Jumat, 08 November 2019

Bagian 62, Rehat Akhir (End)


Jangan terlalu memikirkan yang lalu,
Dan juga yang akan terjadi

Pepatah mengatakan :
Kemarin adalah sejarah
Besok adalah misteri
Tapi, hari ini adalah anugerah
Maka, itu disebut hadiah
(Oog Way, Kungfu Panda)

Karena hidup harus diperjuangkan, untuk Ibu; I love yau because Allah
Buat anak negeri Indonesia, perjuangkan mimpi kalian, agar Indonesia bersinar terang,
untuk sahabat-sahabat seperjuangan, tegar, sabar, teruslah bersemangat
karena hanya itulah yang akan kita perjuangkan.
Jangan henti menebar kebaikan, karena itulah tujuan penciptaan.
Allah, semoga ini menjadi amal yang bermanfaat bagiku dan  seluruh manusia.

Sumber Inspirasi

Al-Ba’dani, Faishal bin Ali. Qa’idatul Inthilaq wa Qaribun Najat, Ikhlas, Sulitkah? Solo: Aqwam, 2007.
Al-Bantani, Imam Nawawi. Nashaihul Ibad, Nasihat-Nasihat untuk Para Hamba. Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005.
Ali, Muhammad. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta: Pustaka Amani, n.d.
Al-Jamal, Syaikh M. Hasan. Biografi 10 Imam Besar. Jakarta Timur: Penerbit Al-Kautsar, 2003.
Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. Kun Faya Kun. Mitra Press, 2008.
Al-Qaradhawi, Dr. Yusuf. Al-Waqtu fii Hayaati Al-Muslim, Makna Waktu Seorang Muslim. Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2005.
Al-Qur`an dan Terjemahnya. Bandung: Penerbit J–ART, n.d.
Hart, Mikhael H. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Jakarta Pusat: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982.
Ho, Andrew. A Cup of Cofee for Your Soul. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2006.

Lubis, Satria Hadi. Total Motivation. Yogyakarta : Pro-U Media, 2007.

Bagian 61, Hidup adalah Pilihan


Burung besi mulai meninggi, hamparan hijau bumi terlihat begitu indah, ini pertama kali bagiku naik pesawat terbang. Aku duduk di dekat jendela kaca agar dapat melihat pemandangan dengan leluasa. Kuceritakan padamu, Kawan, agar kau tak bingung. Sewaktu aku izin dua minggu menjemput Pak Rahmat dan Teguh di Jakarta, aku mendapat informasi tentang beasiswa ke Universitas Malaya, aku mendaftar segera.

Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan padaku untuk menuntut ilmu kembali. Di satu sisi aku bahagia, meski di sisi lain aku kehilangan teman-temanku di desa Cahaya. Namun, itulah perjuangan yang harus selalu dihadapi oleh setiap orang, makanya sudah pernah kukatakan padamu, Kawan. Life is a choice. Kehidupan ini, aku teringat kata-kata Pak Lukman, sudah diatur oleh Allah. Saat kita dalam rahim, mulai dari rezeki, ajalnya, apakah dia sengsara atau bahagia. Maka, rezeki tak akan tertukar untuk orang lain. Keterangan itu tidak boleh disalah artikan sehingga orang yang buruk akhlaknya mengatakan bahwa ini sudah ditakdirkan Allah. Orang yang berkata seperti itu adalah sesat.

Masing-masing orang telah dimudahkan mencapai apa yang diciptakan baginya. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Intinya, Allah telah menakdirkan adanya baik dan buruk. Allah menciptakan kebaikan bagi manusia. Jika manusia berbuat baik, maka ia akan dimudahkan untuk melakukannya. Jika dia berikhtiar untuk bertakwa, maka ia akan dimudahkan meniti jalan takwa tersebut, berlaku juga sebaliknya. Bukankah dengan seperti itu, hati menjadi tenang?

Hidup itu adalah pilihan. Selama hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Nantinya, selesai aku kuliah di Malaysia, aku pun akan memilih kembali, kembali ke desa Cahaya atau memulai petualangan yang lain?

Selain itu, ada dua wanita yang menunggu di sana. Kepada siapa hatiku akan tertaut nantinya, apakah di antara kedua wanita itu? Atau Allah telah menuliskan diriku untuk wanita yang lain. Itulah rahasia Allah. Tapi, pilihan tetap di tangan kita, sedangkan keputusan ada di tangan-Nya.

Aku tersenyum, menatap langkahku ke depan. Karena dengan senyum itulah hidup akan terasa indah, tidak sesak dan sempit. Memulai segalanya dengan pikiran yang bersih, karena segalanya dimulai dari pikiran kita, mimpi kita, harapan kita, dan perubahan kita.


Astaghfirullahal ’adzim, watub’alaina innaka antat tawwabur rahiim.

Bagian 60, Tatapan-Tatapan Cinta


Musim kucing kawin. Manusia lagi banyak hajatan pernikahan, kok dikatakan musim kucing kawin. Dasar masyarakat, bisanya mencari-cari sensasi agar bisa membuat tetangganya tertawa. Kembali ke masalah awal, musim kucing kawin. Sandi, dokter yang mengabdi di klinik desa tak mau dilangkahi adiknya yang akan menikah dengan Kang Mukhlis, maka dia juga menikah dengan salah satu guru, yaitu Bu Ria. Bahkan, Teguh telah melamar seorang wanita dari desa Cahaya juga, lengkap sudah semuanya.

Pernikahan kedua kakak adik itu bersamaan. Wah, pasti ramai. Kebahagiaan membuncah di mana-mana, kemajuan desa Cahaya sudah terlihat, pasar semakin ramai dan banyak investor baru berdatangan. Pemerintah Daerah juga sudah memberi izin untuk pengembangan SMP Negeri Cahaya, dan akan diberi bantuan untuk membangun bangunan sekolahnya di dekat Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Pemerintah Daerah juga akan membangun SMA Negeri, sekarang dalam proses perizinan. Jalanan sepenuhnya telah diaspal, kecuali bagian sawah dan ladang tentunya kawan.

Kutatap langit desa, teramat cerah, pastinya akan datang lagi petualangan yang lebih seru ke depan. Dan bukankah hidup itu, adalah rangkaian dari petualangan-petualangan yang harus dimenangkan?
Sebuah kentungan dibunyikan bertalu-talu. Petualangan apa kali ini? Kuharap bukannya pertanda buruk. Kang Mukhlis memboncengku, ke rumah Pak Karta. Di sana ramai orang telah berkumpul. Dari desas-desus yang kudengar dari beberapa orang yang berbisik, kudapati sebuah informasi  yang membuatku bergetar.

Pak Lukman hilang!”

Aku berbalik ke arah masjid, beberapa orang tampak di sana. Napasku kembang kempis, kucari di toilet, di amben kecilnya, berputar-putar di sekitaran masjid, tak ada. Lemas sudah. Aku kelelahan, benarkah Pak Lukman telah dibawa pergi lagi? Apakah tugasnya di sini sudah selesai?

Saat itu, rombongan Pak Lurah dan yang lain datang ke masjid. Aku duduk di depan masjid.
”Kemana perginya Pak Lukman?” Pak Lurah terlihat bingung, ”bagaimana seorang buta bisa hilang? Dia pastilah diculik, kita harus mencarinya!”
”Setuju!”  begitulah teriakan para warga.

”Sebentar!” semuanya melihatku, aku bangkit dari dudukku, ”Tak perlu dicari, Pak Lukman sudah kembali ke rumahnya lagi, dijemput keluarganya. Beliau Insya Allah dalam keadaan baik-baik saja.”
”Dari mana Pak Arif tahu?” Pak Lurah bertanya, semua melihatku, seolah itulah satu pertanyaan yang terkumpul dalam pikiran mereka.

”Telah sampai cerita padaku dari Pak Lukman. Sesungguhnya, di sini dia hanya bertugas untuk memberikan pengajaran agama, dan jika tugasnya telah selesai, maka dia akan dijemput kembali dan bertugas di tempat yang lain.”

Bisik-bisik terdengar riuh. Ada yang mengatakan bahwa Pak Lukman adalah wali, muhajirin, ulama, bahkan ada yang berbisik bahwa Pak Lukman adalah sejenis makhluk halus yang Muslim. Aku diam saja.
”Pak Arif, ada surat untuk Anda. Saya temukan di tempat imam,” lelaki tua itu menyerahkan sepucuk kertas untukku.

Untuk Pak Arif
Aku tersenyum saat aku dijemput, karena baru pertama kali ini tugas dakwahku berhasil di desa ini. Teruskanlah perjuangan membangun desa ini, aku harus pergi lagi, bersama matahari yang terus berputar.
Salam cintaku, semoga kita dipertemukan Allah di surge-Nya kelak, amiin.
Sahabatmu
Lukmanul Hakim


* * *
Sebuah motor berwarna kuning kunir berhenti di depan rumah, tentunya rumah Kang Mukhlis. Sebentar lagi aku harus pindah, karena rumah ini tentunya akan menjadi rumah Ani. Aku belum tahu hendak pindah dimana. Tapi aku yakin, setiap hal telah Allah atur skenarionya.
Ternyata motor itu motor pegawai pos.

”Permisi, apakah ini rumahnya Arif Maulana?”
”Saya sendiri. Ada apa, Pak?”
Lelaki berbaju seragam itu tersenyum, ”Ada surat untuk Anda,” dia mengulurkan amplop besar, kurasa isinya kertas. Aku menandatangani lembar penerimaan kiriman, setelah itu pegawai pos itu pamitan.

Universitas Malaya? Tertulis di ujung atas amplop.

Aku penasaran, kubuka pelan-pelan. Kukeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya, bahasa Inggris. Untung aku bisa, ya tapi tak bisa dibilang lancar, tapi kalau membaca sedikit-sedikit aku bisa. Kuucap basmallah, lalu membacanya dalam hati.

Tanganku bergetar memegang kertas itu, entah aku hendak berucap apa dalam hati dan lisanku. Alhamdulillah, kalimat itu akhirnya yang terucap dari lisanku. Bagaimana tidak kaget, ini adalah lembar keterangan beasiswa pasca sarjana untuk Ekonomi Islam. Hampir lemas kedua lututku.
Tapi sejenak kemudian, senyum simpul tercipta. Di kertas tersebut diterangkan aku harus segera mengurus beberapa kelengkapan, untuk pengajuan berkas selanjutnya dan dikirimkan ke Malaysia segera, karena sebentar lagi jadwal kuliah sudah aktif.

Allah, ini panggilan-Mu, semoga. Aku akan berpetualang lagi, hidup adalah lembaran-lembaran yang tercecer, dan setiap ceceran harus kujadikan menjadi ceceran sejarah yang terbaik.

***

Seminggu berlalu demikian cepat. Kang Mukhlis tampak bersedih, sedih karena aku tak bisa menghadiri akad pernikahannya, selain itu dia sedih karena akan berpisah lama denganku. Ah! Syahid pun demikian, sedari tadi malam dia terus cemberut.

Hari ini, siang cerah ini. Desa Cahaya tampak ramai orang, bukan acara pernikahan seperti Bu Siska kemarin, bukan acara kumpul di balai desa membahas perkembangan desa, bukan pula akan ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten. Tapi, semuanya melihatku mulai ketika aku membawa tas besar, keluar dari rumah, mereka menatapku, ada semburat bening di setiap wajah-wajah mereka.

Aku tak tega kawan. Tapi, inilah jalanku, yang harus kuhadapi dan kujalani. Seperti cerita dalam buku saja, jalanku menuju kemenangan-kemenangan. Dalam kamusku, sejak aku lahir, ilmu adalah segalanya. Jika ada kesempatan menuntut ilmu, di ujung dunia sekalipun aku akan datang. Tapi ujung dunia itu tak ada, Kawan.

Suatu kehormatan, Pak Lurah dan Indah datang. Indah belum ke kota lagi untuk meneruskan kuliahnya yang sempat tertunda, setelah mendengar bahwa aku akan berangkat ke Malaysia, dia ingin mengantar kepergianku. Dan kau akan kaget, kawan, Indah telah sempurna cantik, dengan balutan jilbab hijau itu, anggun sekali. Aku tersenyum padanya. Pak Lurah yang akan mengantarkanku hingga ke bandara, walau jauh tak mengapa katanya.
”Hati-hati, Kak.”

”Tentu saja Indah.”
”Jika sudah selesai, pulanglah ke sini. Rumah Kakak di sini.”
Aku tersenyum padanya, tak tahu nantinya, apakah aku akan kembali ke desa Cahaya ini, tempat mimpi-mimpi bertemu dan membentuk harapan.

Aku menaikkan satu kardus barang di motor bagian depan Pak Lurah, satunya kupakai di punggungku. Aku pamitan pada mereka semua, dan meminta doa agar semuanya lancar, dan berkata kepada mereka untuk saling mendoakan.

Di mana Nurul? Apakah dia telah kembali ke kota? Ah! Sudahlah.
Aku naik ke motor, Pak Lurah menghidupkan mesin motornya. Aku menatap seluruh penjuru warga desa, kutatap semuanya, menengok kekanan dan ke kiri sambil tersenyum.
Sahabat-sahabatku, berjuanglah terus!

Saat motor itu mulai melaju, kulihat tetesan air mata warga desa, mereka melepas kepergianku. Tak kan lupa semua kenanganku bersama kalian, kulihat anak-anak sekolah Cahaya mengusap air matanya dengan punggung-punggung tangan mereka. Wajah-wajah bersinar mereka, tentang ilmu, mimpi dan harapan.
Senang pernah menjadi guru bagi kalian, anak-anak cahaya.
Air mataku menetes kembali, menyatu dengan air mata mereka, membasah bumi desa Cahaya. Tangan-tangan mereka melambai mengiringi deru knalpot motor, tanganku turut melambai. Hingga hilang aku dari pandangan mereka.

Aku meneteskan air mata lebih banyak, tadi di sana aku berusaha tegar, setelah jauh air mata begitu deras, apakah mereka juga merasakan yang sama denganku?
Melewati tikungan, seorang wanita berjilbab menghadang jalan. Tangannya membuka lebar, motor berhenti. Pak Lurah memberi isyarat padaku untuk bicara pada wanita itu.
Ada apa, Nur? Kukira kau sudah pulang ke kota.”

”Aku tak akan pulang.”
”Kenapa?”
”Aku juga akan mengabdi di desa Cahaya, menunggu kedatanganmu.”
Aku tersenyum.
”Hati-hati, Rif?”
”Tentu saja, tanpa kau minta aku akan hati-hati.”

Kami terdiam sejenak, tiba-tiba air mata kami jatuh bersama. Aku menggelengkan kepalaku, jangan lagi! Aku pamitan padanya. Kami melaju, tatapan akhirku kembali bertemu saat motor melewati tempat berdirinya. Itulah akhir tatapanku dengannya, motor terus melaju. Membawa jiwaku.
”Kau memang pahlawan, Pak Arif.”

”Pahlawan kesiangan, Pak?” aku tertawa kecil.
”Mungkin!”

Kami tertawa bersama, bersama pepohonan yang tertiup angin, bersama burung yang bernyanyi. Semesta kembali berpijar, di petala setiap pikiran, di setiap desah napas manusia, di setiap mimpi dan harapan, di setiap langkah-langkah perjuangan manusia mencapai cita-citanya.

”Pak Arif.”
Ada apa, Pak Lurah?”
”Pulanglah kembali ke desa Cahaya setelah kau selesai kuliah, ini harapanku. Jika kau berkenan, nikahilah Indah, dia sangat mencintai Anda. Aku ingin kaulah yang menjaganya. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, di sela akhir hidupku. Aku akan tenang.”
Deg! Bersama deru knalpot yang menderu, suara alam yang menggema. Alam kembali memberi harapan dan mimpi menghampar. Dan aku kembali tergoncang dalam sebuah piramida cinta yang aneh.

Kawan, tak usah risau, kita harus tenang. Karena, perjuangan hidup masih panjang.

***
Motor terus melaju, membawa jiwaku yang terkontaminasi perasaan senang dan resah. Pepohonan rindang melambaikan perpisahan, cahaya mentari dari sela-sela dedaunan menyorot indah, bagai ribuan kedip kamera. Melewati tikungan, tepat di sana, di pinggir jalan. Hatiku tertegun melihatnya, mataku terpaku, air mataku menetes pelan hingga ke daguku.

Tugu setinggi seperempat meter, tertulis desa Cahaya. Perbatasan desa.

Kembali, memori berputar. Pertama kali aku masuk, aku salah sangka, kukira melengkung indah dan mengagumkan pandangan, sebuah Gerbang Desa Cahaya yang indah. Saat pertama kali, aku bersyukur mendapatkan pekerjaan setelah menjadi pengangguran di Jakarta.

Memori kembali berputar, saat aku difitnah, diborgol, diiring dengan mobil polisi. Saat itu, aku berkata dalam hati. Gerbang Cahaya, aku akan datang kembali, tapi bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai seorang pahlawan, tungguhlah waktu itu. Aku yakin itu.


Tapi, kali ini, aku pergi meninggalkanmu. Kurasakan kau berucap lirih, berbisik, selamat tinggal pahlawan. Kami akan merindukanmu, selalu.

Bagian 59, Kenangan di Antara Air Mata


Seorang lelaki datang ke rumah memakai motornya. Turun sambil tersenyum menatapku, saat aku tengah mengantarkan telur-telur bebek ke pelanggan. Lelaki berwajah Ustadz itu mengucapkan salam dan menjabat tanganku.

”Tumben sore-sore silaturahim?”
”Iya Pak, saya mengantar undangan.”

Deg! Jantungku berpacu cepat, tapi aku sudah mempersiapkan segalanya. Pergulatan terjadi dalam hatiku, antara kebaikan dan keburukan, itulah yang terjadi di setiap hati manusia.
”Pak Arif, usahakan datang ya?”

”Insya Allah, Pak Yusuf.”

Aku tersenyum, mengiringi kepergiannya. Kubuka undangan itu, pelan-pelan. Tertulis dua nama colon mempelai. Aku memejamkan mataku, merasakan getar-getar cinta yang tersisa. Aku meraba hatiku dengan anganku.

Allah, temani jiwa hamba-Mu ini.
^___^

”Ayo siap-siap!”

Kang Mukhlis mengagetkanku saat aku tengah berdiri di depan cermin. Aku bergeser, Kang Mukhlis ganti membenahi kerah bajunya. Kang Mukhlis kini selalu tersenyum. Apa pasal? Dia telah melamar seorang wanita dan dua minggu lagi akadnya. Kau akan kaget dengan siapa beliau akan menikah, dia akan menikah dengan Ani, sang perawat itu.

Aku baru mengetahui cerita sesungguhnya. Isteri Kang Mukhlis adalah sepupu Ani, mereka berdua sekolah bersama di bidang keperawatan. Mereka berdua sama-sama mencintai Kang Muklis dulunya, tapi ternyata Kang Mukhlis memilih istrinya yang kini sudah meninggal. Dan meninggalnya sang isteri ternyata ketika melindungi Syahid dari Gagak Hitam. Gagak hitam membebaskan Syahid dengan syarat Kang Mukhlis tidak lagi mengurusi apa-apa yang ada di hutan lindung. Makanya, Kang Mukhlis selalu menjauhkanku dan warga desa Cahaya dari hutan lindung, agar kejadian serupa yang dialaminya tak terulang pada orang lain.

Kang Mukhlis melamar Ani atas permintaan Syahid juga, aku turut bahagia.
”Kau kenapa, Rif?”

”Iya, dia kan patah hati, Pak?” Syahid juga ikut-ikutan bercermin di depan ayahnya.
Kang Mukhlis menatapku, dia menyentuh kedua pundakku, ”Bersabarlah, Rif, kau orang yang baik. Pasti Allah mempersiapkan yang terbaik pula untukmu.”
Aku mengangguk.

Kami berangkat mengendarai sepeda motor yang Kang Mukhlis beli kemarin, platnya saja masih belum terpasang. Hari ini adalah hari pernikahan Bu Siska, jika menuruti perasaan sebenarnya aku tak mau datang, nanti hatiku akan semakin terasa sakit. Tapi kenyataan ada untuk ditaklukkan, bukan untuk ditinggalkan dan memilih lari sebagai pengecut.

Rumah Bu Siska terlihat ramai, parkir-parkir sepeda dan motor sudah kelihatan lumayan banyak. Terlihat janur kuning melengkung dari dua sisi masuk rumah, hiasan-hiasan bunga menyemarakkan suasana.

Sound system Bang Rizal bertumpuk dua berjumlah delapan sudah bertengger di samping rumah. Bukan musik dangdut yang terdengar dari kedelapan sound system itu, melainkan lagu-lagu religi baik shalawatan, nasyid, maupun pop religi, berganti-ganti.

”Ayo masuk, Rif.”
”Ayo, Kak.”
”Aku di sini dulu.”

Mereka meninggalkanku di depan rumah, di dekat janur kuning yang melengkung, bagai pelangi saat terang pasca gerimis, di belakang semua undangan yang tengah asyik memandangi dua pengurus KUA berpeci yang terlihat menata kertas-kertasnya, seolah mencari-cari surat kelengkapan pernikahan.

Aku berdiri, bersedekap. Orang-orang penting desa dan para dewan guru Sekolah Dasar Cahaya dan guru-guru baru di SMP Negeri Cahaya juga telah duduk di depan, Pak Lurah, dan juga Indah yang pulang sementara dari kota untuk menghadiri pernikahan ini. Semuanya tumpah ruah, duduk di kursi para tamu. Mungkin, yang berdiri hanyalah aku selain MC di depan dan juga para anak-anak yang berlarian.

MC mengumumkan akad akan segera dilaksanakan. Dadaku bergemuruh, pergulatan kuat terjadi di dalam hatiku, sangat dahsyat! Tidak akan ada yang tahu bahwa dalam dadaku ini, sedang terjadi, ada perasaan aneh yang menjajahi hatiku. Dan hatiku terus bertahan. Sekuat tenaga.

Baru sekarang aku menyadari sesuatu, ini pelajaran penting untukmu juga, Kawan. Aku telah banyak mengalami kesusahan mulai dari saat kuliah sudah biasa bagiku tak makan sehari atau dua hari kecuali hanya air putih, kesusahan mencari uang saat pembayaran kuliah mengejar deadline, menghadap dosen saat skripsi, dibantai beberapa dosen saat ujian, kelaparan saat di Jakarta, menjadi pemulung, menjadi pengangguraan dan selalu dihina. Tapi, cobaan cinta, apa pun bentuknya, inilah yang paling berat kurasakan. Saat cinta tak bisa memiliki, tapi harus ridha demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Cukuplah aku saja, Kawan, jangan sampai kau mencintai seseorang terlalu berlebihan. Maka inilah akibatnya.

Kulihat Bu Siska duduk berjauhan dengan Pak Yusuf, mereka saling pandang dan tercipta senyuman indah di antara keduanya. Penghulu memulai basa-basinya, dan akad diucapkan. Detik-detik yang berlangsung semuanya terdiam kaku, kecuali binatang-binatang siang yang bernyanyi riang. Akad ditunaikan. Angin berhembus semilir, menerbangkan sebuah daun kering yang terjatuh dari pohonnya, aku bergetar di tempatku berdiri. Kukuatkan diriku. Aku meraba hatiku kembali, Allah.

Air mataku menetes, tak terasa bergulir mendekati bibirku. Daun yang jatuh terus meliuk, bagai kapas lembut terombang-ambing di angkasa, hingga aku tertarik untuk melihat jatuhnya. Saat daun kering itu sejajar dengan wajahku, tepat lurus dari daun itu kawan, mata seseorang bertabrakan denganku, aku terperanjat dia juga. Dia juga meneteskan air matanya.

Kenangan-kenangan tiba berputar ulang dalam memoriku, merampas masa kini yang terjadi, dan aku hanyut dalam memori itu.

”Ternyata sangkaku benar, kaulah pahlawan desa Cahaya yang ramai diberitakan di media massa,” dia berdiri di dekatku, tangannya bertumpu, berpegang pada pagar di depan rumah.

Aku memandangnya sejenak, lalu beralih kembali menatap lalu lalang orang yang datang dan pergi menghadiri pernikahan Pak Yusuf dan Bu Siska. Aku sendiri kaget bukan main, ternyata wanita yang sedang berbincang di sampingku ini adalah saudara sepupu Bu Siska, dia adalah anak dari adik kandung ibunya Bu Siska.

Aku kaget, karena kami bertemu lagi. Keadaannya hampir sama, dia menangis melihatku menangis. Kau masih belum tahu siapa wanita yang di sebelahku, Kawan? Dia adalah wanita yang menangis sewaktu aku kelulusan saat wisuda, dia adalah temanku satu fakultas.

Kau pasti sudah ingat bukan, dia adalah Nurul Fitriyani. Kini, di hari pernikahan Bu Siska, dia juga hadir di sini, meneteskan air matanya untuk kedua kalinya untukku. Aku menatap langit sejenak, mencoba mencari jawaban. Bukankah di dunia tak ada yang kebetulan Tuhan? Kenapa dia kau turunkan setiap hamba meneteskan air mata?

”Apakah aku setenar itu?”

”Iya, makanya aku ke sini memastikan bahwa pahlawan desa Cahaya itu adalah kamu,” Nurul menatap langit pula, ”Aku sudah yakin itu adalah kamu, Rif. Seperti keyakinanku selama kita bersama belajar di kampus. Saat pertama kali bertemu denganmu pun, aku sudah yakin, suatu saat kau akan menjadi orang besar.”

”Orang besar? Dari mana asalnya?” aku tertawa kecil, sifat acuhku telah kembali, aku kembali seperti dulu rasanya.
”Siapa yang membuat desa ini maju begini? tentang pasar Cahaya, tentang hutan lindung, tentang kau difitnah, tentang kemajuan sekolah, tentang mimpi yang selalu kau ajarkan. Apakah itu tak cukup?”
”Wah! Jadi, selama ini kau selalu mematai-mataiku, ya?”
”Tidak juga.”

”Lalu?”
”Aku selalu berkirim surat dengan saudariku itu,” Nurul memberi isyarat kepalanya ke arah dua mempelai, yang tengah tersenyum kepada setiap orang yang memberi ucapan selamat kepada mereka.
”Benar juga,” aku tersenyum, ”tapi, tak semuanya benar. Aku hanya membantu saja, orang-orang Cahaya-lah yang mau bangkit dan merubah keadaan mereka sendiri. Merekalah pahlawan-pahlawan itu.”
”Kau selalu begitu.”

”Apa maksudmu?”
”Sudahlah! Lupakan saja.”
Kami terdiam.
”Kamu tahu, Rif?”
”Apa?”

”Sebenarnya Bu Siska sangat mencintaimu, dia sangat kagum padamu.”
Deg!
”Sudahlah, Nur, jangan kau ungkit itu lagi. Jangan kau ganggu kebahagiaannya, lihatlah, dia sangat bahagia dalam pelaminan itu.”
”Iya, kadang tidak semua hal  yang kita sukai sesuai dengan takdir Allah.”
”Kamu benar. Oya, apakah kamu sudah menikah, Nur?” aku menatap langit.
”Memangnya kenapa kau tanya begitu?”

