Hidup ini memang indah,
mau tinggal di mana pun kau, tak usah risau. Di kota, di desa, di pegunungan,
pesisir pantai, di tambak udang, tak peduli. Kau berhak bahagia, kaya atau
miskin, ramai atau sendirian. Setiap manusia layak untuk bahagia, seperti pula
aku, di desa Cahaya aku pun punya hak untuk bahagia.
Menikmati apa yang ada,
bahagia, adalah bagian dari kesyukuran akan hidup yang dijalani. Kunaiki sepeda.
Syahid memakai sepeda sendiri, sepeda kecil. Kami berangkat bersama, berdendang seirama kaki-kaki kami
yang mengayuh di antara angin pagi yang segar.
Kami sejajar, kedua mata
Syahid terangkat kedua alisnya, aku mengerti, Ayo balapan! Itu pun kalau
berani. Kubalas dengan mengangkat kepalaku. Let’s go. Kami
mengeluarkan segenap kekuatan, terkumpul di kaki kami, mengayuh, mencoba
mencapai sekolah. Walau sebenarnya, kami tak sungguh-sungguh. Kami tetap
menjaga kestabilan kecepatan, kami selalu sejajar; satu membalap, maka dia
memelankan lagi, ganti membalap begitu seterusnya.
Burung bernyanyi indah,
berkicauan. Sesekali beberapa kera terlihat meloncat terlalu jauh, terpelanting
dan berputar ke dahan. Suaranya seperti seorang anak yang menjerit saat
permennya mau diambil.
”Duluan Pak Guru! Duluan!
Duluan, Pak!” beberapa siswa Sekolah Cahaya menyerobot aku dan Syahid, banyak,
dari seluruh sisi. Kecepatan mereka tinggi, aih! Tak kasihan pada ban sepeda. Jalanan
terjal begini. Namanya juga anak-anak, Kawan, kau harus mengerti itu.
Aku memarkir sepeda, di
dekat kantor. Pak Danu dengan kacamata tebalnya tersenyum menyambutku, Bu Siska
masih menulis di mejanya. Bu Siska, walau wajahnya tak secantik anaknya Pak Lurah,
tapi, dia mempunyai daya pesona tersendiri, ketenangannya, anggunnya, sikapnya,
senyumnya. Ah! Ketepis semua anggap tiba-tibaku. Kenapa aku ini?
Aku duduk di tempatku,
hanya aku dan Bu Siska, Pak Danu baru saja masuk ke ruangannya. Kawan, dadaku
berdebar-debar. Bahkan, apa yang hendak kulakukan, hilang semua. Kenapa aku
begini? Bu Siska masih sibuk, konsentrasi menulis nilai sepertinya. Dari satu
buku ke buku lainnya.
Kawan, aku bingung. Apa
yang terjadi padaku? Aku seorang lelaki super cuek, kini, setelah kukenal desa
Cahaya. Aku telah berubah total, sejak bertemu pula dengan wanita yang tengah
duduk berjarak satu meja itu. Kenapa aku demikian memikirkannya? Karena apa?
Apa karena suaranya yang merdu saat membaca al-Qur`an, yang kudengarkan kala
pagi sesudah shalat Subuh?
Kawan, kini kuakui. Rumus
tersulit, bukan rumus ilmu pengetahuan yang dikemukakan penemu-penemu, dari
ujung kutub selatan hingga kutub utara, melainkan rumus cinta. Ya, rumus cinta.
”Bu Siska sedang
mengerjakan apa?”
Akhirnya keluar juga
suaraku. Duh! Salah. Suara itu bukan dari kedua bibirku, melainkan Bu Ria baru
saja datang, bertanya pada Bu Siska dan duduk di kursinya. Tuhan! Aku semakin
tak kuasa, bahkan, suara orang lain kukira suaraku. Ini bukan cinta, pasti
bukan!
Cinta tak akan seperti
ini.
m. Bu Ria baru datang?”
Bu Siska menoleh,
mendongakkan kepalanya pada Bu Ria. Maka, pastilah tatapannya juga ke arahku. Tatapan
kami bertemu, kami saling menunduk kembali.
”Iya, tadi di rumah, aku
merapikan rumah dahulu.”
Untung saja! Allah,
jagalah hati hamba ini. Kuakui aku belum tahu apa-apa tentang ilmu-Mu, bahkan
aku masih belajar tahap awal membaca Qur`an. Ampuni hamba karena hamba telat,
sangat telat. Aku tak boleh berlama-lama di sini, akan kujaga hati ini, bersama-Mu
Allah.
Aku berdiri hendak keluar,
tapi langkahku segera terhenti.
”Pak Arif, mohon masuk ke
ruangan saya sebentar,” sesosok kepala menyembul dari ruangan kepala sekolah, Pak
Danu. Segera, langkahku kuputar menuju ruangan Pak Danu.
”Kau tahu Pak Arif, umurku
telah menua,” Pak Danu berjalan di belakang kursinya ke sana-ke mari di
hadapanku, ”Jika menurut hitungan sebenarnya, harusnya aku sudah pensiun, tak
lagi mengurusi sekolah, dan menikmati masa tuaku di rumah bersama anak-cucu.
