Musim kucing kawin.
Manusia lagi banyak hajatan pernikahan, kok dikatakan musim kucing
kawin. Dasar masyarakat, bisanya mencari-cari sensasi agar bisa membuat
tetangganya tertawa. Kembali ke masalah awal, musim kucing kawin. Sandi, dokter
yang mengabdi di klinik desa tak mau dilangkahi adiknya yang akan menikah
dengan Kang Mukhlis, maka dia juga menikah dengan salah satu guru, yaitu Bu Ria.
Bahkan, Teguh telah melamar seorang wanita dari desa Cahaya juga, lengkap sudah
semuanya.
Pernikahan kedua kakak
adik itu bersamaan. Wah, pasti ramai. Kebahagiaan membuncah di mana-mana,
kemajuan desa Cahaya sudah terlihat, pasar semakin ramai dan banyak investor
baru berdatangan. Pemerintah Daerah juga sudah memberi izin untuk pengembangan SMP
Negeri Cahaya, dan akan diberi bantuan untuk membangun bangunan sekolahnya di
dekat Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Pemerintah Daerah juga akan membangun SMA
Negeri, sekarang dalam proses perizinan. Jalanan sepenuhnya telah diaspal,
kecuali bagian sawah dan ladang tentunya kawan.
Kutatap langit desa, teramat
cerah, pastinya akan datang lagi petualangan yang lebih seru ke depan. Dan
bukankah hidup itu, adalah rangkaian dari petualangan-petualangan yang harus
dimenangkan?
Sebuah kentungan
dibunyikan bertalu-talu. Petualangan apa kali ini? Kuharap bukannya
pertanda buruk. Kang Mukhlis memboncengku, ke rumah Pak Karta. Di sana ramai
orang telah berkumpul. Dari desas-desus yang kudengar dari beberapa orang yang
berbisik, kudapati sebuah informasi yang
membuatku bergetar.
”Pak Lukman hilang!”
Aku berbalik ke arah
masjid, beberapa orang tampak di sana. Napasku kembang kempis, kucari di
toilet, di amben kecilnya, berputar-putar di sekitaran masjid, tak ada. Lemas
sudah. Aku kelelahan, benarkah Pak Lukman telah dibawa pergi lagi? Apakah
tugasnya di sini sudah selesai?
Saat itu, rombongan Pak Lurah
dan yang lain datang ke masjid. Aku duduk di depan masjid.
”Kemana perginya Pak
Lukman?” Pak Lurah terlihat bingung, ”bagaimana seorang buta bisa hilang? Dia
pastilah diculik, kita harus mencarinya!”
”Setuju!” begitulah teriakan para warga.
”Sebentar!” semuanya
melihatku, aku bangkit dari dudukku, ”Tak perlu dicari, Pak Lukman sudah
kembali ke rumahnya lagi, dijemput keluarganya. Beliau Insya Allah dalam
keadaan baik-baik saja.”
”Dari mana Pak Arif tahu?”
Pak Lurah bertanya, semua melihatku, seolah itulah satu pertanyaan yang
terkumpul dalam pikiran mereka.
”Telah sampai cerita
padaku dari Pak Lukman. Sesungguhnya, di sini dia hanya bertugas untuk
memberikan pengajaran agama, dan jika tugasnya telah selesai, maka dia akan
dijemput kembali dan bertugas di tempat yang lain.”
Bisik-bisik terdengar
riuh. Ada yang
mengatakan bahwa Pak Lukman adalah wali, muhajirin, ulama, bahkan ada yang
berbisik bahwa Pak Lukman adalah sejenis makhluk halus yang Muslim. Aku diam
saja.
”Pak Arif, ada surat untuk Anda. Saya
temukan di tempat imam,” lelaki tua itu menyerahkan sepucuk kertas untukku.
Untuk Pak Arif
Aku tersenyum saat aku dijemput, karena baru pertama kali ini tugas
dakwahku berhasil di desa ini. Teruskanlah perjuangan membangun desa ini, aku
harus pergi lagi, bersama matahari yang terus berputar.
Salam cintaku, semoga kita dipertemukan Allah di surge-Nya kelak, amiin.
Sahabatmu
Lukmanul Hakim
* * *
Sebuah motor berwarna
kuning kunir berhenti di depan rumah, tentunya rumah Kang Mukhlis. Sebentar
lagi aku harus pindah, karena rumah ini tentunya akan menjadi rumah Ani. Aku
belum tahu hendak pindah dimana. Tapi aku yakin, setiap hal telah Allah atur
skenarionya.