Aku menatapnya sekilas, sama seperti dulu. Tidak berubah, dia memang terlihat manja, tapi pipinya terlihat merah.
”Kau jawab saja.”
”Belum, memangnya kenapa. Ayo jawab?”

”Ha..ha..ha..,” aku tertawa pelan, ”Ternyata kita sama-sama, tak laku-laku.”
Tawaku ini jujur. Kesedihanku telah terobati walau belum sepenuhnya, setiap masalah pasti ada kebaikan di baliknya. Setiap kesusahan itu, selalu sebentar lagi ada kebaikan yang akan menyusul.
”Oya, Nur”

”Hmmm,” Nurul menengok ke arahku sejenak, lalu kembali menatap di depannya.
”Kenapa jika kita bertemu, pastilah saat aku sedang menangis, dan kau juga ikut menangis?”
”Kali aja ini namanya jodoh.”

”Mungkin juga, mungkin lucu jika kita menikah.”
”Iya, mungkin lucu,” dia tertawa kecil.

Mendung berarak, menutupi sejenak matahari siang ini, lalu pindah lagi dan matahari kembali, berpijar dengan terang.

Bagian 58, Jikalau...


Hancur dan hangus. Begitulah hatiku, seperti kertas dan dedaunan kering yang terbakar, musnah. Semua yang tersisa, habis sudah dalam jiwaku. Seolah harapan dan mimpi kering seketika, tak membekas setitik jejak pun dalam raga ini.

Andai kau tahu perasaanku ini, Kawan.

Malam-malam menjadi menyeramkan, bukan karena ada hantu yang membayang dan menakuti, melainkan resah gelisah menyelimuti. Tak bisa tidur, memiringkan tubuh ke kiri dan ke kanan, mata yang terpejam tak kuat menanggung dan akhirnya terbuka kembali. Menatap atap genting, melayang terbang angan, gelisah kembali, seolah sebuah lauk dalam penggorengan.

Allah, apa yang terjadi?

Aku bangun, kubuka mushaf Qur`an. Kubaca penuh syahdu merindu, belum genap satu ayat, air mataku telah deras mengalir. Aku tak pernah begini seumur hidupku. Semakin berat suaraku, semakin mendayu, serasa duri-duri tajam menggerogoti tenggorokanku. Suaraku semakin pecah.
Lantunan ayat-ayat cinta itu tiba-tiba seolah ratapan yang semakin lama semakin memilukan hatiku. Kuhentikan. Kutaruh mushaf di atas meja. Kugelar sajadah berwarna biru muda.

Kucoba tenangkan diri dengan shalat.
Allahu Akbar!

Belum lengkap dua detik, air mataku kembali melelah, hangat hingga melintasi pipiku dan jatuh di lembutnya sajadah biru muda. Kupejamkan mata sejenak, agar ketenangan melingkupiku. Tapi air mataku semakin berjejalan keluar, berdesak-desakan.

Hingga sajadahku terasa basah saat sujudku. Jiwaku belum tenang, menghantui segala memori. Nyamuk-nyamuk yang menggigit tak mampu membuatku melupakan wajah wanita bermata lentik, berwarna buah anggur unggu sewaktu matangnya.

Gilakah aku, Tuhan?

Aku bangkit, melipat sajadah dan pergi di pagi-pagi buta mendekati waktu subuh itu. Semalaman aku begadang, tak bisa tertidur. Kau tahu kawan, nasib tidurku sama dengan nasib makanku. Aku benar-benar tak berselera memakan nasi, plus lauk telur bebek goreng. Nafsu makanku hilang, ketertarikan itu seolah hilang.

Perut yang lapar seolah tak terasakan lagi. Semuanya lunas.
Kupaksakan langkahku semakin cepat, berjalan di pagi-pagi buta. Aku berhenti di sebuah pohon kelapa, mendudukkan diriku di bawahnya, udara dingin menyerangku hingga ke tulang sum-sum.
Di depanku, pojok ke arah timur tepatnya. Rumah Bu Siska, kenapa aku di sini? Apa yang terjadi denganku kali ini? Kenapa perasaan seperti ini sempat bersemayam dalam jiwaku? Dan, aku benar-benar telah gila!

Suara lantunan al-Qur`an terdengar mendayu pula, suara yang teramat lembut berasal dari rumah di depanku itu, suara Bu Siska. Suara serak dan berat juga kurasakan di dalam bacaannya, aku semakin tak kuat menahan rasa di perasaanku. Air mataku kembali menetes ke bumi, bersama serpih-serpih embun lentik yang turun memenuhi bumi.

Suara lantunan Qur`annya berbeda dari hari-hari biasanya, kalau biasanya menyentuh dan membuatku kagum. Kini, tilawah Bu Siska terdengar seolah tangisan yang diselingi isak.
Kawan, kau harus tahu jerit  hatiku.

Jikalau cinta ini tak pernah ada
Tak akan ada hatiku luka
Jikalau cinta ini tak pernah ada
Tak pernah ada sakit hati
Jikalau...
***

Kokok ayam terdengar. Meluruhkan segala rasa, semesta terdiam mendengarkannya. Sebentar lagi azan. Aku memaksa tubuhku bergerak, saat berjalan kakiku menginjak pelepah daun kelapa, suaranya keras karena kayu di tengahnya patah, serta suara-suara daun patahnya terdengar keras di pekatnya pagi.

Sunyi kembali, aku masih tak berani bergerak.

”Nggeeek!” pintu terbuka, sosok wanita memakai mukena keluar dan mengamati sekelilingnya, kurasa dia mendengarkan suara gemeretak daun kepala yang kuinjak. Di sana, aku melihat wanita itu, wanita yang telah membuatku gelisah. Dia tak melihatku, aku berada di balik pohon kelapa.

Mataku terpaku melihatnya dengan balutan serba putih itu. Mungkin, ini adalah tatapan penuh arti yang terakhir untuknya. Setelah ini, dia akan menikah dengan lelaki yang sangat baik dan tampan, lelaki itu Pak Yusuf. Lebih bisa membahagiakan dan menjaga Bu Siska, lebih bisa memberi kenyamanan, lebih bisa memberikan teladan daripada aku.

Air mataku menetes, tepat kala azan berkumandang. Kubawa pergi jiwa ini, berlari begitu kencangnya, tak peduli apakah Bu Siska sempat melihat kelebatku dari balik pohon kelapa. Dan air mata yang menetes, terbang berhamburan, tak mampu tertiup angin, hingga menyatu dengan embun pagi.

Pak Lukman terlihat shalat sunnah, aku berdiri di sampingnya untuk shalat sunnah. Iqamah berkumandang dan shalat segera ditunaikan.

Selesai shalat, kulihat sejenak wajah Pak Yusuf, wajahnya terlihat sangat ceria. Dia menoleh ke arahku, pandangan mata kami bertemu. Akhirnya kuangkat bibirku, membentuk senyum simpul, Pak Yusuf membalas senyumku.

Lelaki ini memang pantas untuk Bu Siska.

Aku kembali hanyut dalam zikirku, kupastikan hatiku merelakan semuanya. Namun, jujur, gelisah dan resah akan hati tetaplah tak bisa terobati. Aku masih tidak rela, kenapa aku yang begitu mencintainya harus melihat dia bersanding dengan orang lain? Kembali, jiwaku terhasut, jiwa dan perasaanku kembali kacau.

Aku ini lelaki apa? Air mataku menetes kembali. Untunglah, jamaah shalat Subuh telah pulang, tinggal satu orang di sampingku. Pak Lukman. Dia berbalik ke arahku, menyentuh pundakku. Aku menoleh ke arahnya.

”Kau mau mendengar nasihatku lagi?”
”Iya,” suaraku berat, serak.

”Ketika kita meminta kepada Allah kekuatan, Allah memberi kita cobaan dan ujian, sehingga kita menjadi kuat. Ketika kita meminta ketabahan hati, Allah memberi kita masalah bertubi-tubi datang sehingga kita mampu bersabar. Ketika kita meminta rezeki, Allah memberi kita kegigihan, sehingga kita mampu bertahan hidup. Allah, tidak selalu memberikan yang kita minta, melainkan memberi apa yang kita butuhkan, dan, skenario Allah tak pernah sekali pun salah. Pemenang di akhir episode hidupnya adalah yang selalu ridha akan ketetapan-Nya.”

”Tapi kenapa semuanya serba terlambat?”
”Tak ada kata terlambat, Anakku,”

Untuk urusan apa pun aku selalu bisa bertahan dan menjadi pemenang. Tapi, untuk urusan cinta, aku sangat lemah. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya.

”Peluklah aku,” aku memeluk lelaki tua itu, ”Jika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan memberinya cobaan. Inilah saatnya, kau buktikan pada Tuhan betapa kau kuat menanggung cobaan ini.”
”Tapi, kenapa cobaan ini amat menyakitkan?” aku menangis di  pelukan Pak Lukman.
”Semakin berat cobaan, semakin itu akan membuatmu menjadi mulia, Anakku.”

”Jikalau cobaan yang lain, seberat apa pun aku akan berusaha menghadapinya. Tapi, jangan cobaan cinta. Jikalau…”

”Janganlah berandai-andai, jika kau seperti ini, kau hanya menunjukkan kekerdilan jiwamu, Anakku,” Pak Lukman melepaskan pelukannya. Kami bertatapan.
”Tapi, aku gelisah tak tenang. Jiwaku telah tergadai, aku kesepian. Aku merasa dunia ini sangat sepi.”
”Kau merasa kesepian?”

Aku hanya mengangguk, walau kutahu dia tak melihat anggukanku, tapi itu sudah menjawab pertanyaannya dengan diamku.

”Kau tak pernah sendirian, Allah selalu bersamamu. Jika kau tahu hakikat Allah, dia ada di hatimu,” Pak Lukman meletakkan telapak tangannya di dadaku, ”Dia tak akan pernah meninggalkanmu. Dia bersamamu, selalu, menenangkan hatimu kala ujian dan cobaan menerpa. Dia selalu bersamamu, mengobati setiap lukamu, membawa jiwamu dalam ketenangan.”
Seolah angin sejuk menerpa hatiku.


Kugerakkan tanganku, menyentuhkan telapaknya pada dadaku. Tuhan! Kuatkan hamba-Mu, karena perjalanananku masih panjang.

Bagian 57, Karena Cinta Harus Diperjuangkan


Pagi ini aku berlari-lari setelah shalat Subuh di masjid, terasa sejuk. Desa Cahaya telah mengalami kemajuan, jalanan telah mulus. Jalan-jalan terjal batu besar hanya ditemui di gang-gang kecil saja, atau dua jalur di sebelah utara. Tiga jalur telah diaspal halus, yang dua jalur menyusul tahun ini.

Beberapa orang yang maraton, berpapasan dan mengucapkan salam sejenak, lalu mengambil jalur sendiri-sendiri. Jika kesehatan telah diperhatikan, biasanya untuk urusan kerja dan produktivitas juga akan meningkat kawan. Seimbang.

Pasar sudah berdiri, sudah ramai pula, banyak pendatang baru. Teguh telah menjadi keamanan pasar, dia sangat senang tinggal di desa Cahaya, banyak sahabat dan saudara, tak seperti di Jakarta yang cenderung masa bodoh dengan tetangganya sekalipun.

Begitu pun Pak Rahmat, pekerjaan utamanya adalah menjaga kebersihan pasar juga mengelola satu toko kecil, toko sembako, isterinya yang menunggui terus. Isterinya pernah meminta maaf padaku, dulu mengira aku adalah gelandangan makanya tak mengizinkan aku menginap terus. Ah! Itu memang fitrah, curiga dan hati-hati diperlukan, tapi juga tidak boleh berlebihan karena kemuliaan itu hanyalah Tuhan yang tahu.

Geng Sar telah bubar. Empat orang sisanya bekerja mengurus parkir kendaraan di pasar, ada juga yang menjadi tukang ojek, dan ada pula yang membantu Teguh menjaga keamanan pasar.

SMP pun sudah berjalan, merekrut beberapa guru baru, dan memang jika keamanan terjaga, banyak tenaga kerja akan masuk. Guru-guru baru merasa senang tinggal di desa Cahaya. Dan tahukah kau, Kawan, keamanan hutan lindung yang baru ternyata adalah polisi yang baik hati waktu aku di penjara dulu. Dia adalah anak asli desa Cahaya, makanya dia berusaha membelaku, dia mengira aku pahlawannya, dia salah satu fansku. Aih! Aku ke Ge-eR-an rupanya. Itulah kawan, jika kagum sudah melekat untuk orang lain, dia akan berkorban apa saja. Kau lihat saja fans-fans artis di negeri ini, mereka rela merendahkan harga dirinya, ah! Keterlaluan memang.

Langkahku sempurna terhenti. Seluruh inderaku terpancing fokus. Suara merdu itu! Dadaku berdegup kencang, suara merdu itu selalu bisa membuatku bergetar. Lantunan terindah, dari bibir wanita yang lembut itu. Bu Siska, lantunan al-Qur`an-nya bisa membuatku begitu nyaman rasanya.

Aku tak bisa bohong lagi, cintakah ini? Jika cinta, kenapa begitu merasukiku? Apakah aku pantas menjadi pendamping bidadari dunia itu? Aku hanya berani bermimpi, mimpi ketika bidadari itu membaca al-Qur`an bersamaku, di rumahku, setiap hari, agar aku serasa nyaman ketika aku lelah.
Astaghfirullah. Pantaskah, ya Allah?

^___^

Aku duduk bersila di hadapan Pak Lukman, kubuka kurma dari kulitnya, kubersihkan dan suapkan ke mulut Pak Lukman. Pak Lukman mengunyahnya setelah mengucap basmallah.
”Hatimu sedang resah, Pak Arif?”

Yang kutahu, dia selalu saja tahu kondisi hatiku.
”Iya, Pak. Hatiku selalu terbayang-bayang seorang wanita, aku mencoba menghilangkan perasaan itu, tapi aku tak berdaya, Pak. Aku takut berdosa.”

”Bu Siskakah?” seolah matanya memerhatikanku saksama, wajahnya dimajukan ke depan mendekatiku dan bibirnya tersenyum.
”Benar, Pak,” lirih suaraku mengakui.

”Pantas saja,” Pak Lukman mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali melihat menatap wajahku, ”Dengarlah nasihatku, cinta itu adalah fitrah, Anakku. Makanya dalam syarat pernikahan itu salah satunya adalah tidak ada paksaan atau keduanya ridha untuk menikah, seperti Islam yang tidak dipaksakan kepada manusia tapi itulah jalan antara neraka dan surga. Jika kau melihat kebaikan, maka itu harus diperjuangkan.”

”Tapi, aku merasa tak pantas untuknya, Pak.”

”Pantas dan tidak pantas, saleh dan tidak saleh, itu adalah urusan Allah. Dan sejak kapan kau menjadi pesimis seperti itu, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, karena harapan itu wajib diperjuangkan. Cinta pun demikian, jika itu mengandung kebaikan maka wajib diperjuangkan. Lamarlah dia, jika pun gagal, maka kau telah lepas dari putus asa, kau telah berusaha.”

Aku menatap Pak Lukman yang tersenyum, aku meninggalkannya dan mengucapkan salam, Terima kasih Pak Lukman, selalu saja kau bisa membuat hatiku tenteram. Dan kini, saatnya cinta itu diperjuangkan.
^___^

Aku naik sepeda bersama Syahid, dia kubonceng. Jalanan aspal halus, membuat nyanyian hatiku seolah mendayu teramat indah dan memesona. Harapan di hatiku kian menjulang tinggi, setinggi langit ke tujuh.

Kera yang gelantungan di pohon, seolah berdendang dan bernyanyi mengiringi kisah hidupku. Beburung bekejaran, kadang jumpalitan di udara, saling bermain dan bernyanyi, menambah kidung indah di hatiku. Seluruh hewan yang tampak, terbang, melompat, menempel di batang, menatapku penuh harap, mendoakanku agar aku mencapai harapanku.

”Kak Arif seperti orang gila,” suara Syahid menambah senyumku lebih lebar, sepagi tadi dari bangun aku selalu tersenyum, dan dunia seolah tersenyum balas padaku lebih indah.
Pepohonan yang kulewati, gapura-gapura yang terpaku di tanah, patok-patok listrik yang tegak, langit yang digelar, di hari minggu ini. Menjadi saksi perjuangan cintaku, mengiringi perjuangan hatiku, perjuangan jiwaku.

Hampir sampai.

Rumah Bu Siska sudah kelihatan dari belakang, aku berbelok menikung ke kiri agar aku bisa masuk dari depan. Sepedaku kuhentikan, kala masih beberapa meter dari rumah Bu Siska.
”Kenapa, Kak Arif?”

Dua buah motor, terparkir di depan rumah Bu Siska. Seluruh syarafku bergetar, tanganku hampir lepas sendi-sendinya.
”Ayo, jemput bidadarinya, Kak. Ayo!”


Suara Syahid seolah tertelan matahari dan angin. Yang membuatku bergetar adalah kedua motor yang diparkir itu, satunya masih baru, milik Pak Yusuf. Dan satunya lagi, adalah milik pak Kaum. Berarti...

Bagian 56, SMP Negeri Cahaya


Murid-murid kelas enam Sekolah Cahaya dinyatakan lulus semua, dan bukan itu yang membuat aku bisa tersenyum dengan puas, begitu pun Pak Danu dan Bu Siska sebagai wali murid kelas enam. Pasalnya, anak-anak kelas enam lulus dengan nilai yang tinggi, nilai yang amat memuaskan.

Dalam sejarah Ujian Nasional, tidak ada lagi yang mendapatkan nilai buruk. Semua nilai yang diujikan minimal mendapat nilai enam, pihak Pemerintah Kabupaten pun memberi acungan jempol, dan memuji keberhasilan proses belajar mengajar di Sekolah Cahaya.

Kawan, kuingatkan sekali lagi. Jangan kau remehkan mimpi karena mimpi mempunyai korelasi tinggi dengan harapan. Seluruh manusia di dunia ini bisa saja menjadi seorang pemimpi, tapi sedikit sekali yang mau bertanggung jawab terhadap mimpinya. Bertanggung jawab untuk memperjuangkan mimpi yang telah merasuki setiap angan dan geraknya, sungguh-sungguh, dan terus bersungguh-sungguh.

