Di pinggir kawat besar
yang semula ada celah lubang, dan sekarang lubang itu hilang! Lubang itu telah
sirna, seolah tak pernah ada lubang di sana. Aku bingung, kudekati, ternyata
terlihat jelas sambungan-sambungan antara kawat-kawat sebagai pengait pertama.
Sambungan las, begitu kuat. Berarti, Gagak Hitam telah mengetahui ada
penyelundup sewaktu aku masuk kemarin.
”Sial!”
Aku memukul kawat-kawat
itu, kucoba menenangkan diri. Kukembalikan pada-Nya, aku khilaf. Kuatur napas,
berpikir jernih, ayolah!
”Bagaimana sekarang, Pak?”
Syahid menatapku.
”Iya, kini kau ketua
pasukan pemberani ini,” Pak Lurah.
”Harusnya Bapaklah yang
jadi ketua regu ini.”
”Tidak begitu,” Pak Lurah
menepuk pundakku yang masih menatap ke dalam hutan, bersandarkan kawat-kawat
membentuk pagar itu, ”Apa yang didapatkan dari posisi itu tidak penting.
Yang penting adalah apa yang kita kontribusikan di posisi itu. Kami percaya
padamu, maka kami akan menjalankan perintahmu dalam misi ini.”
”Yan, kau punya ide?” dia
adalah referensiku di hutan lindung.
Matanya mengerling, ”Ikut
aku.”
Yanto berjalan terus ke
arah utara, dari lubang yang tertutup sekitar 20 meter dia berhenti, ”Lewat
pohon ini.”
Kawan, di sana, dekat
dengan kawat pembatas itu. Menjulang pohon mahoni, begitu besarnya pohon itu,
berumur puluhan tahun.
”Dulu, sebelum lubang tadi
ada. Aku dan Ayah selalu masuk hutan lewat pohon ini, naik dan melompat dari
dahan ke dahan. Itulah pengalaman terindah bersama Ayah, aku tidak menyangka,
hari ini aku akan mengalaminya lagi,” kulihat senyum secerah mentari dari wajah
kehitam-hitamannya.
Kami mulai naik ke pohon,
Yanto terakhir naik. Dia membantu tiap orang yang hendak naik, Pak Lurah dan
syahid sudah di atas. Mereka meraih dahan pohon yang menjorok keluar batas
kawat, lalu lagaknya seperti lutung, menggelayut dan pindah ke pohon di dalam
hutan. Aku naik di atas pundak Yanto, memanjat setelah sebelumnya melempar
sepatu ke dalam hutan. Bahaya berjalan di hutan tanpa alas kaki.
Kami semua melompat turun,
menjejak di tanah dalam hutan. Sudah masuk, pantang kembali. Dalam perjalanan
ini, akulah ketuanya. Aku ingat permainan catur, cerita kakek tentang dua orang
sahabat yang sering bermain catur hingga menjadi teman akrab, mereka adalah
seorang raja dan patihnya.
Suatu hari, dalam
permainan, Sang Raja bertanya saat Sang Patih mengangkat satu pion catur, ’Apa
itu, Patih?’ Patih menjawab, ’Ini adalah benteng yang bebas bergerak ke mana
saja.’ Lalu, Raja mengangkat satu pion bentengnya yang telah mati, ’Apa ini?’
Patih menjawab, ’Oh, itu hanya sebutir pion catur biasa.’ Maharaja bingung dan
bertanya kenapa jawabannya beda-beda.
Kau ingin tahu kawan,
karena sebutir catur itu hanya memiliki peran sebagai benteng apabila ia masih
ada dalam permainan catur. Jika permainan selesai, ia menjadi sama dengan yang
lainnya. Maknanya, setiap orang memiliki tugas, tanggung jawab, dan peran yang
berbeda pada tempat yang berbeda. Melakukan yang terbaik adalah intinya,
melakukan terbaik untuk peranan yang diberikan kepada kita.
