Syahid memelukku dan meminta maaf, teman-teman
santri yang lain juga. Ustadz Wahid menentramkan hatiku dengan taujihnya
sebelum aku berangkat kuliah. Dia ingin bicara padaku nanti sore, membahas
tawarannya yang dulu. Aku baru ingat, keputusan apa yang akan kujawab jika
beliau menagih keputusanku? Yang jelas aku harus adil, aku harus menjawab
sesuai dengan jawaban yang kuberikan pada Pak Hamdan.
Sepulang kuliah aku
bekerja biasa di Pasar Minggu, uangku tidak seberapa. Aku harus bekerja lebih
keras dan cerdas kini. Teman-temanku di Pasar menyambutku dengan ceria, mereka
juga ikut mendoakan Bapak. Sambil memikul barang, aku memikirkan pekerjaan apa
yang bisa menghasilkan lebih banyak, Enterpreneur?
Memulai suatu usaha, tapi aku tak punya modal sama sekali. Aku berpikir keras,
sampai adzan ashar menggema.
Aku ruku’ bersama-sama
orang yang rukuk, ”Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan
sel-selku telah khusyu’ pada-Mu.”
doa itu hanya pantas diucapkan Nabi saw, tapi aku ingin berusaha
mengikutinya. Nabi saw, menyadari bahwa otaknya, tulang-tulangnya dan seluruh
sel-selnya hanyalah untuk Allah. Para sahabat pernah mengatakan, ”Kami
mendengar Nabi saw ketika melakukan shalat beliau di dada beliau gemuruh,
seperti gemuruhnya periuk air yang memanas, akibat beliau menangis.”
lalu, dimanakan posisi kita? Aku menangis padaNya karena begitu banyak yang
membayang dalam pikiranku. Dimanakah kesyukuranku?
”Allahumma inni as
aluka ladz dzatan nadzr ilaa wajhika al-kariim wa as aluka asy-syauq ilaa liqaa
ika, ya Allah, aku minta pada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, dan
aku minta kerinduan bertemu dengan-Mu.”
Aku menyudahi shalatku, beberapa teman
semuanya juga shalat di Masjid. Beberapa orangtua yang dulu kuajak masih sering
menolak, kini terlihat telah menyiapkan sarung dan peci dalam tasnya, lalu
ketika shalat mereka memakainya. Subhanallah, Allah menghendaki siapa
saja yang akan diberi petunjuk dan siapa yang tidak diberi petunjuk. Aku sempat
berpikir untuk berhenti mondok, walaupun aku gratis karena prestasi di Pondok,
tapi aku harus bekerja untuk menutupi biaya kuliah dan keluargaku di kampung.
Allah, tunjukkanlah jalan bagiku.
Pukul 16.30 aku pulang
duluan. Di Pesantren aku melihat Syahid yang sedang menyapu halaman Masjid,
hari ini dia dapat giliran piket bersama teman-teman yang juga jatahnya hari
ini. Aku mendekatinya dan mengucapkan salam, senyumnya merekah. Bukankah
senyuman itu juga shadaqoh?
”Akh, kumohon kamu jujur,”
”Masalah apa?” Syahid
kelihatan bingung.
”Siapa orang yang
mengirimkan uang enam juta ke rekeningku? Apakah itu uang Santri? Atau tabungan
kas Pesantren? kenapa kau bilang bahwa orangnya mengatakan tidak usah dibayar?
Kau bilang dia menganggapku anaknya,” aku memberondongnya.
Syahid memegang tangan
kiriku, dan menarikku ke taman kecil di samping Masjid. Dia menatapku sejenak
dan lirih berucap, ”Kau benar-benar ingin tahu? Tapi, janji jangan beritahu
kalau aku yang mengabarkannya padamu,” aku mengangguk. Syahid mendekatkan
bibirnya ke telingaku, ”Kurasa..., dia adalah Ustadz Umair, setelah tahu ayahmu
meninggal dan kabar bahwa adikmu kecelakaan. Dia mengirimkan uang itu padamu
karena beliau bertanya pada Farid nomor rekeningmu.”
