Murid-murid kelas enam
Sekolah Cahaya dinyatakan lulus semua, dan bukan itu yang membuat aku bisa
tersenyum dengan puas, begitu pun Pak Danu dan Bu Siska sebagai wali murid
kelas enam. Pasalnya, anak-anak kelas enam lulus dengan nilai yang tinggi,
nilai yang amat memuaskan.
Dalam sejarah Ujian
Nasional, tidak ada lagi yang mendapatkan nilai buruk. Semua nilai yang
diujikan minimal mendapat nilai enam, pihak Pemerintah Kabupaten pun memberi
acungan jempol, dan memuji keberhasilan proses belajar mengajar di Sekolah
Cahaya.
Kawan, kuingatkan sekali lagi.
Jangan kau remehkan mimpi karena mimpi mempunyai korelasi tinggi dengan
harapan. Seluruh manusia di dunia ini bisa saja menjadi seorang pemimpi, tapi
sedikit sekali yang mau bertanggung jawab terhadap mimpinya. Bertanggung jawab
untuk memperjuangkan mimpi yang telah merasuki setiap angan dan geraknya,
sungguh-sungguh, dan terus bersungguh-sungguh.
Satu hal yang masih
meresahkanku dan seluruh dewan guru, termasuk guru-guru yang baru adalah tidak
adanya SMP yang dekat dengan desa Cahaya. Banyak anak-anak desa Cahaya putus
sekolah karena SMP-nya terlalu jauh. Sebagian anak laki-laki bekerja atau merantau.
Sementara yang perempuan di rumah dan menunggu jika ada lelaki yang melamarnya.
Inilah mirisnya jika ilmu kurang diperhatikan, pikiran manusia terhambat untuk
mengalami proses kemajuan. Lalu, bagaimana desa Cahaya bisa maju?
”Pak, bisakah kita
mendirikan SMP di sini? Kami ingin selalu berada di desa Cahaya, kami ingin
belajar terus, Pak?” Ratna, siswi terbaik lulusan Sekolah Cahaya menatapku di
kantor guru. Pak Yusuf, Bu Siska, dan guru yang lain tengah duduk di sana.
Guru-guru baru itu ada tiga: Pak Pujo, Bu Ranti, Bu Rahmi. Mereka semua sarjana
PGSD. Mereka terpanggil ke desa Cahaya ketika melihat lowongan yang dibuka
pemerintah kabupaten.
Pak Danu keluar dari
ruangannya. Kulihat matanya sedikit berair, dia pasti mendengarkan apa yang
dikatakan Ratna, kami semua terdiam.
”Di antara teman-teman
Ratna, sudah ada yang tidak ingin sekolah karena letaknya jauh dari rumah.
Mereka mau sekolah kalau dekat, jika jauh, kami juga kasihan kepada orangtua
kami. Bantulah kami, Pak?” wajahnya semakin memelas menatapku.
”Bapak akan mencari jalan
yang terbaik, Bapak akan berusaha.”
”Itulah mimpi kami, Pak,
mimpi yang selalu Bapak ajarkan, mimpi yang kami peluk setiap malam, agar kami
bisa sekolah terus. Karena desa Cahaya adalah harapan kami,” air matanya
menetes, dan kupandang di belakangnya, Pak Danu juga telah luluh air matanya.
”Kami percaya pada
mimpi-mimpi kalian, Anakku,” Pak Danu berjalan mendekatiku, langkahnya bagai
derak-derak pembaca sastra di Istora Senayan Jakarta.
Pak Danu berhenti di
depanku, tangan kanan tuanya terangkat dan menyentuh rambut Ratna, ”Yakinlah,
bahwa mimpi kita semua bukan sekadar angan. Kami semua akan bekerja keras untuk
mendirikan SMP Negeri Cahaya,” kulihat sorot mata harapan menyala-nyala di bola
mata Pak Danu. Kurasa, inilah saatnya pahlawan yang sesungguhnya bangkit,
jiwaku ikut tergerak.
”Saya setuju, Pak!” aku
berdiri saking semangatnya, melihat nyala di mata Pak Danu.
”Saya juga!” ”Saya
Setuju!” ”Setuju!” seluruh dewan guru berdiri, kami saling pandang dan
tersenyum, saling menguatkan untuk sebuah mimpi indah.
”Terima kasih Pak, Bu…
Ratna akan memberitahukan semua teman-teman kabar gembira ini,” wajah Ratna
menyala bagai pijar lalu berlari keluar kantor. Ah! Leganya melihat kebahagiaan
di wajahnya.
”Jadi, langkah apa yang
harus kita siapkan untuk mendirikan SMP itu, Pak Danu?” Pak Yusuf bertanya
kepada Pak Danu yang masih tersenyum berwibawa.
Semua terdiam, semua
melihat wajah Pak Danu yang masih melihat arah luar kantor. Sang harimau telah
kembali, jiwa Pak Danu berkobar kembali, pastinya kata-kata yang akan keluar,
yang sedang kami tunggu adalah auman yang mendebarkan dan mengagumkan.
Benar, Pak Danu berbalik
melihat kami satu-persatu, wajahnya sumringah, wibawanya menguasai pandangan
kami. Tapi, tatapannya tiba-tiba terpaku padaku lama.
”Itulah masalahnya, aku
tak tahu caranya!”
Seolah kunang-kunang
muncul di siang bolong, berkeliling di sekitar pandangan di depanku. Hilang
sudah anganku, menganggap taring semangat Pak Danu telah kembali menjadi muda.
