Ketika langit mendung menyapa, ketika angin pagi
menyambutku tidak seperti biasanya. Langkah ini mengayun ke suatu arah,
mengalun laksana putaran nada yang dinyanyikan, dengan syair sendu, patah hati
atau lagu penuh penderitaan, atau penuh semangat dan kebahagiaan.
Semakin larut, semua lamunanku tercecer di setiap terjal jalan yang
kulewati, membiarkanku pergi, seolah tak pernah mengharap kehadiranku lagi. Mendung yang bertelekan di atas kepalaku, seolah menambah pekatnya kidung
duka. Angin sepoi pagi ini menamparku tak bersahabat, pohon yang berderet tak
beraturan di sepanjang jalan, tak terlihat melambaikan isyarat menghiraukan
keberadaanku. Kupandangi lagi arah pusaran desaku, hanya sisa kenangan yang
tertinggal.
Aku tidak tahu, sadar atau tidak sadar. mengambang atau tenggelam, yang
kurasakan, kakiku melangkah dan harus terus melangkah, walau langkah ini
semakin lama semakin berat terasa. Bapak yang kini kutinggalkan mungkin sedang
membuka pintu kamarku, untuk mengenangku kala rindunya menyentak kalbu, pagi
senja tidak seperti biasanya. Kali ini, aku yakin Bapak akan kesepian, dan
mungkin lelehan embun itu akan terlihat mengalir lagi, atau mungkin dia akan
pergi ke belakang, dimana setiap pagi aku selalu memberi makan ayam-ayam peliharaanku, kala itu senyumnya pasti mengembang,
melihatku bermain bersama si Jalu dan jali.
Ibu mungkin sedang meneteskan airmatanya, di kala menggoreng pisang dan
tahu bunting. Mungkin dia akan sejenak keluar rumah, mencoba mencari
bayanganku. Ya Allah, kenapa aku selalu menjadikan orang lain menangis? Masih
ingatanku tajam, saat aku mencium punggung tangan Ibu, dia berkata, “Pergilah
San, sumur dan gudang ilmu menunggu jemputanmu. Jangan berpikir hidupmu hanya
untuk kami, tapi hidupmu adalah untuk semua orang,” lelehan ketegaran masih
kulihat dari wajah ibu, hingga aku meninggalkannya.
Begitupun dengan ketegaran Bapak. Sedang apakah engkau sekarang? Seperti pesanmu, aku kini membawa semangat. Aku ingat
ketika aku mencium punggung tanganmu, dan engkau berkata padaku, “Pergilah, di
rembang petang kehidupan, engkaulah fajar penerang hari, penerang hati Bapak.
Jangan mengkhawatirkan keadaan Bapak disini, janganlah berpikir telah merenggut
wajahmu dari tatapan mata kami yang merindu. Walau engkau nanti jauh disana,
hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada jarak.
Jadilah cahaya bagi kegelapan, gapailah bintangmu, yang menunggu sinarmu,” dan
senyum terakhir yang kulihat itu, telah memburaikan airmataku, hingga menjadi
tetesan yang berjatuhan di bumi.
Masih segar ingatan ini pesan paling dalam mereka, “San, jangan pernah
melupakan shalat,” Shalat. Insyaallah,
aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Kukecup kening Fajar, umurnya kini 15 tahun. Yasmin menangis saat aku
memeluknya, “Jangan pernah sombong pada kemenanganmu, tapi semakinlah merunduk,
jika engkau semakin bertambah ilmu. Jadilah selalu yang terbaik.” Yasmin
melambaikan tangannya dalam ingatanku. Keluargaku, harapan itu telah menguatkan
kita di kala sepi mendera..
Kokok ayam sudah mulai terdengar satu-satu, kicauan burung bersahutan
memamerkan suaranya riang, sambil menyambut mentari pagi ini tersenyum, dan
menyapa kehidupan yang baru. Aku mendaki lereng bukit, langkahku kini yang
memandu, bukan pikiranku lagi. Meneruskan perjalanan pengasinganku.
