Jumat, 08 November 2019

Bagian 60, Tatapan-Tatapan Cinta


Musim kucing kawin. Manusia lagi banyak hajatan pernikahan, kok dikatakan musim kucing kawin. Dasar masyarakat, bisanya mencari-cari sensasi agar bisa membuat tetangganya tertawa. Kembali ke masalah awal, musim kucing kawin. Sandi, dokter yang mengabdi di klinik desa tak mau dilangkahi adiknya yang akan menikah dengan Kang Mukhlis, maka dia juga menikah dengan salah satu guru, yaitu Bu Ria. Bahkan, Teguh telah melamar seorang wanita dari desa Cahaya juga, lengkap sudah semuanya.

Pernikahan kedua kakak adik itu bersamaan. Wah, pasti ramai. Kebahagiaan membuncah di mana-mana, kemajuan desa Cahaya sudah terlihat, pasar semakin ramai dan banyak investor baru berdatangan. Pemerintah Daerah juga sudah memberi izin untuk pengembangan SMP Negeri Cahaya, dan akan diberi bantuan untuk membangun bangunan sekolahnya di dekat Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Pemerintah Daerah juga akan membangun SMA Negeri, sekarang dalam proses perizinan. Jalanan sepenuhnya telah diaspal, kecuali bagian sawah dan ladang tentunya kawan.

Kutatap langit desa, teramat cerah, pastinya akan datang lagi petualangan yang lebih seru ke depan. Dan bukankah hidup itu, adalah rangkaian dari petualangan-petualangan yang harus dimenangkan?
Sebuah kentungan dibunyikan bertalu-talu. Petualangan apa kali ini? Kuharap bukannya pertanda buruk. Kang Mukhlis memboncengku, ke rumah Pak Karta. Di sana ramai orang telah berkumpul. Dari desas-desus yang kudengar dari beberapa orang yang berbisik, kudapati sebuah informasi  yang membuatku bergetar.

Pak Lukman hilang!”

Aku berbalik ke arah masjid, beberapa orang tampak di sana. Napasku kembang kempis, kucari di toilet, di amben kecilnya, berputar-putar di sekitaran masjid, tak ada. Lemas sudah. Aku kelelahan, benarkah Pak Lukman telah dibawa pergi lagi? Apakah tugasnya di sini sudah selesai?

Saat itu, rombongan Pak Lurah dan yang lain datang ke masjid. Aku duduk di depan masjid.
”Kemana perginya Pak Lukman?” Pak Lurah terlihat bingung, ”bagaimana seorang buta bisa hilang? Dia pastilah diculik, kita harus mencarinya!”
”Setuju!”  begitulah teriakan para warga.

”Sebentar!” semuanya melihatku, aku bangkit dari dudukku, ”Tak perlu dicari, Pak Lukman sudah kembali ke rumahnya lagi, dijemput keluarganya. Beliau Insya Allah dalam keadaan baik-baik saja.”
”Dari mana Pak Arif tahu?” Pak Lurah bertanya, semua melihatku, seolah itulah satu pertanyaan yang terkumpul dalam pikiran mereka.

”Telah sampai cerita padaku dari Pak Lukman. Sesungguhnya, di sini dia hanya bertugas untuk memberikan pengajaran agama, dan jika tugasnya telah selesai, maka dia akan dijemput kembali dan bertugas di tempat yang lain.”

Bisik-bisik terdengar riuh. Ada yang mengatakan bahwa Pak Lukman adalah wali, muhajirin, ulama, bahkan ada yang berbisik bahwa Pak Lukman adalah sejenis makhluk halus yang Muslim. Aku diam saja.
”Pak Arif, ada surat untuk Anda. Saya temukan di tempat imam,” lelaki tua itu menyerahkan sepucuk kertas untukku.

Untuk Pak Arif
Aku tersenyum saat aku dijemput, karena baru pertama kali ini tugas dakwahku berhasil di desa ini. Teruskanlah perjuangan membangun desa ini, aku harus pergi lagi, bersama matahari yang terus berputar.
Salam cintaku, semoga kita dipertemukan Allah di surge-Nya kelak, amiin.
Sahabatmu
Lukmanul Hakim


* * *
Sebuah motor berwarna kuning kunir berhenti di depan rumah, tentunya rumah Kang Mukhlis. Sebentar lagi aku harus pindah, karena rumah ini tentunya akan menjadi rumah Ani. Aku belum tahu hendak pindah dimana. Tapi aku yakin, setiap hal telah Allah atur skenarionya.
Ternyata motor itu motor pegawai pos.

