Malam indah desa Cahaya,
bertabur bintang, ditingkahi semua bunyi hewan malam saling sahut-menyahut.
Gelap dan sepinya desa tergantikan dengan semaraknya bunyi alam; angin dan berupa-rupa
suara hewan.
Jurus-jurus pencak silat
yang kupelajari dari Kang Mukhlis demikian pesat, begitu katanya. Dalam ilmu
bela diri yang peling penting adalah refleks, mata yang cekatan, gerakan yang
cepat dalam berkelit dan menghindar, lalu menyentak dengan kejutan, serangan
yang tiba-tiba. Untuk pengembangan refleks gerak, pengembangannya adalah
latihan, sering latihan. Itulah kunci sukses, ketekunan belajar.
Latihan terus-menerus akan
membentuk karakter gerak, seperti kebiasaan yang terus-menerus maka akan
menjadi karakter sifatnya, menjadi akhlaknya. Malam ini, kami berlima, kini Kang
Mukhlis menambah dua murid baru, Hasan ikut latihan, dia tak terlalu repot lagi
dengan urusan parutnya, dia bisa bersantai lebih banyak untuk belajar, dan
mengembangkan setiap potensinya, satunya adalah pemuda desa bernama Yanto.
Kang Mukhlis berlatih
sendiri, aku mengajari Yanto jurus-jurus dasar, sedangkan Syahid mengajari
Hasan jurus-jurus dasar pula.
Oya, satu lagi yang kulupa.
Kini Hasan memeliki gelar baru, dilekatkan di belakang namanya, seperti
lekatnya pangkat di pundak seorang perwira yang naik pangkat. Gelarnya adalah
Hasan MoM, Master of Machine. Siapa pun yang akan membuat mesin parut,
harus berbagi hasil dengan Hasan, sejenis franchise.
Satu hal memang yang
paling berat, tahu cara yang pertama adalah pemenang. Tak berarti meniru itu
salah, melainkan pelajaran agar kitalah penemu. Agar nama harum, didoakan
sebagai orang yang berguna, diceritakan kepada anak-cucu sebagai teladan,
penyemangat kehidupan selanjutnya. Siapa tak ingin?
Kami berlatih hingga
kelelahan mencapai seluruh organ. Kami istirahat, menyelonjorkan kaki-kaki.
Yanto dan Hasan telah dari tadi beristirahat, selanjutnya aku dan Syahid
menyusul. Kami duduk di tengah lapangan, menghilangkan keringat yang menembus
kain baju. Kang Mukhlis masih berlatih, tentu saja, sang jawara lebih bertahan
lama.
Saat menikmati gemerlap
bintang yang terlihat indah, tiba-tiba saja angin bertiup lebih kencang,
mendung yang tergulung angin seolah
menciptakan gurat gelap di atas sana. Kang Mukhlis menghentikan latihannya,
pandangan matanya tertuju pada hutan lindung, matanya teramat kuat seolah
menelusup ke dalam rimba hutan.
Aku, Hasan dan Syahid
terdiam. Satu hal yang membuat kami merinding, seluruh suara hewan malam yang
semula berpesta tiba-tiba hening. Jangkrik kembali mengatupkan sayapnya dan
kembali ke lubangnya, sejenak suara monyet berteriak-teriak seolah ketakutan,
lalu hilang tanpa ada sedikit pun suara. Persis di sebuah ruangan kedap suara,
satu gesekan, tengokan kepala, gerakan alis, denyut nadi seolah terdengar.
Maksudku adalah teramat sunyi, Kawan.
Suara lolongan panjang anjing
hutan terdengar, seolah menyentuh pundak, berdirilah bulu kuduk yang
mendengarnya, gemetaran karena bunyi yang beda dari biasa. Suara itu teramat
dekat, berasal dari hutan. Hingga mata kami semua tertuju ke hutan, misteri
apalagi ini?
Semenit setelah mata kami
semua tertuju ke langit di atas hutan, sekelebat burung hitam terbang
membunyikan suaranya, ’Kwak! Kwak!” bukan satu kawan, tapi menyusul beberapa
burung gagak lagi, dan menyenandungkan lagu kematiannya, bulu kudukku berdiri.
Aku sedikit tahu, gagak adalah burung yang sering ditafsirkan sebagai pertanda
buruk.
”Gagak hitam!”
Suara itu berasal dari Kang
Mukhlis, tatapannya tetap ke langit, tapi dari nada suaranya tersirat sebuah
kebencian mendalam. Kurasa tak lazim.
”A..apa, tidak mungkin!”
Yanto tampak gugup.
Aku, Hasan dan Syahid
kebingungan melihat ekspresi Yanto.
”Memangnya kenapa jika
gagak hitam?” aku penasaran.
Kang Mukhlis masih diam,
kedua tangannya mengepal kuat, gigi gerahamnya seolah saling menekan, suara
gemeretak terdengar. Yanto yang ketakutan menjelaskan terbata-bata bahwa
kejadian buruk akan terulang lagi.
Sepuluh tahun yang lalu
kurang lebih. Burung gagak hitam adalah pertanda munculnya malapetaka, penyakit
menyebar ganas, mengamuknya binatang buas yang menewaskan beberapa warga,
banyak juga yang hilang diperkirakan dibawa penghuni hutan lindung dari roh-roh
nenek moyang. Saat itu, Yanto masih belasan tahun, kejadian yang amat
menyeramkan.
