”Kita telah mengawasi
cukup lama, Yan, bagaimana kalau kita kembali sekarang?”
”Sebentar Pak, aku mencium
bau manusia yang banyak. Mereka akan datang.”
Aku diam, menunggu di
sebelah Yanto, mataku awas menatap sekeliling. Gerbang itu selalu tertutup. Dua
orang terlihat mondar-mandir di dalam gerbang, salah satu dari mereka menguap,
mengobrol sejenak, lalu satunya tertidur bersandarkan gerbang tralis itu.
Seperti tadi, penciuman
Yanto itu sepanjang apa? Kenapa setelah lima belas menit tak ada serombongan
orang datang? Apa mungkin hanya kebetulan saja? Ah! Kutunggu saja.
Terdengar sebuah deruman
mobil. Mobil? Kenapa di hutan seperti ini ada mobil masuk? Salah! Sebuah helicopter,
Kawan! Melintas di atas kami, berputar-putar di atas hutan, lalu pelan-pelan
turun di tengah-tengah area dalam benteng yang dijaga tersebut.
”Wah hebat penciumanmu,
Yan! Bahkan di udara kau bisa menciumnya demikian jauhnya, sejak lima belas
menit yang lalu.”
”Kau salah Pak, aku
mencium bau orang-orang yang di sana,” Yanto menunjuk ke arah jauh, berhadapan
dengan benteng itu, dua buah mobil Jeep, berjalan pelan-pelan, mendekati
benteng.
Mataku tajam mengawasi,
suaraku terdiam. Aku dan Yanto, sama-sama terdiam melihat apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Setiap mobil Jeep berisi
lima orang kurasa, mereka semua turun. Ada sebelas orang, pintu gerbang teralis
terbuka, beberapa orang keluar dari dalam. Satu hal yang tiba-tiba menjadi
pusat perhatianku, di atas teralis itu,
ya! Sebuah lambang, patung burung Gagak Hitam, tak salah lagi!
Mereka berjabat tangan,
salah satu orang yang keluar memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya.
Lalu dari dalam gerbang beberapa orang mengeluarkan beberapa kardus besar.
Orang-orang yang turun
dari Jeep, salah seorang di antaranya tersenyum. Dia mendekati kardus,
membukanya dengan pisau, menciumi sesuatu dari dalam kardus, dan tertawa.
”Ambilkan uangnya,” begitu
katanya, jika aku tak salah dengar.
Maka beberapa orang di
belakangnya mengambil tas-tas dari dalam mobil jeep mereka, mereka bertukar
barang. Barang-barang di kardus di usung dimasukkan ke mobil, sedangkan tas-tas
diserahkan kepada orang yang dari dalam gerbang, lalu dimasukkan ke dalam
gerbang.
Ini... ini adalah
transaksi jual-beli, tak kusangka, bahwa aku pernah menyaksikan ini, seperti
dalam film-film mafia yang dulu sering kutonton saat masih kuliah, sejenis Policy
Story colection film Jacky Chan, atau Rambo, atau The Triad Mafia.
Film-film yang menceritakan tentang kejahatan dan pasti ada pahlawan dalam film
itu yang menuntaskan misi membersihkan kejahatan itu. Tapi, kini, siapa
pahlawannya? Apakah aku? Melawan mereka, terlibat baku-tembak? Berkelahi dengan
seru? Ah! Tiba-tiba imajinasiku bermain-main, seperti anak kecil saja!
Ini kenyataan kawan!
”Ayo kita kembali, Yan,
kita harus memberitahu Pak Lurah.”
”Iya,” Yanto mengangguk.
Yanto melangkah duluan,
aku mengikutinya, kali ini aku harus selalu mengekor padanya, aku sama sekali
tak paham medan hutan lindung. Belum beberapa langkah aku mengikuti langkahnya,
dia berhenti mendadak dan membuatku menabrak tubuhnya pelan, agak sakit, keningku menabrak kepala belakangnya. Tapi
aku tak berani bersuara.
”Kenapa berhenti mendadak,
Yan?”
”Aku heran,” Yanto terdiam
sejenak, dia berbalik menatap arah gerbang, walau sudah tertutup tebing tempat
kami bersembunyi tadi, ”Kenapa aku mencium bau manusia dan harimau bersamaan
tidak hanya satu, karena baunya banyak, dari dalam gerbang sana!” pandangannya
mengarah pada kawasan gerbang itu.
Benarkah? Kenapa banyak
harimau?
Belum henti otakku
berputar, kata-katanya kembali menimpaliku.
”Tak hanya harimau, ada
bau gajah dan hewan-hewan yang lain.”
Langit di atas hutan
terlihat celahnya dari reranting pohon. Segalanya masih samar bagiku.
Not Comments Yet "Bagian 42, Jual Beli"
Posting Komentar