”Permisi, apakah ini rumahnya Arif Maulana?”
”Saya sendiri. Ada apa, Pak?”
Lelaki berbaju seragam itu tersenyum, ”Ada surat untuk Anda,” dia mengulurkan amplop besar, kurasa isinya kertas. Aku menandatangani lembar penerimaan kiriman, setelah itu pegawai pos itu pamitan.

Universitas Malaya? Tertulis di ujung atas amplop.

Aku penasaran, kubuka pelan-pelan. Kukeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya, bahasa Inggris. Untung aku bisa, ya tapi tak bisa dibilang lancar, tapi kalau membaca sedikit-sedikit aku bisa. Kuucap basmallah, lalu membacanya dalam hati.

Tanganku bergetar memegang kertas itu, entah aku hendak berucap apa dalam hati dan lisanku. Alhamdulillah, kalimat itu akhirnya yang terucap dari lisanku. Bagaimana tidak kaget, ini adalah lembar keterangan beasiswa pasca sarjana untuk Ekonomi Islam. Hampir lemas kedua lututku.
Tapi sejenak kemudian, senyum simpul tercipta. Di kertas tersebut diterangkan aku harus segera mengurus beberapa kelengkapan, untuk pengajuan berkas selanjutnya dan dikirimkan ke Malaysia segera, karena sebentar lagi jadwal kuliah sudah aktif.

Allah, ini panggilan-Mu, semoga. Aku akan berpetualang lagi, hidup adalah lembaran-lembaran yang tercecer, dan setiap ceceran harus kujadikan menjadi ceceran sejarah yang terbaik.

***

Seminggu berlalu demikian cepat. Kang Mukhlis tampak bersedih, sedih karena aku tak bisa menghadiri akad pernikahannya, selain itu dia sedih karena akan berpisah lama denganku. Ah! Syahid pun demikian, sedari tadi malam dia terus cemberut.

Hari ini, siang cerah ini. Desa Cahaya tampak ramai orang, bukan acara pernikahan seperti Bu Siska kemarin, bukan acara kumpul di balai desa membahas perkembangan desa, bukan pula akan ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten. Tapi, semuanya melihatku mulai ketika aku membawa tas besar, keluar dari rumah, mereka menatapku, ada semburat bening di setiap wajah-wajah mereka.

Aku tak tega kawan. Tapi, inilah jalanku, yang harus kuhadapi dan kujalani. Seperti cerita dalam buku saja, jalanku menuju kemenangan-kemenangan. Dalam kamusku, sejak aku lahir, ilmu adalah segalanya. Jika ada kesempatan menuntut ilmu, di ujung dunia sekalipun aku akan datang. Tapi ujung dunia itu tak ada, Kawan.

Suatu kehormatan, Pak Lurah dan Indah datang. Indah belum ke kota lagi untuk meneruskan kuliahnya yang sempat tertunda, setelah mendengar bahwa aku akan berangkat ke Malaysia, dia ingin mengantar kepergianku. Dan kau akan kaget, kawan, Indah telah sempurna cantik, dengan balutan jilbab hijau itu, anggun sekali. Aku tersenyum padanya. Pak Lurah yang akan mengantarkanku hingga ke bandara, walau jauh tak mengapa katanya.
”Hati-hati, Kak.”

”Tentu saja Indah.”
”Jika sudah selesai, pulanglah ke sini. Rumah Kakak di sini.”
Aku tersenyum padanya, tak tahu nantinya, apakah aku akan kembali ke desa Cahaya ini, tempat mimpi-mimpi bertemu dan membentuk harapan.

Aku menaikkan satu kardus barang di motor bagian depan Pak Lurah, satunya kupakai di punggungku. Aku pamitan pada mereka semua, dan meminta doa agar semuanya lancar, dan berkata kepada mereka untuk saling mendoakan.

Di mana Nurul? Apakah dia telah kembali ke kota? Ah! Sudahlah.
Aku naik ke motor, Pak Lurah menghidupkan mesin motornya. Aku menatap seluruh penjuru warga desa, kutatap semuanya, menengok kekanan dan ke kiri sambil tersenyum.
Sahabat-sahabatku, berjuanglah terus!