Satu hal yang masih meresahkanku dan seluruh dewan guru, termasuk guru-guru yang baru adalah tidak adanya SMP yang dekat dengan desa Cahaya. Banyak anak-anak desa Cahaya putus sekolah karena SMP-nya terlalu jauh. Sebagian anak laki-laki bekerja atau merantau. Sementara yang perempuan di rumah dan menunggu jika ada lelaki yang melamarnya. Inilah mirisnya jika ilmu kurang diperhatikan, pikiran manusia terhambat untuk mengalami proses kemajuan. Lalu, bagaimana desa Cahaya bisa maju?

”Pak, bisakah kita mendirikan SMP di sini? Kami ingin selalu berada di desa Cahaya, kami ingin belajar terus, Pak?” Ratna, siswi terbaik lulusan Sekolah Cahaya menatapku di kantor guru. Pak Yusuf, Bu Siska, dan guru yang lain tengah duduk di sana. Guru-guru baru itu ada tiga: Pak Pujo, Bu Ranti, Bu Rahmi. Mereka semua sarjana PGSD. Mereka terpanggil ke desa Cahaya ketika melihat lowongan yang dibuka pemerintah kabupaten.

Pak Danu keluar dari ruangannya. Kulihat matanya sedikit berair, dia pasti mendengarkan apa yang dikatakan Ratna, kami semua terdiam.

”Di antara teman-teman Ratna, sudah ada yang tidak ingin sekolah karena letaknya jauh dari rumah. Mereka mau sekolah kalau dekat, jika jauh, kami juga kasihan kepada orangtua kami. Bantulah kami, Pak?” wajahnya semakin memelas menatapku.

”Bapak akan mencari jalan yang terbaik, Bapak akan berusaha.”
”Itulah mimpi kami, Pak, mimpi yang selalu Bapak ajarkan, mimpi yang kami peluk setiap malam, agar kami bisa sekolah terus. Karena desa Cahaya adalah harapan kami,” air matanya menetes, dan kupandang di belakangnya, Pak Danu juga telah luluh air matanya.

”Kami percaya pada mimpi-mimpi kalian, Anakku,” Pak Danu berjalan mendekatiku, langkahnya bagai derak-derak pembaca sastra di Istora Senayan Jakarta.

Pak Danu berhenti di depanku, tangan kanan tuanya terangkat dan menyentuh rambut Ratna, ”Yakinlah, bahwa mimpi kita semua bukan sekadar angan. Kami semua akan bekerja keras untuk mendirikan SMP Negeri Cahaya,” kulihat sorot mata harapan menyala-nyala di bola mata Pak Danu. Kurasa, inilah saatnya pahlawan yang sesungguhnya bangkit, jiwaku ikut tergerak.

”Saya setuju, Pak!” aku berdiri saking semangatnya, melihat nyala di mata Pak Danu.
”Saya juga!” ”Saya Setuju!” ”Setuju!” seluruh dewan guru berdiri, kami saling pandang dan tersenyum, saling menguatkan untuk sebuah mimpi indah.

”Terima kasih Pak, Bu… Ratna akan memberitahukan semua teman-teman kabar gembira ini,” wajah Ratna menyala bagai pijar lalu berlari keluar kantor. Ah! Leganya melihat kebahagiaan di wajahnya.
”Jadi, langkah apa yang harus kita siapkan untuk mendirikan SMP itu, Pak Danu?” Pak Yusuf bertanya kepada Pak Danu yang masih tersenyum berwibawa.

Semua terdiam, semua melihat wajah Pak Danu yang masih melihat arah luar kantor. Sang harimau telah kembali, jiwa Pak Danu berkobar kembali, pastinya kata-kata yang akan keluar, yang sedang kami tunggu adalah auman yang mendebarkan dan mengagumkan.

Benar, Pak Danu berbalik melihat kami satu-persatu, wajahnya sumringah, wibawanya menguasai pandangan kami. Tapi, tatapannya tiba-tiba terpaku padaku lama.
”Itulah masalahnya, aku tak tahu caranya!”

Seolah kunang-kunang muncul di siang bolong, berkeliling di sekitar pandangan di depanku. Hilang sudah anganku, menganggap taring semangat Pak Danu telah kembali menjadi muda. Persepsi manusia sering salah, makanya kau jangan cepat percaya dengan anganmu sendiri.

”Aku hanya tak tega, tak memberikan harapan pada anak-anak desa Cahaya, kalian tahu kan betapa hidupku ini kucurahkan untuk desa ini?”
Kami akhirnya mafhum, kalau teringat ini, aku jadi teringat nasihat Pak Lukman, “Jika ada yang datang padamu meminta sesuatu karena keperluan, maka penuhilah. Allah akan memenuhi segala kesahmu di akhirat kelak.” Ah! Indah nian.

”Sekarang, kita bersama-sama harus menciptakan mimpi itu menjadi nyata, bahwa ada SMP di desa Cahaya! Dan tugas ini kuserahkan sepenuhnya pada Pak Arif!” tangan kanan Pak Danu, menujuk mutlak ke arahku.

”Kenapa aku, Pak,  yang lain lebih banyak berkompeten. Ada Pak Pujo, Bu Rahmi, dan Bu Ranti yang mereka adalah sarjana pendidikan keguruan. Mereka pasti lebih paham tentang ini, Pak,” aku protes.

Bukan sebuah pembelaan yang kudapatkan, mata mereka melihatku tajam. Dan kau tahu, maksud tatapan mereka kira-kira begini: Untuk urusan mimpi, kaulah ahlinya. Kami percaya itu, sejarah telah menyatakan buktinya.

Kawan, jika sudah berlebihan dalam menyanjung orang, maka inilah jawabannya. Padahal, tidak semua hal bisa dimimpikan, atau setidaknya paling parahnya, kita selalu menjadi korban.

^___^

”Bisakah kami belajar lagi, tanpa nama SMP juga tidak apa-apa. Kami akan belajar di sini, setelah tamat barulah kami akan pergi keluar desa untuk melanjutkan SMA,” Ratna menemuiku ketika malam tadi bersama Ayahnya, sewaktu aku berlatih bela diri bersama pemuda desa, dan anak-anak sekolah yang laki-laki. Kini pencak silat Kang Mukhlis ramai.

Butuh waktu yang agak lama untuk mengurus perizinan sekolah, belum lagi Pemerintah Kabupaten juga masih sanksi dengan kualitas sekolah yang baru karena minimnya sarana dan prasarana untuk pendidikan.

Tapi aku benar-benar tak tega melihat wajah Ratna, wajah bercahaya karena ilmu yang begitu dirindukannya. Jika sekolah jauh, lebih baik di kampung saja membantu orangtua bekerja, lalu mungkin dia akan menunggu seorang lelaki datang melamarnya. Apa ini yang akan terjadi?

Tidak! Pendidikan harus diperjuangkan! Mimpi mereka, Allah! Apa pun yang terjadi, mimpi-mimpi mereka wajib diperjuangkan.

Kusejajarkan tubuhku di depan wajah Ratna, kutatap matanya yang penuh harap, ”Dengarkan Bapak, Allah menjadi saksi, malam yang dingin ini menjadi saksi. Kau lihat bulan dan bintang bertaburan di langit?” kepala Ratna mengangguk pelan, ”kalian akan bisa bersekolah di desa Cahaya, itulah janji yang akan Bapak perjuangkan,” aku menunduk padanya. Kulihat terang di wajahnya, aku puas kawan, membahagiakan orang lain adalah bagian dari ibadah.

Ratna dan ayahnya pamitan membawa senyum.
”Rif!”

”Iya, Kang,” aku menoleh ke arah Kang Mukhlis yang duduk di rumput, latihan telah selesai.
”Bukankah tadi sore kau telah menyerah, Pemerintah Kabupaten membutuhkan kondisi riil akan adanya tempat belajar bagi siswanya. Untuk membangun bangunan sekolah pun, pasti akan membutuhkan waktu  yang lama, mungkin mereka harus libur dulu selama setahun.”
”Tak perlu, Kang.”

”Maksudmu, Rif?”
”Itulah kekuatan mimpi, bisa mengubah apa pun di dunia ini. Tadi sore, aku sempat putus harapan, tapi jika mimpi dan harapan telah merasuki seluruh jiwa, maka akan ada jalan yang pasti terbuka. Allah pasti akan memberikan jalan-Nya.”

”Bagaimana langkahmu selanjutnya.”

”Sebelum bangunannya jadi, mereka akan tetap belajar. Selama proses perizinan, mereka akan belajar. Materi kurikulum akan disesuaikan dengan pelajaran SMP. Dan untuk tempat…”
Mataku kualihkan pada bangunan Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Kulihat pesonanya kala malam, hanya ada dua atau tiga lampu yang menyala kala malam.


”Mereka akan belajar siang hari setelah siswa-siswi SD pulang. Mereka sekolah siang hingga sore.” Jujur, aku menemukan ide ini barusan. Saat kulihat harapan yang demikian menyala dari mata Ratna dan Ayahnya, mata yang mencintai ilmu. Maka, Indonesia harus mulai berbenah, sekolah itu untuk mencari ilmu bukan untuk mencari pekerjaan. Dan kita harus memperjuangkannya bersama.