Ternyata motor itu motor
pegawai pos.
”Permisi, apakah ini
rumahnya Arif Maulana?”
”Saya sendiri. Ada apa, Pak?”
Lelaki berbaju seragam itu
tersenyum, ”Ada surat untuk Anda,” dia mengulurkan amplop
besar, kurasa isinya kertas. Aku menandatangani lembar penerimaan kiriman,
setelah itu pegawai pos itu pamitan.
Universitas Malaya? Tertulis di ujung atas amplop.
Aku penasaran, kubuka
pelan-pelan. Kukeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya, bahasa Inggris.
Untung aku bisa, ya tapi tak bisa dibilang lancar, tapi kalau membaca
sedikit-sedikit aku bisa. Kuucap basmallah, lalu membacanya dalam hati.
Tanganku bergetar memegang
kertas itu, entah aku hendak berucap apa dalam hati dan lisanku. Alhamdulillah,
kalimat itu akhirnya yang terucap dari lisanku. Bagaimana tidak kaget, ini
adalah lembar keterangan beasiswa pasca sarjana untuk Ekonomi Islam. Hampir
lemas kedua lututku.
Tapi sejenak kemudian,
senyum simpul tercipta. Di kertas tersebut diterangkan aku harus segera
mengurus beberapa kelengkapan, untuk pengajuan berkas selanjutnya dan
dikirimkan ke Malaysia
segera, karena sebentar lagi jadwal kuliah sudah aktif.
Allah, ini panggilan-Mu,
semoga. Aku akan berpetualang lagi, hidup adalah lembaran-lembaran yang
tercecer, dan setiap ceceran harus kujadikan menjadi ceceran sejarah yang
terbaik.
***
Seminggu berlalu demikian
cepat. Kang Mukhlis tampak bersedih, sedih karena aku tak bisa menghadiri akad
pernikahannya, selain itu dia sedih karena akan berpisah lama denganku. Ah!
Syahid pun demikian, sedari tadi malam dia terus cemberut.
Hari ini, siang cerah ini.
Desa Cahaya tampak ramai orang, bukan acara pernikahan seperti Bu Siska
kemarin, bukan acara kumpul di balai desa membahas perkembangan desa, bukan
pula akan ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten. Tapi, semuanya melihatku mulai
ketika aku membawa tas besar, keluar dari rumah, mereka menatapku, ada semburat
bening di setiap wajah-wajah mereka.
Aku tak tega kawan. Tapi,
inilah jalanku, yang harus kuhadapi dan kujalani. Seperti cerita dalam buku
saja, jalanku menuju kemenangan-kemenangan. Dalam kamusku, sejak aku lahir,
ilmu adalah segalanya. Jika ada kesempatan menuntut ilmu, di ujung dunia
sekalipun aku akan datang. Tapi ujung dunia itu tak ada, Kawan.
Suatu kehormatan, Pak Lurah
dan Indah datang. Indah belum ke kota lagi untuk
meneruskan kuliahnya yang sempat tertunda, setelah mendengar bahwa aku akan
berangkat ke Malaysia ,
dia ingin mengantar kepergianku. Dan kau akan kaget, kawan, Indah telah
sempurna cantik, dengan balutan jilbab hijau itu, anggun sekali. Aku tersenyum
padanya. Pak Lurah yang akan mengantarkanku hingga ke bandara, walau jauh tak
mengapa katanya.
”Hati-hati, Kak.”
”Tentu saja Indah.”
”Jika sudah selesai,
pulanglah ke sini. Rumah Kakak di sini.”
Aku tersenyum padanya, tak
tahu nantinya, apakah aku akan kembali ke desa Cahaya ini, tempat mimpi-mimpi
bertemu dan membentuk harapan.
Aku menaikkan satu kardus
barang di motor bagian depan Pak Lurah, satunya kupakai di punggungku. Aku
pamitan pada mereka semua, dan meminta doa agar semuanya lancar, dan berkata
kepada mereka untuk saling mendoakan.
Di mana Nurul? Apakah dia
telah kembali ke kota ?
Ah! Sudahlah.
Aku naik ke motor, Pak Lurah
menghidupkan mesin motornya. Aku menatap seluruh penjuru warga desa, kutatap
semuanya, menengok kekanan dan ke kiri sambil tersenyum.
