Kawasan desa Cahaya adalah
kawasan pertengahan. Letaknya di tengah-tengah, sangat strategis. Kecamatan di
sebelah timur; seberang selatan melewati kali, melewati satu desa adalah
kawasan industri. Sebelah barat desa adalah kota; sebelah utara, melewati
pinggiran hutan adalah kawasan jalan lintas. Maka ketika Pak Lurah menyampaikan
proposal pembangunan jalan, dengan cepat Pemerintah menanggapi dengan baik.
Melihat juga bahwa desa Cahaya telah banyak menyelamatkan aset negara, maka
jalan terjal desa langsung diubah menjadi jalanan raya halus. Listrik pun akan
segera dipasang.
Masyarakat bekerja sama,
meratakan batu-batu hitam, aspal dipanaskan dan disiram, diratakan dengan
silinder besi. Anak-anak Cahaya, sekolah seperti biasa, tak terganggu dengan
bising ramainya pembangunan jalan. Aku sudah mulai berangkat, kembali merajut pelajaran
yang tertunda, melihat tawa anak-anak sekolah adalah kebahagiaan tersendiri.
Tak akan tergantikan.
Setelah pekerjaan
pembuatan jalan selesai, anak-anak sekolah semakin ngebut saja naik sepedanya.
Aku dan Syahid tak mau tersalip kala berangkat sekolah, kami balapan
habis-habisan, tak takut lagi dengan ban sepeda yang menabrak batu besar seperti
dulu. Ngebut ya ngebut, merebut posisi nomor satu, memperebutkan mimpi, mencapai
sebuah harapan.
Dan kami gembira ketika
sepeda kami parkirkan di parkiran sekolah, tertawa lepas bersama beburung yang
tengah meninggalkan sarangnya, mencari makanan untuk anak-anak mereka, kepak
sayapnya terjun bebas, melanglang angin, menikmati hembusannya dan membantu
daya terbangnya.
Pulang sekolah, rapat di balai
sekolah. Masyarakat berbondong-bondong datang, seluruh dewan guru sudah ikut.
Pak Lurah mengucapkan sepatah kata di depan, langsung ke pokok bahasan yang
ingin beliau sampaikan, mengingat para warga juga harus bekerja kembali.
Pada intinya, di rapat itu
Pak Lurah mengajak masyarakat berunding bagaimana memajukan desa Cahaya. Jalan
telah bagus, langkah awal apa yang seharusnya dilakukan sebagai langkah
selanjutnya. Ditunggu, hingga bermenit-menit, tak ada yang angkat tangan.
Saatnya aku bicara, ini
adalah keahlianku.
Aku mengangkat tangan, Pak
Karta mempersilakanku, ”Dalam teori ekonomi yang saya pelajari di bangku
kuliah, serta melihat sejarah cerita-cerita. Kemakmuran itu dimulai dari satu
kata, yaitu ’Pasar!’ Kita harus mendirikan pasar sebagai basis perekonomian
desa, setelah pasar nantinya akan tumbuh bermacam-macam peluang usaha.”
Semuanya terdiam
mendengarkan kata-kataku, ”Ada yang salah dengan kata-kataku?”
”Saya setuju!” Pak Lurah
angkat tangan di sampingku.
”Saya juga,” Bu Ria, Bu
Siska, Pak Yusuf, Pak Danu.
”Saya juga!” ”Saya
setuju!” ”Setuju” semuanya tampak kompak.
Saat itu juga aku ditunjuk
sebagai penanggung jawabnya, membuat master plan bentuknya. Kawan,
tahukah kau, selama dua tahun lebih aku yang lulusan Fakultas Ekonomi, jurusan
Manajemen. Kini bisa kukatakan, ilmu itu akan digunakan untuk membuat manajemen
pasar! Tak ada yang lebih membahagiakan kecuali melakukan apa yang kita sukai.
Akhirnya, teori yang
kudapatkan selama empat tahun di bangku kuliah kini akan dipertanggungjawabkan.
Untuk membangun sebuah harapan, harapan dari ratusan penduduk desa Cahaya,
terangkat begitu indah nan mulia di pundakku.
***
Aku tidak mau main-main
jika ini menyangkut kredibilitasku, teori-teori tentang ekonomi pembangunan,
ekonomi mikro, manajemen pemasaran, analisis SWOT, teori-teori ekonomi, sumber
daya manusia, promosi, legalitas usaha, izin usaha jika perlu, bla bla bla. Ah!
Tiba-tiba semua pelajaran seolah diputar di depan mataku, otakku tak mau
berhenti berpikir.
Pertama izin ke Pemerintah
Daerah, mereka pasti membantu pembangunan pasar ini. Memilih para pekerja untuk
struktur pembangunan. Tak main-main, aku sewa sarjana teknik untuk struktur
bangunannya. Tata letak mulai dari pasar, WC umum, mushala, serta penempatan
setiap segmen dagangannya.
Sesekali aku pergi ke
kecamatan, mencari informasi di internet, teori-teori ekonomi, pemasaran, pasar,
pokoknya semuanya kukumpulkan dan kuprint dan kubaca di rumah. Syahid yang
melihatku sampai geleng-geleng kepala karena hingga pukul dua dini hari masih
mengotak-atik kertas demi kertas. Dia masuk dapur, dan keluar lagi membawa
secangkir kopi dan mi rebus dalam mangkuk yang siap santap.
Selain sibuk mengajar,
mengantarkan telur-telur bebek, walaupun ada karyawan baru juga. Di samping tak
lupa berlatih bela diri, aku meluangkan waktuku untuk merevisi ulang format
pasar desa Cahaya.
Tujuh hari, lunas. Kuusap
keringat di dahiku, tersenyum lebar menatap kertas yang terbuka di atas meja.
Kutatap penuh syukur, selesai juga. Rancangan pasar desa Cahaya.
Pak Lurah mengumpulkan
kembali warga desa, kali ini sangat ramai, Balai Sekolah tak muat, maka
dipindahkan ke lapangan. Di bawah teriknya mentari, aku mempresentasikan master
plan pasar, untung tadi aku fotokopi banyak di kecamatan, jadi mereka bisa
melihat beberapa orang satu kertas. Aku mudah menjelaskannya.
Di ujung arah barat desa
Cahaya, di tikungan dekat dengan perbatasan patok pembatas desa, di situlah
letak pasarnya. Kenapa? Akses akan cepat dari sana, tanahnya begitu padat,
selain itu mempermudah keluar masuk barang, karena pusat pasar terbesar
provinsi ada di sebelah barat melewati denah pasar yang akan dibuat.
Aku jelaskan dengan
detail, mana tempat untuk penjual ikan, sayur-sayuran, mana untuk tempat
penjual seperti baju, juga bangunan. Sedetail-detailnya, bahkan hingga para
instruktur bangunannya. Tapi mereka semua sedari tadi terdiam.
”Ada yang salah, Pak Lurah?” aku menatap Pak Lurah.
”Kau jelaskan detail
seperti itu, atau tidak. Desa Cahaya telah memercayaimu melebihi apa pun.
Bahkan, jika kau mengajak bertempur pun, semuanya telah siap!” Pak lurah
menjelaskan mantap.
”Baiklah!” aku berteriak
keras, ”Besok kita mulai proyek raksasa ini! Kalian semua setuju?”
Mereka berhamburan
mendekatiku, berebut mengangkatku tinggi-tinggi, aku dilempar dan ditangkap
kembali. Saat itu kulihat senyum Bu Siska, begitu indah.
Not Comments Yet "Bagian 52, Pasar Cahaya"
Posting Komentar