Jumat, 08 November 2019

Bagian 61, Hidup adalah Pilihan


Burung besi mulai meninggi, hamparan hijau bumi terlihat begitu indah, ini pertama kali bagiku naik pesawat terbang. Aku duduk di dekat jendela kaca agar dapat melihat pemandangan dengan leluasa. Kuceritakan padamu, Kawan, agar kau tak bingung. Sewaktu aku izin dua minggu menjemput Pak Rahmat dan Teguh di Jakarta, aku mendapat informasi tentang beasiswa ke Universitas Malaya, aku mendaftar segera.

Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan padaku untuk menuntut ilmu kembali. Di satu sisi aku bahagia, meski di sisi lain aku kehilangan teman-temanku di desa Cahaya. Namun, itulah perjuangan yang harus selalu dihadapi oleh setiap orang, makanya sudah pernah kukatakan padamu, Kawan. Life is a choice. Kehidupan ini, aku teringat kata-kata Pak Lukman, sudah diatur oleh Allah. Saat kita dalam rahim, mulai dari rezeki, ajalnya, apakah dia sengsara atau bahagia. Maka, rezeki tak akan tertukar untuk orang lain. Keterangan itu tidak boleh disalah artikan sehingga orang yang buruk akhlaknya mengatakan bahwa ini sudah ditakdirkan Allah. Orang yang berkata seperti itu adalah sesat.

Masing-masing orang telah dimudahkan mencapai apa yang diciptakan baginya. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Intinya, Allah telah menakdirkan adanya baik dan buruk. Allah menciptakan kebaikan bagi manusia. Jika manusia berbuat baik, maka ia akan dimudahkan untuk melakukannya. Jika dia berikhtiar untuk bertakwa, maka ia akan dimudahkan meniti jalan takwa tersebut, berlaku juga sebaliknya. Bukankah dengan seperti itu, hati menjadi tenang?

Hidup itu adalah pilihan. Selama hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Nantinya, selesai aku kuliah di Malaysia, aku pun akan memilih kembali, kembali ke desa Cahaya atau memulai petualangan yang lain?

Selain itu, ada dua wanita yang menunggu di sana. Kepada siapa hatiku akan tertaut nantinya, apakah di antara kedua wanita itu? Atau Allah telah menuliskan diriku untuk wanita yang lain. Itulah rahasia Allah. Tapi, pilihan tetap di tangan kita, sedangkan keputusan ada di tangan-Nya.

Aku tersenyum, menatap langkahku ke depan. Karena dengan senyum itulah hidup akan terasa indah, tidak sesak dan sempit. Memulai segalanya dengan pikiran yang bersih, karena segalanya dimulai dari pikiran kita, mimpi kita, harapan kita, dan perubahan kita.


Astaghfirullahal ’adzim, watub’alaina innaka antat tawwabur rahiim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar