Mobil berhenti. Aku
dipegang dua orang polisi, mereka membawaku pelan. Beberapa orang menjepret
foto tiba-tiba dari beberapa arah, mendekat. Namun, polisi sigap menghadang dan
membubarkan barisan para wartawan itu. Telingaku mendengar gumam lirih dari
seorang wanita yang tengah memegang mikrofon-nya.
”Ternyata, kepahlawanannya
dulu hanyalah topeng untuk menutupi kesalahannya.”
Aku memejamkan mataku,
sambil tetap dipegangi. Kadang pers memang seperti itu, belum jelas
informasinya, belum jelas salah atau tidaknya, asalkan beritanya dapat menjadi
berita utama, bombastis news. Maka, siapa pun bisa kena jatah
terburuknya dan terpampang di koran atau televisi.
Mereka berebut, mencari
sensasi dalam beritanya. Inilah obsesi paling berbahaya, obsesi mencari
kesalahan. Jangan kau ikuti, Kawan, kecuali berita itu benar-benar valid, dan
harus disampaikan mengingat kebaikannya untuk memberi informasi, agar orang
lain menjadikannya pelajaran.
Aku digiring, melewati
sel-sel yang lain. Orang-orang di dalam sel melihatku dengan sinis, tapi tak
semua. Di penjara banyak manusia yang bertobat, nyatanya kulihat tadi ada yang
tengah melaksanakan shalat di dalam selnya.
Aku terus di giring,
dibawalah aku ke dalam ruangan yang terpencil di ujung, mentok tak ada lagi
jalan. Aku dimasukkan ke dalam penjara itu, mereka membuka ikatan borgolku, pintu
sel di kunci. Aku terduduk, kedua lututku bertumpu di depan. Kutatap sel-sel
itu, aku tak menyangka, bahwa aku akan menempati penjara, aku difitnah.
Di penjara itu, aku
sendirian.
Aku berdzikir, tiba-tiba
hatiku diliputi ketenangan. Hatiku begitu teduh, penjara tak berarti vakum
bukan? Aku ingat semua kisah para orang besar yang dipenjara. Ya! Mereka adalah
bukti sejarah. Mereka merasakan kesumpekan penjara, tapi mereka tak henti
memberikan karyanya.
Minimal aku bisa shalat,
maka aku tayamum di dinding penjara. Aku ingin shalat sunnah, sebentar lagi
juga zuhur datang. Saat berwudhu, siluet sejarah dalam hidupku terbayang,
terputar bagai rol film.
Setiap hal bukanlah
kebetulan, Cucuku.
Aku teringat kata-kata kakek.
Bahwa tidak ada kata kebetulan di dunia ini, semuanya telah diatur demikian
indah oleh Sang Pencipta. Aku mencoba telusuri lebih jauh semua makna
kehidupanku. Semuanya peristiwa tercipta pula karena sebab, tak ada akibat
tanpa ada sebab.
Setiap cobaan maupun
kerusakan adalah manusia yang memulainya, maka aku coba memaknai apa yang telah
kulakukan hingga aku diberi Tuhan cobaan ini? Aku hanya takut kejiwaan para
siswa Sekolah Cahaya. Aku takut mereka terpengaruh. Apa pun kata media dan
koran, aku tak peduli, tapi aku takut jika para siswa berkata padaku. Berkata bahwa
aku penjahat, aku tak kan bisa mengajarkan mimpi lagi pada mereka.
Apakah ini karena
kesombonganku? Takabur? Berbangga diri karena merasa diri sebagai pahlawan?
Tiba-tiba pikiran itu
muncul begitu saja, mengganggu kekhusyukan shalatku. Tiba-tiba saja aku merasa
menjadi manusia paling lemah di dunia ini, tak ada apa-apanya dibandingkan
kekuatan Tuhan, Dialah yang telah memberi kelebihan padaku. Jika tidak, aku
hanyalah debu yang terbang tanpa daya.
Allah.
Air mataku menetes,
satu-satu, bertambah. Hingga aku tersedu-sedu, aku telah dibutakan oleh
kesombongan. Sombong karena merasa diri hebat, tak merasa bahwa semua itu
karunia Allah. Aku terpekur di lautan ampunan-Nya, ini hanyalah sedikit saja.
Aku harus tegar.
***
Sepatu menjejak, semakin
mendekat, membuatku bangun dari tidur pekurku. Dua orang petugas sedang membuka
kunci tahanan. Pintu terbuka, salah satunya memegang pentungan, sorot matanya
tajam. Tuhan, apa lagi ini? Apakah aku akan diinterogasi seperti penjahat dalam
film-film, atau saat sang tokoh utama dikira seorang penjahat?
Mereka merengkuhku,
tanganku diborgol kembali, aku menurut. Aku dibawa ke sebuah ruangan kedap
suara. Aku didudukkan, salah satu dari mereka berdiri saja, satunya lagi
menginjakkan sepatu larasnya pada kursi di hadapanku.
”Apa kau sudah mengaku
sekarang, Penjahat?” matanya menatapku garang.
”Apa kesalahan saya, Pak?”
”Obat-obat terlarang
ditemukan di kamarmu, dalam jumlah besar. Masih mau berkelit? Kau memang
penjahat kakap, pura-pura menjadi pahlawan dengan membongkar kejahatan Gagak
Hitam untuk menutupi kejahatan-kejahatanmu. Bersembunyi di desa Cahaya, dan
menjadi penjahat!” suara meninggi.
”Demi Allah, saya difitnah,
Pak.”
”Buk!”
