Seorang lelaki datang ke
rumah memakai motornya. Turun sambil tersenyum menatapku, saat aku tengah
mengantarkan telur-telur bebek ke pelanggan. Lelaki berwajah Ustadz itu
mengucapkan salam dan menjabat tanganku.
”Tumben sore-sore
silaturahim?”
”Iya Pak, saya mengantar
undangan.”
Deg! Jantungku berpacu
cepat, tapi aku sudah mempersiapkan segalanya. Pergulatan terjadi dalam hatiku,
antara kebaikan dan keburukan, itulah yang terjadi di setiap hati manusia.
”Pak Arif, usahakan datang
ya?”
”Insya Allah, Pak Yusuf.”
Aku tersenyum, mengiringi kepergiannya.
Kubuka undangan itu, pelan-pelan. Tertulis dua nama colon mempelai. Aku
memejamkan mataku, merasakan getar-getar cinta yang tersisa. Aku meraba hatiku
dengan anganku.
Allah, temani jiwa
hamba-Mu ini.
^___^
”Ayo siap-siap!”
Kang Mukhlis mengagetkanku
saat aku tengah berdiri di depan cermin. Aku bergeser, Kang Mukhlis ganti
membenahi kerah bajunya. Kang Mukhlis kini selalu tersenyum. Apa pasal? Dia
telah melamar seorang wanita dan dua minggu lagi akadnya. Kau akan kaget dengan
siapa beliau akan menikah, dia akan menikah dengan Ani, sang perawat itu.
Aku baru mengetahui cerita
sesungguhnya. Isteri Kang Mukhlis adalah sepupu Ani, mereka berdua sekolah
bersama di bidang keperawatan. Mereka berdua sama-sama mencintai Kang Muklis
dulunya, tapi ternyata Kang Mukhlis memilih istrinya yang kini sudah meninggal.
Dan meninggalnya sang isteri ternyata ketika melindungi Syahid dari Gagak
Hitam. Gagak hitam membebaskan Syahid dengan syarat Kang Mukhlis tidak lagi
mengurusi apa-apa yang ada di hutan lindung. Makanya, Kang Mukhlis selalu
menjauhkanku dan warga desa Cahaya dari hutan lindung, agar kejadian serupa
yang dialaminya tak terulang pada orang lain.
Kang Mukhlis melamar Ani
atas permintaan Syahid juga, aku turut bahagia.
”Kau kenapa, Rif?”
”Iya, dia kan patah hati,
Pak?” Syahid juga ikut-ikutan bercermin di depan ayahnya.
Kang Mukhlis menatapku,
dia menyentuh kedua pundakku, ”Bersabarlah, Rif, kau orang yang baik. Pasti
Allah mempersiapkan yang terbaik pula untukmu.”
Aku mengangguk.
Kami berangkat mengendarai
sepeda motor yang Kang Mukhlis beli kemarin, platnya saja masih belum
terpasang. Hari ini adalah hari pernikahan Bu Siska, jika menuruti perasaan
sebenarnya aku tak mau datang, nanti hatiku akan semakin terasa sakit. Tapi
kenyataan ada untuk ditaklukkan, bukan untuk ditinggalkan dan memilih lari sebagai
pengecut.
Rumah Bu Siska terlihat
ramai, parkir-parkir sepeda dan motor sudah kelihatan lumayan banyak. Terlihat
janur kuning melengkung dari dua sisi masuk rumah, hiasan-hiasan bunga
menyemarakkan suasana.
Sound system Bang Rizal bertumpuk dua berjumlah delapan
sudah bertengger di samping rumah. Bukan musik dangdut yang terdengar dari
kedelapan sound system itu, melainkan lagu-lagu religi baik shalawatan,
nasyid, maupun pop religi, berganti-ganti.
”Ayo masuk, Rif.”
”Ayo, Kak.”
”Aku di sini dulu.”