Dari atas lereng, aku melepaskan pandang penuh perhatian, yang muncul dari
balik kegelapan kabut. Nampak jelas sebuah rel kereta api membentang sepanjang
mata memandang, yang masih samar tertutup sisa percikan embun. Sepi bukan hanya
mendera panorama, tapi hatiku lebih sepi kurasakan, tak bisa dibandingkan,
dengan senyapnya pagi di perjalananku kali ini.
Dadaku merasa lapang, meluap ingin segera melupakan kehidupan, menuju
tempat yang belum pernah aku jamah. Tapi dimanakah itu? tempat dimana aku bisa
menggali dan menimba bekal. Ya, bekal untuk perjalanan yang panjang.
Namun, ketika aku mulai melangkah menuruni lereng, ada perasaan sedih yang
amat mencekam. Aku berpikir kembali dalam hati, mencoba menyelami, bagaimana
bisa aku meninggalkan tempat lahirku dengan hati yang mencari ketenangan tanpa
kesedihan? bukan, bukan tanpa membawa luka dalam jiwa, kutinggalkan keluarga
demi malam-malam kesepian, untuk menetapi persahabatan.
Terlalu banyak kepingan jiwaku, berserakan di sepanjang jalan-jalan kenanganku selama ini, dan terlalu banyak buah
kerinduanku berlarian di antara bukit-bukit yang berjajaran, seperti bocah-bocah yang masih murni. Tak kurasa, aku berpisah dengan mereka, dan kenanganku tanpa hati berat dan
tersayat. Embun di mataku mulai mengerling bercahaya. Perasaanku benar-benar terjepit. Di satu sisi, aku harus menghamparkan
tikar sutra kecilku, untuk menampung harapan yang kupendam, dan di satu sisi,
aku harus menghempaskan kenangan yang
merenda rindu, mengulas dan menenun senyum dalam sebuah buhul kebersamaan.
Namun tak mungkin pula aku menunggu lebih lama lagi! Laut tempat kembali
semua benda, telah menyeru memanggilku, dan aku harus segera pergi mengakhiri
semua ini. Diam termangu, meski mentari mulai naik pada waktu dhuha, panasnya
mulai terlihat dan terasai, hanya tinggal menunggu siang menyengat,
menghanguskan. Sama dengan tenggelam dalam kebekuan.
Getar sebuah suara tak mungkin menyandang lidah dan bibir yang
melahirkannya. Sendiri aku harus membubung, menyatu dengan suasana. Seorang
diri juga, tanpa mengajak sisa kenangan yang bagian manapun. Seekor burung perkutut terbang meninggalkan sarang, mengangkasa
melintasi mentari.
Sampai di kaki lereng, sekali lagi aku menengok ke arah pusaran tempat
kelahiranku, aku meneruskan langkahku, menuju tempat pengasinganku, dan inilah
mimpiku yang paling nyata. Aku sudah siap berangkat, gairahku mekar terkembang
bagai layar terpasang, membentang menadah angin. tapi biarlah, sekali lagi
kuhirup napas dari udara lengang ini, dan sekilas lagi biarkan kulepas pandang
mesraku, membelai keindahan panorama.
Stasiun kereta mulai terlihat oleh
sapuan mata, aku sudah siap berangkat. Wahai para penunggang gelombang! Betapa sering aku saksikan kalian berlayar dalam mimpiku,
dan kini, kalian memjemputku di kala jaga. Hanya satu kelok di antara kaki
lereng lagi di jalanan ini, dan satu denting gemericik aliran sungai terakhir,
melewati jembatan bambu reot itu, aku akan berada di pangkuan impian. Sepercik
air pelepas dahaga, di tengan kehidupan maha luas tak terbatas.
Aku melanjutkan langkahku, kulihat dari jauh perempuan dan laki – laki
penduduk asli daerah sekitar stasiun, sedang bercanda ria sambil memetik lada
dari kuncup pohonnya yang menjalar pada tiap – tiap penyangga yang telah
disediakan. Teringat lagi akan Ibu yang melepasku dengan derai airmata
semangatnya, mungkin untuk melupakanku, dia akan pergi berdagang berkeliling
desa menjajakan kue.
Aku berkata dalam hati ;
Akankah perpisahan ini juga merupakan pula saat bertemu? benarkah ujung
akhir hariku, akan merupakan fajar baru?