Dalam dunia ini, tidak ada
peranan kecil. Yang ada hanyalah orang yang berjiwa kecil. Orang yang berhasil
di sebuah bidang akan ada penghargaan tinggi, tapi jangan lupa bahwa itu adalah
bukan usaha sendiri. Ini karena adanya sebuah panggung yang dibentuk oleh orang
banyak. Saat meninggalkan panggung itu, orang itu hanya seorang biasa di
belakang layar. Karena itu, gunakanlah posisi itu sebaik mungkin.
Yanto, memandu kami seperti
biasa. Kami melewati sungai dengan aliran begitu bening. Melewati pula barisan
semut hitam yang besar-besar bentuknya, desa Cahaya menyebutnya, semut tritip.
Kami melangkah berhati-hati, sebab tritip jika menggigit bagai sengatan
kalajengking rasanya. Kami terus berjalan, Pak Lurah dan Syahid masih merayap,
kadang menabrak punggungku tak sadar. Pasti mereka takjub, bagi mereka, warga
asli desa Cahaya, baru pertama kali masuk hutan lindung? Aneh sekali bukan, Kawan!
Melewati kawasan lintah,
trenggiling serta kawasan ular bergelantungan, ditimpali beruk dan lutung yang
sering kali menyeringai, merasa terganggu akan kehadiran orang-orang yang asing
bagi mereka. Atau? Mereka mengira kami adalah para perusak hutan yang akan
menghabisi habitat mereka? Mungkin saja.
Kawan, aku jadi teringat
lagi sebuah kisah yang dikisahkan Pak Lukman tempo hari. Kau ingin mendengarkanm,
Kawan? Kumohon, untuk mengiringi perjalanan berbahayaku ini, setidaknya, jika
aku tak kembali lagi, aku sudah punya nasihat berharga untukmu.
Pak Lukman bercerita
padaku, tiga malam kemarin: “Suatu saat Rasulullah Shallallaahu Alaihi
wa Sallam menyampaikan khotbah
jum’at di samping sebatang kayu, di mana ia menjadi tempat sandaran punggungnya,
maka ketika para jamaah sudah semakin banyak datang, Rasulullah Saw bersabda:
’Buatkan saya mimbar yang memiliki dua pintu (tangga), maka beliau berdiri di
atas mimbar untuk berkhutbah, batang pohon rindu kepada Rasulullah Saw, setelah
pindah di mimbar.
Orang-orang juga
mendengarkan batang kayu itu menangis dan terus rindu hingga Rasulullah Saw turun
dan mendekatinya, lalu memeluknya, sampai akhirnya kayu itu kemudian diam.”
Saat menceritakan itu, Pak
Lukman menangis hingga menetesi jenggotnya yang terjuntai, air mata menggenang
dari kedua matanya yang buta. Dia berkata dalam tangisnya, “Wahai hamba
Allah, jika sepotong kayu bisa
merindukan Rasulullah Saw dan menangis, maka kita sebagai umatnya lebih berhak
untuk merindukan pertemuan indah dengan beliau.”
Sungguh kawan, saat
mendengar cerita itu, aku turut menangis. Sungguh, Rasulullah Saw adalah contoh
yang teramat agung. Sebuah cerita mengalir lagi, waktu itu Rasulullah Saw hendak
berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, saat itu Rasulullah Saw melihat
bahwa sajadahnya yang untuk sutrah ditiduri seekor kucing.
Apa yang akan kau lakukan,
Kawan, jika melihat sajadah untuk shalat ditiduri kucing, inilah contoh yang diberikan
Rasulullah Saw. Beliau mengambil gunting dan menggunting mengeliling kucing
yang tidur itu, hingga kucing itu tak terganggu dan melanjutkan tidurnya,
barulah Rasulullah Saw mengambil sisa guntingan dan menggunakannya untuk shalat
di masjid.
Cerita sederhana ini sudah
cukup bagiku menempatkan Rasulullah Saw menjadi tokoh nomor satu dalam kamus
idola di hatiku. Di atas tokoh manusia siapa pun, aku yakin, tak akan goyah
lagi, walau ada seorang manusia lain yang mempunyai kelebihan di semua bidang.