Bagian 55, Abolisi


Mobil berhenti. Aku dipegang dua orang polisi, mereka membawaku pelan. Beberapa orang menjepret foto tiba-tiba dari beberapa arah, mendekat. Namun, polisi sigap menghadang dan membubarkan barisan para wartawan itu. Telingaku mendengar gumam lirih dari seorang wanita yang tengah memegang mikrofon-nya.

Ternyata, kepahlawanannya dulu hanyalah topeng untuk menutupi kesalahannya.”

Aku memejamkan mataku, sambil tetap dipegangi. Kadang pers memang seperti itu, belum jelas informasinya, belum jelas salah atau tidaknya, asalkan beritanya dapat menjadi berita utama, bombastis news. Maka, siapa pun bisa kena jatah terburuknya dan terpampang di koran atau televisi.
Mereka berebut, mencari sensasi dalam beritanya. Inilah obsesi paling berbahaya, obsesi mencari kesalahan. Jangan kau ikuti, Kawan, kecuali berita itu benar-benar valid, dan harus disampaikan mengingat kebaikannya untuk memberi informasi, agar orang lain menjadikannya pelajaran.

Aku digiring, melewati sel-sel yang lain. Orang-orang di dalam sel melihatku dengan sinis, tapi tak semua. Di penjara banyak manusia yang bertobat, nyatanya kulihat tadi ada yang tengah melaksanakan shalat di dalam selnya.

Aku terus di giring, dibawalah aku ke dalam ruangan yang terpencil di ujung, mentok tak ada lagi jalan. Aku dimasukkan ke dalam penjara itu, mereka membuka ikatan borgolku, pintu sel di kunci. Aku terduduk, kedua lututku bertumpu di depan. Kutatap sel-sel itu, aku tak menyangka, bahwa aku akan menempati penjara, aku difitnah.

Di penjara itu, aku sendirian.

Aku berdzikir, tiba-tiba hatiku diliputi ketenangan. Hatiku begitu teduh, penjara tak berarti vakum bukan? Aku ingat semua kisah para orang besar yang dipenjara. Ya! Mereka adalah bukti sejarah. Mereka merasakan kesumpekan penjara, tapi mereka tak henti memberikan karyanya.

Minimal aku bisa shalat, maka aku tayamum di dinding penjara. Aku ingin shalat sunnah, sebentar lagi juga zuhur datang. Saat berwudhu, siluet sejarah dalam hidupku terbayang, terputar bagai rol film.

Setiap hal bukanlah kebetulan, Cucuku.

Aku teringat kata-kata kakek. Bahwa tidak ada kata kebetulan di dunia ini, semuanya telah diatur demikian indah oleh Sang Pencipta. Aku mencoba telusuri lebih jauh semua makna kehidupanku. Semuanya peristiwa tercipta pula karena sebab, tak ada akibat tanpa ada sebab.

Setiap cobaan maupun kerusakan adalah manusia yang memulainya, maka aku coba memaknai apa yang telah kulakukan hingga aku diberi Tuhan cobaan ini? Aku hanya takut kejiwaan para siswa Sekolah Cahaya. Aku takut mereka terpengaruh. Apa pun kata media dan koran, aku tak peduli, tapi aku takut jika para siswa berkata padaku. Berkata bahwa aku penjahat, aku tak kan bisa mengajarkan mimpi lagi pada mereka.

Apakah ini karena kesombonganku? Takabur? Berbangga diri karena merasa diri sebagai pahlawan?

Tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja, mengganggu kekhusyukan shalatku. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi manusia paling lemah di dunia ini, tak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Tuhan, Dialah yang telah memberi kelebihan padaku. Jika tidak, aku hanyalah debu yang terbang tanpa daya.

Allah.

Air mataku menetes, satu-satu, bertambah. Hingga aku tersedu-sedu, aku telah dibutakan oleh kesombongan. Sombong karena merasa diri hebat, tak merasa bahwa semua itu karunia Allah. Aku terpekur di lautan ampunan-Nya, ini hanyalah sedikit saja. Aku harus tegar.

***

Sepatu menjejak, semakin mendekat, membuatku bangun dari tidur pekurku. Dua orang petugas sedang membuka kunci tahanan. Pintu terbuka, salah satunya memegang pentungan, sorot matanya tajam. Tuhan, apa lagi ini? Apakah aku akan diinterogasi seperti penjahat dalam film-film, atau saat sang tokoh utama dikira seorang penjahat?

Mereka merengkuhku, tanganku diborgol kembali, aku menurut. Aku dibawa ke sebuah ruangan kedap suara. Aku didudukkan, salah satu dari mereka berdiri saja, satunya lagi menginjakkan sepatu larasnya pada kursi di hadapanku.
”Apa kau sudah mengaku sekarang, Penjahat?” matanya menatapku garang.
”Apa kesalahan saya, Pak?”

”Obat-obat terlarang ditemukan di kamarmu, dalam jumlah besar. Masih mau berkelit? Kau memang penjahat kakap, pura-pura menjadi pahlawan dengan membongkar kejahatan Gagak Hitam untuk menutupi kejahatan-kejahatanmu. Bersembunyi di desa Cahaya, dan menjadi penjahat!” suara meninggi.

”Demi Allah, saya difitnah, Pak.”
”Buk!”

Sebuah pukulan, mendarat di pipi kiriku. Tangan kanannya berputar sejajar, sangat kuat. Wajahku melencong ke kiri, perih, bibirku serasa pecah, perih. Kembali kutatap polisi itu, kutatap lembut wajahnya. Aku tak menyalahkannya, karena dia sedang menjalankan tugasnya.
”Masih tidak mau mengaku, Penjahat!”

Aku tersenyum, ”Aku tahu, Bapak sedang menjalankan prosedur interogasi. Aku tak menyalahkan Bapak, tapi aku juga tak akan mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat.”
”Kurang ajar!” tinjunya kembali melayang cepat, ”Buk!” tangan kirinya mendarat di pipi kananku, begitu kuat hingga aku terjatuh dari kursi dan jatuh ke lantai. Aku mencoba bangkit, aliran hangat mengalir dari bibirku. Kuusap dengan lenganku yang terborgol. Aku duduk kembali.

”Aldi! Giliranmu!” polisi berkumis tipis itu menengok ke arah teman di belakangnya.
”Sudah saatnya ternyata,” senyumnya menyeringai. Dia memukulkan pentungan di telapak tangan kirinya, suara benturan pentungan ke telapaknya menimbulkan suara menggema ruangan kedap suara itu. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari yang tadi. Dia bergantian berdiri di hadapanku.

Wajahnya didekatkan ke wajahku, ”Tanda tangani kertas ini,” dia menggeser sebuah kertas, pernyataan pengakuan. Aku membaca sekilas, ketika kertas itu disodorkan di depan mataku.
”Aku tidak melakukannya, dan akan kubela nanti di pengadilan,” aku berkata pelan.

”Sudah bosan hidup rupanya, kamu tahu ini? Jangan sampai membuat wajahmu yang lembut itu hancur.”

Polisi yang lebih besar itu mengangkat pentungan, bersiap memukul, ”Masih keras kepala?” nadanya lembut, tapi siap melumatku.

”Bukan keras kepala, tapi menjaga harga diri.”
Hilang senyum dari wajahnya, wajahnya siap menerkam. Kupejamkan mataku, biarlah kuserahkan pada Allah, hidupku, sakitku, matiku, sehatku. Aku yakinkan semuanya akan baik.
”Hentikan!” pintu di gedor berulang-ulang, pentungan belum mendarat di wajahku.

”Sial!”

Polisi berkumis tipis membuka pintu, dua orang polisi masuk. Mereka mendekatiku, merengkuhku, ”Maafkan kami Pak Arif, ada kesalahan prosedur sedikit,” aku tahu wajahnya, dia yang duduk di sebelahku sewaktu penangkapan. Tuhan menyelamatkanku.

Aku kembali dibawa ke selku, borgolku dibuka kembali. Polisi itu memberiku minyak, memintaku mengolesi luka memar di pipiku. ”Aku akan berusaha membantu Anda, Pak,” mata teduh itu meyakinkanku, aku tersenyum. Beginilah seharusnya polisi, hatiku ikut tersenyum.

***

Sudah dua hari aku dipenjara, makan dengan nasi bubur lauk tempe. Bagiku sudah nikmat, apa pun itu adalah dari rezeki yang harus disyukuri. Tak boleh lemah harapan, pasti setelah ini akan ada kebaikan-kebaikan. Setiap hidup adalah putaran, kadang sedih, sedetik kemudian ada senyum. Itulah rahasia yang tidak bisa dikuak manusia.

Dua orang polisi membuka selku, aku mundur.
”Ayo, Pak,” aku menurut, kali ini aku tak diborgol. Aku berjalan di koridor-koridor, di tikungan pertigaan belok ke kiri. Dan di depan sana, Pak Lurah dan Kang Mukhlis serta Pak Danu tersenyum menatapku.