Persepsi manusia sering salah, makanya kau jangan cepat percaya dengan anganmu
sendiri.
”Aku hanya tak tega, tak
memberikan harapan pada anak-anak desa Cahaya, kalian tahu kan betapa hidupku
ini kucurahkan untuk desa ini?”
Kami akhirnya mafhum,
kalau teringat ini, aku jadi teringat nasihat Pak Lukman, “Jika ada yang datang
padamu meminta sesuatu karena keperluan, maka penuhilah. Allah akan memenuhi
segala kesahmu di akhirat kelak.” Ah! Indah nian.
”Sekarang, kita
bersama-sama harus menciptakan mimpi itu menjadi nyata, bahwa ada SMP di desa
Cahaya! Dan tugas ini kuserahkan sepenuhnya pada Pak Arif!” tangan kanan Pak
Danu, menujuk mutlak ke arahku.
”Kenapa aku, Pak, yang lain lebih banyak berkompeten. Ada Pak Pujo,
Bu Rahmi, dan Bu Ranti yang mereka adalah sarjana pendidikan keguruan. Mereka
pasti lebih paham tentang ini, Pak,” aku protes.
Bukan sebuah pembelaan
yang kudapatkan, mata mereka melihatku tajam. Dan kau tahu, maksud tatapan
mereka kira-kira begini: Untuk urusan mimpi, kaulah ahlinya. Kami percaya
itu, sejarah telah menyatakan buktinya.
Kawan, jika sudah
berlebihan dalam menyanjung orang, maka inilah jawabannya. Padahal, tidak semua
hal bisa dimimpikan, atau setidaknya paling parahnya, kita selalu menjadi
korban.
^___^
”Bisakah kami belajar
lagi, tanpa nama SMP juga tidak apa-apa. Kami akan belajar di sini, setelah
tamat barulah kami akan pergi keluar desa untuk melanjutkan SMA,” Ratna
menemuiku ketika malam tadi bersama Ayahnya, sewaktu aku berlatih bela diri
bersama pemuda desa, dan anak-anak sekolah yang laki-laki. Kini pencak silat Kang
Mukhlis ramai.
Butuh waktu yang agak lama
untuk mengurus perizinan sekolah, belum lagi Pemerintah Kabupaten juga masih
sanksi dengan kualitas sekolah yang baru karena minimnya sarana dan prasarana
untuk pendidikan.
Tapi aku benar-benar tak
tega melihat wajah Ratna, wajah bercahaya karena ilmu yang begitu dirindukannya.
Jika sekolah jauh, lebih baik di kampung saja membantu orangtua bekerja, lalu
mungkin dia akan menunggu seorang lelaki datang melamarnya. Apa ini yang akan
terjadi?
Tidak! Pendidikan harus
diperjuangkan! Mimpi mereka, Allah! Apa pun yang terjadi, mimpi-mimpi mereka
wajib diperjuangkan.
Kusejajarkan tubuhku di
depan wajah Ratna, kutatap matanya yang penuh harap, ”Dengarkan Bapak, Allah
menjadi saksi, malam yang dingin ini menjadi saksi. Kau lihat bulan dan bintang
bertaburan di langit?” kepala Ratna mengangguk pelan, ”kalian akan bisa
bersekolah di desa Cahaya, itulah janji yang akan Bapak perjuangkan,” aku
menunduk padanya. Kulihat terang di wajahnya, aku puas kawan, membahagiakan
orang lain adalah bagian dari ibadah.
Ratna dan ayahnya pamitan
membawa senyum.
”Rif!”
”Iya, Kang,” aku menoleh ke
arah Kang Mukhlis yang duduk di rumput, latihan telah selesai.
”Bukankah tadi sore kau
telah menyerah, Pemerintah Kabupaten membutuhkan kondisi riil akan adanya
tempat belajar bagi siswanya. Untuk membangun bangunan sekolah pun, pasti akan
membutuhkan waktu yang lama, mungkin
mereka harus libur dulu selama setahun.”
”Tak perlu, Kang.”
”Maksudmu, Rif?”
”Itulah kekuatan mimpi,
bisa mengubah apa pun di dunia ini. Tadi sore, aku sempat putus harapan, tapi
jika mimpi dan harapan telah merasuki seluruh jiwa, maka akan ada jalan yang
pasti terbuka. Allah pasti akan memberikan jalan-Nya.”
”Bagaimana langkahmu
selanjutnya.”
”Sebelum bangunannya jadi,
mereka akan tetap belajar. Selama proses perizinan, mereka akan belajar. Materi
kurikulum akan disesuaikan dengan pelajaran SMP. Dan untuk tempat…”
Mataku kualihkan pada
bangunan Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Kulihat pesonanya kala malam, hanya ada
dua atau tiga lampu yang menyala kala malam.
”Mereka akan belajar siang
hari setelah siswa-siswi SD pulang. Mereka sekolah siang hingga sore.” Jujur,
aku menemukan ide ini barusan. Saat kulihat harapan yang demikian menyala dari
mata Ratna dan Ayahnya, mata yang mencintai ilmu. Maka, Indonesia harus mulai
berbenah, sekolah itu untuk mencari ilmu bukan untuk mencari pekerjaan. Dan
kita harus memperjuangkannya bersama.
Not Comments Yet "Bagian 56, SMP Negeri Cahaya"
Posting Komentar