”Kamu tahu tentang cerita
turun-temurun di desa Cahaya, Pak Arif.”
”Belum, Pak,” aku menoleh
sejenak ke arah Pak Lurah yang berjalan di belakangku.
”Hutan ini adalah hutan
keramat, begitu frame di masyarakat. Ki Marmo selalu menakut-nakuti dengan
keangkeran, hingga animisme desa Cahaya masih kental. Selain itu, siapa pun
yang masuk hutan larang, maka pasti tak akan bisa kembali dengan selamat. Itu
sebabnya, penduduk Cahaya phobia dengan kata hutan lindung.
Selain itu, dulu Haji
Mustaqim yang merupakan Kakek Bu Siska dan pemimpin pertama seluruh desa saat
membuka desa Cahaya ini. Menurut kabar, dia telah menyembunyikan banyak harta
karun, harta perampokan dari kelompok Gagak Hitam. Harta itu disembunyikan di
hutan lindung ini, dan menyimpan kuncinya entah di mana. Hingga turun-temurun,
Gagak Hitam masih mengincar keturunan Haji Mustaqim yang masih hidup.”
Aku menggut-manggut,
ternyata misteri seperti itu masih hidup di masa serba canggih begini.
”Satu hal lagi! Dan kau
perlu tahu sesuatu hal.”
”Apa itu, Pak?”
”Ini tentang Kang Mukhlis,
dia menyembunyikan sesuatu, hingga aku tak mengetahui apa sebenarnya yang
terjadi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa, kala adik seperguruanku itu, masuk
dengan berani ke hutan lindung, saat kekacauan terjadi. Saat penduduk banyak yang
terbunuh, tercabik-cabik binatang buas. Saat kengerian itu terjadi, Mukhlis
masuk hutan. Dia tidak keluar beberapa hari.
Hingga, isterinya hilang
bersama Syahid yang waktu itu masih bayi. Selanjutnya, Mukhlis keluar dari
hutan menenteng Syahid bayi, tanpa ibunya, dia bercerita bahwa isterinya
diterkam binatang buas. Katanya, jangan ada lagi yang berani masuk hutan,
bahaya binatang buas mengancam di setiap sudutnya,” Pak Lurah mengakhiri
ceritanya.
”Bau manusia mendekat!”
aku kaget.
Aku sembunyi di balik
pohon, Syahid dan Pak Lurah juga mengikuti apa yang aku dan Yanto lakukan.
Mereka pasti belum paham.
”Semakin dekat! Kurasa dia
sedang berlari!”
”Apa kita dikejar? Berarti
kita telah ketahuan.”
”Tapi, bau ini.”
”Apa?”
”Cuma satu orang.”
Sesosok manusia berlari
dari lebatnya hutan, sungguh tak ketahuan apa-apa kecuali sela pepohonan dan sekadar
kelebatan saja. Dia berlari ke arah kami, kulihat Yanto dan yang lain masih
merunduk di balik pohon.
”Semakin dekat.”
Aku belum sama sekali
melihatnya, tapi tanganku telah bersiap jika ada kemungkinan terburuk. Napasku
turun-naik, aku benar-benar tegang, mencekam. Detik-detik seolah mendebarkan,
seiring detak jantungku yang cepat, denyut nadiku pun tak karuan, semua suara
aliran darah terdengar keras di telingaku.
”Wett!” aku bergerak
secepat kilat, refleks setiap latihan sangat berguna. Aku mendekap seseorang
dengan cepat, saat dia melewati pohon tempatku bersembunyi. Aku membekab
mulutnya.
Tapi?
Dia berkerudung, dia
wanita! Aku kaget dan melepaskan cekalanku. Dia menengok ketakutan ke arahku.
”Pak Arif!”
Dan, aku hampir saja
jatuh.
Not Comments Yet "Bagian 45, Cerita Turun-Temurun"
Posting Komentar