Setelah Sariman pingsan,
masyarakat desa Cahaya diliputi ketakutan di semua tempat, wajah-wajah mereka?
Aku penduduk baru di sini, baru setahun ini aku tinggal di desa Cahaya, tentu
aku tak tahu misteri ini.
Otakku bermain sejenak,
semakin menantang. Agen rahasia, sederet nama para penguak misteri melintas di otakku. Seperti
Conan dalam komik, aku mulai merangkai peristiwa satu-persatu.
Belum sempat merangkai,
bunyi kentungan menggema. Terdengar seantero desa, sahut-sahutan, ada hawa
mencekam tiba-tiba. Aku mengambil sepeda, Syahid juga telah berada di
sepedanya. Kami saling mengangguk, siap meluncur.
”Syahid!”
Kami berdua menengok ke
belakang, Kang Mukhlis? Bukan itu, tapi wajahnya itu berbeda dari biasanya.
”Kalian di rumah saja, ini
bukan hal main-main!”
”Aku tak bisa Kang, aku
hanya ingin melihat saja,” wajahku kutunjukkan wajah memelas, seperti pengemis
seminggu belum makan.
”Baiklah, tapi Syahid, kau
di rumah saja!”
Syahid meletakkan
sepedanya, dia menunduk. Aku pamitan, mengayuh sepeda ke arah timur. Beberapa
orang kulihat juga sedang ke sana, tapi rumah-rumah masyarakat tampak sepi,
pintunya tertutup, seperti waktu wabah dahulu. Desa ini memang penuh misteri.
Masyarakat berkumpul,
puluhan orang berada di lapangan Sekolah Cahaya. Ada sesosok mayat ditemukan
oleh petugas keamanan hutan lindung. Menurut desas-desus yang kudengar, yang
mati itu adalah Sarman, salah satu anggota Geng Sar.
Aku penasaran, kudekati
mayat yang ditutupi daun-daun pisang itu. Aku hampir muntah, darah tercecer
beku, bau anyir darah menyengat. Lalat terbang mengelilingi, mayat kuperkirakan
meninggal kemarin.
”Dia dimakan binatang
buas, di hutan lindung,” suara Pak Yusuf, dia menutupi hidungnya dengan sapu
tangannya.
Aku memberanikan diri,
membuka daun pisang. Aku langsung mual, kututup kembali. Isi perutnya banyak
yang hilang, tubuh itu tercabik-cabik. Terlihat bekas, cakaran-cakaran hewan,
aku keluar dari kerumunan, pandangan mataku berkunang-kunang.
Benar kata Kang Mukhlis,
ini bukan main-main.
Beberapa desas-desus, kala
kubertanya pada beberapa orang masyarakat, bahwa kebiasaan Geng Sar selalu
masuk hutan, petugas keamanan hutan lindung tak berani melarang karena takut
pada mereka. Entahlah, apa yang mereka lakukan di hutan lindung, hingga hari
ini, salah satu dari mereka mati mengenaskan. Di hutan, banyak binatang
buasnya.
Geng Sar sering ke
hutan?
Otak detective-ku
menggelitik, satu bukti baru! Aku berjalan agak cepat ke rumah Pak Lurah. Aku
tak sendiri, dua orang menguntitku, terlihat dari bayangan mereka yang doyong ke
arahku, karena matahari sore dari arah barat.
Kutengok segera. Huff!
Legalah sudah, ternyata Pak Yusuf dan Yanto. Mereka juga ternyata mau ke rumah Pak
Lurah melihat keadaan Sariman. Sariman ketakutan dan meminta perlindungan,
makanya dia menginap di rumah Pak Lurah. Pak Lurah, menerima dengan lapang hati,
walau Sariman selalu membuat kerisuhan desa.
Kami mengetuk pintu. Di
ruang tamu, Pak Lurah, isterinya, Indah dan Sariman sedang duduk. Kami ikut
bergabung. Sariman ternyata masih menjelaskan tentang dirinya dan
teman-temannya.
”Aku sangat takut Pak Lurah,
aku takut, aku tak berani bercerita,” wajah itu sungguh ketakutan, bagai hantu
menyeringai di setiap sudut ruangan, wajahnya selalu menoleh ke sana-ke mari.
”Kami akan berusaha
membantumu, Man. Kita ini adalah satu pedukuhan, kita harus saling membantu.
Jika kau tak bercerita, bagaimana kami bisa membantu, katakanlah,” Pak Karta berwibawa,
rasa sayangnya kepada setiap warganya tak membedakan apakah preman atau
lainnya. Baginya tugasnya adalah mengayomi, memberi rasa aman.