Lalu apa yang akan kuberikan kepada Bapak, Ibu, mereka yang meninggalkan
keletihan hanya untuk mengusap keringat di keningku, dengan penuh cinta dan
keikhlasan. Apa yang akan kuberikan kepada mereka? Lalu apa yang akan kuberikan
pada persahabatan yang menantiku? Apa yang akan kuberikan pada keluarga, jika
nanti aku sempat kembali ke pangkuannya setelah masa pengasinganku? Apakah cukup untuk membayar semua duka, yang membuat kerut
di keningnya semakin menggurat.
Jika hari ini adalah saatnya mengetam, di ladang manakah telah kusebarkan
benih-benihku, dan musim apa saja yang telah berlalu?
Banyak sudah yang telah aku utarakan di dalam hatiku, yang
kuucapkan dalam kata-kata. Tapi masih lebih banyak lagi yang terkunci di dalam
hati, karena aku sendiri pun tak mampu mengungkap rahasia-Nya.
Aku melewati kereta api itu, dengan perbendaharaan seadanya. Aku tidak naik
kereta api, melainkan naik mobil tebengan bus tanki, milik salah satu temanku yang bekerja sebagai kenek
ayahnya. Aku naik di kepala mobil, di belakang sofa supir, sempit.
Aku harus mengirit untuk keperluanku di Depok kelak, uang tabunganku tak
seberapa, namun disana aku akan mencari pekerjaan apa saja. Kubuka kertas
pemberian pak Sarono yang menolongku mencarikan program, yang seharusnya hanya
boleh untuk Sekolah Menengah Umum, Program Pemerataan Kesempatan Belajar. Alhamdulillah, aku masuk kriteria karena
aku termasuk berprestasi. Terima kasih pak Sarono, engkau perantara dari Allah
untuk membantuku, dia selalu menesehatiku untuk tepat waktu ketika shalat. Guru bahasa Indonesia, yang sebenarnya paling
tidak aku sukai pelajarannya.
Pandanganku mulai kabur. Kuakhiri semesta pandangku pada lelahnya terik,
walau lelehan rindu itu seolah mengiringi kepergianku. Sebuah harapan memang
membutuhkan pengorbanan, pengorbanan yang tidak kecil, di dalamnya ada begitu
banyak duka. Yang terkecil adalah kesepian yang pasti kujalani, tanpa orang
yang setiap hari bermesraan dalam penggalan kenangan, yang pasti akan selalu
kukenang sampai semesta tak bersuara lagi.
Aku teringat sesuatu, surat dari Sinta belum aku buka. Aku benar-benar
lupa. Aku membuka tas, membuka kotak yang terbungkus kertas bergambar bulan
itu. Sebuah Al-Quran plus terjemahan. Dua lembar surat kubaca, sambil melupakan
bisingnya mobil dan motor yang lalu lalang di perjalanan.
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh
Wahai teman yang baik
Ba’da Tahmid wa Shalawat
Aku memberanikan menulis ungkapan hatiku lagi wahai sahabatku, dan mungkin
ini adalah penghabisanku yang terakhir. Kutulis
ketika hatiku tenang setelah tilawah quran dan shalat malam.
Tubuhku terasa payah, sakitku makin menjadi. Aku menyembunyikannya dari
pandangan Abi dan Umi, aku benar-benar tidak ingin melihat mereka menangis,
walau hanya sedetik sekalipun. Entah kenapa, aku ingin menulis untukmu, yang
sebenarnya engkau bukanlah mahramku. Engkau teman yang baik, ketika aku akan
berbicara padamu, tiba-tiba bibirku kelu dan beku. Aku merasa kita ada
persamaan.
Mungkin orang lain bisa mengatakan ini cinta?
Tapi aku mengatakan ini lebih dari itu, aku merasakan sesuatu yang sama
denganmu, teman. Aku kesepian dan aku
merasakan bahwa kamu juga kesepian, walau kutahu mungkin engkau jarang
mengikuti kajian islam atau apapun, tapi hatimu kulihat jujur dan tulus. Aku
merasa hidupku tak akan lama, setidaknya itulah firasatku. Kesepianku,
menjadikanku peka terhadap perasaan orang lain.