Sebuah pukulan, mendarat
di pipi kiriku. Tangan kanannya berputar sejajar, sangat kuat. Wajahku
melencong ke kiri, perih, bibirku serasa pecah, perih. Kembali kutatap polisi
itu, kutatap lembut wajahnya. Aku tak menyalahkannya, karena dia sedang
menjalankan tugasnya.
”Masih tidak mau mengaku, Penjahat!”
Aku tersenyum, ”Aku tahu, Bapak
sedang menjalankan prosedur interogasi. Aku tak menyalahkan Bapak, tapi aku
juga tak akan mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat.”
”Kurang ajar!” tinjunya
kembali melayang cepat, ”Buk!” tangan kirinya mendarat di pipi kananku, begitu
kuat hingga aku terjatuh dari kursi dan jatuh ke lantai. Aku mencoba bangkit,
aliran hangat mengalir dari bibirku. Kuusap dengan lenganku yang terborgol. Aku
duduk kembali.
”Aldi! Giliranmu!” polisi
berkumis tipis itu menengok ke arah teman di belakangnya.
”Sudah saatnya ternyata,”
senyumnya menyeringai. Dia memukulkan pentungan di telapak tangan kirinya,
suara benturan pentungan ke telapaknya menimbulkan suara menggema ruangan kedap
suara itu. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari yang tadi. Dia
bergantian berdiri di hadapanku.
Wajahnya didekatkan ke
wajahku, ”Tanda tangani kertas ini,” dia menggeser sebuah kertas, pernyataan
pengakuan. Aku membaca sekilas, ketika kertas itu disodorkan di depan mataku.
”Aku tidak melakukannya,
dan akan kubela nanti di pengadilan,” aku berkata pelan.
”Sudah bosan hidup
rupanya, kamu tahu ini? Jangan sampai membuat wajahmu yang lembut itu hancur.”
Polisi yang lebih besar
itu mengangkat pentungan, bersiap memukul, ”Masih keras kepala?” nadanya
lembut, tapi siap melumatku.
”Bukan keras kepala, tapi
menjaga harga diri.”
Hilang senyum dari
wajahnya, wajahnya siap menerkam. Kupejamkan mataku, biarlah kuserahkan pada
Allah, hidupku, sakitku, matiku, sehatku. Aku yakinkan semuanya akan baik.
”Hentikan!” pintu di gedor
berulang-ulang, pentungan belum mendarat di wajahku.
”Sial!”
Polisi berkumis tipis
membuka pintu, dua orang polisi masuk. Mereka mendekatiku, merengkuhku,
”Maafkan kami Pak Arif, ada kesalahan prosedur sedikit,” aku tahu wajahnya, dia
yang duduk di sebelahku sewaktu penangkapan. Tuhan menyelamatkanku.
Aku kembali dibawa ke
selku, borgolku dibuka kembali. Polisi itu memberiku minyak, memintaku
mengolesi luka memar di pipiku. ”Aku akan berusaha membantu Anda, Pak,” mata
teduh itu meyakinkanku, aku tersenyum. Beginilah seharusnya polisi, hatiku ikut
tersenyum.
***
Sudah dua hari aku
dipenjara, makan dengan nasi bubur lauk tempe. Bagiku sudah nikmat, apa pun itu
adalah dari rezeki yang harus disyukuri. Tak boleh lemah harapan, pasti setelah
ini akan ada kebaikan-kebaikan. Setiap hidup adalah putaran, kadang sedih,
sedetik kemudian ada senyum. Itulah rahasia yang tidak bisa dikuak manusia.
Dua orang polisi membuka
selku, aku mundur.
”Ayo, Pak,” aku menurut,
kali ini aku tak diborgol. Aku berjalan di koridor-koridor, di tikungan
pertigaan belok ke kiri. Dan di depan sana, Pak Lurah dan Kang Mukhlis serta Pak
Danu tersenyum menatapku.
”Kalian menjengukku?”
”Tidak! Tapi kami akan
menjemputmu.”
”Iya, hari ini Anda bebas.
Anda dinyatakan tidak bersalah,” Polisi yang tengah duduk di hadapan Pak Lurah
itu tersenyum.
Detik itu juga, hatiku
cerah. Aku dijemput dengan mobil, Pak Lurah menceritakan kejadian sebenarnya di
perjalanan. Polisi mendapatkan laporan dari seseorang bahwa aku adalah seorang
pengedar narkoba kelas kakap yang bersembunyi di desa Cahaya. Tapi, si pelapor
sudah melakukan abolisi pada akhirnya. Selain itu, dia mengaku bahwa
dialah yang menaruh obat-obat terlarang di kamarku.
Pelakunya adalah Aldi,
polisi keamanan hutan lindung. Dia membalas dendam, atas tertangkapnya Gagak
Hitam yang banyak memberinya keuntungan. Sewaktu aku izin ke Jakarta, Aldi
datang ke rumah Kang Mukhlis saat Kang Mukhlis sedang pergi. Hanya ada Syahid, lantas
ia minta dipanggilkan. Saat itulah Kang Mukhlis curiga bahwa dia memasukkan
barang-barang haram ke kamarku.
”Bagaimana kalian
membuatnya mengaku?”
Mereka tersenyum. Aku
paham senyuman mereka, pasti mereka menghajarnya habis-habisan, atau bahkan
satu desa membuatnya mengaku.
”Lalu, apakah penjaga
hutan lindung sudah ada penggantinya?”
”Katanya minggu depan ada
petugas baru.”
Not Comments Yet "Bagian 55, Abolisi"
Posting Komentar