Terdengar sebuah ketukan
lonceng dari arah dalam gerbang. Beberapa orang datang entah dari mana, tapi
jika kulihat, beberapa dari mereka memegangi perut-perut mereka, memutar-mutar seperti
membuat bulatan onde-onde. Pasti ini saatnya makan.
Ada kesempatan.
Aku memberi aba-aba kepada
yang lain untuk tetap bersembunyi di sini, aku dan Yanto mencoba turun ke
bawah, Yanto dapat diandalkan untuk urusan ini. Langit sore mulai menyebarkan
aroma gelap, kabut seolah menjuntai dari langit ke bawah, gelap, samar mulai
terasa. Sebentar lagi gelap.
Kami menuruni tebing dari
arah berbeda dari arah sembunyi, kami mengantisipasi jika sampai ada yang
tertangkap, maka bisa dinetralisir agar yang bersembunyi tidak akan diperiksa
karena dari arah yang berbeda.
Yanto sangat lancar
menuruni tebing itu, seolah main pelesetan saja. Seolah taman bermainnya saja,
aku sering berpegangan pada kayu-kayu yang hidup di tebing-tebing itu, sesekali
kayu yang tumbang atau terpotong, kujadikan pegangan agar tak terlalu cepat
jatuhnya.
Kami sangat pelan,
bersembunyi dari satu pohon ke pohon lain. Saatnya makan adalah saatnya manusia
lemah, perut memang melalaikan manusia pada tugasnya, melalaikan pada bahaya.
Kami dekat dengan Gobang Pelot. Aman.
Kami sudah di atasnya,
setinggi mungkin satu meter, menjorok dari pinggir dan semakin mendalam ke
lubang. Diameternya besar, aku terjun ke bawah, sambil mengendap, diikuti
Yanto. Tepat di tengah, persis seperti yang dikatakan Yanto, ada lubang kunci,
bergerigi delapan.
Saatnya melihat, rahasia
apa di dalamnya. Sebuah misteri yang mengundang maut di mana-mana, sebuah
misteri yang menjadi pelarian komplotan Gagak Hitam hingga menunggu
bertahun-tahun mengasingkan diri di hutan ini, hingga mereka berbisnis di sini,
menjual barang-barang haram tentunya, menjarah hutan seenaknya, merampas
kekayaan rakyat Indonesia.
Aku gemas benar.
Kuambil kalung di saku
celanaku. Kubuka persis seperti tadi siang, bandul kalung itu mekar indah
bergerigi delapan. Aku gemetaran memasukkan kunci itu ke dalam lubang di tengah
Gobang Pelot itu.
”Cepat Pak, waktu kita tak
banyak.”
Aku mengangguk, memasukkan
kunci itu. Kuputar pelan, satu gerigi berpindah ke gerigi di sebelah kanannya.
”Krek!”
Aku membiarkannya. Angin
berhembus lembut, kami menunggu penuh was-was, bersiap-siap, seandainya saja
Gobang Pelot yang kami injak terbuka dan kami terjeblos masuk ke bawah,
terjebak di dalamnya, seperti dalam film The Indiana Jones.
Tak ada apa-apa. Saat
tanganku hendak memutar lagi, mungkin kupikir menggunakan bukan sekali putaran.
Tiba-tiba Gobang Pelot yang kami injak bergetar pelan, seperti lindu (gempa
kecil).
Tepat di depanku,
menyembul sebuah kotak persegi panjang. Panjangnya sekitar setengah meter, dan
lebarnya sepuluh centimeter. Di sana, tertulis tulisan latin abjad yang
terlihat ukiran benda tajam.
”Cahaya menuntunmu
menuju tempat yang lain.”
Kami berpandangan, ”Apa
maksudnya kira-kira ya, Yan?”
Yanto menggeleng,
”Mungkin, sebenarnya harta karun itu bukan di bawah Gobang Pelot ini, jika ia
bukannya mudah membukanya. Dicongkel saja dari bawah, atau diberi peledak,
pasti akan hancur.
”Benar juga!”
Aku hendak memutar lagi,
bisa jadi ada teka-teki yang lain. Tapi tak sempat lagi, seseorang yang keluar
dengan santai, mengelus-elus perutnya, memanjakan kantong ginjalnya yang telah
terisi, sambil menusuk-nusukkan rumput dalam ilalang, untuk membersihkan
sisa-sisa makanan yang menempel memergoki kami.
”Lari Pak Arif! Aku tak
sempat mencium bau mereka datang karena berpikir tentang membuka harta karun
itu!”
Kami tak ambil langkah
pusing lagi, kami keluar, kuambil paksa kunci itu. Lepas. Kami berlari
sejadi-jadinya ke mana saja, entahlah! Kami tak tahu arah, hari mulai gelap,
sore hampir habis.
Dan beberapa orang
mengejar kami. Maut mengancam, kami hanya berlari dan berlari tak tentu arah, tapi
masih sejajar, aku di belakang Yanto. Dia yang paham medan, maka aku
membuntutinya mati-matian, hingga napasku hampir habis. Untunglah, latihan
maratonku tiap pagi bermanfaat.
”Mereka terus mengejar!”
Yanto berkata tanpa menoleh, tak usah heran kawan, pasti karena indera
pembaunya yang tajam, setajam silet.
Kawan,
Jangan takut ancaman
dan halangan,
Tak usah kau lari,
Hadapilah secara
ksatria.
Not Comments Yet "Bagian 47, Misteri Harta Karun"
Posting Komentar