Aku bertahan, karena tak ada yang menggantikannya. Selain itu, aku mempunyai
satu keinginan, agar aku tenang meninggalkan Sekolah Cahaya ini.”
Pak Danu duduk tepat di
hadapanku, dia menatapku, ”Aku ingin meninggalkan sebuah kenangan terbesar di
Sekolah ini, yang akan dibawa setiap siswa hingga ajal mereka kelak. Agar
mereka mengingat dan menyimpan cahaya di hati mereka, ajarilah mereka mimpi
yang sesungguhnya. Ajarkanlah para murid mimpi mereka Pak Arif, agar mereka
mempunyai keinginan yang tak akan pernah mati.”
”Saya tidak mengerti
maksud Pak Danu.”
”Semenjak kau datang, aku
menaruh harapan besar padamu, Anakku. Semenjak para siswa pertama kalinya dalam
hidupku, mereka melakukan protes saat kau hendak kukeluarkan, saat itulah aku
melihat para siswa telah melakukan dobrakan atas kebodohan. Aku tahu, kau
bukanlah dari desa Cahaya, kau diutus Allah untuk datang ke sini. Aku ingin
melihat desa Cahaya maju, seperti namanya, cahaya. Kumohon pada Anda Pak Arif,
ini adalah permintaan seluruh penduduk desa Cahaya. Ajarkan para murid mimpi,
seperti kau ajari mereka protes.”
Wajah Pak Danu, tidak Kawan,
dia berharap dengan kesungguhan. Sampai berkaca kedua matanya.
”Saya akan berusaha, Pak.”
”Baiklah!” Pak Danu
berdiri, ”Anggaplah ini adalah permintaan terakhir dari seorang tua yang
memiliki mimpi, tapi umur telah tak mampu dijangkaunya lagi. Sekarang
lakukanlah sesuka Anda, aku ingin melihat mimpi dan harapan ada di setiap sorot
mata anak-anak Sekolah Cahaya, agar mereka tak pernah malu pernah bersekolah di
sini.”
Pak Danu menyamping,
menatap jendela terbuka di depannya.
”Baiklah Pak, insya Allah
akan kuusahakan yang terbaik,” kurasa baru sekali ini aku mengucapkan insya
Allah, ungkapan yang indah. Bukan obral janji, bukan pola alasan
penolakan, tapi kata ikatan dengan Tuhan Semesta Alam, maka dia melebihi
janji-janji yang sesungguhnya.
Aku keluar ruangan,
kudekati lonceng tanda masuk. Pak Yusuf sudah duduk di kursinya. Saat aku
meraih lonceng, Pak Yusuf tergerak berdiri mendekatiku.
”Biarkan saya saja, Pak,
ini tugas saya,” senyumnya merekah.
”Biar saya, Pak Yusuf,
saya sedang melaksanakan tugas yang diberikan Pak Kepala Sekolah,” aku
tersenyum pada Pak Yusuf. Aku bukan memukul lonceng itu, melainkan kuambil dari
kaitan lubang lonceng dengan besi sangkutan. Kuambil dan kupegang bersama
besinya, kutenteng pergi. Saat itu kulihat Pak Yusuf, Bu Ria dan Bu Siska heran
seheran-herannya. Saat itu, Pak Danu keluar dari ruangannya, hanya dia yang tersenyum, hingga gigi serinya kelihatan.
Aku berjalan keluar kantor
sekolah, aku berjalan bagai pemukul gong saat akan mengumumkan woro-woro
dari Sang Raja, dengan membawa kertas gulungan yang siap dibacakan di hadapan
semua rakyat. Tapi gulungan kertasku tak ada, hanya pemukul besi lonceng di
tangan kananku.
Aku berhenti tepat di
depan kelas-kelas di lapangan upacara bendera, di antara keenam kelas yang
membentuk huruf U. Beberapa siswa melihatku, walau mereka heran, tapi segera
meneruskan permainan mereka. Ada yang main lompat-lompatan dengan karet gelang,
ada yang main kayu, mainan kayu kecil, dipukul ujungnya kayu pendek setelah
tinggi dipukul, hingga siapa yang jauh dialah pemenangnya, dan mainan lainnya.
Kuperhatikan semua siswa,
kulepas semua pandang ke seluruh penjuru, aku berputar, hingga beberapa kali. Aku
berhenti, kuangkat tanganku tinggi-tinggi dan kupukulkan besi pemukul itu pada
lonceng, kupukul dengan keras. Kuulangi sekali lagi, dan kuulangi memukulnya
dengan keras. Tiga kali.
”Kumpul semua!” aku
berteriak.
Para siswa Sekolah Cahaya
berlari, ceria sekali wajah-wajah mereka, mereka serentak berlari dan membentuk
barisan sesuai dengan kelasnya masing-masing, seperti barisan saat upacara
bendera.