Teman
Hidup ini takkan lama
Ajal datang nyawa tiada
Sekarat pasti menimpa
Itu adalah penggalan lagu nasheed yang aku sukai, selalu mengingatkanku
pada kematian yang pasti. Mungkin ketika kamu membacanya aku sudah tiada di
dunia.
Tahukah kamu teman?
Aku mengidap penyakit kanker otak, aku memeriksakannya sendiri, tapi aku
selalu menyembunyikannya dari orangtuaku. Aku berusaha menutupinya, hingga
dokter memvonisku tak akan bertahan lama, karena kanker itu telah kronis pada
stadium 3, aku sempat sedih dan sempat pula tersenyum.
Mungkin ini wasiat dariku teman, hidupmu sangat berharga, sangat berharga.
Jangan kau kotori oleh pikiran-pikiran sempit keduniaan. Seseorang yang pergi
jauh, pasti suatu saat akan pulang ke tempatnya kembali. Lengangnya masa, kita
hanyalah mampir, hidup ada kesejatian kekekalan dan keindahan penantian.
Sahabatku, jangan pernah takut untuk menetapi keyakinan dan keteguhan,
perjuangkanlah dengan keikhlasan, kejujuran, dan kesabaran.
Teman, terimalah ini sebagai pertanda kasih persahabatanku padamu, selamat
ulang tahun yang ke-18. Semoga dengan semakin berkurangnya umurmu, akan
menjadikanmu dekat kepada Allah Azza Wa Jalla. Bacalah ketika hatimu gundah gulana,
bacalah ketika engkau membutuhkan jawaban dari kehidupan, jadikan dia resensi
dasar pijakan. Sahabatku, saat menulis ini airmataku menetes membasahi
sajadahku, mungkin pertemuan kitapun akan mengakhir, setidaknya itulah
firasatku.
Maafkan aku Teman, bukan aku sok memberi nasehat, ini adalah kutujukan
seutamanya untukku sendiri. Namun, karena aku merasa kita memiliki banyak
persamaan, aku ingin kamu juga merasakan cinta itu. Cinta dari Rabb yang
menciptakan kita. Jujur kukatakan, kalau aku memang mencintaimu, mencintaimu
karena Allah, semoga Allah memaafkan semua dosa-dosa kita.
Selamat tinggal teman, ini mungkin penghabisanku
Duhai Rabbku, Engkau paling mengerti akan kami daripada kami sendiri,
takdir-Mulah yang menciptakan kami penuh cinta. Engkau yang Maha Luas ilmu dan
Maha Menentukan takdir setiap hamba-Mu, berilah kesempatan kepada kami untuk
menjadi penerang bagi kelamnya masa. Menjadi pembawa lampu dalam kesejatian
cahaya. Izinkanlah kami untuk kembali menghirup lengang udara terindah, berilah
kesempatan padaku untuk menjadi cahaya yang menyinari penuh cinta.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Sinta
Khoiriyah
Aku
kembali melipat dua pucuk surat itu, menyimpannya dalam bagian tas kecil. Pikiranku kembali menerawang,
menikmati perjalanan. Perjalanan memenuhi keyakinan ini membuatku sedikit ragu
gelisah, karena apa? Aku sendiri tidak tahu.
Di kapal, aku tidak
membayar biaya ongkos, karena aku berada di dalam mobil tanki, karena
perhitungannya adalah muatan angkutan, yang berupa minyak mentah yang akan
dikirim ke Pulo Gadung. Mobil terparkir ketika malam gelap menyapa, mungkin
sampai terang nanti baru aku sampai di Depok. Aku menyelinap hingga di dek
tertinggi, gelap mempermudahku tidak terlihat penjaga kapal, seperti waktu aku
ke Yogya dulu. Mobil besar dengan muatan berat memang berjalan sangat lambat.
Tepat di bawah tiang,
aku duduk menekuri kehidupanku yang telah berjalan. Langkahku seolah semakin
gontai hendak meneruskan perjalanan, mengingat semua kejadian. Langit
berhiaskan sedikit bintang walau bulan 15, mendung terlihat sedikit tebal. Laut
luas, gemerlap lampu di ujung perjalanan, angin membelai kerinduan. Aku
mengeluarkan surat dari Mawar yang kusimpan di lipatan dalam dompet, melihat
tulisan itu, keyakinan pudarku mulai kubangun kembali.
Aku mendekati pagar di
ujung atas kapal, kulihat air yang membelah dilewati kapal. Aku menatap langit,
aku menatap ombak yang samar terlihat, “Wahai ombak! gulunglah semua yang ada
di hadapanmu, gulunglah angin dan debu bersamamu, gulunglah semua buih-buih
jika kau mampu. Tapi demi Allah! engkau tidak akan bisa menggulung keyakinanku!
engkau tidak akan menggulung kesetiaanku! menggulung penyesalanku, tidak akan
pernah! kecuali Allah memanggilku dalam kesenyapan penantianku!” Gerimis
menyapa, aku sama sekali tak bergeming. Aku mencoba menahan, menantang
kegelisahan, keraguan, kucoba luruhkan terkena guyuran air gerimis malam ini.
Aku turun dari kapal,
sekaligus pamitan pada temanku. Kuberikan padanya dua bungkus rokok sebagai
tanda terima kasih. Uang bagi mereka tiadalah terlalu berarti. Aku shalat subuh
di mushola pelabuhan Merak, aku langsung naik bus menuju Kampung Rambutan,
seperti rute yang diberikan temanku. Jantungku berdetak lebih keras,
penantianku akan berakhir, tetapi kini ada segumpal keraguan yang menyertai.
Aku berusaha menghilangkan keraguan sejauh-jauhnya. Bus telah penuh, kecuali
tempat duduk di sampingku masih tersisa, entah kenapa Allah membiarkanku
kesepian.
Seseorang penumpang
terakhir masuk. Mencari tempat kosong, seorang wanita berjilbab. Aku menatap
pemandangan luar, melalui kaca jendela tak menghiraukan.
“Permisi, bolehkah aku
duduk disini?”
Aku hanya
menganggukkan kepalaku, hari mulai cerah. Di perjalanan, Aku menoleh sejenak,
wanita itu menunduk sambil menekuri bacaannya. Aku kembali mengarahkan
pandangan ke gedung-gedung bertingkat yang menjulang, mencoba menusuk langit
namun tak sampai.
“Boleh saya tahu
kemana tujuan anda?” suaranya anggun, seperti milik Sinta.
“Aku hendak ke Depok.
Mbak sendiri?” aku mencoba menciptakan feed
back.
“Kebetulan sama, aku
hari ini mengurus registrasi kuliah di UI,” terlihat dia begitu menjaga jarak,
seperti anak-anak Rohis. Aku sudah paham.
Ternyata gadis itu
dari Aceh, dia juga mendapat PPKB dari sekolahnya. Dia mengambil Fakultas Ilmu
Budaya, prodi Sastra Inggris. Tuturnya lembut dan terlihat bersahabat. Sesekali
dia mendesah lirih, kupastikan dia berdzikir. Sesekali keluar nada humornya,
kadang bibirku tersungging senyum juga, entah dia belajar dari mana menemukan
kata-kata yang lucu. Kebetulan sekali dia akan satu almamater denganku, tapi
aku tidak mengatakan kalau aku juga akan kuliah disana, hanya mengatakan kalau
aku mencari sahabatku di Depok.
Perjalanan ini lumayan
panjang. Lama aku tidak membaca Al-Quran, apalagi Quran tertinggal di rumah
karena ukurannya yang besar. Aku teringat Quran pemberian Sinta, aku sempatkan
membacanya lirih walau sedikit, mencoba mencari keteduhan. Aku sempat grogi
ketika baru tiga ayat membaca Al-Fatihah, sepasang mata menatapku seolah heran,
ah! Mungkin dia heran, begitu kontras denganku. Aku tersenyum dan meneruskan
bacaanku, walau kutahu aku belum fasih membaca. Tentu saja, celana jeans balel
sobek di lutut pasti aneh kalau membaca al-Quran, padahal kupikir orang Jawa
orangnya keras, makanya penampilan harus berubah, biar tidak disebut desa. Ini
juga satu-satunya celana jeansku.
Perjalanan baru sampai
di Terminal Serang, masih agak lama bagiku untuk menemui sahabatku. Beberapa
pedagang kerupuk, aneka minuman, tahu sumedang dan muli hilir mudik, bergilir
keluar masuk Bus. Beberapa penumpang turun. Seorang pedagang air minum sedikit
memaksa kepada gadis berjilbab di sebelahku, kulihat si gadis sedikit
terganggu. Wajahnya memang khas Aceh, manis dan berhidung bangir.
“Maaf Mas, dia tidak mau
beli.”
Penjual air minum itu seketika
kehilangan senyumnya. Biar saja, terlalu banyak aku telah menemui segala tipe
pria, dari yang baik sampai yang amburadul
ketika aku bekerja sebagai kuli, yang kebanyakan mempunyai hobi
menenggak minuman keras.
“Terima kasih,” lirih gadis
itu kudengar, setelah bus mulai melaju kembali.
Aku menganggukkan kepalaku
pelan, hembusan ac mobil membelai rambutku yang terasa tergerai, rambutku mulai
panjang sedikit menutupi telinga. Kudengar dari gadis itu, Terminal Kampung Rambutan sebentar lagi. Aku bersiap-siap,
rute yang kutahu dari teman kenekku, naik angkot nomor 112.
“Boleh kutahu nama
Mas? Siapa tahu suatu saat kita bertemu kembali.”
“Ali,” entah kenapa
aku ingin mengganti nama panggilanku, sama dengan nama Bapak. Aku juga akan
memberi kejutan pada Mawar. Semua orang tidak akan mengetahui siapa itu Ihsan.
Gadis itu memberikan kartu nama padaku, dan mengucapkan salam, memasuki angkot
nomor 19. Mungkin dia hendak main dulu ke rumah saudaranya, bukankah Depok harus melalui terminal dulu dengan nomor
112. Aku menyusuri jalan, dan menuju jalur yang dilewati angkot, yup! Nomor
112.
Di dalam mobil, aku
sempatkan membaca kartu nama yang masih aku pegang, “WANDA Hamidah,” disertai
alamat rumah dan nomor telepon. Angkot terus melaju, menciptakan perasaan berdebar-debar
dalam hatiku, mendesir-desir seolah merasakan getaran kenangan di masa kecil.
Sampai di Terminal Depok, aku mencari mobil menuju UI, seorang calo
mengisyaratkan padaku menaiki angkot ke arah yang kutuju. Sopan. Sebentar lagi
Mawar! Aku datang, datang hanya untukmu.
“Sudah sampai Mas,”
Supir angkot mengingatkan, karena aku memang memintanya untuk memberitahuku.
Aku baru kali pertama ke Depok.
Aku membayar angkot,
dan melangkah menuju bahu jalan, menuju arah yang ditujukan supir, tampak
seperti sebuah halte kecil. Aku mendapat informasi bahwa di UI ada sekitar
11-12 halte. Beberapa Mahasiswa UI sedang duduk disana. Sebuah bus kuning
berhenti, dan mereka masuk lalu melaju. Beberapa saat kemudian datang beberapa
mahasiswa lainnya, dan memasuki bus yang datang kemudian. Aku kelelahan setelah
perjalanan, akhirnya kupaksakan naik bus yang berhenti di halte. Kalau kuliah
naik bus terus, pasti biaya disini begitu mahal. Aku harus banyak berhemat.
Beberapa Mahasiswa
yang sudah berada di bus menatapku sejenak, lalu sibuk dengan pikiran mereka
masing-masing, mungkin karena dirasa tidak kenal. Aku melangkah, kursi telah
penuh, aku berdiri tepat di belakang supir yang kutaksir usianya telah
mendekati 50an tahun. Kursi penuh, telah banyak yang berdiri. Ada yang
berpegangan pada besi melingkar yang digantung, dan ada yang memegang palangan
besi membujur dari depan ke belakang. Aku memegang besi melintang, mengambil
posisi di tengah, dan tepat berada sangat dekat dengan supir, karena itu akan
mempermudahkanku membayar ongkos, ketika turun nanti. Aku ingin turun pertama
kali di Rektorat, untuk mendaftar ulang dan mencari informasi tambahan tentang
seluk-beluk UI yang belum aku ketahui. Syarat masuk ke Asrama UI pun, aku belum
tahu karena aku ingin tinggal disana.
Di samping kiri dan
kanan, tampak kursi memanjang sampai ekor bus, tidak seperti bus biasanya.
Secara tidak langsung, aku dan beberapa orang yang berdiri di tengah menjadi
tontonan penumpang yang lain di sisi kanan dan kiri, yang duduk menghadap kami.
Apalagi celanaku robek di bagian dengkulnya, sedari tadi aku hanya menunduk.
Aku berjanji dalam hati, tidak akan memakai celana seperti ini lagi. Aku akan
menyimpannya saja, atau kubakar dan kubuang. Hehhh, aku mendesah, mencoba
menghilangkan perasaan malu.
“Pak, aku mau turun di
Rektorat,” kudekatkan sedikit mukaku kearah supir. Suasana panas dan senyap,
membuat suaraku terasa keras, dan mungkin terdengar oleh semua penumpang di bus
itu. Beberapa kali kulihat pandangan mereka menajam kearahku, pandangan-pandangan
yang susah diartikan. Ada yang menggeleng kecil, ada yang tersenyum kecil, ada
yang cuek setelah melihat tampangku. Mungkin reaksi biasa, melihat diriku yang
sedikit berbeda. Berbeda? Mungkin karena aku memang anak desa dan dari desa,
tak kenal dengan mode maupun gaul. Ah, siapa yang peduli.
Sempat kulihat
sejenak, sang supir tersenyum dari kerutan di wajahnya yang tertarik, lalu
sibuk lagi memainkan gerak tangannya, menikungkan bus yang berada di tikungan.
Bus melaju, suasana tenang, sinar matahari menembus kaca menembus menamparku.
Beberapa mahasiswa menutupi mukanya dengan
apa saja yang mereka pegang; tas, buku, tangan. Bagiku, matahari adalah teman
kehidupan, aku telah terbiasa berteman dengannya, kubiarkan wajahku merasakan
sinar, sungguh nikmat. Teringat akan kampung, yang selalu membuatku bercanda
dengan matahari, terpanggang dengan merdu, menyanyi di bawahnya, sambil mencari
sisa singkong maupun padi sisa panen.
Mataku menatap sisi,
Fakultas Hukum terbaca oleh mataku. Bus berhenti tepat di depan halte yang berada di pinggir jalan. Beberapa mahasiswa turun, ada 7 orang. Dua orang
penumpang baru yang berdiri di halte itu naik, kursi kosong telah penuh
kembali. Biarlah, lebih enak berdiri, sambil menatap pemandangan yang sangat
asing bagiku. Universitas Indonesia yang terkenal itu, ternyata sangat besar,
mungkin sama dengan satu kecamatan di kampungku. Yang lebih mengherankan ialah,
disini seperti masih alami, hutan karet sangat panjang menghampar dan masih
asri, tidak seperti di kampung yang walaupun masih banyak pepohonan, namun
telah gundul. Bus kembali melaju, mencericit layaknya tikus.
Bus kembali berhenti
di halte Masjid Ukhuwah
Islamiah (MUI).
Beberapa turun dan ada yang naik kembali, yang aku heran tidak ada yang
membayar ongkos transportasi sama sekali, atau mungkin mereka telah membayar
sebelumnya, dan masuk ke dalam biaya kuliah? Aku masih bingung. Bus terus
melaju, hingga berhenti lagi di salah satu halte,.
“Mas, sudah sampai di
Rektorat UI. Itu dia gedung yang tinggi yang membentuk lancip ke atas,” supir
setengahan abad itu menoleh kearahku. Seolah dia tahu kalau aku Mahasiswa baru.
Aku sempat kaget sejenak, lamunanku buyar, lalu menganggukkan kepalaku, “Berapa
ongkosnya Pak?” aku sengaja memelankan suaraku, aku malu jika terdengar semua
penumpang, karena aku kan masih baru, dan belum membayar sama sekali biaya
kuliahnya. Supir itu malah menggelengkan kepalanya pelan.