”Kukira? Jadi belum
pasti, lalu kenapa kau bilang bahwa dia menganggapku anaknya, dan tidak ingin
uangnya kukembalikan?”
”Waktu itu, ketika aku
hendak shalat malam di Masjid. Kulihat Ustadz Umair disana, kebetulan aku
shalat di belakangnya dan di belakang tabir tempat shalat wanita. Saat itu
kudengar isaknya dan menangis untukmu,” Syahid berhenti sejenak.
”Dia berdoa untukku?”
bibirku bergetar, ”Berdoa untukku? Dia menangis?”
Syahid melihat
keherananku. Dia melanjutkan ucapannya, ”Aku tak sengaja mendengarnya. Ustadz
mengadu pada Allah untuk kesembuhan adikmu dan mendoakanmu agar tabah. Bahkan,
dia berkata kalau dia merelakan hidupnya untukmu. Yang aku ingat dengan kuat
adalah doanya, ’Aku tidak mau kesalahanku terulang pada Ali, mohon jagalah
dia ya Allah,’ aku tak tahu maksudnya. Dia terus mendoakanmu, dan tak
menyadari jika aku shalat di pojok belakang. Aku ikut menangis, karena suara
tangisnya bisa terdengar sampai seluruh ruangan Masjid.”
”Ustadz Umair,
beliau....,” hati dan bibirku kembali mengucap hamdalah beriringan,
betapa Allah teramat mencintaiku.
”Aku akan menemuinya,
yang jelas jika dia yang mengirimkan uang itu, maka kewajibanku membayarnya.
Aku tak ingin dikasihani orang lain, aku akan berusaha membayar uang itu. Aku
harus menjaga izzah harga diriku, Bapakku selalu mengajarkan itu padaku,” aku
menatap Syahid, meyakinkan.
”Kau memang sahabatku.
Itu baru yang namanya Ali,” dia tersenyum kepadaku. Kami berangkulan.
Persahabatan memang selalu ada, bukan untuk membantu melainkan memberikan yang
terbaik untuk persahabatan. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran dan
bersama menetapi jalan Allah ’Azza wa
Jalla.
Aku teringat, aku ada
janji dengan syaikh Wahid sore ini, aku pamitan pada Syahid dan dia meneruskan
tugasnya. Aku langsung menuju rumahnya yang tak jauh dari Pesantren, hanya
dibatasi jalan membentang. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam, sebuah suara
dari dalam menjawab. Sepertinya Ustadz Wahid.
Ustadz Wahid terlihat
telah rapi dengan gamis coklat mudanya. Sosok penuh kharisma, matanya yang
jernih membuat orang yang hendak berbuat jahatpun, pasti akan luluh dari
niatnya semula, yang terpancar dari wajahnya adalah cahaya yang mampu
mempertebal iman. Sungguh, beginikah wajah-wajah orang yang shalih? Betapa
inginnya menjadi orang yang dicintai Allah.
Beliau mempersilakan
aku masuk. Aku meminta duduk di beranda rumah saja, karena rumah syaikh Wahid
nampak begitu asri, penuh dengan bunga berwarna-warni dan juga bunga yang
hanya berbentuk daunnya saja. Ada
sejenis bunga-bunga desa, mungkin mereka sengaja menanamnya, untuk menciptakan
suasana desa. Ustadz bertanya kabar, dan dari mana. Aku menjawabnya seperti
biasa.
”Ustadz ingin
menyampaikan sesuatu?”
”Iya
Ali, sebelum kamu pulang kampung. Kita pernah bicara sesuatu tentang
keponakanku yang memintaku mencarikan suami untuknya. Untuk itulah aku
memanggilmu kini,” seorang wanita berjilbab keluar, dan memberikan nampan
berisi dua gelas teh pada Ustadz. Wanita itu mempersilakanku minum, dia pasti
isterinya Ustadz. Aku telah mempersiapkan kata-kata yang telah aku ucapkan pada
Pak Hamdan, surat Bapak kembali membuka dalam memoriku. Bapak minta, kamu
sementara jangan menikah dulu. Entah apa yang membuat Bapak berwasiat
seperti itu. Aku harus adil.
”Begini
Ali, saya meminta maaf padamu jika apa yang akan kusampaikan padamu membuatmu
kecewa. Keponakanku itu..., tiba-tiba saja memundurkan kata-katanya kepadaku.
Dia merasa ingin berbeda dengan kakak-kakaknya, dia ingin mencari calonnya
bukan lewat saya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Bukankah dia lebih berhak memilih hidupnya daripada siapapun?
Itu
sebabnya saya ingin mengucapkan maaf sedalam-dalamnya, karena bisa jadi berita
ini membuatmu kecewa. Umur, rezeki, dan jodoh ada di tangan Allah, jika kita
sabar Insyaallah Dia akan memberikan
yang lebih baik,” aku menganggukkan kepala.
”Semua
telah diatur Allah Tadz. Sebenarnya kedatanganku kesini untuk menyampaikan
bahwa saya juga akan mundur dari tawaran Ustadz tempo hari. Bukan karena
menolak, tetapi karena wasiat Bapak sebelum meninggal memintaku untuk menunda
pernikahanku. Aku harus menjaga ibu dan adik-adikku dulu, walau mungkin
sebenarnya menikah tak akan menghalangiku menjaga mereka, namun saya merasa
pesan Bapak mempunyai makna yang hanya Allah saja yang tahu,” aku teringat
kembali mimpi malam itu. Kata Ibu, Bapak telah bertemu denganku malam itu, juga
ketika paginya waktu Bapak di dunia telah habis.
”Subhanallah, kenapa semuanya bisa
searah. Berarti tidak ada yang dikecewakan dengan keputusan ini. Allah
benar-benar mempermudah persoalan hamba-hambaNya.”
”Allah
mempermudah jalanku juga Tadz,” aku lalu menceritakan tentang lamaran dari
Wanda melalui ayahnya pak Hamdan. Lalu, bagaimana jawabanku dan ketika akan
kesini harus adil dalam menentukan keputusan. Ustadz Wahid menyimak ceritaku,
dan mendoakan kebaikan bagiku. Menjelang Maghrib, aku pamitan untuk pulang ke
Pesantren. Aku langsung mandi dan memakai baju terbaik untuk mendatangi masjid.
Malam
itu sesudah kajian malam, aku menemui Ustadz Umair di serambi Masjid. Beliau
selalu disana ketika malam, kadang sering itikaf.
Begitu seringnya kulihat beliau di Masjid ketika waktu tak mengajar. Hatinya
kurasa terpaut kuat pada Masjid.
”Assalamu’alaikum,”
aku berdiri di depan Ustadz, beliau seperti melamun.
”Wa’alaikumsalam
warahmatullah,” beliau menatapku sejenak. Tangannya mempersilakanku duduk di
sebelahnya, ”Duduklah Ali.”
Keheningan
tercipta, hanya desahan malam yang menusuk hati. Terasa dingin. Gemintang
gemerlap menyinari dunia dengan hiasan lampunya, suara air yang berkecipak di
kolam terdengar karena malam begitu tenang. Aku melihat kelelawar, yang
berkelebat menyambar serangga-serangga kecil yang terbang di antara lelampu
yang putih bercahaya.
”Boleh
aku bertanya Tadz?”
”Boleh.
Tanyalah,” Ustadz Umair tak menoleh sedikitpun kearahku.
”Apakah
Bapak yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningku?” aku menatapnya penasaran,
entah apa yang akan dijawabnya. Dan aku terus menunggunya.
Senyum
kecil tercipta dari kedua ujung bibirnya. Lalu menoleh kearahku, ”Dasar orang
Sumatera, walau kau asli Jawa tapi kau telah dididik di Lampung. Ewoh-pakewoh-mu
telah bercampur dengan lingkungan. Tapi aku suka orang yang terus- terang,
daripada disembunyikan dan jadi beban.”
Ustadz
Umair tersenyum lagi, ”Memang aku yang mengirimkan uang itu, kau tahu kenapa?”
aku hanya menggeleng, ”Karena aku takut,” beliau berhenti lama.
”Takut
apa Tadz.”
”Aku
takut kau tidak kembali lagi kesini, menemaniku. Jika kau tak kesini, aku tak
akan bisa tertawa lagi, he...he...,” Ustadz Umair tertawa hingga gigi serinya
terlihat, aku ikut tertawa renyah bersamanya. Malam itu kami bercanda, ada
keakraban yang sulit kugambarkan atau pun kutuliskan. Ada semacam magnet yang
berbeda haluan, kemudian menyatu dan seolah susah untuk dilepas. Kami seolah
telah kenal lama sebelum kami bertemu, seolah dialah pengganti Bapak bagiku.
”Tapi
aku tetap akan melunasi uang itu Tadz, walaupun mungkin waktunya akan memakan
waktu lama. Aku akan berusaha, aku tidak mau berhutang,” aku menatapnya, dan
beliau juga menatapku teduh.
”Baiklah.
Tapi aku punya tawaran. Uang itu akan kuanggap lunas jika kau mau membantuku
sesuatu. Apakah kamu mau?”
”Baiklah,
saya mau tapi dengan satu syarat.”
”Apa
itu?”
”Bantuan
itu harus sesuai dengan nilai uang yang Ustadz kirimkan, jika tidak resiko
maupun tanggung-jawabnya sesuai dengan uang enam juta itu,” jawabku mantap.
”Aku
punya seorang kenalan. Kenalan baik. Aku ingin kau bekerja disana, aku ingin
kau belajar tidak hanya teori tapi juga langsung praktek. Kau akan digaji, dan
gaji itu bisa kau gunakan untuk mengangsur hutang-hutangmu padaku. Bagaimana?”
”Lalu
bagaimana dengan kuliah dan mengajiku disini Tadz?”
”Pagi
hari kau kuliah dan setelah pulang kau ke kantor, menyelesaikan tugas-tugasmu
di kantor. Jika kerjamu bagus gajimu akan dinaikkan. Kantor pulang pukul 16.30,
kecuali jika engkau mau lembur. Dan engkau masih bisa mengaji dengan baik
disini bukan walau tidak semua kajian kau ambil.”
”Apakah
bekerja bisa seperti itu Tadz?” aku bertanya keheranan.
”Kau
mau tidak?” dia menatapku serius.
”Maau..,
mmau Tadz,” aku menjawab mantap tapi gugup.
”Kau
pasti belum percaya ada pekerjaan seperti itu, sudahlah itu tidak penting. Aku
kau akan digaji setelah temanku itu melihat hasil kerjamu nanti. Bukankah
nilaimu cum laude?”
Aku
tak perlu menjawab, ”Tapi Tadz, aku belum mempunyai pengalaman apa-apa dalam
dunia kerja?”
”Pengalaman
akan datang seiring kau mengambil keputusan. Seperti itulah kau ketika tiba di
Depok, dari sebuah desa. Kini, pengalamanmu telah membuatmu menjadi orang yang
tahu bagaimana memaknai hidupmu.”
Aku
hanya mengangguk. Ingin rasanya aku menjerit, hatiku menjerit tangis, menyebut
asmaNya. Begitu mudahnya Kau balikkan dunia, begitu mudah pula Kau beri hambaMu
sesuatu yang kuharapkan. Aku harus mawas diri, aku tahu siapalah diriku. Aku
tak mau berharap lebih. Malam semakin merayap.
”Ali...,”
suara Ustadz Umair terlihat basah dan berat, ”Kenapa engkau bekerja keras di
Pasar Minggu. Kau angkut barang-barang, menjadi kuli. Kau menyembunyikan dirimu
dari teman-temanmu. Ceritakanlah padaku, jangan kau buat aku bersedih dan
menangis, melihat dirimu setiap hari bekerja tanpa ada yang memperhatikanmu.
Semua orang banyak yang mengenalmu di Depok karena ceramahmu yang lembut, lalu
kau bekerja membaur bersama kuli, dan kau tutupi wajahmu dengan kain agar kau
tak terlihat. Kau pikir kau sendirian di dunia, sehingga hanya kau saja yang
layak menderita? Dan kau sering membolos dari kajian di pondok.”
