Aku telah mendapatkan
informasi banyak tentang Pak Lukman, lelaki tua buta itu merawat masjid dan
masyarakat bergiliran memberikan dia makanan. Lelaki buta itu, tak tahu asalnya
dari mana, tahu-tahu sudah ada di masjid desa Cahaya, sejak dia ada, masjid itu
selalu digunakan shalat berjamaah, walau hanya segelintir orang, enam hingga
tujuh orang.
Aku tepat duduk bersila di
depannya, sebentar-sebentar kepalanya meliuk, seperti memerhatikanku. Ada
keheranan di wajahnya, seperti orang normal bisa melihat saja.
”Kau sudah paham
sekarang?”
”Maksud Pak Lukman?”
”Seperti langit yang
bertugas memayungi kehidupan, seperti bumi yang dihamparkan sebagai tempat
berpijak, seperti pula angin yang berhembus untuk mengisi kosong, seperti pula
dermaga tempat berlabuhnya kapal-kapal.”
”Saya tidak mengerti
dengan maksud Bapak.”
Lelaki buta itu menepuk
pundak kananku.
”Tidakkah kamu tahu,
bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan
(juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui
(cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
kerjakan.”
Hening.
”Akhirnya kau datang
juga.”
Aku tak mengerti dengan
kata-katanya, lelaki buta kurus itu masih saja seolah menatapku. Aku tak mau
tahu pula apa yang sedang dibicarakannya.
”Pak Lukman, bolehkah aku
meminta bantuan Bapak?”
”Apa itu, Pak Arif?”
”Ajari aku membaca kitab
suci, karena saya belum bisa membacanya. Saya ingin sekali dapat membaca dan
mempelajarinya,” kawan, inilah keinginanku. Mungkin, jika aku bisa membacanya,
hatiku akan menjadi tenteram.
”Dengan senang hati, tapi,
apakah kau mau mendengarkan kisahku dahulu? Ini adalah kisahku.”
”Saya akan
mendengarkannya.”
Lelaki tua itu menghela
napasnya pelan, terjadi hembusan pelan. Lelaki tua itu mulai berkisah tentang
kisah hidupnya.
Not Comments Yet "Bagian 34, Akhirnya Kau Tiba"
Posting Komentar