Pak Lukman memberikan
pengajian dengan lembut, ketika membahas hukum dia berbicara dengan penjelasan
yang baik, bicara fikih dia tak memihak atau fanatik dengan salah satu imam
mazhab, melainkan mengkaji semua pendapat para imam tersebut. Karena
menurutnya, fikih berkembang sesuai perubahan zaman, semisal zakat semangka,
atau zakat buah yang zaman dahulu belum ditentukan.
Pak Lukman menjadi rujukan
warga masyarakat, menjadi semacam guru spiritual. Dia membuka konsultasi dari
jam delapan pagi hingga mendekati zuhur, lalu bersiap-siap untuk melaksanakan
shalat, dan dia azan, suaranya merdu sangat merdu.
Masjid sekarang ramai,
saat shalat bisa bershaf-shaf.
“Dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw bersabda: ‘Barang siapa yang memberikan
kemudahan atas kesusahan seorang Muslim, maka Allah Swt akan
memberikan kemudahan buat dia atas
kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.’ Maka,
kehidupan itu dikatakan harmonis ketika kita saling membantu dalam meringankan
beban saudaranya, tidak ada lagi tetangganya yang kelaparan karena tak ada
makanan.
Atau dalam riwayat yang
lain dari Imam Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda: ‘Siapa pun dari seorang
mukmin yang memberikan makanan kepada seorang mukmin karena kelaparan, maka
Allah Swt akan memberikan makanan untuknya dari buah-buahan surga.’ Suatu
kaum disebut makmur apabila di dalamnya ada
budaya untuk saling membantu, saling berlomba-lomba. Bukan memikirkan perutnya
sendiri.”
Beberapa orang
manggut-manggut, ada yang melongo seolah
tak percaya orang buta di depan mereka bisa menghafal hadits seperti itu,
apalagi bahasa Arabnya fasih juga. Keheranan yang wajar, karena betapa banyak yang
matanya normal bisa melihat tapi tak tahu ilmu agama meski sedikit. Termasuk
aku, Kawan, makanya aku belajar.
”Toloooong! Toloooong!”
Kami kaget, seorang lelaki
berlari melewati masjid, tepat di depannya. Lelaki itu berlari, dan melihat
kerumunan, dia masuk ke dalam majelis ilmu itu. Napasnya turun naik, kau tahu
siapa dia kawan? Dia adalah salah satu anggota Geng Sar, Sariman. Ada bercak
darah di pundaknya.
”Gagak Hitam! Gagak
Hitam!” hanya itu yang dikatakannya, sambil telunjuknya menunjuk arah hutan
lindung. Gemetaran, keringat membanjir, lalu dia pingsan.
Kami bingung, kajian
bubar. Beberapa masyarakat kulihat, wajahnya berubah ketakutan, mereka lalu
pamitan pulang. Hingga masjid tampak terasa sepi, Pak Yusuf memberi minyak
angin di kening dan sekitar hidung Sariman.
”Apakah benar Gagak
Hitam?” seperti igauan, Pak Yusuf menatap langit.
Gagak Hitam?
”Misteri akan segera
terkuak, penyelidikanku sudah memperkirakan ini. Dik, kau harus sudah
menyiapkan diri lagi,” tegas dan pelan, Pak Karta menatap tajam Kang Mukhlis.
Kang Mukhlis balas
menatap, mengangguk, ”Gagak Hitam datang lagi. Biarlah mereka mencari apa yang
mereka cari, lalu kita tidak usah saling mengganggu dengan mereka.”
”Apa! Sejak kapan kau
menjadi pengecut Dik! Lebih baik mati, daripada terhina seperti dulu,” Pak Lurah
sedikit mengkal.
”Ini demi kebaikan desa
Cahaya, Kang.”
Apa sebenarnya yang
terjadi? Aku merasa belum saatnya bertanya, suasana masih tegang. Seolah
ketakutan di mana-mana mengintai.
Not Comments Yet "Bagian 39, Gagak Hitam"
Posting Komentar