Sahabat-sahabatku,
berjuanglah terus!
Saat motor itu mulai
melaju, kulihat tetesan air mata warga desa, mereka melepas kepergianku. Tak
kan lupa semua kenanganku bersama kalian, kulihat anak-anak sekolah Cahaya
mengusap air matanya dengan punggung-punggung tangan mereka. Wajah-wajah
bersinar mereka, tentang ilmu, mimpi dan harapan.
Senang pernah menjadi
guru bagi kalian, anak-anak cahaya.
Air mataku menetes
kembali, menyatu dengan air mata mereka, membasah bumi desa Cahaya.
Tangan-tangan mereka melambai mengiringi deru knalpot motor, tanganku turut
melambai. Hingga hilang aku dari pandangan mereka.
Aku meneteskan air mata
lebih banyak, tadi di sana
aku berusaha tegar, setelah jauh air mata begitu deras, apakah mereka juga
merasakan yang sama denganku?
Melewati tikungan, seorang
wanita berjilbab menghadang jalan. Tangannya membuka lebar, motor berhenti. Pak
Lurah memberi isyarat padaku untuk bicara pada wanita itu.
”Ada apa, Nur? Kukira kau sudah pulang ke kota .”
”Aku tak akan pulang.”
”Kenapa?”
”Aku juga akan mengabdi di
desa Cahaya, menunggu kedatanganmu.”
Aku tersenyum.
”Hati-hati, Rif ?”
”Tentu saja, tanpa kau
minta aku akan hati-hati.”
Kami terdiam sejenak,
tiba-tiba air mata kami jatuh bersama. Aku menggelengkan kepalaku, jangan lagi!
Aku pamitan padanya. Kami melaju, tatapan akhirku kembali bertemu saat motor
melewati tempat berdirinya. Itulah akhir tatapanku dengannya, motor terus
melaju. Membawa jiwaku.
”Kau memang pahlawan, Pak
Arif.”
”Pahlawan kesiangan, Pak?”
aku tertawa kecil.
”Mungkin!”
Kami tertawa bersama,
bersama pepohonan yang tertiup angin, bersama burung yang bernyanyi. Semesta
kembali berpijar, di petala setiap pikiran, di setiap desah napas manusia, di
setiap mimpi dan harapan, di setiap langkah-langkah perjuangan manusia mencapai
cita-citanya.
”Pak Arif.”
”Ada apa, Pak Lurah?”
”Pulanglah kembali ke desa
Cahaya setelah kau selesai kuliah, ini harapanku. Jika kau berkenan, nikahilah
Indah, dia sangat mencintai Anda. Aku ingin kaulah yang menjaganya. Aku ingin
memberikan yang terbaik untuknya, di sela akhir hidupku. Aku akan tenang.”
Deg! Bersama deru knalpot
yang menderu, suara alam yang menggema. Alam kembali memberi harapan dan mimpi
menghampar. Dan aku kembali tergoncang dalam sebuah piramida cinta yang aneh.
Kawan, tak usah risau,
kita harus tenang. Karena, perjuangan hidup masih panjang.
***
Motor terus melaju,
membawa jiwaku yang terkontaminasi perasaan senang dan resah. Pepohonan rindang
melambaikan perpisahan, cahaya mentari dari sela-sela dedaunan menyorot indah,
bagai ribuan kedip kamera. Melewati tikungan, tepat di sana , di pinggir jalan. Hatiku tertegun
melihatnya, mataku terpaku, air mataku menetes pelan hingga ke daguku.
Tugu setinggi seperempat
meter, tertulis desa Cahaya. Perbatasan desa.
Kembali, memori berputar.
Pertama kali aku masuk, aku salah sangka, kukira melengkung indah dan
mengagumkan pandangan, sebuah Gerbang Desa Cahaya yang indah. Saat pertama
kali, aku bersyukur mendapatkan pekerjaan setelah menjadi pengangguran di Jakarta .
Memori kembali berputar,
saat aku difitnah, diborgol, diiring dengan mobil polisi. Saat itu, aku berkata
dalam hati. Gerbang Cahaya, aku akan datang kembali, tapi bukan sebagai
penjahat, melainkan sebagai seorang pahlawan, tungguhlah waktu itu. Aku yakin
itu.
Tapi, kali ini, aku pergi
meninggalkanmu. Kurasakan kau berucap lirih, berbisik, selamat tinggal
pahlawan. Kami akan merindukanmu, selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar