Hari ahad, Syahid kuminta
mengantarkanku silaturahim ke rumah Hasan. Kudengar kakinya terkilir setelah
pertandingan. Kami mengayuh sepeda ke arah selatan, tepat lima rumah sebelum
sungai besar desa, yang dijadikan sumber pengairan seluruh sawah desa.
Saat kami ke rumah Hasan,
dia tidak ada. Seorang tetangganya mengatakan kalau Hasan dan Ibunya ke rumah Pak
Manar, pemilik industri perminyakan yang mempekerjakan puluhan, bahkan mungkin
sampai angka seratusan orang untuk memarut kelapa. Dengan upah Rp 500 perkilo
hasil parutan. Jika sehari bekerja paling banyak hanya bisa mencapai sepuluh
kilo, maka itu tak akan sesuai dengan standar upah minimum regional, tak akan
sesuai, bahkan sangat jauh.
Rumah Pak Manar dekat
dengan dam sungai, berjarak lima rumah dari rumah Hasan. Jadi kisaran 100
meter. Sudah kubilang, bahwa jarak satu rumah ke rumah yang lain berkisar 20-30
meter. Kami sampai di sana, Pak Manar tengah duduk mengisap rokok dengan pipa
menjulang panjang ke depan. Tubuhnya demikian gendut, berbeda dengan orang-orang
yang lalu lalang dari pintu di tengah rumah yang besar bentuk huruf U itu.
Sangat kurus, bahkan ada yang mirip tengkorak berbalut kulit.
Kami mengucapkan salam,
seperti cerita yang banyak dihembuskan, Pak Manar adalah orang yang pelit walau
pembawaannya ramah. Tapi untuk urusan uang, jangan pernah diragukan lagi. Namun
begitu, dialah orang terkaya di desa Cahaya.
”Rupanya ada tamu penting!
Masuklah Pak Arif!” aku dan Syahid duduk di ruangan depan rumah Pak Manar.
Bersahabat
dan ramah memang, tapi, dia selalu
berujar tak membiarkan kami ganti bicara. Hingga belasan menit, tak ada sela
untuk aku bicara. Sorot mata Syahid memberi isyarat padaku, sudah kubilang,
percaya sekarang? Mata itu menantang. Benar, boro-boro ada minuman, yang
ada hanya bualan bahwa dia pemilik usaha terbesar di desa ini jasanya lebih
besar daripada Pak Lurah, pengentas kemiskinan desa, penyelamat pengangguran.
”Pak!” aku memotong, walau
kutahu tempatnya tak tepat. Kucari sela ambil napasnya tak ada, ambil napasnya
pun masih bicara. Kawan, biasanya jika kau bicara dengan orang lain yang
cerewet, pasti masih ada jeda ketika dia mengambil napas untuk berujar lagi.
Tapi ini tak ada, aku kebingungan mana jeda ambil napasnya, sungguh.
”Saya ke sini mau bertemu
dengan Hasan. Dia sedang sakit, tapi dia berangkat kerja kata tetangganya
tadi.”
”Ooo... silakan. Masuk
saja ke ruangan di tengah itu, temuilah siapa tadi?”
”Hasan, Pak.”
”Iya, Hasan, aku juga tak
kenal anak itu. Maklumlah Pak, saya penyelamat pengangguran, saking banyaknya
karyawan, saya tak tahu secara detail nama-namanya. Masuk saja,” senyumnya
terukir.
”Jadi, tidak apa-apa saya
menemui Hasan?” wajahku cerah, tak semua isu-isu benar. Buktinya, aku
diperbolehkan menemui Hasan, berarti dia tidak pelit bukan?
”Tidak apa-apa, silakan
saja.”
Aku menatap Syahid,
kuangkat kedua alisku, ganti kutantang. Tak semua perkataanmu benar bukan?
Pak Manar masih berbaik hati!
”Bapak tidak akan merasa
rugi?” aku masih sedikit berbasa-basi.
”Kenapa harus rugi Pak
Arif, bukankah sudah kubayar mereka berdasarkan apa yang mereka hasilkan.
Perkilo parutan kelapa berarti lima ratus rupiah. Jika dia istirahat, tentu
mereka yang rugi bukan? Aku tak rugi, itu sudah kuperhitungkan matang-matang,
makanya usahaku bisa eksis hingga hari ini.”
Mataku terbelalak
mendengarkan penjelasan Pak Manar, bibirku melongo. Kawan, kulihat Syahid
cekikikan, tapi ditutupinya kedua mulut itu dengan kedua tangannya.
Kami masuk, begitu banyak
manusia tengah menghadap parutan dan tampah, untuk menadah hasil
parutan. Semuanya tampak berkonsentrasi, khusyuk dengan parutannya sendiri,
lihatlah tangan-tangan mereka, luka parutan tak terperikan. Kadang ada yang
berdarah, tapi segera diisab dengan mulutnya, lalu bekerja kembali.
Aku miris melihatnya.
Laki-laki dan perempuan,
tak ada obrolan bahkan, mereka larut demi sesuap nasi untuk hari ini. Kawan,
ini seperti kerja rodi, romusha. Mereka bahkan tak melihat kehadiranku,
mereka asyik, tapi keringat-keringat mengucur dari wajah-wajah mereka yang
legam pula. Bukan segelintir, tapi
begitu banyak orang terduduk bagai menunggu bantuan datang, atau barisan
pendengar khutbah jumat.
Syahid menyadarkanku, dia
menarik tangan kananku. Telunjuknya mengarah ke suatu tempat di ujung sana.
Hasan tengah bertelanjang dada. Di sampingnya ada ibunya. Tangannya kurus
seperti dahan kayu mahoni, teramat kecil.
Ada sela jalan, di antara
orang-orang yang dipergunakan para pekerja untuk lewat. Kami lewat, duduk di
dekat Hasan dan Ibunya. Mereka tak menyadari keberadaan kami, kami membiarkan
saja. Saat Hasan mengelap keringat yang membasah di dahinya, dia melihat kami.
”Kalian! Sejak kapan?”
Dia kaget, menghentikan
parutannya, dan mencium punggung tanganku. Ibunya masih memarut, dia melihat
sejenak pada kami. Tapi, kemudian acuh
dan meneruskan kerjanya, aku maklum. Baginya, itulah biaya untuk sekolah
anaknya serta untuk tambahan makan selain dari kerja suaminya.
Hasan duduk bersama kami.
”Kakimu yang terkilir
sudah sembuh, San?”
”Belum Pak, tapi Hasan
harus bantu Ibu, buat sekolah dan berlatih bola lagi!” lihat semangatnya kawan,
kau tak akan temui selain di sini. Mimpi-mimpi yang tergerus keadaan.
”Berapa hasil kerja ibumu
di sini setiap harinya, San?”
”Dari pagi, Ibu setelah
masak langsung memarut. Kala sore pulang, paling banter dapatnya lima belas
kilo, itu pun sudah tanpa henti. Jadi jika penuh, biasanya maksimal dapat Rp
7.500. itupun masih kurang untuk keperluan sekolahku, ayah mencari ikan di
sungai, itu untuk biaya makan sehari-hari. Seandainya...”
Aku menunggu kelanjutan
kata-katanya, tapi Hasan menatap langit di atas sana, seperti kala kucari
jawaban setiap permasalahan. Pasti dia sedang berpikir keras. Kutunggu apa yang
ingin dikatakannya.
”Seandainya aku punya
mesin penggiling kelapa, tak usah hebat, cukup bisa dua puluh kilo seharinya.
Pasti ibuku akan bangga padaku, melebihi bangganya ketika aku kemarin menang
menjadi kiper.”
Aku melihat tatapan
mimpinya.
”Kau mau membuat alat
itu?”
”Sayang, itu cuma mimpi Pak
Arif.”
”Tidak! Itu bukan mimpi,
itu kenyataan!”
”Jangan bercanda Pak, yang
ada adalah bekerja lebih cekatan agar hasil parutan semakin banyak. Bergerak
lebih cepat, lebih banyak, lebih lama.”
”Kamu benar, kita akan
buat alat lebih cepat, lebih banyak, dan lebih bertahan lama daripada kekuatan
tangan. Kita akan membuatnya. Kita pasti bisa!”
Hasan menatapku dalam,
”Dengan apa membuatnya, Pak?”
Aku mengangkat telunjukku,
tepat di kening bagian kanan, ”Dengan ilmu!”
”Bisakah?”
”Apakah Bapak pernah
bohong padamu?”
Hasan menggeleng.
”Tak ada yang tak mungkin
dengan ilmu.”
Dan, kami pamit. Kulihat
senyum perpisahan Hasan, indah tak terperikan. Pelajaran terbaik untuk anak
adalah mimpi! Camkan itu, Kawan. Aku punya tugas baru nanti malam, membuat
bagan seperti apa, dalam menyatakan imajinasi Hasan. Mesin pemarut daging
kelapa.
Not Comments Yet "Bagian 25, Mesin Impian Hasan"
Posting Komentar