Aku
terperangah kaget, Ustadz Umair benar-benar menangis. Kukira hanya kudengar
lewat cerita Syahid. Kini beliau menangis di depanku.
”Saya...,
saya melakukannya karena saya mencintai Ibuku, saya mencintai Bapak, saya
mencintai kedua adik saya, Yasmin dan Fajar. Saya mencintai Allah sehingga
tidak mau membiarkan diriku meminta-minta kepada orang. Sungguh..., jika
seseorang berada dalam posisiku dia akan melakukan apa yang kulakukan. Jika,
itu membuat Pesantren tercemar, maka saya siap untuk mundur Tadz,” tiba-tiba
ada sedikit keberanian yang keluar. Rasa cintaku pada keluarga membuatku harus
tegas.
”Kenapa
kau berpikir aku akan mengeluarkanmu Ali?” beliau memelukku erat, dia menangis
tersedu. Aku merasakan cinta Allah begitu dekat. Saat itulah terdengar desahan
serak Ustadz Umair pelan, ”Aku tak akan melepaskan mutiara yang begitu langka
di temukan di dunia,” aku meneteskan airmata. Allah, hanya sedikit musibah yang
kualami, tapi karuniaMu begitu tak ternilai oleh apapun, walaupun itu dunia dan
seisinya. Allah, aku rela, aku ridha, aku ikhlas Kau sebagai Tuhanku. Aku rela
jika tubuh ini terluka dan tersiksa terkena apapun, asalkan aku bersamaMu.
* *
*
Siang
itu sepulang kuliah, aku langsung menuju Pesantren. Tiba di depan, Ustadz Umair
memberiku secarik kertas, ”Pergilah dengan taksi ini, dia akan membawamu sampai
ke tempat kantor temanku itu. Kau berikan surat ini dan tunggu apa reaksinya.
Setelah itu, terserah kamu mau menerima tawaranku ini atau tidak?” aku menerima
secarik kertas itu, dan menaiki taksi dengan tanda tanya besar dalam hatiku.
Taksi hijau itu meluncur, membelah jalan aspal. Baru kali ini rasanya, aku naik
mobil taksi. Begitu nyaman, aku duduk di belakang taksi. Sopir taksi beberapa
kali melihatku dari spion di samping kanannya.
”Apakah
biaya taksi ini sudah dibayar Pak?” tanyaku.
”Bapak
tadi sudah membayarnya lebih Mas,” sopir itu kini lurus memandang jalan di
depannya. Mungkin dia merasa aku curiga, ketika sebentar-sebentar beliau
melihat spionnya.
Mobil
melaju kearah utara UI, melewati jalan-jalan yang sedikit macet, namun masih
tidak semacet di Jakarta, yang sering membuat mobil harus sangat memelankan
laju kendaraannya. Mobil terus melaju melewati banyak kantor maupun
usaha-usaha, baik kecil maupun sedang hingga yang besar. Walau sudah hampir
tiga tahun lebih di Depok, aku sangat jarang berkeliling kota. Biasanya kalau
pergi hanya ke Pasar Minggu. Namanya juga orang prihatin, aku tersenyum dalam
hati.
”Bapak
sudah lama jadi sopir taksi?” aku mengajaknya bercakap-cakap.
Nama
sopir itu pak Rahman. Lengkapnya Rohmanuddin. Dia bekerja menjadi supir taksi
juga karena kebaikan Ustadz Umair. Dulu dia adalah mantan perampok, setelah
tertangkap dan disiksa di kepolisian karena timah panas menembus betis kakinya.
Setelah bebas, dia kembali pada keluarganya, tetapi keluarganya tidak
menerimanya lagi. Akhirnya dia putus asa, dan datang ke Masjid di Pesantren
Mahasiswa. Disana pak Rahman bertemu Ustadz Umair, dan Ustadz Umairlah yang
mendengarkan semua keluhanya hingga dia mau bertobat.