Saat motor itu mulai melaju, kulihat tetesan air mata warga desa, mereka melepas kepergianku. Tak kan lupa semua kenanganku bersama kalian, kulihat anak-anak sekolah Cahaya mengusap air matanya dengan punggung-punggung tangan mereka. Wajah-wajah bersinar mereka, tentang ilmu, mimpi dan harapan.
Senang pernah menjadi guru bagi kalian, anak-anak cahaya.
Air mataku menetes kembali, menyatu dengan air mata mereka, membasah bumi desa Cahaya. Tangan-tangan mereka melambai mengiringi deru knalpot motor, tanganku turut melambai. Hingga hilang aku dari pandangan mereka.

Aku meneteskan air mata lebih banyak, tadi di sana aku berusaha tegar, setelah jauh air mata begitu deras, apakah mereka juga merasakan yang sama denganku?
Melewati tikungan, seorang wanita berjilbab menghadang jalan. Tangannya membuka lebar, motor berhenti. Pak Lurah memberi isyarat padaku untuk bicara pada wanita itu.
Ada apa, Nur? Kukira kau sudah pulang ke kota.”

”Aku tak akan pulang.”
”Kenapa?”
”Aku juga akan mengabdi di desa Cahaya, menunggu kedatanganmu.”
Aku tersenyum.
”Hati-hati, Rif?”
”Tentu saja, tanpa kau minta aku akan hati-hati.”

Kami terdiam sejenak, tiba-tiba air mata kami jatuh bersama. Aku menggelengkan kepalaku, jangan lagi! Aku pamitan padanya. Kami melaju, tatapan akhirku kembali bertemu saat motor melewati tempat berdirinya. Itulah akhir tatapanku dengannya, motor terus melaju. Membawa jiwaku.
”Kau memang pahlawan, Pak Arif.”

”Pahlawan kesiangan, Pak?” aku tertawa kecil.
”Mungkin!”

Kami tertawa bersama, bersama pepohonan yang tertiup angin, bersama burung yang bernyanyi. Semesta kembali berpijar, di petala setiap pikiran, di setiap desah napas manusia, di setiap mimpi dan harapan, di setiap langkah-langkah perjuangan manusia mencapai cita-citanya.

”Pak Arif.”
Ada apa, Pak Lurah?”
”Pulanglah kembali ke desa Cahaya setelah kau selesai kuliah, ini harapanku. Jika kau berkenan, nikahilah Indah, dia sangat mencintai Anda. Aku ingin kaulah yang menjaganya. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, di sela akhir hidupku. Aku akan tenang.”
Deg! Bersama deru knalpot yang menderu, suara alam yang menggema. Alam kembali memberi harapan dan mimpi menghampar. Dan aku kembali tergoncang dalam sebuah piramida cinta yang aneh.

Kawan, tak usah risau, kita harus tenang. Karena, perjuangan hidup masih panjang.

***
Motor terus melaju, membawa jiwaku yang terkontaminasi perasaan senang dan resah. Pepohonan rindang melambaikan perpisahan, cahaya mentari dari sela-sela dedaunan menyorot indah, bagai ribuan kedip kamera. Melewati tikungan, tepat di sana, di pinggir jalan. Hatiku tertegun melihatnya, mataku terpaku, air mataku menetes pelan hingga ke daguku.

Tugu setinggi seperempat meter, tertulis desa Cahaya. Perbatasan desa.

Kembali, memori berputar. Pertama kali aku masuk, aku salah sangka, kukira melengkung indah dan mengagumkan pandangan, sebuah Gerbang Desa Cahaya yang indah. Saat pertama kali, aku bersyukur mendapatkan pekerjaan setelah menjadi pengangguran di Jakarta.

Memori kembali berputar, saat aku difitnah, diborgol, diiring dengan mobil polisi. Saat itu, aku berkata dalam hati. Gerbang Cahaya, aku akan datang kembali, tapi bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai seorang pahlawan, tungguhlah waktu itu. Aku yakin itu.


Tapi, kali ini, aku pergi meninggalkanmu. Kurasakan kau berucap lirih, berbisik, selamat tinggal pahlawan. Kami akan merindukanmu, selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar