Burung besi mulai
meninggi, hamparan hijau bumi terlihat begitu indah, ini pertama kali bagiku
naik pesawat terbang. Aku duduk di dekat jendela kaca agar dapat melihat
pemandangan dengan leluasa. Kuceritakan padamu, Kawan, agar kau tak bingung.
Sewaktu aku izin dua minggu menjemput Pak Rahmat dan Teguh di Jakarta, aku mendapat
informasi tentang beasiswa ke Universitas Malaya, aku mendaftar segera.
Alhamdulillah, Allah
memberi kemudahan padaku untuk menuntut ilmu kembali. Di satu sisi aku bahagia,
meski di sisi lain aku kehilangan teman-temanku di desa Cahaya. Namun, itulah
perjuangan yang harus selalu dihadapi oleh setiap orang, makanya sudah pernah
kukatakan padamu, Kawan. Life is a choice. Kehidupan ini, aku teringat
kata-kata Pak Lukman, sudah diatur oleh Allah. Saat kita dalam rahim, mulai
dari rezeki, ajalnya, apakah dia sengsara atau bahagia. Maka, rezeki tak akan
tertukar untuk orang lain. Keterangan itu tidak boleh disalah artikan sehingga orang
yang buruk akhlaknya mengatakan bahwa ini sudah ditakdirkan Allah. Orang yang
berkata seperti itu adalah sesat.
Masing-masing orang telah
dimudahkan mencapai apa yang diciptakan baginya. Demi jiwa serta
penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. Intinya, Allah telah menakdirkan adanya baik
dan buruk. Allah menciptakan kebaikan bagi manusia. Jika manusia berbuat baik,
maka ia akan dimudahkan untuk melakukannya. Jika dia berikhtiar untuk bertakwa,
maka ia akan dimudahkan meniti jalan takwa tersebut, berlaku juga sebaliknya. Bukankah
dengan seperti itu, hati menjadi tenang?
Hidup itu adalah pilihan. Selama
hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Nantinya, selesai aku
kuliah di Malaysia,
aku pun akan memilih kembali, kembali ke desa Cahaya atau memulai petualangan
yang lain?
Selain itu, ada dua wanita
yang menunggu di sana.
Kepada siapa hatiku akan tertaut nantinya, apakah di antara kedua wanita itu?
Atau Allah telah menuliskan diriku untuk wanita yang lain. Itulah rahasia
Allah. Tapi, pilihan tetap di tangan kita, sedangkan keputusan ada di tangan-Nya.
Aku tersenyum, menatap
langkahku ke depan. Karena dengan senyum itulah hidup akan terasa indah, tidak
sesak dan sempit. Memulai segalanya dengan pikiran yang bersih, karena
segalanya dimulai dari pikiran kita, mimpi kita, harapan kita, dan perubahan
kita.
Astaghfirullahal ’adzim, watub’alaina innaka
antat tawwabur rahiim.
Not Comments Yet "Bagian 61, Hidup adalah Pilihan"
Posting Komentar