Mereka meninggalkanku di
depan rumah, di dekat janur kuning yang melengkung, bagai pelangi saat terang
pasca gerimis, di belakang semua undangan yang tengah asyik memandangi dua
pengurus KUA berpeci yang terlihat menata kertas-kertasnya, seolah mencari-cari
surat kelengkapan pernikahan.
Aku berdiri, bersedekap.
Orang-orang penting desa dan para dewan guru Sekolah Dasar Cahaya dan guru-guru
baru di SMP Negeri Cahaya juga telah duduk di depan, Pak Lurah, dan juga Indah yang
pulang sementara dari kota untuk menghadiri pernikahan ini. Semuanya tumpah
ruah, duduk di kursi para tamu. Mungkin, yang berdiri hanyalah aku selain MC di
depan dan juga para anak-anak yang berlarian.
MC mengumumkan akad akan segera
dilaksanakan. Dadaku bergemuruh, pergulatan kuat terjadi di dalam hatiku,
sangat dahsyat! Tidak akan ada yang tahu bahwa dalam dadaku ini, sedang
terjadi, ada perasaan aneh yang menjajahi hatiku. Dan hatiku terus bertahan. Sekuat
tenaga.
Baru sekarang aku
menyadari sesuatu, ini pelajaran penting untukmu juga, Kawan. Aku telah banyak
mengalami kesusahan mulai dari saat kuliah sudah biasa bagiku tak makan sehari
atau dua hari kecuali hanya air putih, kesusahan mencari uang saat pembayaran
kuliah mengejar deadline, menghadap dosen saat skripsi, dibantai
beberapa dosen saat ujian, kelaparan saat di Jakarta, menjadi pemulung, menjadi
pengangguraan dan selalu dihina. Tapi, cobaan cinta, apa pun bentuknya, inilah
yang paling berat kurasakan. Saat cinta tak bisa memiliki, tapi harus ridha
demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Cukuplah aku saja, Kawan, jangan
sampai kau mencintai seseorang terlalu berlebihan. Maka inilah akibatnya.
Kulihat Bu Siska duduk
berjauhan dengan Pak Yusuf, mereka saling pandang dan tercipta senyuman indah
di antara keduanya. Penghulu memulai basa-basinya, dan akad diucapkan.
Detik-detik yang berlangsung semuanya terdiam kaku, kecuali binatang-binatang
siang yang bernyanyi riang. Akad ditunaikan. Angin berhembus semilir,
menerbangkan sebuah daun kering yang terjatuh dari pohonnya, aku bergetar di tempatku
berdiri. Kukuatkan diriku. Aku meraba hatiku kembali, Allah.
Air mataku menetes, tak
terasa bergulir mendekati bibirku. Daun yang jatuh terus meliuk, bagai kapas
lembut terombang-ambing di angkasa, hingga aku tertarik untuk melihat jatuhnya.
Saat daun kering itu sejajar dengan wajahku, tepat lurus dari daun itu kawan,
mata seseorang bertabrakan denganku, aku terperanjat dia juga. Dia juga
meneteskan air matanya.
Kenangan-kenangan tiba
berputar ulang dalam memoriku, merampas masa kini yang terjadi, dan aku hanyut
dalam memori itu.
”Ternyata sangkaku benar,
kaulah pahlawan desa Cahaya yang ramai diberitakan di media massa,” dia berdiri
di dekatku, tangannya bertumpu, berpegang pada pagar di depan rumah.
Aku memandangnya sejenak,
lalu beralih kembali menatap lalu lalang orang yang datang dan pergi menghadiri
pernikahan Pak Yusuf dan Bu Siska. Aku sendiri kaget bukan main, ternyata
wanita yang sedang berbincang di sampingku ini adalah saudara sepupu Bu Siska,
dia adalah anak dari adik kandung ibunya Bu Siska.
Aku kaget, karena kami
bertemu lagi. Keadaannya hampir sama, dia menangis melihatku menangis. Kau
masih belum tahu siapa wanita yang di sebelahku, Kawan? Dia adalah wanita yang
menangis sewaktu aku kelulusan saat wisuda, dia adalah temanku satu fakultas.
Kau pasti sudah ingat
bukan, dia adalah Nurul Fitriyani. Kini, di hari pernikahan Bu Siska, dia juga
hadir di sini, meneteskan air matanya untuk kedua kalinya untukku. Aku menatap
langit sejenak, mencoba mencari jawaban. Bukankah di dunia tak ada yang kebetulan
Tuhan? Kenapa dia kau turunkan setiap hamba meneteskan air mata?
”Apakah aku setenar itu?”
”Iya, makanya aku ke sini
memastikan bahwa pahlawan desa Cahaya itu adalah kamu,” Nurul menatap langit
pula, ”Aku sudah yakin itu adalah kamu, Rif. Seperti keyakinanku selama kita
bersama belajar di kampus. Saat pertama kali bertemu denganmu pun, aku sudah
yakin, suatu saat kau akan menjadi orang besar.”
”Orang besar? Dari mana
asalnya?” aku tertawa kecil, sifat acuhku telah kembali, aku kembali seperti
dulu rasanya.
”Siapa yang membuat desa
ini maju begini? tentang pasar Cahaya, tentang hutan lindung, tentang kau
difitnah, tentang kemajuan sekolah, tentang mimpi yang selalu kau ajarkan.
Apakah itu tak cukup?”
”Wah! Jadi, selama ini kau
selalu mematai-mataiku, ya?”
”Tidak juga.”
”Lalu?”
”Aku selalu berkirim surat
dengan saudariku itu,” Nurul memberi isyarat kepalanya ke arah dua mempelai,
yang tengah tersenyum kepada setiap orang yang memberi ucapan selamat kepada
mereka.
”Benar juga,” aku
tersenyum, ”tapi, tak semuanya benar. Aku hanya membantu saja, orang-orang
Cahaya-lah yang mau bangkit dan merubah keadaan mereka sendiri. Merekalah
pahlawan-pahlawan itu.”
”Kau selalu begitu.”
”Apa maksudmu?”
”Sudahlah! Lupakan saja.”
Kami terdiam.
”Kamu tahu, Rif?”
”Apa?”
”Sebenarnya Bu Siska
sangat mencintaimu, dia sangat kagum padamu.”
Deg!
”Sudahlah, Nur, jangan kau
ungkit itu lagi. Jangan kau ganggu kebahagiaannya, lihatlah, dia sangat bahagia
dalam pelaminan itu.”
”Iya, kadang tidak semua
hal yang kita sukai sesuai dengan takdir
Allah.”
”Kamu benar. Oya, apakah
kamu sudah menikah, Nur?” aku menatap langit.
”Memangnya kenapa kau
tanya begitu?”
Aku menatapnya sekilas,
sama seperti dulu. Tidak berubah, dia memang terlihat manja, tapi pipinya
terlihat merah.
”Kau jawab saja.”
”Belum, memangnya kenapa.
Ayo jawab?”
”Ha..ha..ha..,” aku
tertawa pelan, ”Ternyata kita sama-sama, tak laku-laku.”
Tawaku ini jujur. Kesedihanku
telah terobati walau belum sepenuhnya, setiap masalah pasti ada kebaikan di
baliknya. Setiap kesusahan itu, selalu sebentar lagi ada kebaikan yang akan
menyusul.
”Oya, Nur”
”Hmmm,” Nurul menengok ke
arahku sejenak, lalu kembali menatap di depannya.
”Kenapa jika kita bertemu,
pastilah saat aku sedang menangis, dan kau juga ikut menangis?”
”Kali aja ini namanya jodoh.”
”Mungkin juga, mungkin lucu
jika kita menikah.”
”Iya, mungkin lucu,” dia
tertawa kecil.
Mendung berarak, menutupi
sejenak matahari siang ini, lalu pindah lagi dan matahari kembali, berpijar
dengan terang.
Not Comments Yet "Bagian 59, Kenangan di Antara Air Mata"
Posting Komentar