”Kalian menjengukku?”
”Tidak! Tapi kami akan menjemputmu.”

”Iya, hari ini Anda bebas. Anda dinyatakan tidak bersalah,” Polisi yang tengah duduk di hadapan Pak Lurah itu tersenyum.

Detik itu juga, hatiku cerah. Aku dijemput dengan mobil, Pak Lurah menceritakan kejadian sebenarnya di perjalanan. Polisi mendapatkan laporan dari seseorang bahwa aku adalah seorang pengedar narkoba kelas kakap yang bersembunyi di desa Cahaya. Tapi, si pelapor sudah melakukan abolisi pada akhirnya. Selain itu, dia mengaku bahwa dialah yang menaruh obat-obat terlarang di kamarku.

Pelakunya adalah Aldi, polisi keamanan hutan lindung. Dia membalas dendam, atas tertangkapnya Gagak Hitam yang banyak memberinya keuntungan. Sewaktu aku izin ke Jakarta, Aldi datang ke rumah Kang Mukhlis saat Kang Mukhlis sedang pergi. Hanya ada Syahid, lantas ia minta dipanggilkan. Saat itulah Kang Mukhlis curiga bahwa dia memasukkan barang-barang haram ke kamarku.

”Bagaimana kalian membuatnya mengaku?”
Mereka tersenyum. Aku paham senyuman mereka, pasti mereka menghajarnya habis-habisan, atau bahkan satu desa membuatnya mengaku.
”Lalu, apakah penjaga hutan lindung sudah ada penggantinya?”

”Katanya minggu depan ada petugas baru.”

Bagian 54, Fitnah


Dua minggu berlalu.

Sengaja aku singkat kawan, tak perlu kau tahu apa yang kukerjakan selama dua minggu ini, izin ke Jakarta. Tapi, sekarang aku bagaikan satu keluarga penuh. Pak Teguh tampak kerepotan membawa barang-barangnya, pindahan dari kota ke desa. Permainan judinya menang. Kini, dia ikut aku ke desa Cahaya, katanya pula, lebih enak cari istri di desa, biasanya lebih terjaga. Walau tak bisa dikatakan benar, tapi mendekati benar. Pak Rahmat tampak lelah.

Kami menyewa mobil pick up sejak kami turun dari kapal. Satu anak sulung Pak Rahmat bersandarkan besi di belakang sopir, sesekali mengipasi wajahnya dengan buku yang sudah kumal. Panas mentari tak ada pelindung. Istri dan ketiga anak yang lain duduk di dekat sopir.

Mobil terus melaju, membiarkan saja tubuhku basah, tembus hingga kemejaku. Kupandangi jejeran pepohonan  menjulang, sebentar lagi sampai. Aku berdiri di belakang kepala mobil, kepalaku menyembul di atasnya, kutatap di depan sana. Desa Cahaya telah tampak pepohonannya.
”Sebentar lagi sampai, Pak,” aku duduk kembali.

”Sudah hampir sampai?” Pak Rahmat mulai mengelap keringat di sekitar wajahnya. Aku menawarinya pekerjaan pembersih pasar jika nanti belum ada pekerjaan, sedangkan Pak Teguh tentu saja keamanan pasarnya, nanti dia akan kuminta belajar bela diri pada Kang Mukhlis.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Kang Mukhlis, kami kesusahan menurunkan barang bawaan. Kang Mukhlis menyambutku aneh, dia mengangkati barang-barang diturunkan dahulu ke bawah, semuanya. Lalu, meminta sang sopir segera pergi, aku membayar ongkos yang setengahnya. Ada apa?

Mobil pergi, kami mengangkati barang ke dalam. Seperti tadi, Kang Mukhlis seolah terburu-buru mengangkati tas-tas itu. Aku menyamai gerakannya yang cepat, kusejajari dia berjalan.
”Ada apa, Kang?” kutatap wajahnya yang masih lurus ke depan.
”Cepatlah, Rif.”

Aku tak bisa berkata apa-apa, aku mengikuti gerakannya cepat. Sudah selesai.
”Kau harus lari ke hutan sekarang juga!”
”Kenapa, Kang?” semua orang melihatku dan Kang Mukhlis dan berhadap-hadapan, ada sedikit ketegangan. Pak Rahmat dan Teguh juga terpaku melihat kami, ”Ada apa, Kang?”
”Kau buronan, Rif! Polisi akan datang menangkapmu. Cepatlah lari!”
”Saya tidak akan lari, Kang, saya tak bersalah.”

”Kenapa kau keras kepala?”
”Kau belum mengenal aku, Kang,” aku menggeleng.
”Aku sangat mengenal sifatmu, makanya cepatlah lari!”
Aku menggeleng.

Semilir angin berhembus, dan sehelai daun terbang dari pohonnya, meliuk indah. Saat daun itu pelan menjejak bumi, sebuah mobil berhenti di depan rumah, mobil polisi. Mereka turun dan menodongkan pistol ke arah kami.

”Menyerahlah, Pak Arif. Anda ditangkap.”
Aku berbalik kepada mereka, ”Apa salah saya, Pak?”
”Anda ditangkap karena di dalam kamar Anda terdapat obat-obat terlarang. Mohon kerja samanya.”
”Baiklah, silakan,” aku mengulurkan tanganku ke depan. Para polisi berseragam itu mendekat, dan salah satunya mengeluarkan borgol dari pinggangnya. Seseorang menghadangnya.

”Kau tak boleh menangkap Pak Arif! Kau harus menangkapku juga,” seorang anak kecil melebarkan kedua tangannya, wajahnya menunduk. Syahid.

Polisi itu tersenyum dan melangkah selangkah lagi. Kini dia kaget, bukan seorang yang menghadang, entah mereka datang dari mana, mereka berlari dan berbaris berjubel di depanku, anak-anak sekolah dengan seragam merah putihnya. Mereka kompak berteriak.
”Jangan tangkap Pak Arif! Dia tidak bersalah. Ini fitnah!”

Anak-anak!

Setelah itu, banyak masyarakat datang, dari segala penjuru. Mereka mendekat, termasuk Pak Lurah dan dewan guru Cahaya, kulihat ada tiga orang asing di barisan guru, pastilah mereka guru baru. Aku tersenyum pada mereka semua.

”Aku telah kembali. Kalian sedang bercanda, ya? Itu tak lucu, Kawan-kawan,” aku tertawa-tawa, memegangi perutku sendiri.
Beberapa polisi maju, mengarah padaku. masyarakat tiba-tiba bergerak menghadang terjadilah aksi saling dorong, persis seperti mahasiswa dan aparat  yang tengah ricuh saat demonstrasi.
Aku baru sadar. Ini semua bukan lelucon.

”Hentikan!” warga berhenti, polisi juga. Aku menyibak barisan anak-anak sekolah, ”Ayo, tangkap aku,” kuulurkan tanganku.
”Dia tidak bersalah!” Syahid masih berteriak, aku mengangguk padanya, kurasa pastilah dia paham maksudnya.

”Biarkan aku pergi dengan mereka, tolong kalian urus desa Cahaya. Aku pasti tak akan lama di penjara, aku tak betah pastinya,” aku tersenyum pada mereka, saat tanganku dikunci dengan borgol. Aku dimasukkan ke mobil. Sebelum sampai ke mobil, mataku mengedip pada Pak Lurah, Kang Mukhlis, ’Lakukan tugas kalian’ begitu kira-kira maksudnya isyaratku, semoga mereka paham.

Ketika masuk, sebuah suara dari polisi yang duduk di sebelahku berkata pelan, ”Maaf, Pak Arif! Aku tahu kau difitnah, ini hanyalah prosedur. Kami akan berusaha membebaskanmu.”

Mobil menderu ke arah barat. Tatapan sedih masyarakat adalah terakhir kali kulihat hingga menghilang. Aku tak percaya, kini aku tahanan polisi, dan aku belum tahu apa kesalahanku?
Mobil polisi itu melaju, membawa jiwaku yang resah. Borgol di kedua pergelangan tanganku mengilat memantulkan wajahku di kilatannya. Kami menikung, tepat di sana, di pinggir jalan.
Tugu setinggi seperempat meter, tertulis desa Cahaya.

Siluet rekaman, berputar dalam otakku. Teringat aku sewaktu pertama  kali memasuki desa ini, dengan antusias mencari sebuah gerbang desa Cahaya, kukira melengkung bagaikan janur kala hiasan pernikahan, melengkung hingga dari sisi pinggir jalan di sebelah kiri hingga sebelah kanan.

Saat itu, pertama kalinya aku bahagia karena mendapatkan pekerjaan setelah setahunan menganggur. Dan, patok setinggi seperempat meter itu membuatku terperanjat kaget.

Kini, aku melihatnya. Aku merasakan dia juga melihat keadaanku saat ini, tergiring sebagai seorang penjahat. Bukankah aku telah memperjuangkanmu wahai patok desa Cahaya? Kini, apakah kau juga akan berkata seperti para polisi itu, dan mengatakan bahwa aku penjahat?


Gerbang Cahaya? Aku semakin jauh meninggalkannya. Aku tertunduk lesu, aku akan datang kembali gerbang Cahaya, tapi bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai seorang pahlawan, tunggulah waktu itu. Aku yakin itu.