”Kami berlima, kami...
tidak!” belum selesai, Sariman menutup wajahnya sejenak, lalu membukanya dan
berlari keluar. Aku berlari mengejarnya, diikuti Pak Yusuf dan Yanto. Kami
terus mengejarnya, dia berlari ke arah barat. Sariman tersandung batu-batu
terjal, dia jatuh. Aku meringkusnya, dia berontak. Pak Yusuf dan Yanto datang
membantu.
Sariman manangis lirih,
kami mengikatnya dengan tambang. Kami masih berada di pinggir jalan, pohon
rindang memayungi kami dari matahari yang condong di barat, beberapa monyet
menyeringai kepada kami, lalu melompat pergi, pindah tempat. Mungkin monyet itu
merasa terganggu.
”Sebenarnya aku tak mau
mengatakan ini, tapi mungkin harus kukatakan sekarang,” aku menoleh ke arah
suara, Pak Yusuf mengikuti. Bukan dari Sariman yang tengah menangis, melainkan
Yanto yang menunduk.
”Ada apa, Yan?” aku
penasaran.
Pemuda seusia denganku itu
mengangkat wajahnya, ”Aku sedikit tahu sebenarnya, ada sekelompok orang yang
bersembunyi di tengah hutan. Entahlah, apa mereka yang sering dikatakan sebagai
Gagak Hitam. Aku juga tahu, bahwa Geng Sar sering bertemu mereka di hutan, dan
menerima uang dari mereka.”
”Bagaimana kau bisa masuk
hutan? Lalu mengapa kau ke sana?” Pak Yusuf penasaran. Cukup mewakili
pertanyaanku.
”Aku dari kecil selalu ke
hutan mencari kayu. Aku tahu seluk-beluk hutan, karena sejak kecil aku sering
diajak ayah ke hutan. Hingga ayah menghilang di hutan saat aku terpisah
dengannya. Kucari hingga kini, tapi Ayahku belum kutemukan. Ah! Sudahlah, itu
tentang kisahku. Hingga kini, aku sering ke hutan, aku tahu jalan pintas, jalan
keluarnya. Aku sangat paham. Jalan masuk rahasia pun aku tahu. Itu hanya aku
dan Ayah yang tahu.”
”Kau hebat juga, berarti
semua itu, kau rahasiakan sendiri?”
”Iya.”
”Mereka benar-benar Gagak
Hitam, kelompok rampok yang pernah mengacau seluruh desa, mereka terkenal di mana-mana.
Saat ini, sudah sepuluh tahun ini, mereka bersembunyi di hutan itu. Mereka
sedang mencari sebuah kunci yang disembunyikan kakek Bu Siska! Tapi, kami tak
pernah menemukannya, meski kami mencarinya, dan menggeledah rumahnya.”
Kali ini, kami terdiam,
melihat wajah yang tertunduk terikat itu. Dia berkata kawan, tangisnya telah
mereda.
”Sebenarnya Sarman tidak
dimakan harimau awalnya, dia dibunuh dulu. Karena mereka telah tak sabar,
sebentar lagi, mereka sedang menyiapkan diri untuk menyerang desa Cahaya! Tapi,
kekuatan mereka tak banyak jika berperang di Desa. Mereka sedang menyusun
strategi untuk menemukan kunci itu.”
Pantas saja, sedari dulu,
Geng Sar mengincar rumah Bu Siska. Kunci apa yang dimaksud mereka? Lalu...
strategi apa yang disiapkan Gagak Hitam? Bagaimana melawan mereka? Bu Siska
yang utama dia dalam bahaya, ah! Otakku kuperas, aku berusaha mengait-ngaitkan
cerita.
”Bu Siska dalam bahaya,
kita harus melindunginya,” Pak Yusuf tampak gugup.
Kami terdiam, masyarakat
juga dalam keadaan takut. Semuanya tegang.
”Kita harus bersatu, kita
semua, semuanya,” aku menatap mereka bertiga, meyakinkan mereka, ”Sebenarnya
apa yang mereka cari?”
”Gobang Pelot!”
”Gobang Pelot? Apa itu?”
kami hampir bersamaan.
Sariman menatap kami,
”Markas mereka di dekat Gobang Pelot, tempat yang dipercaya menyimpan harta
karun moyang mereka.”
Sariman akhirnya kami
sembunyikan di desa sebelah, di desa sebelah barat, melewati bulak. Untuk sementara, dia
pasti aman di sana. Tugasku belum selesai. Ternyata mata-mata sejatinya adalah
Yanto, dia sering ke hutan lindung itu.
Ah! Aku ada ide.
Rehat,
Jika kau punya ide,
Lakukanlah, atau catat.
Jika lewat,
Susah untuk kembali
(Rumus perubahan)
Not Comments Yet "Bagian 40, Spionase"
Posting Komentar