”Aku tak mau mengingatnya,
kejadian itu sudah lama. Kenapa harus terulang kembali?” Hasan dan Syahid
memegangi tanganku. Tapi Kang Mukhlis, dia terpaku. Ada sorot mata yang tak
bisa kutafsirkan.
”Semoga saja, tak ada
penduduk yang melihat gagak-gagak hitam itu atau mendengarkan suaranya? Jika
mendengarnya, desa bisa gempar,” Yanto berkata penuh harap.
”Iya, ini sudah larut.
Tentu, penduduk sudah lelap. Semuanya akan berakhir tanpa perlu risau bukan?”
aku mencoba menenangkan suasana.
”Kamu salah.”
”Kenapa, Kang?”
”Apa kau tak lihat
kejadian siang tadi! Penduduk pasti sudah menyadarinya.”
Kejadian tadi siang?
Memang, sewaktu sekolah tadi ada kejadian ganjil hingga seluruh siswa Sekolah
Cahaya keluar walau saat itu masih jam masuk. Tiga ekor kijang hutan masuk
desa, ketiganya berlarian dan seekor lagi berada di depan sekolah. Masyarakat
memburu, hingga siswa-siswa ikut memburunya. Tapi, apa hubungannya dengan
burung gagak hitam?
”Masyarakat percaya, jika
hewan-hewan telah keluar hutan tandanya danyang penunggu hutan lindung
akan meminta korban, penyakit akan menyebar bagai wabah. Seandainya aku bisa
berbuat sesuatu,” Kang Mukhlis terlihat kecewa, geraham-gerahamnya kembali
bertemu.
Kepercayaan terhadap
hal-hal gaib di desa Cahaya masih kental. Itulah yang sering diceritakan Syahid.
Ketika menghadapi bulan baru atau hari tertentu, mereka masih membuat sesajian
di tempat-tempat keramat agar musibah tak menerpa, atau setiap tahun mereka
mengorbankan kepala kambing di sungai desa.
”Kesyirikan belum bisa
dihilangkan.”
Malam semakin larut, kami
mengantarkan Hasan pulang. Malam itu, aku tak nyenyak hendak tidur, akhirnya
kupaksakan mata pejam, setelah sebelumnya berdoa agar musibah dan bencana tak
menyambangi desa Cahaya yang mulai membuatku kerasan.
***
Pagi-pagi benar, aku dan
Syahid siap-siap berangkat, keadaan di jalan sungguh sepi. Seperti biasa, kami
naik sepeda, sampai di sekolah keadaan benar-benar sepi. Pak Danu, Bu Siska
datang, menyusul kemudian Pak Yusuf. Kawan, sampai pukul sepuluh pagi, yang
datang hanya kami berlima. Desa senyap, seolah tak berpenghuni.
Jangan-jangan.
Seorang datang mengenakan
sepeda, dia Pak Wirya, rumahnya dekat dengan Sekolah. Terburu-buru mendekati
kami di kantor, napasnya turun-naik.
”Anakku sakit, infeksi
demam. Kutukan datang lagi, bagaimana ini Pak Danu?”
Pak Danu menurunkan
kacamatanya, ”Kupikir aku tak akan menemui kejadian seperti ini lagi sampai aku
meninggal, ternyata demikian cepat.”
Seseorang datang
mengendarai sepeda, dia memberikan surat kepada Pak Danu lalu pamitan tanpa
basa-basi. Lelaki itu adalah Ayahanda Bu Ria, Bu Ria sakit demam juga. Pak
Lurah bingung, sedari tadi minta solusi kepada Pak Danu, tentang penyakit yang
menyebar.
Pak Yusuf menjelaskan
kepadaku tentang semua hal. Sepuluh tahun lalu, semua orang mengunci diri di
dalam rumahnya, karena penyakit menyebar dan menular jika berinteraksi dengan
penderita. Saat itu, banyak orang mati karena penyakit, mereka dikubur hanya
oleh keluarganya masing-masing. Selain itu, beberapa orang yang pergi ke hutan untuk melakukan sesajian,
semuanya mati diterkam binatang buas, dengan tubuh tercabik-cabik, atau hilang
tak pernah kembali.
Dan kejadian itu kini
terulang. Pak Yusuf juga menyayangkan tentang kesyirikan di desa, tapi suaranya
tidak didengarkan. Ingin sekali Pak Yusuf menyelidiki, sebenarnya apa yang
disembunyikan di hutan lindung, tentang misteri yang ada di dalamnya, tapi
selalu dihalangi oleh keamanan hutan.
Akhirnya semua pamit
pulang, di rumah aku memiliki seseorang yang sepertinya tahu lebih banyak. Aku
memaksa Kang Mukhlis menceritakan tentang segalanya, dan apa yang kira-kira
bisa aku perbuat.?
”Ada seorang perawat yang
ditelantarkan di sini. Jika kau bisa membujuknya, dia mungkin bisa membantu,
karena pasti setiap penyakit bisa dijelaskan secara nyata, bukan berdasarkan
pada kutukan-kutukan.”
”Siapa dia, Kang?”
”Ani.”
Not Comments Yet "Bagian 27, Kutukan"
Posting Komentar