Esoknya
di minta menjadi sopir taksi.Ternyata si pemilik perusahaan ’Buroq Taxi’ adalah
teman Ustadz, nama pemilik ’Buroq Taxi’ adalah Pak Sofwan. Meskipun pak Rohman
tidak bisa menyetir pada awalnya, namun dia toh
tetap diterima dan di training selama seminggu belajar mengemudi, hingga
benar-benar bisa menguasai. Setelah bisa dilepas. Pak Rahman resmi membawa
salah satu mobil disertai kartu kelengkapan dan SIM. Semuanya diurus, dan dia
tinggal menjalankan tugasnya dengan baik dan amanah. Setiap mendengar nama
Ustadz Umair, seolah sosok beliaulah Bapaknya sendiri.
Berkat
Ustadz Umairlah juga, dirinya dapat menikah dengan Siti Nur Anisa, salah satu
santri jebolan pesantren ’Nurul Iman’ di Kudus. Isterinya yang lulusan Madrasah
Aliyah, ternyata amat penyabar dan penyayang hingga kini mereka dikarunia tiga
orang anak. Pak Rohman bercerita dengan serunya, aku mendengarkannya. Rata-rata
manusia jika diminta cerita perjalanan hidupnya, pasti dia merasa senang jika
diperhatikan. Tapi entah kenapa, diriku sendiri malas menceritakan pengalamanku
sendiri. Sebenarnya bukan malas, tapi aku merasa cukuplah Allah yang tahu dan
Dialah yang Maha Mengetahui. Biarlah kurasa cukup aku mengadu padaNya.
Tangan
pak Rohman menunjuk sesuatu di sebelah kiri jalan, ”Kau lihat itu?”
aku
mendekatkan kepalaku di kaca dekatku. Sebuah barisan gedung, ada satu bangunan
yang warnanya unik, ’Hotel Mawaddah’ nama
yang bagus. Pasti pemiliknya menginginkan agar usahanya diridhai Allah.
”Maksud
pak Rahman, hotel Mawaddah?” aku balik bertanya.
Pak
Rahman langsung menjawab, ”Itu salah satu usaha yang berada dalam manajemen
tempat yang akan menjadi tempat kerjamu nanti,” aku hanya menganggukkan
kepalaku, walau aku sendiri masih belum mengerti yang dimaksudnya.
Dalam
perjalanan itu, pak Rahman beberapa kali menunjukkan usaha-usaha. yang
dikatakannya sebagai usaha yang berada di bawah manajemen kantor yang akan
menjadi tempat kerjaku. Ada rumah makan ’Barakah’ letaknya di dekat pasar, dan
bersebelahan dengan Masjid Taqwa, Sebuah usaha Konveksi, juga ada Restorant dan
beberapa usaha lainnya, dikatakan juga masih dalam satu manajemen. Mobil terus
melaju, hingga masuk wilayah Jakarta Timur. Mobil berhenti di tempat parkir
sebuah bangunan yang tinggi menjulang.
”Ayo
turun,” aku mengikuti langkah Pak Rohman, lalu kami mendekati pintu masuknya.
Gedung yang tinggi, besar dan tingginya kurasa melebihi gedung Rektorat
Universitas Indonesia. Sungguh megah dan bersih, Rektorat saja masih kalah.
Pintu kaca itu otomatis terbuka, ketika Pak Rahman masuk, aku mengikutinya dari
belakang. Mobil taksinya diparkir di sebelah mobil-mobil lainnya.
Saat
masuk, kulihat beberapa orang sedang duduk di ruangan itu. Rata-rata mereka
mengenakan baju rapi dan ditutup jas. Pak Rahman mendekati custumer service,
wanita berjilbab yang wajahnya selalu tersenyum itu.
Pak
Rahman berbincang sebentar dengan wanita itu. Lalu wanita itu memencet beberapa
nomor, dan terjadi percakapan pelan, lalu wanita itu berhenti lagi seolah
menunggu suara dari seberang.
”Silakan
masuk, anda ditunggu sekarang,” wanita itu mempersilakan.
”Sekarang
kamu naik kesana sendiri, Bapak harus bekerja lagi. Ok? Semoga sukses Ali,” pak
Rahman hendak berlalu.
”Pak,”
pak Rohman kembali menoleh, ”Aku..., aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?”
”Tenang
saja, kau sama seperti aku sewaktu awal ditawari Ustadz Umair. Percaya dirilah,
beliau tidak akan membantumu jika kau tak punya kemampuan,” pak Rahman
tersenyum sambil berlalu, ”Assalamu’alaikum.”
Aku
menjawab salamnya, hingga kulihat dia menghilang dari balik pintu.
”Maaf
Mbak,” wanita itu tersenyum ke arahku, ”Dimana ruang orang yang menunggu saya?”
”Anda
belum tahu?”
Aku
hanya menggelengkan kepala. Wanita itu memanggil seorang OB dan memintanya mengantarkanku ke tempat ’Rapat
pak Abdullah’, aku yang bingung, hanya mengikuti langkah lelaki muda berseragam
hijau muda loreng itu.
Kami
naik lift. Lift terbuka setelah hampir satu menit. Roni berjalan santai,
melewati satu lorong. Begitu namanya ketika kami berkenalan barusan, dia orang
yang supel.
Seorang
wanita berjilbab duduk di tepi kiri, wanita itu tersenyum padaku dan memencet
beberapa nomor telepon di depannya. Setelah hubungan telepon diputus, wanita
itu mempersilakan aku masuk ke ruangan. Roni berpamitan untuk meneruskan
tugasnya. Aku berjalan ke depan, tampak sebuah ruangan yang pintunya bergagang
kaca bening bagaikan mutiara.
Di
lorong itu, sebelum pintu terdapat banyak ukiran bertuliskan arab. Ada kalimat Laa
ilaa haillallah, surat Al-Fatihah, dan lain sebagainya. Perusahaan
yang mengutamakan unsur agama sebagai landasan dan Allah sebagai tujuan.
Perusahaan yang luar biasa. Di depan pintu tertulis sebuah kalimat yang
langsung tertancap dalam hatiku, ”Bekerja dan berusaha menjadi yang terbaik,
untuk menggapai ridha Allah semata,” alangkah indahnya jika aku bekerja
disini. Alangkah tidak terpisahkannya antara hidup, kerja maupun ibadah. Tidak
seperti yang selalu diumbar oleh para Orientalis dan Liberalisme, yang
mengatakan bahwa agama dan kehidupan apalagi urusan kerja, tidak akan pernah
bisa digabung jika ingin maju.
Aku
membuka pintu pelan sambil mengucapkan salam. Ruangan di dalam begitu besar,
ruangan yang sangat besar. Di pinggir-pinggirnya terdapat hiasan-hiasan
kaligrafi, ada bunga-bunga indah yang berada di tiap pojok, ada Aquarium ikan
yang jernih airnya dan besar bentuknya. Di depanku ada meja besar, beberapa
orang duduk di pinggir kiri dan kanannya. Wanita-wanita berjilbab saling
berhadapan begitupun dengan para prianya. Setiap mereka memegang laptop
masing-masing. Disana ada sekitar sebelas orang atau lebih, aku tak terlalu
memerhatikan, karena dalam pandanganku adalah ruangan indah seperti ini
ternyata ada di dunia ini. Begitu jernih dan bersih. Bagaikan jiwa yang murni,
seperti bayi yang polos.
”Anda!”
seseorang yang duduk paling ujung, yang berbeda dengan barisan lainnya yang
saling berhadapan berteriak. Mungkin dia pemimpinnya. Aku menatap orang itu,
bajunya teramat gagah, dengan setelan jas walaupun usianya kuterka sekitar 40an
lebih,. mengingati wajahnya lebih seksama. Aku ingat!
”Anda,”
Dia mengacungkan jari tengahnya kearahku sambil berdiri, ”kaukah yang
menolongku sewaktu di UI?”
Aku
tersenyum padanya, ”Iya Pak. Anda pak Salim kan?”
Beberapa
orang di ruangan itu mengamatiku dan bergantian dengan pak Salim.
”Bapak
pemilik usaha ini?” aku mendekati beliau lalu menyerahkan kertas pemberian
Ustadz Umair, beliau membacanya pelan. Aku tak tahu sama sekali apa isi tulisan
itu.
”Kata
Ustadz Umair nama anda Abdullah, lalu bukankah nama bapak Salim?” aku bertanya
penasaran. Aku dipersilakannya duduk, aku duduk tepat di hadapan pak Salim,
jadilah aku seperti pemimpin rapat bersama pak Salim. Masih kulihat wajah
keheranan dari setiap orang yang duduk disana.
”O...,
itu. Nama lengkapku adalah Abdullah Salim Al-Jahsy. Biasanya teman-temanku di
rumah maupun sewaktu kuliah dulu panggilanku adalah Salim,” senyumnya bagaikan
keteduhan di sela-sela kebingunganku. Akupun belum merasa berada di dunia. Aku
berada diantara orang-orang yang sukses? Aku mencubit pahaku, sakit! Ternyata
ini tidak mimpi.
Setelah
rapat diakhiri. pak Salim, meminta semuanya mendengarkannya, ”Aku
menginformasikan bahwa Ali seorang Mahasiswa, dia orangnya pintar dan ulet. Aku
ingin dia bekerja disini, aku tempatkan dia membantu di bagian pemasaran,”
semuanya menatapku. Mereka semua menganggukkan kepalanya dan berkata, ”Selamat
datang di kantor ini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,”walau ada
kekagetan dalam setiap wajah mereka kemudian rapat itu bubar. Hanya tinggal Aku
dan pak Salim
Pak
Salim mengajakku bicara santai. Dia akan membantuku selama disini, dia sekali
lagi berterima kasih padaku, dan maaf karena setelah kejadian itu tak pernah
mengunjungiku. Aku tersenyum, aku bagaikan orang penting. Dan Allah-lah yang
membuatku menjadi seperti ini. Aku masih penasaran, Ustadz Umair ternyata
mempunyai kolega yang banyak. Pekerjaan untuk pak Rahman saja dapat diusahakan
dalam waktu sehari, sedangkan aku hanya beberapa menit. Orang seperti apa
Ustadz Umair itu? Aku sendiri tidak tahu.
Hari
itu, aku diajak keliling oleh Pak Salim, dikenalkan ke setiap bagian. Aku jadi ta’aruf di setiap bagian. Namaku seolah
menggema di kantor itu, bagaimana tidak aku, diperkenalkan ke seluruh jajaran
hingga satpam dan cleaning servicenya.
Setahuku gambaran suatu kantor besar adalah mereka saling acuh tak acuh,
menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri, egoisme diutamakan, kompetisi yang
kurang sehat. Begitulah yang tergambar ketika dalam materi kuliah, terutama
materi kuliah Management Personalia atau Teori Pengambilan Keputusan. Sungguh,
ini adalah suasana kerja yang begitu nyaman pastinya.
Saat
Ashar tiba, aku pamitan. Ternyata kantor itu tutup sementara. Semuanya shalat
kecuali yang berhalangan bagi wanitanya. Ada yang shalat di Masjid dan ada yang
shalat di Kantor, mereka berjamaah. Aku dan pak Salim keluar di Masjid yang
letaknya sekitar 35 meter dari kantor, saat keluar aku melihat kantor itu dari luar. Aku tadi lupa belum membaca nama
perusahaan itu. Aku mengeja huruf itu dalam hati, ’ZAHRA CORPORATION’ hatiku
tiba-tiba sejuk membacanya. Nama-nama yang baik memang merupakan doa. Maka,
banyak orang yang tidak asal dalam memberikan nama untuk anak-anaknya.
Setelah
shalat kami pamitan pada pak Salim. Katanya besok, aku sudah bisa memulai
kerjaku. Beliau akan membimbingku, lalu dia bertanya kepadaku tentang gaji,
beliau menanyakannya padaku. Aku menjawab santai, ”Sesuaikan saja nanti dengan
kinerjaku, aku siap dibayar berapapun, asal sesuai dengan kontribusiku terhadap
’Zahra Corporation’ mudah bukan?”
Saat
kembali ke Pesantren. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
Benarkah aku telah bekerja di suatu perusahaan yang begitu besar? yang menaungi
beberapa usaha di dalamnya? Hatiku terus berdesir dan berdzikir.
Not Comments Yet "Part 29, Tawaran Kerja"
Posting Komentar