Seorang wanita
berjilbab melintas di depanku, dari tadi dia duduk di belakang supir tepat. Dia
berhenti sejenak, satu setengah meter setelah melewatiku, “Ali, cepetan turun.
Kamu ini benar-benar kampungan,” sepertinya suara pelan itu aku kenal, kutatap
sejenak, ya! Dia Wanda. Langkahnya melaju kembali, dan turun dari bus sambil
menatapku yang masih berdiri di dalam. Matanya tajam menatapku sambil menahan
sesuatu sambil melambaikan tangannya, “Ali, cepetan turun!” nadanya sedikit
meninggi, namun aku masih bertahan. Aku kan belum membayar ongkos.
Aku menatap Wanda,
“Maaf! Tunggu sebentar, aku kan belum bayar ongkosnya,” aku sedikit mengeraskan
suaraku agar terdengar olehnya. Kualihkan pandanganku, sambil merogoh uang dari
saku depanku, “Berapa ongkosnya Pak?” aku bertanya lagi pada supir, namun supir
itu kembali menggelengkan kepalanya kecil.
Belum sempat kudengar
penjelasan sang supir, saat kepalanya menoleh kearahku, sebuah tangan lembut
menarik tas Boggieku, hingga membuatku tertarik ke pintu keluar bus, tangan
Wanda kuat menarikku. Terpaksa aku turun dari Bus, dan menjadi tontonan aneh
para Mahasiswa yang berada di dalam Bus.
“Bus ini gratis untuk mahasiswa, jadi tidak usah bayar,” tangan Wanda
sedikit bertolak pinggang, lalu tangannya menurun kembali, wajahnya sangat lucu
jika sedang marah. Wajahnya yang putih sedikit berhias keringat, mungkin karena
panas yang telah melewati waktu dhuha.
Aku mengalihkan
pandanganku pada Wanda, lalu menoleh kearah bus. Bus mulai menderum, kembali
mencericit, “Terima kasih ya Pak!” setidaknya, aku tadi belum mengucapkan
terima kasih. Bukankah sedari di dalam bus, kuperhatikan setiap orang membayar
jasa dengan ucapan terima kasih, dan kini sekilas senyum kecil dan gelengan
kepala dari spion bus sebelah kiri. Senyum yang mengingatkanku pada senyuman
terakhir sahabat kecilku. Aku tersenyum menatap bus, yang melaju semakin jauh.
“Maafkan aku,
membuatmu kesal,” aku membalikkan tubuhku kembali kearah Wanda, kulihat dia
sedang membenahi tas punggungnya, telah hilang wajah kesuhnya.
“Kamu sungguh lucu,
baru pertama kali ini, aku bertemu dengan orang yang benar-benar lugu. O ya,
kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan se-almamater?
“Maaf…, sebenarnya aku
ingin langsung menuju UI, jadi aku naik angkot nomor 112 yang menuju Terminal
Depok, lalu menuju langsung ke Kampus. Sebenarnya aku merasa tidak pantas
kuliah disini, karena aku hanyalah orang kampung yang miskin…,” belum sempat aku meneruskan kata-kataku,
gadis itu telah cekikikan dan memegang perutnya. Kulihat tangannya keras
mencoba menutup mulutnya.
“Kenapa? Ada yang
lucu?” aku menatap dari atas hingga ujung kakiku, sepertinya normal, “Kenapa
kamu cekikikan?”
“Dasar orang desa!
Kalau mau ke UI, langsung saja dari Kampung Rambutan naik angkot nomor 19.
Kenapa muter-muter sampai Terminal
Depok?” aku tahu sekarang kenapa tawanya tak tertahan. Aku menatap langit biru
sejenak, mencoba menghilangkan pendengaran. Panas menyengat, aku bersyukur
pada-Mu ya Allah. Kau beri kesempatan padaku untuk belajar disini, Universitas
Indonesia.
Not Comments Yet "Part 7, Merangkai Mimpi Menyulam Harapan"
Posting Komentar