Kau tahu Kawan, kenapa
wajah mereka berseri-seri? Juga kenapa mereka berlari demikian bersemangat? Tak
lain, tak bukan adalah mereka salah paham pada lonceng yang kubunyikan. Mereka
mengira bahwa akan ada pengumuman bahwa hari ini tidak belajar, dan pulang
cepat. Mungkin mereka pikir akan ada rapat dewan guru dengan wali murid, atau
ada musibah dan lain sebagainya.
Semua murid kurasa sudah
berkumpul. Semua menunggu pengumuman dariku. Kujatuhkan lonceng dan pemukul
besinya. Perlahan, aku berjalan di depan mereka, ke sana-ke mari, memerhatikan
mereka bergantian, kusapu pandangan ke semua penjuru. Wajah-wajah mereka
terlihat bingung.
”Kalian semua tahu kenapa
Bapak kumpulkan di sini?”
Semuanya diam, Pak Danu
datang dan berdiri di dekat podium, guru-guru lainnya juga berbaris di dekat Pak
Danu.
”Bapak akan ajarkan kepada
kalian satu pelajaran penting, yang akan kalian ingat sampai maut menjemput.
Ingatlah baik-baik, pelajaran ini tak akan kalian temukan di sekolah mana pun,
kecuali Sekolah Cahaya!” semuanya terdiam
”Apakah kalian lihat
monyet yang bergelantungan di sana?” aku menunjuk seekor monyet yang tengah
memanjat pohon pisang, dia mencuri dan
memakannya sesaat seorang wanita keluar membawa sapu kayunya dan mengusir sang
monyet. Monyet itu menyeringai, kesenangannya diganggu, tapi melihat ancaman
itu dia segera meloncat ke dahan dan pergi jauh.
”Monyet itu telah tahu apa
yang harus dilakukannya, kalian lihat burung-burung yang terbang? Mereka telah
tahu potensinya mengarungi angkasa. Hingga potensi elang yang terbang paling
tinggi terbangnya itu dikatakan sebagai dinosaurus yang berani terbang. Karena
mereka tahu ke mana tujuan hidup mereka.
Akan kuberikan kalian
tugas. Hari ini adalah hari Sabtu, kuberikan kepada kalian satu minggu, hingga Sabtu
yang akan datang. Setiap seorang dari kalian, harus mempunyai rancangan
imajinasi, sesuai dengan kesenangan dan cita-cita kalian! Ciptakanlah benda
baru, dengan apa pun peragaannya! Dan buktikanlah dengan imajinasi kalian!
Peragaan yang kalian
lakukan harus masuk akal, berdasarkan ilmu, bukan asal menggugurkan tugas ini.
Lebih dari itu! Kalian sedang bermimpi! Maka buktikanlah mimpi kalian! Desa
Cahaya tidak membutuhkan mereka yang tak mempunyai mimpi untuk membangun desa
Cahaya! Dan kalianlah yang akan membangunnya, dengan kekuatan kalian semua!”
Panas menyorot wajahku,
kutantang dengan garang, wajahku kukeraskan. Ingin kulihat mereka menemukan
kesungguhan dalam setiap ucapanku.
”Yang tidak membuat dan
menunjukkan peragaan atau minimal konsep
yang dijelaskannya di depan. Lihat saja! Desa Cahaya tak akan
membutuhkannya, tanah air tempat kalian dilahirkan akan mengusir kalian! Karena
kalian tak mau membawa perubahan apa-apa pada kemajuan desa! Inilah pelajaran
mimpi itu, agar kalian peluk setiap tidur. Buktikan pada orangtua kalian,
buktikan pada teman-teman kalian, buktikan pada hutan, sawah, ladang yang terhampar.
Buktikan bahwa kalian akan membangun mereka! Menjaga mereka! Dengan ilmu
kalian!”
”Karena kini desa Cahaya
sedang sakit, dan kalianlah obatnya. Obat yang akan membawa desa Cahaya menjadi
layak untuk kalian tempati! Untuk orangtua kita nikmati hasil yang melimpah.
Kalian paham?”
”Paham, Pak?”
”Baiklah! Naikkan bendera,
dan nyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini untuk jiwa kalian, agar menyiapkan
mimpi-mimpi kalian ke depan. Dan negera ini membutuhkan prestasi-prestasi
kalian!”
Bendera dikerek, bendera mulai
naik. Lagu ’Indonesia Raya’ dinyanyikan, dengan khusyuk, penuh semangat. Semua
terbawa dalam luapan semangat. Untuk tahap pertama sukses, hanya tinggal lihat
minggu depan, apa yang mereka telurkan? Apakah mereka mempunyai mimpi-mimpi?
***
Rehat Kawan,
Wahai anak manusia,
Sesungguhnya engkau
adalah hari-hari
Semakin hari itu pergi
Maka,
Sebagian dari dirimu
telah pergi
(Hasan al Bashri)
Maka, jangan biarkan
Hari terlewat
Tanpa imajinasi
menggoda
Not Comments Yet "Bagian 36, Mainkan Imajinasi Kalian!"
Posting Komentar